Cinta masa kecilku, yang membuatku buta dan melakukan apa saja demi cinta.
Sehingga ahirnya Aku harus menanggung perbuatan nista ini sendiri.
Aku harus kehilangan orang - orang yang sangat aku sayangi demi dirimu.
Tapi apa balasanmu???
Hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi mungkinkah aku akan menemukan kebahagiaan dan cinta untuk kedua kalinya
Tuhan berikan aku cinta dan kebahagian itu lagi, Tolong lah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ariani Supriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Tubuhku bergetar hebat, saat melihat bayiku yang baru berumur 2 Minggu ini mengalami gagal jantung. Bu Rumi, ibu bidan yang sudah banyak menolong kami mengantar kami ke rumah sakit di kota untuk mendapatkan perawatan intensif di sana.
setelah pemeriksaan hampir 1 jam lamanya.
kemudian dokter memanggilku dan Bu Rumi.
bapak dokter tersebut menjelaskan bahwa ada kebocoran jantung yang sangat parah di jantung anakku, beserta kepalanya yang semakin hari semakin bertambah besar.
Ya Tuhan, lemas rasanya tubuhku, meskipun aku sudah mendengarkan penjelasan Bu Rumi kemarin waktu aku selesai melahirkan, tapi penjelasan dokter spesialis jantung ini lebih menghancurkan hati dan sekujur tubuhku.
Tangan Bu Rumi menggenggam erat tanganku, seakan beliau mengatakan Aku harus kuat, Aku harus lebih kuat lagi, aku pandang wajah Bu Rumi dengan sedikit senyum tulus ku yang agak kupaksakan
" Di rawat inap ini, butuh ruangan intensif biar tidak terkontaminasi dengan debu - debu atau yang lainnya, biar tidak semakin parah.
Ya walaupun memang dia tidak akan bertahan lama dengan kondisinya ini, setidaknya kita sudah berusaha kan" celetuk dokter tersebut menjelaskan kondisi anakku lebih lanjut
sungguh, semakin bergetar rasanya tubuh ini, rasanya ingin sekali aku berteriak
Jadi anakku tidak ada harapan lagi untuk hidup
semakin deras saja air mata ini,
Aku jadi sadar, dulu waktu pertama hamil, aku tidak pernah merawat dengan benar kandunganku, segala kejadian pahit satu persatu kulalui, dari tidak diakuinya kandunganku oleh Edward Lee, kemudian di susul dengan sakitnya ibu dengan berujung Beliau wafat, ku ajak dia semasa dalam kandungan berkerja berat di ladan, saat berkerja berat di ladang aku tidak merasa capek, sakit atau apa pun jadi ya ku pikir kandunganku baik - baik saja sampai aku pun tidak pernah memeriksakan kandungan ku sekali pun.
Aku tidak pernah punya fikiran untuk itu, karena hari - hariku sunggu sangat sibuk sekali dengan segala kejadian yang aku alami.
" Sekar, sekarang kamu harus menata hatimu, biar kuat nantinya menerima kenyataan yang paling pahit lagi tentang Bimo anakmu " ujar Bu Rumi sambil memelukku. aku tahu itu semacam kata - kata penguat buat ku dari Bu Rumi
sengaja Kuberi nama anakku BIMO, biar nantinya dia kuat seperti tokoh pewayangan BIMA, aku ingin dia nantinya tergar & kuat meski dia tidak punya bapak.
tidak kusangka kalau nama itu tidak sekuat yang ku bayangkan, Bimo harus menahan kesakitan di usianya yang baru 2 Minggu ini.
dia berjuang melawan sakit yang di bawanya sejak lahir,
hampir beberapa hari ini aku tak bisa memejamkan mataku sedikit pun, ingin rasanya ku temani anakku yang sedang kesakitan ini, agar dia tak seorang diri merasakannya.
Aku pun tidak memperduliakan diriku sendiri, makan rasanya aku sudah tidak berselera lagi, setiap malam ku tambah jadwalku untuk shalat tahajud, shalat istikharah dan shalat hajat
Aku ingin selalu mendekatka diriku kepada sang Khalig
Aku ingin meminta kesembuah untuk anakku, supaya Tuhan memberinya tambahan Umur yang Berkah Barokah lebih lama lagi dengan segala kesehatan untuknya tetap hidup
Aku ingin, kami bertiga hidup bahagia.
Tapi ternyata Allah berkehendak lain, genap 3 Minggu usia Bimo, dia harus berpulang ke HadiratNya, Tuhan lebih menyayangi Bimo dari pada aku dan adikku.
ini ketiga kalinya aku melihat sakaratul maut kematian, yang pertama Ayahku, kedua ibuku dan sekarang ketiga anakku.