NovelToon NovelToon
Lolipop

Lolipop

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel / Romansa / Cintapertama / Penyeberangan Dunia Lain / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: just.penelop3

Ava Nandita adalah seorang remaja yang kaya dan cerdas namun terisolasi. Dia pecinta lolipop dan selalu membawa permen kesayangannya itu kemanapun dia pergi.
Suatu hari, Ava menemukan toko kecil di ujung jalan dekat tempat kursusnya. Dia membeli 2 toples besar berisi banyak sekali lolipop unik yang baru pernah dia lihat. Selain unik, lolipop ini ajaib. Setiap kali dia memakannya, dia bisa langsung pindah tempat dan waktu.
Awalnya, Ava terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi padanya. Tetapi kesempatan ini dia gunakan untuk menggali pengetahuan tentang sejarah dan berpetualang menjelajah tempat-tempat eksotis.
Namun suatu hari, Ava menemukan seorang pria di abad ke-19 bernama Ethan yang membuatnya jatuh cinta. Ketika dia semakin terlibat dengan Ethan, hatinya terbelah antara cinta dan kewajiban untuk kembali ke waktunya sendiri.
Apakah Ava akan tetap bertahan di abad ke-19 atau kembali ke tempatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just.penelop3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kami di Festival

Orang tua Ethan sangat baik pada kami. Percakapan yang hangat antara kami membuatku merasa diterima.

Rebecca sangat feminim, sedangkan George sangat lucu. Dia selalu bergurau disetiap percakapan kami. Kami tertawa dibuatnya. Tetapi terlihat sekali, bahwa George sangat berwibawa.

“Ok, Ava dan Elisa. Kami tidak ingin menahan kalian lama-lama di sini. Kalian harus berkeliling ke kota secepatnya karena ada karnaval. Ethan akan mengajak kalian.” Ujar George.

“Baiklah, terima kasih sudah menerima kami dengan hangat.” Ujarku.

“Terima kasih.” Ujar Elisa. “Kami akan kembali ke sini terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah kami.”

“Baiklah. Semoga kalian bersenang-senang.” Ujar Rebecca.

Kami pun pamit dan pergi bersama Ethan.

“Mereka anak-anak yang baik.” Ujar Rebecca.

“Ya.” Ujar George. “Elisa yang periang dan ceroboh, sedangkan Ava yang cerdas dan sangat hati-hati.”

“Elisa mengingatkanku pada Betrix.” Ujar Rebecca.

“Ya, aku pun berpikir demikian. Aku menjadi penasaran bagaimana kabar Simon.” Ujar George.

“Dia sangat terpukul dengan kepergian Betrix. Pernikahan mereka hanya tinggal satu bulan lagi. Tetapi Betrix lebih dulu meninggalkannya.” Ujar Rebecca. “Hingga sekarang dia masih belum siap untuk datang ke mari. Yang aku dengar, dia berlayar untuk menghilangkan rasa sedihnya.”

..._____

...

Kami telah sampai di kota dan karnaval yang dimaksud oleh Ethan dan orang tuanya sudah mulai. Banyak orang di sana yang sudah berkumpul.

Elisa yang sangat tertarik, berlari ke sana ke mari melihat setiap tenda-tenda yang menjual makanan dan hasil karya tangan.

“Ava, makanan di sana terlihat enak.” Ujar Elisa sambil menunjuk ke arah salah satu tenda makanan.

Kami pun menghampiri tenda itu. Dan memesan cake cokelat sebanyak tiga.

“Biar aku yang bayar.” Ujar Ethan yang menahanku saat aku hendak mengeluarkan uang.

“Tapi Ethan..” ujarku yang dipotong olehnya.

“Kalian tamuku. Sudah sepantasnya aku menjamu kalian dengan baik.” Ujar Ethan sambil mengedipkan matanya padaku.

“Apa kamu punya uang, Ava.” Bisik Elisa.

“Tentu. Aku sudah mempersiapkan sejumlah uang untuk di sini. Dan bisnis kita.” Bisikku.

“Benarkah?” teriak Elisa girang namun membuat pedagang cake, Ethan, dan aku kaget. “Maafkan aku.”

Kami hanya tertawa melihat tingkah Elisa.

Kami pun berjalan kembali sambil mencari tempat untuk memakan cake kami. Ethan berhenti untuk memberi minuman untuk kami bertiga. Dan kami lanjut berjalan ke arah taman. Kami masih bisa menikmati festival dari taman itu.

Kami duduk di kursi taman dan mulai menyantap cake dan minuman kami.

“Cake ini enak.” Ujar Elisa.

“Semua selalu enak untukmu, Elisa.” Ujarku.

Ethan hanya tersenyum mendengarnya.

“Lihat itu!” pinta Ethan sambil menunjuk ke arah festival.

Aku dan Elisa melihat ke arah yang Ethan maksud. Kami melihat kendaraan hias dengan berbagai buah dan sayuran. Seperti mewakili arti dari festival itu sendiri.

Kami melihat ada beberapa orang di setiap kendaraan yang memakai kostum dan melambaikan tangan ke arah penonton.

Saat melihat itu, aku mengeluarkan hpku dan mengambil video dan foto.

“Itu apa, Ava?” tanya Ethan.

“Oh. Ini namanya telepon genggam, Ethan.” Jawabku.

“Jelaskan padaku.” Pinta Ethan.

Aku dan dibantu oleh Elisa menjelaskan tentang hp untuk Ethan. Selalu setiap kali aku bertemu dengan orang baru, aku harus menjelaskannya.

“Menarik.” Ujar Ethan singkat.

“Apa nama festival ini, Ethan?” tanyaku.

“Harvest Queens.” Jawab Ethan.

Aku mengerti sekarang, mengapa buah-buahan dan sayuran menjadi hiasan pada parade itu.

“Festival ini sampai jam berapa, Ethan?” tanyaku.

“Sampai tengah malam.” Jawab Ethan.

“Elisa, kamu akan tinggal lama di sini?” tanyaku.

“Iya, Ava. Aku sudah minta ijin pada James.” Jawabnya.

“Sepertinya aku tidak akan lama-lama di sini.” Ujarku.

“Mengapa?” tanya Ethan.

“Iya, Ava. Mengapa?” tanya Elisa yang terlihat sedih.

Dan aku menjelaskan alasannya mengapa pada mereka berdua.

“Jadi orang tuamu belum tahu tentang ini semua?” tanya Ethan.

“Ya.” Jawabku malu.

“Saranku, kamu harus memberitahu mereka. Agar mereka tidak khawatir seperti kemarin.” Ujar Ethan.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.” Ujarku.

“Seperti kamu mulai menjelaskan kepada kami berdua.” Ujar Ethan. “Aku yakin orang tuamu akan percaya padamu.”

“Benar kata Ethan, Ava. Kamu harus cerita pada mereka.” Ujar Elisa. “Aku saja sudah cerita pada James.”

“Akan aku pikirkan lagi.” Ujarku.

“Jangan terlalu lama berpikir, Ava. Kamu harus cepat-cepat cerita pada mereka.” Ujar Elisa.

“Aku takut mereka tidak akan mengijinkanku untuk ke mari lagi.” Ujarku.

Evan memegang pundakku.

“Kamu akan baik-baik saja, Ava. Aku mengerti kekhawatiranmu.” Ujar Ethan. “Mungkin untuk pertama kali mereka mendengarnya, ya mereka akan sulit memberimu ijin. Tapi jika kamu menjelaskan, kamu mempunyai teman seperti Elisa dan aku, aku yakin orang tuamu akan mengijinkanmu.”

“Bawa orang tuamu ke mari, Ava. Atau ke tempatku.” Ujar Elisa. “Lihat, kamu bisa membawaku ke mari. Kamu bisa juga membawa mereka.”

“Aku rasa itu ide bagus. Jadi mereka akan percaya padamu.” Ujar Ethan.

Aku tersenyum senang mendengar ide itu.

“Betul juga, bawa mama dan papa.” Ujarku. “Terima kasih.”

“Masalah terselesaikan.” Ujar Elisa sambil terkekeh.

“Elisa, aku baru ingat. Mana anggaran yang aku minta. Aku ingin mengeceknya.” Ujarku.

“Oh iya, aku juga lupa.” Ujar Elisa sambil mengambil kertas dari dalam tasnya dan menyerahkan padaku. “Ini!”

Aku mengambil kertas itu.

“Ini aku diskusikan dengan James. Dia lebih mengetahuinya.” Ujar Elisa.

Aku mulai mengamati anggaran itu.

“Ethan, mengapa kamu melihat Ava seperti itu?” ujar Elisa yang memergoki Ethan.

Aku berhenti mengamati kertas di tanganku dan melihat kebingungan ke arah Elisa dan Ethan.

“Aku melihat Ava menjadi pribadi yang berbeda saat dia sedang fokus seperti itu.” Ujar Ethan.

“Yakin tidak karena kamu mulai jatuh hati pada, Ava?” tanya Elisa curiga.

“Elisa, ngomong apa sih.” Ujarku kaget.

“Ethan sepertinya suka padamu, Ava.” Canda Elisa. “Iya kan, Ethan?”

“Kalau benar, kenapa?” tanya Ethan datar.

Aku dan Elisa hanya kaget mendengarnya. Aku tidak menyangka jika Ethan menyukaiku. Elisa yang hanya bercanda terlihat seperti tidak menyukai pertanyaan dari Ethan.

“Sudahlah, jangan bercanda.” Ujarku mengallihkan perhatian.

Aku kembali mengecek kembali anggaran. Terasa aura canggung antara aku, Elisa, dan Ethan. Terlihat karena kami hanya diam.

Ethan kembali menikmati minuman sambil melihat ke arah pawai yang masih berlangsung. Sedangkan Elisa memperhatikanku.

“Ok, Elisa. Aku setuju! Aku ternyata membawa setengah dari uang dari anggaran ini.” Ujarku senang. “Ku pikir kita bisa mulai secepatnya.”

“Benarkah?” tanya Elisa bersemangat.

“Ya, aku akan memastikan setengah uangnya, akan aku berikan minggu depan.” Ujarku.

Aku pun mengeluarkan sejumlah uang yang sudah aku siapkan, menghitungnya di depan Elisa dan memberikannya.

“Dan ini, aku membawa tanda bukti. Kamu harus menandatangi di sini, dan aku di sini. Ini membuktikan bahwa aku sudah memberikan uang kepadamu. Dan Ethan, tolong jadi saksi untuk kami.” Ujarku sambil memberikan pulpen.

“Baik.” Ujar Elisa yang langsung menandatanginya.

Tanpa kami sadari, ada dua mata yang memperhatikan kami dari tadi.

1
Wina I'mi
terus berkarya thor,novel mu bagus sekali😘
Aerik_chan
Selamat atas pernikahannya....akhir yang bahagia.....ditunggu karya author selanjutnya...
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Nicky
asiiik jadian nih
Fenti
setangkai bunga buat Viona dari Viona😊
Fenti
hay Viona?😁.
Fenti
ikut dong, kebetulan nih aku bosan dirumah ava🤭
Elisabeth Ratna Susanti
mantap banget 😍
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Setia R
wah lolipop nya sakti, mau dong di ajak ....😃😃😃😃
Setia R
satu iklan untuk mu
Aerik_chan
semangat kak
Silvi Aulia
mau dong punya lolipop kaya gitu 😍
Fenti
seru ceritanya 👍

bunga 🌹 untuk si lolipop😁
Elisabeth Ratna Susanti
top 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 😍
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Aerik_chan
Semangat kak
Setia R
satu iklan untukmu!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!