Ingin dicintai seseorang adalah naluri manusia. Namun, memilih mencintai terlebih dahulu membutuhkan keberanian karena akan membuka peluang tersakiti lebih dulu dengan "cinta tak terbalas".
Mentari Sinar Diningrat, seorang mahasiswa kedokteran yang sedang menyelesaikan coas, berusia 24 tahun, memiliki tubuh lumayan tinggi 168cm, berkulit putih bersih dan bercahaya seperti namanya, serta lugu polos hingga lelaki yg melihat nya terkesima dengan penampilan Dokter Mentari. Banyak mata lelaki melihatnya , tapi dia hanya melihat dokter senior pembimbing coas nya yaitu Dokter Chandra yang sudah memiliki kekasih.
Pada suatu hari menjelang pernikahan dokter Chandra dengan kekasihnya, dokter Chandra dicampakkan kekasihnya demi lelaki lain. Agar tidak membuat malu keluarga, akhirnya Dokter Chandra memutuskan untuk meminta Dokter Mentari menikah dengannya.
Apakah cinta Mentari untuk Chandra terbalaskan? Apakah pernikahan mereka bisa bertahan? Apakah cinta mereka setara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Basa Basi
Keesokan harinya, Mentari bangun subuh dan bebersih diri melakukan kewajiban seperti biasa nya, kemudian akan keluar kamar menuju dapur. Sebelum keluar hpnya berbunyi , kali ini bukan sahabat trio wek wek yg kalau telepon gak tau batasan kayak semalam. Ternyata itu dari ibunya, bu Ambar yang telepon.
"Assalamu'alaikum, anak ibu" sapa Ambar dibalik telepon.
"Walaikumsalam ibu Ambar yang cantik jelita" balas Mentari senang ia mendapat kan telepon dari ibunya pagi2 ini, memberikan semangat pagi.
"Hari ini berangkat ke rumah sakit sama Chandra jam berapa Tar? " tanya Ambar.
"Wah aku nggak tau bu, nurut aja sama Mas Chandra" jawab Mentari apa adanya.
"Oh yaudah, ibu mau ngajakin foto keluarga Diningrat yang baru ada mantu doong di hari Sabtu minggu ini, tapi nanti mau ngajak kamu sama Chandra fitting baju di penjahit langgan ibu, Perfect Tailor" ujar Ambar menjelaskan maksud tujuan telepon pagi2.
" Nanti coba aku tanyakan ke dia ya bu, tapi kayaknya kita baru bisa habis magrib deh bu pulang praktek biar gak keburu buru juga fittingnya" ucap Mentari.
"okedeh aman, jadi nanti habis magrib kamu langsung ke perfect tailor aja ya, ibu udah konsep bagus banget udah beli kain dan pokoknya tinggal bajumu sama Chandra" jelas Ambar.
"siapa ibu Ambar, laksanakan" seru Mentari sambil berjalan keluar kamar menuju dapur karena dirasa telepon nya akan berakhir.
sesuai dugaan, setelah itu mereka saling salam dan mengakhiri panggilan ibu dan anak itu.
Mentari membuka kulkas ada sayuran wortel, kubis, sawi yang kmrn dibeli di market. Ia akan memasak sarapan Capcay. Meskipun Mentari terlahir kaya raya dan keluarganya memiliki banyak ART, namun Mentari masih bisa masak, bersih bersih rumah dan melakukan pekerjaan rumah karena Ayah Adiguna dan Ibu Angelina mengajarkan mandiri sejak kecil meskipun semua kebutuhan dan hampir semua keinginan anaknya terpenuhi, tapi anak2 mereka juga harus memenuhi kewajiban sebagai individu yg bisa membawa diri.
Jadi sistem parenting Ayah Adiguna & Ibu Ambar setiap 2 weekend - sabtu minggu dalam 1 bulan mereka akan meliburkan ART secara full atau mereka akan melakukan trip outdoor. Gaji ART keluarga diningrat gak tanggung2 sih karena setiap bulan ART hanya libur 4 hari secara pastinya namun bisa libur karena hal lain yg urgent.
***
30 menit kemudian atau saat ini menunjukkan pukul 06.15 pagi, sarapan sudah dihidangkan. Mentari bingung apa dia harus mengetuk pintu suaminya untuk sarapan bersama. Dia masih malu akan kejadiannya sebelumnya karena dimemori itu Mentari menjadi istri yang menggoda nan agresif. Namanya juga istri butuh belaian juga say...
Mentari pun memutuskan menghampiri kamar Chandra dan berniat mengetuk pintu namun belum saja tangannya menimbulkan suara tok tok tok, pintu itu terbuka dan langsung terpampang tubuh Chandra yang hanya memakai kaos polos putih dan rambut masih basah karena habis keramas mendinginkan tubuhnya yg dari malam meremang meskipun sudahh bermain solo.
Mentari terpaku ditempat, hampir saja tangannya mengetuk dada Chandra yg ada didepannya. Biar tidak makin malu, Mentari memulai percakapan pagi.
"Mas sarapan nya sudah siap. Aku bikin capcay" ucap Mentari ramah tp hatinya masih tak terkontrol debarannya
"Iyaa, bau enaknya sampek sini" kata Chandra sambil melangkah kan kaki nya melewati Mentari menuju meja makan. Mentari mengikuti suaminya itu.
"Mas ada yang ingin aku sampaikan pesan Ibu Ambar, kalau kita diminta fitting baju buat foto keluarga hari sabtu di minggu ini habis mahgrib di Perfect Tailor" ujaar Mentari yang akan duduk di meja makan mengikuti Chandra.
"oh ndadak banget ya tapi gapapa kita selesai praktek di RS jam set4 sore keluar RS jam 4 lalu cari makan malam dulu baru fitting" kata Chandra.
"eh masak makan dulu belum fitting? nanti perut kita melebar " canda Mentari terkekeh kecil.
"hahaahaa yaudah fitting dulu baru dinner ya. Ibu nggak nyusul kita? " tanya Chandra.
"Nggak, ibu bilaang semua baju udah siap kecuali kita jadi kayaknya emang kita berdua aja nanti di penjahit" jawab Mentari.
"oke, yuk kita sarapan dulu" seru Chandra langsung mengambil sendok di hidangan sarapan yang sudah disiapkan Mentari.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama dengan tenang dan tidak membahas permainan panas yang baru dimulai kemarin antara mereka.
***
Kegiatan pagi hingga sore hari ini sepasang suami istri baru itu sudah terlewati sebagai dokter di RS UKA. Seperti rencana mereka, selepas pulang kerja langsung menuju Perfect Tailor untuk fitting baju keluarga.
Mereka keluar RS UKA pukul set 6 sore sehingga mereka memutuskan untuk berhenti beribadah terlebih dahulu di masjid yang mereka lewati. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju penjahit langganan bu Ambar.
Sesampainya di Perfect Tailor, Mentari disambut Bu Murni selaku pemilik dan penjahit sekaligus sahabat ibunya.
"wah Mentari makin cantik aja bareng suami yg ganteng amat" sapa Bu Murni sambil langsung meluk Mentari.
"Alhamdulillah Bu Murni" sahut Mentari masih dalam sentuhan penjahit itu.
Bu Murni melepas pelukannya dan beralih menyapa Chandra.
"Silahkan masuk nak Chandra" ajak Bu Murni.
Mereka pun masuk ke ruang tamu toko perfect tailor yang cukup besar dan luas. Wajar saja toko Bu Murni luas, dia penjahit terkenal di Kota A dan menjadi salah satu pengusaha wanita hebat. Suaminya juga pengusaha, jadi yaa begitulah circle Bu Ambar dari keluarga Diningrat gak main main bos.
Bu Murni mengambil meteran dan mulai mengukur tubuh Mentari dan Chandra bergantian.
"Wah wah wah, Mentari makin berkurang ya ukurannya 1-2 cm, diapaain aja nih ama suaminya?" canda Bu Murni sehabis mengukur mereka berdua.
"Ah Bu Murni bisa aja. Perasaan saya ya tetep segini aja sejak terakhir kali ngukur baju disini buat wisuda sumpah dokter kemarin" elak Mentari
Bu Murni pun tersenyum saja mendengar jawaban Mentari. Lalu ia mempersilahkan Mentari dan Chandra untuk duduk lagi dan menikmati minuman serta snack yg sudah disiapkan oleh Bu Murni.
"silahkan dimakan loh yaaa, buat tenaga nanti malam" goda Murni yg gak capek capek bikin pasutri baru itu kikuk.
Mentari dan Chandra hanya tersenyum tipis mendengar godaan Bu Murni. Setelah menghabiskan minuman yg dihidangkan dan mengambil beberapa cemilan, Chandra dan Mentari pamit untuk pulang.
"Bu Murni kami pamit dulu ya, Terima kasih banyak" kata Mentari yang sudah berdiri dari sofa.
" sama sama nak, kasih tau ibu mu ya besok sore udah jadi karena biar segera bisa dicuci dan kamu pakai Sabtu besok" ujar Bu Murni.
"baik bu" timpal Mentari sambil berjalan menuju pintu toko dan diikuti oleh Chandra. Mereka pun keluar Perfect Tailor dan memasuki mobil mereka.
"Mau makan malam apa Mas? " tanya Mentari ketika mobil sudah berjalan menyusuri gemerlap Kota A.
"Mas mau ajak kamu makan soto daging enak" jawab Chandra.
"Soto apa? Biasanya aku sama keluarga makan sotonya Cak Ali" ujar Mentari.
"ya itu, bener enak kan. Mau ya makan disitu?" tanya Chandra memastikan.
"ya mau doong, emang enak banget sotonya" sahut Mentari.
Mereka pun memutuskan makan soto daging Cak Ali untuk dinner kali ini. Makan malam kali ini normal saja seperti dinner suami istri pada umumnya atau bisa dibilang kencannya orang dewasa no alay dan main suap suapan.
Pukul set 9 malam, Chandra dan Mentari baru sampai apartemen mereka. Seperti kebiasaan bersih dari mereka yang langsung membersihkan diri alias mandi karena merasa tenaga kesehatan harus bisa menjaga diri mereka dari hal hal tak terlihat mata setelah beraktivitas seharian.