NovelToon NovelToon
Istri Baru Dr. Fawwas

Istri Baru Dr. Fawwas

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Paksaan Terbalik / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Duda / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:665.7k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

Turun Ranjang
Fawwas, seorang dokter ahli bedah tidak menyangka harus mengalami kejadian yang menyenangkan sekaligus memilukan dalam waktu yang bersamaan. Saat putrinya dilahirkan, sang istri meninggal karena pendarahan hebat.

Ketika rasa kehilangan masih melekat, Fawwas diminta untuk menikahi sang adik ipar. Dia adalah Aara, yang juga merupakan seorang dokter kandungan. Jelas Fawwas menolak keras, belum 40 hari istrinya tiada dia harus menikah lagi. Fawwas yang sangat mencintai istrinya itu bahkan berjanji untuk tidak akan menikah lagi.

Tapi desakan dari keluarga dan mertua yang tidak ingin cucu mereka diasuh oleh orang lain membuat Fawwas terpaksa menerima pernikahan tersebut. Terlebih, itu juga merupakan wasiat terakhir dari sang istri meskipun hanya tersirat.


Bagaimana Fawwas menjalani pernikahan nya?

Apakah dia bisa menerima adik iparnya menjadi istri dan ibu untuk putrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IB 20: Pesona Istri

Malam itu menjadi siksaan berat bagi Fawwas. Hasrat yang terlanjur muncul sama sekali tidak bisa ia salurkan. Meskipun dia tahu bahwa ia berhak untuk mendapatkan hak nya sebagai suami, tapi dia merasa tidak pantas untuk hal tersebut. Terlebih selama 4 bulan ini dia begitu datar dan dingin kepada Aara.

" Kak, apakah ada yang ingin kakak makan pagi ini?"

Aara yang muncul tiba-tiba di sampingnya membuat Fawwas sangat terkejut. Dan ketika ia melihat wajah Aara, tiba-tiba wajahnya terasa panas. Fawwas mengingat penampilan Aara yang sangat menggoda semalam.

" Aah, apa saja. Tapi tumben kamu menawariku. Apa sedang tidak sibuk dengan Neida? Bukannya biasanya Bibi yang menyiapkan sarapan?" Pria itu bertanya banyak, tapi tidak menatap mata lawan bicaranya. Fawwas dalam keadaan sedang menjaga pandangannya. Entahlah, saat ini apapun tampilan Aara seakan menggoda di matanya. Padahal Aara hanya mengenakan dress sepanjang lutut berwana hitam berlengan pendek, dengan aksen bunga-bunga kecil. Bukankah itu sangat sopan dan tertutup, tapi tanggapan mata Fawwas tidak demikian.

" Apakah ini yang dinamakan pesona istri?" gumam Fawwas dengan sangat pelan sehingga Aara tidak bisa mendengarnya.

Tapi Aara jelas bisa melihat gerakan bibir Fawwas, meskipun begitu dia juga tidak mengerti apa yang sedang. Fawwas ucapkan. " Apa yang kakak katakan?" tanya Aara.

" Aah tidak, apa saja yang kau buatkan akan ku makan."

" Baiklah, oh iya, tadi Kak Fawwas bertanya tentang Neida kan? Saat ini dia sedang tertidur. Tadi sudah selesai mandi dan menyusu jadi dia sudah tertidur lagi. Dan tadi Kak Fawwas juga bertanya, tumben aku melakukan ini, aku hanya sedang menjalankan kewajiban ku sebagai istri. Selama ini aku terlalu sibuk dengan Neida, bagaimanpun kita sudah menikah. Seharusnya aku juga memperhatikan Kakak sebagai suamiku. Baiklah, aku permisi dulu ke dapur. Jika Kakak tidak keberatan, tolong jaga Neida sebentar,"

Deg!

Semua kalimat yang Aara utarakan membuat Fawwas terhenyak. Ternyata selama ini Aara juga memikirkannya. Ada sekelumit rasa senang saat Aara mengatakan bahwa dirinya sedang menjalankan tugasnya sebagai istri, tapi Fawwas langsung menggeleng cepat. Sebuah asumsi masuk ke kepalanya, jika Aara menjalankan tugasnya, bukankah hubungan mereka akan semakin dekat nantinya?

" Haah, entahlah. Mengapa semuanya seperti menjadi rumit begini, aah sudahlah. Sebaiknya aku ke kamar Neida."

Fawwas melenggangkan kakinya ke arah kamar Neida dan Aara untuk menjaga Neida seperti yang dikatakan oleh Aara tadi. Ia tersenyum ketika melangkahkan kaki di kamar Aara, Fawwas memilih untuk duduk di tempat tidur. Ia juga merebahkan tubuhnya di sana. " Aroma tubuh Aara masih menempel di bantal ini," gumam Fawwas sambil menghirup bantal yang ia gunakan sekarang. Tidak terasa matanya terpejam dan ia tidur dengan lelap.

" Owaaaaa!"

Tangis Neida mengejutkan Fawwas. Ia langsung melompat dari tempat tidur dan menggendong Neida. " Cup sayang, Nei lapar kah? Ayo kita cari ibu ya," bujuk Fawwas sambil menepuk Neida pelan. Ia juga segera berjalan menghampiri Aara yang masih sedang ada di dapur menyiapkan sarapan. Hari ini Fawwas off, maka dari itu dia terlihat santai berada di rumah.

" Lho sayang, kenapa nangis hmmm? Lapar ya," ucap Aara. Ia mencuci tangannya terlebih dulu sebelum mengambil Neida dari gendongan Fawwas.

" Maaf Ra, tadi aku sempet ketiduran," sesal Fawwas. Ia sungguh merasa tidak enak karena merasa tidak bisa menjaga Neida dengan baik.

" Tidak apa-apa Kak, oh iya sarapannya sudah matang. Kakak makan dulu saja, aku akan ke kamar menyusui Neida. Dia sepertinya lapar."

Fawwas tidak banyak bicara, ia hanya mengangguk. Fawwas melihat Aara menghilang dari pandangannya. Satu hal yang membuatnya salut kepada Aara bahwa tidak terlihat dia mengeluh barang sedikitpun. Aara bahkan selalu mengembangkan senyumannya ketika bersama Neida.

" Haaah, bagaimana aku bisa makan sendiri. Lebih baik kau menunggunya saja," lirih Fawwas.

🍀🍀🍀

Akhir pekan berlalu begitu saja. Hari-hari dilalui pasangan Aara dan Fawwas tanpa ada pembicaraan yang terjadi. Akan tetapi satu hal yang tidak diketahui Aara, bahwa setiap malam Fawwas akan menyelinap masuk ke kamar Aara. Dengan dalih melihat Neida, dia berhasil memandang wajah cantik Aara yang tertidur.

" Hallo Fa, apakah aku boleh bertemu denganmu?"

Fawwas mengerutkan alisnya saat mendapat pesan dari sang teman. Erka, pagi ini tiba-tiba mengirim pesan berisikan hal tersebut. Fawwas langsung merasa waspada, ia teringat saat ibu nya mengatakan bahwa Erka tertarik kepada Aara.

" Boleh. Kita ketemu di rumah sakit saja kalau begitu. Kebetulan aku sedang free," balas Fawwas. Sebuah senyuman terbit dari bibir Fawwas. Ada satu hal dalam dirinya yang tidak ingin Erka datang ke rumah.

Setalah sekitar satu jam menunggu, akhirnya Erka datang juga. Fawwas membawa temannya itu ke kantin rumah sakit. Dan di sinilah mereka kini duduk. Sambil menghadap kopi kesukaan masing-masing, mereka asik bercengkrama. Hingga tibalah dalam sebuah pembahasan yang membuat Fawwas merasa tidak suka.

" Apakah kamu benar hanya akan menjadikan Aara istrimu Fa? Dia adalah seorang dokter yang berpotensi untuk jadi dokter hebat. Sangat sayang sekali jika hanya menjadi ibu rumah tangga. Oh iya. Aku bawakan buku-buku. Siapa tahu dia mau membacanya, aku rasa dia tertarik untuk kembali belajar. Kemarin dia sangat antusias saat membicarakan pendidikan di luar negeri."

Deg!

Dengan ekspresi datar, Fawwas menerima buku yang diberikan oleh Erka. Ia sungguh tidak merasa senang dengan temannya yang sedang memerhatikan sang istri. Mereka hanya bertemu sekali, tapi Erka terlihat begitu perhatian.

" Jangan salah sangka Fa, aku tidak ada maksud apapun terhadap istrimu. Meskipun kamu mengatakan bahwa hubunganmu dengannya tidak seperti yang ku pikirkan, tapi tidak pernah ada niatku sedikitpun untuk menikung istri dari temanmu. Tapi, jika kamu melepaskannya, aku siap untuk membawanya pergi darimu. Ha ha ha! Lihatlah ekspresi mu itu. Fa, saranku, jika kamu memang peduli dan menginginkannya segera katakan. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Ingat, penyesalan selalu datang di belakang. "

Erka mengatakan hal tersebut dengan ekspresi yang sangat tenang. Pria itu jujur kalau dirinya tertarik kepada Aara. Dan Fawwas tentu sedikit terkejut. ucapan sang ibu benar adanya. Jelas hal tersebut membuat Fawwas sedikit terganggu. Temannya dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia memiliki ketertarikan kepada sang istri. Fawwas seketika terdiam, meskipun begitu mereka kembali berbincang kembali. Tapi tidak membicarakan Aara.

TBC

1
ayu cantik
suka
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Jumi Eko
bagus
Sulati Cus
cerita yg manis jg ringan
Ima Kristina
karya karya author memang selalu kerennn
Ima Kristina
loh kok sudah tamat saja sich belum puas rasanya kan adiknya Neida belum lahir Thor
Ima Kristina
hareudang hareudang hareudang
Ima Kristina
Benar kata APPA kunci keharmonisan rumah tangga adalah komunikasi yang baik
Ima Kristina
Pilihan terbaik adalah merelakan dan mengikhlaskan orang yang sudah meninggal karena tidak akan bisa balik ke dunia
Ima Kristina
Aku kasihan sama dokter Sanusi
Ima Kristina
Semangat Ara demi keluarga kecilmu terutama semi dirimu sendiri
Ima Kristina
Tujuan Ara pasti ke makam kakaknya Aira
Ima Kristina
Semangat Ara.... yakin kamu bisa sembuh dari traumamu
Ima Kristina
Dukungan keluarga terutama suami sangatlah berarti untuk Ara tapi tetap saja dalam diri Ara sendiri yang utama
Ima Kristina
Sakit psikis memang tidak tampak seperti sakit fisik tapi sakitnya luar biasa dan proses kesembuhannya butuh waktu yang lama
Ima Kristina
Makin kesini Fawwas makin perhatian sama Ara sebaliknya pun dengan Ara...co cweet
Ima Kristina
Semuga Arsyad segera menyadari kesalahannya
Ima Kristina
Pasti pil pencegah kehamilan yang ditemukan Fawwas
Ima Kristina
makin seru ceritanya Thorr menghibur banget pokoknya lanjut kakaaa
Ima Kristina
Jangan diberi ampun dokter Arsyad untuk jadi pelajaran
Ima Kristina
kalau kamu ingin selamat mendingan jujur saja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!