Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 0. P r o g r e s s (2)
"Mau ke tempat yang kemarin lagi?" tanya Damar lebih dulu saat mereka sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah.
"Nggak, beda tempat. tapi tempatnya hampir mirip kayak yang kemarin." Mereka berdua jalan beriringan sembari mendorong sepeda masing-masing.
Tidak seperti biasa, tadi pagi Ambar sengaja berangkat lebih awal mengunakan sepeda. Kedua orang tua Ambar sampai terheran-heran dan menatap putri mereka tidak percaya. Amara bahkan sempat khawatir dengan kesehatan Ambar, tetapi nyatanya Ambar sampai sekolah dengan kondisi baik-baik saja.
"Tempatnya gak jauh dari sekolah, kita jalan kaki aja, ya? Nanti aku bisa kecapean kalau naik sepeda. Aku serem kalau udah kecapean," cerocos Ambar yang hanya ditanggapi Damar dengan anggukan kepala dan senyuman.
Dua hari terakhir Damar jadi lebih sering tersenyum pada Ambar. Hal itu membuat Ambar bertanya-tanya. Bagaimana tidak jika sebelumnya lelaki itu bahkan hanya menatap tanpa eskpresi saat mereka bertemu. "Sekarang jadi banyak senyum ke aku, ya."
Damar spontan menghentikan langkahnya dan menaikkan salah satu alisnya saat mendengar ucapan Ambar. "Karena kamu baik, gak kayak yang lain."
Ambar ikut menghentikan langkahnya, menatap lama pada Damar yang sedang tersenyum. Beberapa saat kemudian, dia baru sadar jika sudah menatap damar terlalu lama. Gadis itu langsung menundukkan kapala sembari terkekeh pelan. Gerakan Ambar membuat lelaki itu ikut tertawa pelan sembari menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Lalu mereka kembali melanjutkan berjalan.
Saat sudah sampai di tempat tujuan, mereka langsung memarirkan sepeda. Kemudian berjalan beriringan ke tempat di mana pusat interaksi berlangsung. "Sahabatmu yang kemarin gak ikut lagi?" tanya Damar.
Ambar menggelengkan kepala. "Dia ada rapat OSIS. Sebentar lagi mau ada seleksi pengurus OSIS baru, jadi dia sibuk," jawab Ambar. Kemudian tanpa sengaja Ambar menangkap pemandangan menarik untuk diabadikan. Segera saja gadis itu mengangkat kameranya, memfokuskan lensa, lalu mulai membidik.
Saat menatap Ambar melakukan hal itu, Damar mendadak teringat saat dirinya menabrak Ambar. "Maaf, ya ...." ucap Damar yang membuat Ambar langsung menurunkan kamera, kemudian mengalihkan tatapan pada Damar.
"Untuk?" tanya Ambar yang tidak paham. Ambar itu memang tidak bisa diajak bicara dengan kalimat yang tidak lengkap.
"Emm, waktu itu, aku yang nabrak kamu sampai kameramu jatuh. Kamu inget? Terus aku lihat dari jauh kalau--"
"Udah, gak apa-apa, kok. Lagian aku udah dapet gantinya." Ambar tersenyum lebar sembari mengangkat kameranya, seolah menunjukkan itu pada Damar.
Damar menghela napas lega. Entah kenapa, dia merasa Ambar gadis yang sangat baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pergi atau melakukan apapun bersama Ambar. Kemudian Damara tersenyum sembari menatap Ambar yang sudah kembali berjalan lebih dulu. Selain baik, jika dipikir-pikir Ambar juga manis.
🍒🍒🍒
“Duduk dulu, yuk,” ajak Ambar pada Damar yang sedari tadi hanya mengikutinya seperti kemarin.
Setelah mereka duduk, Ambar kembali melihat-lihat hasil jepretannya. Dari samping, Damar ikut memperhatikan Ambar yang terus menggeser hasil jepretannya, memperhatikan satu persatu. Beberapa ada yang sesuai dengan konsep yang Ambar inginkan, tetapi hasilnya tetap tidak dapat jadi sebagus yang dia harapkan. Meskipun sesuai dengan konsep, tetapi Ambar tidak dapat merasakan momen dalam gambar yang dia ambil.
Beberapa saat kemudian, Ambar menghela napas sambil menurunkan kamera kepangkuannya. Sedangkan Damar menatap gadis itu dengan tatapan penasaran karena sebenarnya sejak tadi Damar tidak dapat melihat dengan jelas apa yang Ambar lihat di kameranya. Kemudian sadar di perhatikan, Ambar balas menatap Damar. Mata lelaki itu seolah bertanya pada Ambar, “Ada apa?” Lalu Ambar membalasnya dengan tersenyum sambil mengendikkan bahu.
Gadis itu tau pasti penyebab dirinya tidak dapat fokus. Sejak awal, pikirannya sudah terbagi. Satu untuk fotografi, satu lagi memikirkan cara untuk melibatkan Damar. Belum lagi memikirkan tugas yang menumpuk dan terus mengalir seolah tugas-tugas itu punya sumber abadi yang tidak akan mengering walau dilanda kemarau panjang sekalipun. Dan semua itu membuat Ambar seketika merasa lapar.
Saat-saat seperti inilah Ambar dapat mendeteksi dengan jelas keberadaan tukang es krim yang berada tepat di arah pukul empat dari posisinya dan sekarang tukang es krim itu sedang ramai pembeli. Senyum simpul terbit di bibir Ambar. “Kak Damar,” panggil Ambar.
“Iya?” jawab Damar sambil menatap dengan seksama pada Ambar.
“Ayo, beli itu.” Ambar menunjuk tukang es krim yang sempat diperhatikannya sebentar dan spontan Damar mengikuti arah jari Ambar menunjuk. Lalu lelaki itu menatap secara bergantian sang tukang es krim dan Ambar yang tersenyum lebar.
“Aku tunggu di sini, ya? Kamu aja yang beli.” Senyum Ambar langsung menghilang, kemudian dia menggelengkan kepala.
“Tapi di sana terlalu … ramai. Aku gak bisa ke sana.”
“Kak Damar pasti bisa, aku yakin. Kak Damar cuma perlu berusaha. Mereka juga manusia kayak Kakak. Gak ada yang perlu dikhawatirin.”
Sekarang Damar ganti yang menggelengkan kepala. “Gak bisa. Di sana terlalu … gak nyaman buat aku.”
“Ambar menghela napas. “Kak Damar harus keluar dari zona nyaman. Pasti bi ….”
“Stop paksa aku. Lebih baik aku pulang.”
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏