Aldiro adalah pria nakal yang terkenal, hingga ia bertemu dengan Elina yang berhasil merubah hidupnya menjadi lebih baik. Bagi Aldiro, Elina adalah hidupnya bahkan segala-galanya.
Keduanya menjalin hubungan, dan disaat Aldiro merasakan kebahagiaan tiba-tiba Elina mengkhianatinya dengan seorang pria yang sangat Aldiro kenal.
Merasa di khianati dan di hancurkan, Aldiro kembali menjadi pria nakal. Ia ingin Elina kembali menjadi miliknya karena hanya wanita itu yang bisa memperbaiki hatinya yang hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Sebelumnya Elina tidak pernah merasa tidak berdaya seperti ini. Aldiro jarang mengalami demam dan setiap kali demam, Elina akan merawatnya dengan baik di apartemen.
Tapi kali ini berbeda, Elina bahkan tidak membawa apa pun untuk menghangatkan tubuh Aldiro, tidak ada tempat tidur dan selimut, tidak ada obat atau sup yang bisa ia berikan untuk Aldiro. Seluruh tubuh pria itu gemetar karena angin dingin dan pakaian nya yang basah. Elina merasa tak berdaya dan bersalah, ia terus memeluk Aldiro ke tubuhnya sedekat mungkin.
Tapi syukurlah, Elina membawa tasnya dengan sepasang pakaian ekstra dan handuk. Ia telah mengganti pakaian basah Aldiro beberapa waktu lalu, meletakkan yang basah dekat api sehingga mudah kering. Untuk kali ini Elina merasa perlu berterima kasih pada insting yang selalu membawa tasnya dengan sepasang pakaian, handuk, dan kotak P3K di dalamnya, ke mana pun ia pergi.
"Kenapa kamu begitu bodoh?." Elina diam-diam bertanya pada pria yang menggigil di pangkuannya. Bagaimana bisa Aldiro tahu kalau dirinya ada di sini sendirian?.
Elina menghela napas, menarik tubuh Aldiro untuk lebih dekat lagi ke tubuhnya, berusaha memberikan lebih banyak kehangatan sebaik mungkin. Mengetahui tidak ada yang bisa memberinya jawaban, ia menghela nafas. Ia perlu berbicara dengan pria sembrono ini begitu Aldiro pulih.
Meskipun tubuhnya dingin dan menggigil, Aldiro bisa merasakan kehangatan yang datang dari orang di sampingnya itu. Mau tidak mau ia merasakan perutnya berputar-putar dalam kebahagiaan saat sentuhan lembut Elina membuatnya menginginkan lebih. Ada sesuatu di dalam dirinya, yang hanya Elina yang bisa memenuhinya. Mungkin itu sebabnya Aldiro masih bertahan dan tidak bisa melepaskannya.
Dia tahu itu bodoh. Elina telah menyatakan cintanya pada pria lain. Wanita itu bilang dia tidak mencintai Aldiro lagi. Jadi mengapa dirinya masih bertahan? Apa mungkin ini semua karena kehangatan dan indakan kecil yang sederhana ini.
"Apakah kamu merasa lebih baik?" tanya Elina, suaranya manis dan lembut. Tangan kecilnya masih mengusap bahu Aldiro.
Aldiro menggelengkan kepalanya, matanya setengab tertutul dan hanya menatap mata Elina yang khawatir.
"Aku punya dua botol air di sini... bisakah kamu bangun sebentar?" tanya Elina lagi, masih ada kekhawatiran di wajahnya saat ia membantu Aldiro bangun dan minum dari botol air tersebut.
Elina kembali membantu Aldiro berbaring lagi di pangkuannya, dengan lengan Elina yang memeluknya seperti seorang ibu yang sedang menggendong bayi.
Mengapa Aldiro tidak bisa melepaskan apa yang sudah terjadi, padahal Elina sudah mengatakan bahwa ia tidak mencintai Aldiro lagi. Jauh di lubuk hati, Aldiro bisa merasakannya dan ia tahu itu bukan hanya khayalan atau angan-angan yang mempermainkannya.
Jari-jari Elina membelai rambut Aldiro dengan lembut, wajahnya yang khawatir kini berganti dengan kekaguman. Berapa minggu telah berlalu sejak ia melihat wajah Aldiro sedekat ini?. Elina tidak bisa menahan senyum ketika ia menatap fitur-fitur wajah Aldiro yang membuatnya kagum. Elina, mengira Aldiro sudah tertidur, membuatnya mencurahkan semua emosinya dalam satu tindakan, Elina membungkuk dan mencium lembut dahi Aldiro.
Dia berharap pria itu bisa pulih dengan cepat. Setelah itu terjadi, Elina berjanji akan menebus semua yang telah ia lakukan. Meski berisiko dan menakutkan, Elina tidak akan kabur lagi. Dia telah memutuskan akan menerima Aldiro dan cintanya lagi.
Mengingat hal itu, akhirnya Elina tertidur.
Dan tanpa sepengetahuannya, Aldiro tersenyum. Tentu saja, pria itu tau apa yang telah ia lakukan.
*
*
*
Saat Aldiro terbangun di tengah malam, ia merasakan seluruh tubuhnya kaku dan detak jantungnya berhenti.
Elina tidak ada di sana.
Dengan lutut lemah, Aldiro berusaha sekuat tenaga untuk bangkit, berdiri dan bersandar di dinding gua yang lembab. Ia memanggil Elina berulang kali, sarafnya tegang karena khawatir dan ketakutan, tetapi bahkan kata-katanya pun tampak tidak berguna di tengah hujan lebat dan tubuhnya yang menggigil.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Elina terkejut saat dia melihat Aldiro hampir merangkak keluar dari gua.
"Aku... kupikir kau.." Aldiro bisa saja mengakui bahwa ia terlalu takut, ia hampir mati saat memikirkan Elina
menghilang lagi.
Elina menghela nafas, menarik Aldiro dan membantunya kembali ke tempat tidur yang terbuat dari dedaunan dan pakaian kering yang ia lakukan beberapa jam yang lalu.
"Kemana Saja Kamu?" Aldiro tidak bisa menghilangkan kekhawatiran dalam suaranya. Bahkan dalam keadaannya yang seperti ini, ia berhasil menempatkan kemarahan yang cukup dalam nadanya untuk memberi tahu orang lain bahwa ia sangat khawatir.
"Aku mencoba mencari makanan.. dan aku hanya menemukan ini," jelas Elina, hampir tersipu ketika ia meletakkan tiga buah delima.
Aldiro melirik buah-buahan itu, hanya memikirkannya saja langsung memberinya perasaan yang luar biasa. Ia tersenyum, amarahnya mereda saat ia menarik tangan Elina dan menggenggamnya erat-erat. "Lain kali jangan pergi sendirian."
"Tapi kamu kan tidak enak badans etidaknya aku bisa melakukan ini untukmu."
Jari-jari Aldiro bergesekan dengan jari-jari kecil Elina yang menjadi dingin setelah terkena hujan di luar. "Tapi kamu harus memberitahuku dulu sebelum pergi."
Elina bisa merasakan kulit Aldiro menempel di kulitnya, setiap bagian dari dirinya semakin menginginkan sentuhan Aldiro, untuk menyulut perasaannya lebih dalam, membawanya kembali ke cinta dan hasrat mereka bersama, ada sesuatu yang membakar Elina sedemikian rupa sehingga setiap inci tubuhnya ditandai dengan cinta Aldiro yang menyala-nyala.
"Kamu baik-baik saja?" Aldiro bertanya, memperhatikan bagaimana wajah Elina tiba-tiba memerah.
Elina tersipu lebih keras, menggelengkan kepalanya untuk mendorong pikiran yang tidak perlu seperti itu. "A-aku baik-baik saja." Ini bukan waktunya untuk merasakan emosi seperti itu. Mereka berdua harus bertahan melawan cuaca, setidaknya sampai hujan berhenti dan orang-orang dari pulau lain bisa menyelamatkan mereka dari sini.
Setelah memakan buah-buahan tersebut, Elina dan Aldiro duduk di dekat api tempat mereka meletakkan tumpukan kayu baru agar tetap hangat sepanjang malam. Suasana menjadi hening padahal di antara keduanya ingin mengutarakan perasaan masing-masing. Elina hanya menatap api, mendengarkan suara kedipan kecil yang dihasilkannya dari gemuruh dan tetesan air di luar. Begitupun dengan Aldiro yang masih merasa lemas dan agak pusing, ia hanya menatap Elina.
Aldiro berpikir siapa yang pertama kali melakukan ini pada Elina, kemarahan yang ia simpan di dalam dirinta tampak bangun lagi. Ia mendengar yang melakukan ini seorang gadis, seseorang yang membenci atau memiliki dendam pada Elina dan ingin memberi pelajaran pada Elina. Seperti yang mereka katakan. Itu lucu, Aldiro belum pernah melihat atau mendengar orang membenci Elina. Dan apa hak mereka untuk menghukumnya?. Aldiro berjanji setelah nanti ia dan Elina kembali ke kota, ia orang yang akan menghukum wanita ****** itu.
"Aldiro."
"Al.."
Ketika Elina melirik pria pendiam itu, ia memperhatikan bagaimana matanya menjadi gelap saa menatap api. Alisnya berubah menjadi kerutan, matanya berkilat jauh melebihi amarah, Elina harus memanggil namanya untuk menyadarkan pria itu.
"Apakah kamu terluka di suatu tempat?" tanya Elina, wajahnya kembali khawatir.
Kemarahan meninggalkan mata Aldiro saat dia menatap datar ke arah Elina dan menjawab, "Ya."
Elina bergerak mendekat, menatap tubuh Aldiro dengan khawatir, mengira Aldiro mungkin lebih kesakitan daripada yang dia tunjukkan sebelumnya. "Kamu terluka? Di mana? Di mana yang sakit?"
Aldoro meraih tangan Elina dan menariknya ke dadanya, suaranya rendah dan serius, "Sakit nya di sini." Aldiro menekan dadanya, terutama di jantungnya.
Elina menarik tangannya dengan cepat, memalingkan muka dengan mata penuh rasa bersalah.
Aldiro menghela napas, menyandarkan kepalanya ke dinding gua yang dingin.
Suasana kembali hening, kecuali suara memekakkan telinga yang dibuat jantung Elina, bahkan kedipan maupun hujan pun tidak bisa mengalahkan. Ada suara kecil di dalam dirinya yang menjerit, memohon untuk keluar. Sesuatu yang ia tahu akan membebaskan dirinya dan Aldiro dari semua kekacauan ini, dari semua rasa sakit ini. Tapi ia tahu ini bukan waktunya.
"Maafkan aku," Ucap Elina dengan suara lembut. Matanya menunduk dalam rasa bersalah yang mutlak, tangan nya mencengkeram dirinya sendiri.
Aldiro kembali menoleh ke arah Elina, matanya menatap wajah wanita itu.
"Karena telah menyakitimu dengan kata-kataku... aku minta maaf."
Semuanya berantakan dan membingungkan, bahkan Aldiro sama bingungnya dengan kata-kata Elina. Ketika Aldiro mendongak dan melihat Elina mata mereka bertemu yang menyampaikan terlalu banyak emosi jauh di lubuk hatinya, Aldiro sepenuhnya tahu bagaimana menanggapinya.
Mendengar tetesan air di luar, Aldiro bergerak, menarik Elina ke tubuhnya dan mencondongkan tubuh untuk menangkap bibirnya.
Mata Elina perlahan tertutup, tangannya bergerak ke atas saat ia menarik Aldiro lebih dekat dengannya, untuk memperdalam ciuman mereka. Sensasi luar biasa segera menyelimuti seluruh tubuhnya, menghangatkan setiap inci dan bagian yang telah berubah menjadi lebih dingin dari air laut. Dia membiarkan sentuhan Aldiro membakar dirinya lebih dalam dan lebih terang.
Terengah-engah, Aldiro menarik diri, dan melihat Elina pun terengah-engah, wajahnya memerah karena kontak intim mereka. Di balik beberapa kecupan yang mereka tukarkan, senyum penuh arti di tampakkan. Tidak ada kata yang terucap saat jari Elina terangkat ke jari Aldiro. mengusap kulitnya lembut saat dahi mereka bersentuhan. Aldiro menutup matanya, menikmati perasaan sedekat ini dengan Elina lagi setelah sekian lama.
Suara hujan deras bergema di seluruh gua, tetapi Aldiro seakan tuli di antara semuanya karena indranya terpaku pada satu orang saja. Sambil membelai pipi Elina, wajah Aldiro turun lagi, dan menghubungkan bibir mereka.
Aldiro merasa tersesat, tetapi ia ingin seperti ini selamanya bersama Elina, di malam yang penuh badai ini di mana bintang tidak dapat ditemukan di langit tetapi di mata seseorang yang dia anggap sebagai rumah miliknya.
Bagusss banget thor ceritanya,,,gantung bacanya 😔☹️
kapan-kapan mampir yuk ke novel aku makasih