Kehidupan yang pahit di saat remaja, sungguh membuat Keyra sering menangis. Hidup dengan ibu yang sendirian. Karena menolong seorang teman yang dirundung, Keyra menjadi target selanjutnya.
Pertemuan yang tidak sengaja dengan seorang berandalan geng motor, membuat Keyra semakin kewalahan. Ia tidak tahu, dia dengan lelaki itu menjadi semakin dekat. Ternyata, Aprilio sama sakitnya seperti Keyra.
Keyra mau membantu masalah Aprilio, dengan syarat lelaki itu harus sedia melindungi Keyra, selalu.
Bagaimana kisah keduanya melewati kehidupan remaja mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Penderitaan dan kesenangan
...SELAMAT MEMBACA!...
Keyra melihatnya. Nadia dan Vega berjalan bersama, berpapasan dengannya saat berada di depan kelas. Keyra menelan ludah, ketika dua gadis itu melemparkan tatapan sinis padanya. Namun, Keyra berusaha bersikap normal.
Anak-anak itu telah selesai skors. Keyra tidak mendengar beritanya, tetapi bertemu secara tiba-tiba membuat jantungnya berdetak kencang.
Sebisa mungkin, Keyra menyembunyikan ketakutannya. Dia masih ingat, Nadia berjaga di depan rumahnya, menunggunya pulang. Dan sampai sekarang, Keyra masih tidak berani pulang sendirian.
Keyra membuka bukunya, untuk mempelajari materi yang kemungkinan akan dibahas hari ini. Namun, sialnya, Nadia tiba-tiba duduk di bangku depannya. Keyra mengangkat wajah, juga mendapati Vega berdiri di samping mejanya. "Udah lama gak ketemu, ya?" celetuk Nadia.
Keyra menunduk, menatap bukunya. "Gue beberapa hari ini dateng ke rumah lo. Tapi, lo gak pernah pulang, atau jangan-jangan lo udah pindah?" ucap Nadia.
"Tinggal di rumah saudara," jawab Keyra.
"Oh, gitu." Nadia menggebrak meja membuat tatapan seisi kelas sontak tertuju pada mereka. "Gue pengen main ke rumah lo padahal," katanya.
"Kasih tahu kita rumah saudara lo itu, dong!" ucap Vega. "Kita pengen banget main sama lo." Dia menepuk-nepuk pundak Keyra.
"Gak dibolehin terima tamu sama saudara gue," ucap Keyra. Seketika, tangannya bergetar memegang pensil. "Maaf."
"Yah, sayang banget." Nadia mengerucutkan bibirnya, memasang wajah seolah sedang kesal. "Nanti kita main di luar, aja!" imbuhnya.
Keyra tak menjawab, ia merasa sangat takut sekarang. Sungguh, matanya tidak bisa menatap mereka.
Vega mengebrak meja, dengan berujar, "Jawab! Lo mau main apa gak?"
"I--iya ma---"
"Keyra! Gue mau nyontek tugas biologi, dong!" Suara Antonio yang tiba-tiba datang, membuat Vega memutar malas bola matanya. "Loh? Kalian udah masuk, aja?" selorohnya, menyadari keberadaan Nadia dan Vega.
"Minggir, dong! Gue mau nyontek tugasnya Keyra," kata Antonio.
Nadia berdecak kesal, kemudian menarik tangan Vega untuk dibawanya pergi.
Keyra menghela napas lega saat itu juga. Antonio bahkan melihat keringat menetes dari kening Keyra. "Dia udah gak satu kelas sama lo. Tenang, aja!" ujar Antonio, kemudian duduk di meja Keyra.
Keyra melihat ke arah luar, dia siswi itu benar-benar sudah pergi. Keyra juga bernapas lega, ia tidak lagi satu kelas dengan Nadia.
Karena telah merundung Keyra, guru memutuskan untuk membuat jarak di antara mereka, dengan memindahkan Nadia ke kelas lain.
Tidak nyaman. Keyra selalu merasa waspada. Entah kapan hidupnya akan benar-benar jauh dari masalah.
Keyra menghembuskan napas panjang, ketika seseorang menghadangnya.
Saat itu, Keyra berjalan sendirian menuju tempat pembuangan sampah sekolah karena ini adalah hari piketnya. Namun, setelah membuang sampah-sampah itu, tangan seseorang menghentikan langkahnya.
Keyra mengangkat kepalanya, menatap Nadia yang berdiri di depannya dengan mata bulatnya. Refleks, Keyra berjalan mundur menghindari gadis itu. "Gue masih kesel sama lo. Gue masih dendam," kata Nadia.
"Kesel banget. Kesel," sambung Vega, menautkan kedua alisnya. Lalu, dia mengeluarkan cutter dari saku bajunya dan memasang senyum miring.
Keyra menggelengkan kepala, berjalan mundur hingga tembok menghalangi membuatnya tidak bisa lagi menghindar. "Kalian mau apa?" lirih Keyra.
"Mau buat lo menderita," jawab Vega.
Air mata Keyra menetes, kakinya bergetar. Dia hendak lari dari samping, tetapi sebuah tangan menghalanginya. Noni tersenyum kecut padanya. "Mau lari?" kata Noni.
Napas Keyra tersengal-sengal. Ia melihat kanan-kiri, berharap seseorang berada di sana dan bisa menolongnya. "Semuanya udah pulang. Gak ada siapa-siapa di sini dan gak ada yang bisa nolongin lo," kata Nadia.
Empat gadis itu tertawa keras, menertawai ketakutan Keyra.
Nadia menarik rambut Keyra, mendekatkan wajahnya yang geram. "Gue benci sama lo! Lo tahu, gak?" Lalu, Nadia menghembuskan Keyra hingga gadis itu terjatuh.
"Ups! Sepatunya sampai lepas," pekik Vega, kemudian mengambil sepatu hitam Keyra itu.
"Ja--Jangan!" ujar Keyra, tertatih.
Vega tersenyum miring, mendekatkan cutter di tangannya ke sepatu itu.
"Ja--Jangan!" Namun, Nadia lagi-lagi menarik rambut Keyra sangat keras, hingga rambut yang awalnya terikat rapi menjadi berantakan.
Keyra sudah menangis sesenggukan, melihat dengan mata kepalnya sendiri, sepatu satu-satunya pemberian sang ibu disayat oleh cutter di tangan Vega. Mereka tertawa keras, di atas penderitaan Keyra.
"Jangan! Aku mohon," lirih Keyra. Matanya sangat merah. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat yang menjadi satu. "Jangan." Keyra tidak mampu lagi menahannya, ia merunduk pasrah.
Bukan hanya satu sepatu, tetapi keduanya disayat-sayat dengan cutter itu hingga terlihat tak bisa dipakai lagi.
"HAHAHAHA!" Mereka tertawa keras, mencuiti tangisan Keyra.
Keyra mencoba mengangkat wajahnya. Dia mendapati, kedua sepatunya yang sobek. Bahkan, rambutnya kini sudah tidak teratur, terlihat seperti gelandangan. Wajahnya merah dan kotor karena pasir.
Empat gadis itu menyingkir ketika Keyra berusaha berdiri dengan tubuh gemetar. Ia mengambil sepasang sepatu tersebut, kemudian memasangkan di kaki. Jelas, benda tersebut sudah tidak bisa dikenakan, tetapi Keyra memaksakannya.
Keyra berjongkok untuk membenarkan sepatunya. Namun, Nadia menendangnya dengan kaki hingga Keyra tersungkur. Beruntung, Keyra masih bisa menahannya dengan tangan. "Bodoh! Udah jelas gak bisa dipake, masih aja dipaksa!" seloroh Nadia. "Yuk, pergi! Pengen muntah gue lihat dia." Lalu, dia melenggang pergi.
Tiga gadis itu mengikuti Nadia. Bahkan, sebelum pergi, Vega menginjak tangan Keyra hingga Keyra merintih.
Tidak punya hati, meninggalkan Keyra sendiri dengan kondisi kacau.
Keyra mengikat ulang rambutnya, merapikannya agar tidak terlalu berantakan. Matanya sembab karena menumpahkan begitu banyak air mata. Semua orang akan mengasihaninya, bahkan saat pertama kali melihatnya.
Gadis itu berjalan menyeret karena sepatunya. Keyra menenteng tasnya yang juga terdapat beberapa sobekan di sana.
Aprilio, sudah menunggunya sejak tadi, tetapi Keyra tidak tahu karena lelaki itu mengatakan tak bisa menjemput Keyra hari ini. Melihat kondisi Keyra seperti itu, Aprilio emosi.
Ketika mata mereka saling beradu, air mata Keyra benar-benar tidak bisa ditahan. Keyra sungguh mengasihani dirinya, membiarkan Aprilio melihat kondisi buruknya saat itu.
Karena Keyra mematung dan menangis di sana, Aprilio berlari menghampiri. "Siapa lagi, Key?" tanya Aprilio, tetapi Keyra hanya menunduk. Lalu, lelaki itu menarik Keyra ke dalam pelukannya, dan mendekapnya erat membiarkan Keyra menumpahkan segala kesedihannya di sana.
.....
Matahari sudah pulang, langit malam mengantikan cerahnya biru di kala pagi, siang, dan sore. Sungguh pengertian, Aprilio langsung mengajak Keyra untuk membeli sepatu dan tas malam itu juga.
Keyra tidak menolak karena Aprilio akan membayarnya. Aprilio merasa senang bisa menenangkan Keyra yang tadinya terus menangis dan merengek mengadukan nasibnya.
Aprilio tidak tahu, Keyra cengeng dan selemah itu. Padahal, Keyra biasanya selalu memperlihatkan dirinya lebih tangguh daripada siapapun.
Keyra tidak memilih tas yang mahal, ia tahu batasan. Setelah mendapatkan tas, Aprilio membawa Keyra ke toko sepatu. "Pilih aja yang lo suka," ujar Aprilio.
"Kalau gue suka semuanya?" tanya Keyra, menatap Aprilio yang berdiri tinggi di sampingnya.
"Nikah aja lo sama yang punya toko!"
Keyra tertawa ringan, membuat Aprilio sontak meliriknya. "Ini aja, deh." Keyra menunjukkan sebuah sepatu yang mirip seperti miliknya.
"Ukuran berapa?"
"38."
"Gue tanyain dulu." Aprilio mengambil sepatu itu dari tangan Keyra. Benda tersebut memiliki ukuran kecil, kaki Keyra tidak akan masuk. Lalu, Aprilio kembali dengan wajah murung. "Katanya udah habis, Key. Cuma ada ukuran 35, yang ini," ucapnya.
Mata Keyra tidak berbohong, ia juga kecewa. "Ya udah, cari model yang lain, aja," ujar Keyra.
"Cari di toko lain, gimana?" tawar Aprilio.
Keyra menggelengkan kepala. Lalu, dia menunjukkan sepatu karet berwarna hitam dan sedikit corak putih, kepada Aprilio. "Gue juga suka ini. Ukurannya juga pas," kata Keyra.
"Beneran yang itu, aja?" Keyra menganggukkan kepala.
Akhirnya, Keyra membeli sepatu karet tersebut. Ia juga mendapatkan tas baru. Katakan terima kasih.
Sebelum pulang, Aprilio menghentikan motornya di depan warung soto. Dia merasa lapar dan mengajak Keyra makan sebentar. Sembari menunggu pesanan datang, Keyra dan Aprilio mengobrol.
Tidak memerlukan waktu lama mereka menghabiskan makanan mereka. Lalu, Aprilio merogoh saku jaketnya untuk mengambil uang. Namun, uang yang seingatnya ia masukkan di saku, tidak ada.
Aprilio merogoh semua saku pakaiannya. Lalu, dia mengeluarkan dompet yang kosong tidak berisi. Melihatnya, Keyra membuang muka, berpura-pura tidak tahu.
"Keyra," panggil Aprilio.
Keyra berpura-pura tidak mendengar. "Bayarin! Duit gue habis," ucap Aprilio.
Keyra menghela napas panjang, untungnya dia membawa uang atau mereka akan disuruh cuci piring. Lagi pula, uang Aprilio juga habis karena membelikannya tas dan sepatu.
Sebagai balas budi, Keyra membayar makanan mereka.
"Makasih, ya," ujar Aprilio.
"Iya," jawab Keyra. "Makasih juga."
Aprilio langsung merangkul Keyra dari samping. "Sama-sama!"
...Aduhhh si pembully👊...
...Aduh dua kali si Aprilio makin bucin😱...