Menceritakan seorang remaja muslim yang baru saja lulus dari sekolah pesantrennya. Dia bernama Muhammad Al-Fatih. Sebagai remaja yang baru lulus dari pesantren, ia mencoba menjalani kehidupan sehari-harinya di lingkungan yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : 2 Gadis Kembar.
Setelah selesai sudah pembicaraan antara Nathan dengan kaluarga abi Alif. Abi Alif dan ummi Nana mengajak Nathan untuk makan malam bersama. Meski sudah menolak karena merasa merepotkan, mereka terutama Fatih, memaksanya. Mau tak mau Nathan pun ikut makan malam, meski nyatanya perutnya memang sudah lapar. Lagi pula ummi Nana sudah menyiapkan makan malamnya.
Mereka pun makan malam bersama dan bercanda. Hebatnya, Nathan mampu membuat mereka jadi akrab, tapi ada satu orang diam saja, yang tak lain Liana. Liana hanya memandang makanannya, dengan anggunnya dia diam tak mengluarkan sepatah kata apapun. Dia menikmati makanannya, dia cukup jadi pendengar saja.
Selesai sudah acara makan malam bersama dengan calon keluarga dari pihak perempuannya, Nathan pun segera berpamitan untuk pulang, karena besok ia harus masuk kerja di pagi hari, dan malamnya adalah jam kuliahnya.
.....
Beberapa hari kemudian. Di pagi hari, tepat di hari rabu, pukul 05.30 wib, Fatih sedang berjalan-jalan pagi. Penampilnanya seadanya saja, ia hanya mengenakan sarung warna hitam dengan bermotif batik coklat, dan jaket hitamnya yang ia kenakan untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin. Fatih berjalan kaki sendirian di trotoar dengan beralas sandal jepit.
Fatih ingin sekali menelusuri semua jalan yang ada di kota Semarang yang sepenuhnya tak pernah ia lewati sedari kecil. Selagi masih pagi, dan ia masuk kerja di shif siang, jadi ia bisa bersantai dulu. Fatih jadi teringat sewaktu dirinya masih kecil dan sebelum pergi ke pondok pesantren, paling jauh yang Fatih tempuh sampai ke taman yang terdekat dari desa halamannya.
Bahkan waktu di Surabaya, Fatih hanya pergi ke toko buku, dan tak pernah jalan-jalan jauh dari lokasi pesantrennya, karena dulu dirinya begitu patuh aturan dan nasehat kedua orang tuannya. Karena dunia luar sangatlah berbeda dengan lingkungan yang selama ini ia tinggali, dan khawatir Fatih jatuh ke lingkungan yang tak diinginkan.
Tetapi bukan berarti sekarang Fatih melanggar nasehat orang tuanya untuk tidak pergi jauh-jauh, melainkan karena dirinya sudah besar dan tau mana yang boleh dan mana yang tidak, jadi abi Alif dan ummi Nana telah memberinya izin, dan percaya kalau Fatih bisa membatasi diri dengan lingkungan barunya.
Sejenak Fatih menghentikan kedua langkah kakinya. Kini ia sudah berada di suatu tempat yang di sekelilingnya banyak sekali berbagai macam toko, dan bangunan yang tinggi. Selama ini ia hanya melewatinya saja saat dulu keluarganya mengajak jalan-jalan menggunakan mobil. Lalu Fatih duduk di salah satu kursi besi panjang di dekatnya.
Lokasinya kini sebenarnya bukan di pusat kota Semarang, melainkan dirinya masih di Semarang bagian selatan. Tetapi baginya cukup sampai disini saja jalan-jalannya, dan mana mungkin Fatih melanjutkan berkelilingnya yang baginya sudah cukup jauh dari desa halamannya. Bisa-bisa dia tersesat nanti kalau hanya bermodal nekat.
Disamping itu, abi Alif dan ummi Nana sedari kemarin sudah mulai melakukan persiapan untuk pernikahan Liana yang tinggal 5 hari lagi. Hanya keluarga dekat dan rekan-rekan kerja mereka yang diundang. Lagi pula Liana tak menginginkan pesta pernikahan, ia juga tak tak ingin membebani kedua orang tuanya kekaligus pihak dari calon suaminya.
Fatih pun memandangi semua apa yang ada di dilihatnya saat ini, jalan raya sangat sepi. Fatih tersenyum, udaranya sangat segar yang ia rasakan. Kendaraan hanya beberapa yang lewat, sehingga tak terlalu mencemari udara di pagi hari. Sesekali ia juga dari tadi ada yang orang-orang yang berlari pagi.
Ada juga beberapa orang tua yang berumur atau yang muda berjalan kaki dan sekilas memandang dirinya. Mungkin dirinya terlihat aneh karena cara penampilannya, tapi Fatih tak peduli, ia pun memilih bangkit dari duduknya, lalu ia pergi untuk kembali pulang, karena mungkin sudah terlalu lama ia berkeliling.
Jam di ponselnya sudah menunjukkan jam 06.35 wib, bila terlalu lama pergi tanpa kendaraan, bisa-bisa ia membuat orang rumah khawatir. Saat Fatih tengah perjalanan pulang, dan akan mendekati salah satu jalan pertigaan menuju desanya, kedua matanya melihat sebuah mobil pajero sport hitam.
Didekat mobil itu ada seorang perempuan cantik yang mungkin seumuran dengan kakak laki-lakinya sedang berdebat dengan seorang pria dewasa. Perempuan itu mengenakan celana trening hitam dan kaos berlengan pendek berwarna kuning. Sedangkan pria dewasa itu mengenakan celana jeans selutut dan mengenakan kaos putih.
Entah apa yang mereka ributkan di pagi-pagi seperti ini, ia segera menghampiri mereka, Fatih mulai berfikir yang tidak-tidak. Ketika sudah mendekat, ia menghentikan langkahnya, dan ia mulai bisa mendengar percakapan mereka, karena keadaan sepi dan tak terlihat orang lain yang lewat, meski ada beberapa yang lewat, mereka hanya membiarkan saja tak mau ikut campur.
"Kamu kalau pergi jangan seenaknya. Papah tuh khawatir."
"Pah, aku sudah besar, jangan larang-larang aku terus. Aku juga pengin bebas kemana saja seperti teman-temanku."
Ternyata pria dewasa itu adalah ayahnya, meski sudah menjadi seorang ayah, dia malah masih terlihat tampan meski hampir sebagian rambutnya memutih.
"Kamu itu perempuan, bukan seorang laki-laki. Lagian kamu pergi nggak bilang-bilang!!" ayahnya terlihat frustasi.
"Owh, kalau aku jadi laki-laki, berarti aku boleh pergi kemanapun ?" sahutnya dengan nada mengejek.
"Bukan begitu sayang. Papah khawatir, papah takut kamu kenapa-kenapa. Lagian ini Semarang, bukan Jakarta, beda sama tempat tinggal kita." jawab sang ayah kepada putrinya dengan lemah lembut.
"Sama saja !! Enggak di Jakarta, nggak dimana pun papah ngelarang terus aku !!" jawabnya dengan ketus.
"Gimana papah nggak melarangmu, Gina. Sedangkan kamunya selalu bergaul dengan orang yang nggak jelas kelakuannya dan pergi tanpa ingat waktu." balas sang ayah.
"Sudah hampir 1 minggu kita di Semarang, dan tidak pergi kemana-mana. Lagian besok kita sudah balik ke Jakarta. Jadi biarin aku jalan-jalan." jawab anak gadisnya lagi yang bernama Gina.
Mendengar jawaban anak perempuannya, sang menghela nafasnya. Umur putrinya memang sudah 22 tahun, tetapi sebagai seorang ayah, ia harus menjaga anak gadisnya ini. Ia tak ingin anaknya tidak masuk ke pergaulan yang salah, mengingat dirinya pernah melihat putrinya dan teman-temannya selalu keluyuran tanpa kenal waktu.
"Cih, dasar gadis bodoh." terdengar suara perempuan lagi dari dalam mobilnya.
"Ria, lebih baik kamu diam!!" jawab Gina dengan nada membentak, ia tak terima dikatakan bodoh.
Rupanya mereka tak hanya berdua, ada satu perempuan lagi yang duduk di dalam mobil sambil menunggu mereka berdua. Dia bernama Ria.
Lalu sang ayah bersuara. "Sudah-sudah, nggak di rumah, nggak disini, kalian selalu saja ribut."
"Gina, kalau kamu begini terus. Papah akan mencabut semua fasilitasmu setelah kita pulang ke Jakarta. Lagian kita di Semarang hanya untuk menjenguk nenek." lanjutnya dengan ancaman.
"Iihh..., Percuma kalau kita ke Semarang kalau cuma diam di sekitaran rumah nenek terus. Lagian aku bukan Ria yang dingin kaya es batu itu, yang selalu betah berdiam di rumah. Makanya nggak heran dia nggak pernah meleleh, dia memilih terus membeku karena tak pernah keluar dari rumah." jawab Gina panjang lebar.
Mendengar ucapan dari saudaranya, Ria segera keluar dan mobil. Dia memiliki wajah yang sama dengan dengan saudaranya, rupanya mereka adalah saudara kembar. Ria berhadapan Gina dan ayahnya.
Dengan santainya, Ria berkata. "Ya, aku lebih baik memilih seperti ini, daripada sepertimu yang hobinya keluyuran dan bergaul sembarangan seperti orang bodoh." ucapnya sambil memberikan senyuman meremehkan ke saudara kembarnya.
"Kau...!!" sahut Ria yang tak terima lagi, tangannya mencoba maraih rambut panjang kembarannya.
Akan tetapi, sang ayah menggengam tangannya Gina terlebih dahulu. "Cukup sudah, jangan bikin malu di tempat umum, ini masih sangat pagi. Dan sekarang, ayo kita balik ke rumah nenek kalian." terlihat frustasi menghadapi kedua anak gadis kembarnya yang selalu berbeda pemikiran.
setahu saya pengabdian itu semacam bekerja di sana tanpa dibayar, atau dengan bayaran seadanya tanpa dipatok.
salut untuk penulis, semoga ALLAH SWT selalu
memayungi penulis dengan banyak keberkahan serta kesehatan terus.
luar biasa Author satu ini, ada selipan syiar di dalam karya novel ini...😊
saluuutt saluuuutt...terus syiar dalam tulisan ya Thor...👍👍👍
semangaaattt 💪💪💪
sehat terus & terus sehat Thor 💪