Berawal dari motor yang rusak mendadak, hingga akhirnya bertemu dengan sang pujaan hati. Banyak kenyataan pahit yang harus dialami oleh Devan dan Elina. Terjerat dalam hubungan friendship membuat Elina tak bisa berbuat banyak. Apalagi dengan kedatangan Juna, seseorang dari masa lalu Elina, yang semakin melebarkan jurang perpisahan Elina dan Devan. Serta beberapa kebohongan yang diciptakan Devan semakin mengacaukan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon destiara kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Hal yang Tidak Terduga
Devan menghela napasnya. Seorang gadis masuk ke dalam kamar Devan. Tak lain dan tak bukan, gadis itu ialah seorang perawat yang khusus di sewa untuk merawat Devan. Dia merupakan anak dari salah satu rekan kerja papanya di London.
Perawat itu menatap Devan nanar. Devan selalu bercerita kepadanya, apapun itu. Dan gadis perawat itu, Alice, bahkan sudah hafal betul tentang Elina berkat diceritai oleh Devan.
"Ada masalah apa lagi sih? Kok murung terus!" tegur Alice.
"Elina lagi ya?" tebak Alice.
"Kalau saranku sih, mending kamu kembali Ke Indonesia, terus jelasin ke Elina semuanya. Biar sama-sama enak," nasihat Alice.
"Tapi Al…."
"Aku tahu kamu keras kepala, tetapi menurutku, ini satu-satunya jalan keluar. Kamu gak bisa menunda-nunda, Dev! Operasi pengangkatan kanker harus segala dilakukan," ujar Alice.
"Gue gak pengen ingatan indah itu hilang, Al!" cetus Devan.
"Hanya ada satu jalan keluar, lo harus jelasin ke Elina titik!" cetus Alice. Devan tampak menghela napasnya.
"Iya-iya!" sahut Devan pasrah.
"Mau bantuin gue gak?" tanya Devan.
"Gak! Emang bantuin apa sih? Awas kalau aneh-aneh aku gak mau," ujar Alice.
"Pesenin gue tiket ke Indonesia dong, kalau gak mau ya udah, gak jadi pergi!" ancam Devan sembari mengerucutkan bibirnya.
"Iya-iya, aku pesenin," pasrah Alice.
"Mau yang online apa yang offline aja nih?" tanya Alice.
"Yang langsung ambil ditempat aja deh, yang offline aja," jawab Devan.
"Merepotkan!" gumam Alice. Sementara Devan malah asyik menertawai Alice.
Alice mengeluarkan ponselnya. Ia mengetukkan sesuatu di layar tersebut. Beberapa saat kemudian, Alice menghela napas lega.
"Selesai!" ujar Alice riang.
"Eh gue kan pesennya offline ya, bukan online!" pekik Devan.
"Lah emang siapa juga yang pesen online b*doh!" ketus Alice.
"Lah elo kan masih berdiri di sini, kapan pesennya?" tanya Devan.
Tiba-tiba saja, Alice meneloyor jidat Devan. Membuat Devan mendengus kesal.
"Gak usah noyor-noyor kepala gue bisa gak?" geram Devan. Sementara Alice terkikik.
"Duh sensi banget sih jadi cowok! Namanya juga Alice, temennya ada di mana-mana. Lagian temen aku, si Jessie, kan ada yang kerja di bagian ticketing pesawat, jadi ngapain harus capek-capek ngantri ke sana, duduk santai aja udah pasti dipesenin sama Jessie hahaha," terang Alice.
"Terus ngambil ticket-nya gimana? Gue pengennya besok landing-nya," keluh Devan.
"Aku udah ambil cuti kok, besok kuantar ke bandara biar gampang, terus sekalian aku juga mau ke Indonesia juga hehehe," cetus Alice.
"Ngapain?" tanya Devan.
"Nemenin kamulah! Aku kan diberi perintah sama Papa buat ngejagain kamu. Kalau aku gak ikut, kamu juga gak boleh pulang ke Indonesia, mau?" cibir Alice.
"Ahh terserah lo aja deh," sahut Devan pasrah. Alice tertawa penuh kemenangan.
***
Elina menghidupkan laptopnya. Rumah sedang sepi. Seperti biasa, mamanya tidak di rumah karena harus ke luar kota. Sementara Okta, entahlah, mungkin sedang asyik bermain dengan Vigo. Jemari Elina bergerak menancapkan sebuah flashdisk.
Terdapat beberapa foto juga video di dalamnya. Foto-foto Elina bersama Devan. Elina mengamatinya satu-persatu foto dengan hati yang terasa perih. Semakin perih lagi ketika ia berhasil memutar videonya. Video penuh tawa bahagia. Video yang merekam kenangan indah Elina dan Devan dengan sempurna.
Video terakhir. Tampaklah Devan mengenakan baju rumah sakit. Terlihat sedikit pucat. Ia memandang ke arah kamera. Sosok itu mendekatkan diri ke arah kamera.
"El, aku harap kamu gak akan marah lagi setelah melihat tayangan video ini. Aku ke London karena sakit, El. Sakit yang sulit untuk disembuhkan. Maaf aku berbohong, maaf telah membuat banyak kesalahan. Aku akan menjelaskannya, tapi maaf bukan waktu dekat ini."
Video itu pun terhenti. Memberikan banyak pertanyaan pada benak Elina. Elina segera menutup laptopnya. Ia menghembuskan napas penuh frustasi. Hingga tiba-tiba, cuplikan adegan menyesakkan dada kembali terputar di benak Elina.
Flashback (episode 15):
"Gak bisa, Devan pacar gue sekarang."
Disa tiba-tiba mendekatkan diri ke arah Devan. Ia memandang sinis Raya. Devan hanya diam. Lagi-lagi ia hanya menghela napasnya.
"Apaan sih, gak usah ngaku-ngaku lo!" pekik Raya seraya mendorong tubuh Disa sampai terjatuh. Devan memejamkan matanya.
"Iya, Disa pacar gue. Jangan harap bisa ganggu hubungan kami."
Devan membantu Disa berdiri. Tangannya lantas menggenggam tangan Disa erat. Memperlihatkan bahwa Devan tidak ingin berjauhan dengan Disa barang sedetik pun.
"Katanya Kak Dev suka sama Elina?" tanya Raya. Devan menghela napas berat. Devan kembali memejamkan matanya.
"Itu hanya omong kosong. Gue gak beneran suka sama Elina. Gue cuma ngelampiasin perasaan gue, karena waktu itu gue ngira gak bakal direspon sama Disa. Sebenarnya gue suka Disa dari dulu, lagian kita juga udah dijodohin sama ortu kita," ucap Devan. Raya mengepalkan tangannya.
Flashback off.
Elina menyentuh dadanya. Sakit. Sesak. Kecewa. Kesal. Marah. Semuanya teruleni menjadi satu. Di saat ia ingin mempercayakan seutuhnya kepada Devan, kilasan menyedihkan itu datang menghujam. Sangat menyakiti hati.
Ia mencabut flashdisk-nya. Ia segera membuka jendela kamarnya dan segera melemparkan flashdisk itu ke luar jendela. Tidak peduli jika flashdisk itu akan rusak atau hilang.
Sedetik kemudian, ponsel Elina berbunyi. Tertulis "Juna is calling…." di sana. Elina menekan tombol hijau dengan rasa malas tingkat dewa.
"Apa?" tanya Elina.
"Elsa, keluar rumah sebentar, ada urusan!" pinta Juna.
"Gak bisa besok aja?" tanya Elina, "lagian besok kita pergi kan?"
"Gak bisa, Elsa! Aku udah ada di depan rumah," cetus Juna.
Dengan langkah gontai, Elina bersiap membukakan pintu untuk Juna. Malas sih, namun bagaimanapun, Elina harus menghargai Juna. Menghargai usahanya karena telah menyempatkan datang ke rumah Elina. Walaupun tidak diundang -_-.
Beberapa saat sebelum itu, Juna sedang asyik melangkahkan kakinya menuju rumah Elina. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, pintu Elina berhasil ia gapai. Namun tiba-tiba saja, kepalanya tertimpuk sebuah benda dari atas. Juna mengusap pucuk kepalanya. Sedikit sakit.
Pandangan Juna terpusatkan kepada benda kecil yang menimpuknya tadi. Ia lantas menjongkokkan dirinya. Memungut benda kecil itu. Sedetik kemudian, matanya membelalak.
"Ini flashdisk itu kan? Kenapa di sini?" gumam Juna.
Juna menatap ke atas. Pandangannya terhenti pada sebuah jendela.
"Dibuang? Ada apa ya?" Juna menatap flashdisk itu dengan pandangan bingung.
Juna mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak mencari sebuah kontak di layar ponselnya. Ketemu! Juna segera mengetuk kontak itu dan memutuskan untuk menelponnya. Sedetik kemudian, terdengar suara di seberang sana.
"…."
"Elsa, keluar rumah sebentar, ada urusan!" pinta Juna.
"…."
"Gak bisa, Elsa! Aku udah ada di depan rumah," cetus Juna.
Panggilan itu seketika berakhir. Juna menghela napasnya. Segeralah ia masukkan flashdisk di tangan kanannya itu ke dalam saku hodie. Juna melangkahkan kakinya hingga berada persis di depan pintu rumah Elina.
"Elsa!" seru Juna ketika pintu berhasil dibuka.
"Apaan sih, Jun! Malem-malem ke sini segala? Ada hal penting?" tanya Elina kesal.
Juna merogoh sakunya. Dikeluarkannya sebuah cokelat berpita merah dari dalam saku hodie kirinya. Juna mengulas senyum termanisnya.
"Ini buat kamu!" seru Juna sembari mengulurkan cokelat itu kepada Elina.
"Beg*! Kamu malam-malam belain ke sini cuma buat ngasih cokelat ini ke aku? Gak masuk akal! Buang-buang waktu aja deh, Jun!" ketus Elina.
Juna menghela napasnya. Ia menarik tangan Elina dan memberikan cokelat itu pada telapak tangan Elina.
"Makan cokelat itu bisa bikin bahagia. Aku tahu kamu lagi sedih, makanlah," pinta Juna.
"Anu…El…itu…."
"Apa?" tanya Elina, "udah deh, Jun! Aku ngantuk!"
Juna yang awalnya ingin menanyakan tentang flashdisk itu pun mengurungkan niatnya. Juna lagi-lagi mengulas senyumnya.
"Pergi ya?" mohon Elina. Juna menganggukkan kepalanya.
"Iya," ujar Juna.
Juna melangkahkan kakinya menjauh dari rumah Elina. Sedetik kemudian, Juna mengehentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Elina lekat.
"Je t'aime!" ucap Juna. (Je t'aime\=aku cinta kamu)
"Apa?" tanya Elina bingung. Jujur saja, Elina tidak tahu apa yang baru saja dikatakan oleh Juna itu.
"Selamat tidur, Elsa!" sahut Juna kemudian. Elsa menganggukkan kepalanya.
"Iya, kamu juga," ujar Elina.
Juna mengulas senyumnya. Ia segera melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
****
Disa menatap pemandangan kota dengan pandangan kosong. Ia berada di sebuah taman kota, sendirian. Memandangi air mancur yang tampak indah dengan lampu warna-warni yang meneranginya. Tiba-tiba saja, ponsel baru miliknya bergetar. Disa langsung mengeceknya.
"Devan akan ke Indonesia besok"
Disa lantas menyunggingkan senyumnya. Ia memandang lurus ke arah air mancur, sementara tangannya bergerak memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya. Disa menangkup wajahnya. Entah mengapa, tiba-tiba saja wajahnya memanas.
"Kalaupun gue teror Elina lagi, identitas gue udah diketahui sama Juna. Sekali gue bertindak, gue bakal kehilangan Devan seutuhnya," gumam Disa.
"Walaupun hanya diam sekalipun, gue gak yakin bisa dapetin Devan. Kepercayaan Devan sama gue udah hancur. Walaupun udah gue jelasin sekalipun tentang alasan gue menjauh waktu itu, posisi gue yang sekarang udah diganti sama Elina."
Tangan Disa bergerak menggebrak bangku taman.
"ELINA, GUE BENCI SAMA LO!" teriak Disa lantang.
"Kembalikan posisi gue di hati Devan, please, El. Gue sayang sama dia, lebih dari apapun hiks," gumam Disa pelan sembari terisak.
Memang sangat menyakitkan. Konsekuensi dari ketidakjujuran memanglah ketidakpercayaan. Disa mengaku salah. Disa tidak jujur sejak awal, sampai akhirnya kepercayaan Devan kepadanya hancur. Disa bisa merasakan itu. Disa bisa merasakan bahwa…Devan tak lagi nyaman saat bersama dengannya. Berbeda dengan Devan yang dulu.
Memang sejak kematian Lisa, Disa menjadi lebih sensitif. Disa sangat menyayangi Lisa. Lisalah yang menemani Disa bermain sejak kecil. Tentu saja kehilangan Lisa adalah sebuah kenyataan yang sulit diterima. Sampai akhirnya, ia tak sengaja mendengarkan ucapan ibu dan ayah Devan di ruang tamu. Saat itu, Disa berniat menjemput Devan untuk bimbel bersama. Namun, tak sengaja, ia mendengarkan hal yang tentu menyakitkan bagi dirinya.
Devan sakit. Sakit yang telanjur parah. Untuk itulah Disa memilih menjauh dari Devan. Ia tidak bisa. Tidak bisa memandang wajah Devan walaupun hanya untuk beberapa menit saja. Disa takut, ia terlihat begitu lemah di hadapan Devan. Iya, Disa lemah. Disa lemah pada kenyataan bahwa Disa harus kehilangan orang yang sangat ia sayangi untuk kedua kalinya. Tidak! Disa tidak boleh membiarkannya begitu saja!
Disa mencari pengobatan terbaik melalui koneksi ayahnya. Bertahun-tahun ia mengembara mencari pengobatan yang akan menyembuhkan Devan secara total. Disa berharap, tidak akan ada lagi kata ditinggalkan dalam kamus kehidupannya lagi.
Tentu saja Disa menemukannya. Disa pun langsung membicarakannya dengan Dokter Ryan, dokter yang menangani penyakit Devan. Semuanya berjalan sesuai harapan. Devan juga bersedia ke London untuk menerima pengobatan itu.
Bukan kehidupan namanya jika tak ada celah kepedihannya. Di samping pelangi, ada hujan yang rela terhenti. Ada awan yang rela tergusur. Seperti rasa nyaman Devan kepada Disa yang perlahan luntur. Seperti kehangatan di hati Devan yang tergantikan oleh pelita yang baru. Di saat ada hal yang berjalan dengan sangat sempurna, ada hal lain yang harus menjadi korban hingga kesempurnaannya terhambat. Walaupun begitu, Demi Tuhan, Disa bahagia. Selama Devan bisa bertahan hidup, selama Disa mampu melihat Devan menerbitkan senyumnya, Disa sangat bersyukur. Demi Devan. Disa rela melakukan apapun.
Meskipun masih ada setitik rasa egois di dalam hati Disa yang menginginkan Devan seutuhnya. Bagaimanapun, Disa masih berusaha. Berusaha menggapai Devan. Mengembalikan seluruhnya yang pernah ia terima dari Devan dan sempat hilang karena kebodohannya saat menjauhi Devan.
Semakin dingin, Disa memutuskan meninggalkan tempat itu. Mencari kehangatan di tempatnya menjemput mimpi. Rumahnya. Ia ingin kembali ke tempat itu. Mencari kehangatan di sana.
***
Di samping itu, Raya dan Delana tengah menikmati dinginnya malam. Kembang-kembang api mulai diluncurkan. Meledak di atas. Menghiasi langit yang pekat dengan warna-warni yang membahagiakan.
Raya tiba-tiba menggenggam erat tangan Delana. Tatapan mereka lantas beradu. Raya menghela napasnya.
"Akankah kita akan seperti ini seterusnya? Bersama, saling menggenggam, sampai uban terbit di rambut kita. Sampai anak kecil dari anak kita memanggil kita kakek-nenek?" ucap Raya.
Delana menorehkan senyumnya. Tangannya bergerak mengacak poni depan Raya.
"Kejauhan!" cibir Delana.
"Apa-nya?" tanya Raya.
"Mikirnya hahaha," ujar Delana diikuti dengan tawa. Sementara Raya memanyunkan bibirnya.
"Tapi mau kan?" tanya Raya seraya mengguncang-guncangkan lengan Delana.
"Susah," ujar Delana dingin.
Raya menghela napasnya pasrah, "Baiklah."
Raya diam seribu bahasa. Kembang api mulai surut menghiasi langit. Gema-gema terompet mulai berangsur-angsur tak semeriah tadi. Delana melirikkan pandangannya ke arah Raya. Gadis itu menunduk. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Atau mungkin…gadis itu kecewa?
"Susah ditolak," cetus Delana kemudian. Raya mendongak, menatap Delana.
"Apanya?" tanya Raya.
"Huh dasar! Kenapa calon pacarku loadingnya lama gini sih. Lelet banget nyambungnya!" cibir Delana.
"Apaan sih! Serius!" keluh Raya.
"Kamu pengen aku serius?" tanya Delana. Raya menganggukkan kepalanya.
Delana mengatur napasnya. Ia menangkup wajah Raya. Keduanya saling menatap lengkap.
"Oke, lulus sekolah kita nikah!" cetus Delana. Raya membulatkan matanya.
"Gak! Terus kuliahku gimana?" protes Raya.
"Kuliah sambil nikah…mau?" tanya Delana.
"Kok gitu!" keluh Raya.
"Ya udah kalau gak mau," ujar Delana.
"Ya udah deh, iya, mau kok," sahut Raya.
"Berarti hubungan kita sekarang apa? Pacaran?" tanya Raya.
"Males deh pacaran! Temenan aja," ujar Delana.
"Gak mau! Pokoknya harus pacaran!" tegas Raya.
"Huh ya udah deh, iya. Terserah aja," pasrah Delana.
"Yah kok terserah sih! Kamu gak ikhlas ya?" tuduh Raya.
"Gimana sih! Ikhlas kok!" jawab Delana.
"Kayak gak ikhlas!" cibir Raya. Delana memutar bola matanya.
"Terus mau kamu gimana?" keluh Delana.
"Mau aku makan. Yuk, udah laper nih," ujar Raya seraya menepuk-nepuk perutnya.
Delana mengembangkan senyumnya. Digenggamnya tangan Raya erat, "Ayo!"
Keduanya lantas beranjak mencari tempat untuk makan. Ditemani suara-suara petasan yang masih setia menemani malam tahun baru.
Like dariku sudah melayang tuh hehe 😁
Jangan lupa feedback ceritaku yah, judulnya "Asisten Husband".
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🏻☺️
mampir ya
semangat Thor
mampir ya
membawa like dan komen..
semangat Thor...
mampir ya