Pernikahan kami memang tidak semestinya terjadi, sebab aku tidak mencintai istriku. Tapi perjodohan dari keluarga membuatku tidak bisa menolak pernikahan kami.
Hidup satu atap dengan wanita yang tidak aku cintai sama sekali bukanlah hal mudah. Aku selalu bersikap acuh padanya. Sekali pun ia selalu berusaha melakukan yang terbaik untukku. Dan semua itu tidaklah berakhir dengan baik.
Mita Gladizia, gadis manja dari keluarga kaya raya sama sepertiku harus berusaha keras mencuri perhatianku dengan melakukan segala hal sendiri. Bukan membuatku tersentuh, justru semakin membuat kepalaku ingin pecah karena kekacauan yang selalu ia timbulkan.
Selama pernikahan ia terus membuktikan jika dirinya bisa menjadi yang terbaik, namun aku tidak bisa percaya hal itu.
Mampukah Mita membuktikan pada Yazid jika dirinya bisa menjadi seorang istri yang idaman? Apakah Mita berhasil meluluhkan kerasnya sikap Yazid?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Yazid
Mita yang sudah berburuk sangka dengan sahabat sang suami segera menarik kuat tangan Nia. Selama ini ia tak pernah berbicara apa pun pada wanita di hadapannya setiap kali ribut dengan Yazid. Tapi, Mita tak bisa mentoleransi jika Nia sampai melibatkan sang nenek. Tidak akan. Semua menatap kepergian Mita yang membawa Nia keluar dari ruangan Fena. Yazid tahu ini pasti akan jadi ribut jika tidak di tengahi.
“Tenangkan Mita, Zid.” Suara dari Fena pun terdengar membuat Yazid mengangguk. Ia keluar mengejar kedua wanita itu.
“Apa sih?” Nia yang tak suka di cengkram kuat oleh Mita pun melawan sembari menghempas kuat tangannya.
“Apa yang kamu lakukan sama nenek? Apa ini bentuk protes kamu karena Yazid pergi sama istrinya tanpa ijin sama sahabatnya?” Mita yang tak pernah menatap tajam orang kini berubah begitu jauh.
Di pintu Yazid tampak berdiri mendengar ucapan sang istri. Sedang Nia nampak menggelengkan kepala.
“Aku nggak ada maksud begitu. Ini murni ketidak sengajaan. Buktinya aku tetap menjaga nenek bukan justru lari dari tanggung jawab. Ini semua karena aku benar-benar tidak sengaja.” jawab Nia yang tampak tidak terima.
Saat ia tahu ada Yazid yang memperhatikan, Nia pun segera meminta pembelaan. Ia mendekati Yazid namun mata pria itu tertuju pada Mita yang sudah bersedekap dada. Menantang sang suami. Jika di awal pertemuan, Yazid sanggup menghentikan aksi Nia. Apakah kali ini juga ia sanggup.
“Zid, tolong katakan pada istrimu. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak pernah mau hal ini terjadi. Karena aku tahu kamu begitu menyayangi nenek dan akan marah padaku.” Yazid yang mendengar pun mengangguk.
Apa yang Nia katakan memang ada benarnya. Hingga pria itu pun mendekati Mita saat tahu Nia hendak meraih pergelangan tangannya.
“Sayang, kita bicarakan dengan baik-baik. Nia, jelaskan apa yang terjadi.” pintah Yazid sembari menggandeng mesra pinggang sang istri.
Perlakuan Yazid membuat Nia menatap tubuh keduanya yang begitu dekat. Wanita itu terdiam sejenak lalu mulai bercerita di mulai ia datang ke kantor menunggu Yazid hingga terjadi perselisihan dengan sang nenek. Dan berakhir insiden Fena terjatuh akibat dorongan Nia.
Mita tertawa sinis. Sekali tidak suka apa pun yang di katakan Nia tentu semua terasa seperti kebohongan.
“Kamu yakin itu karena ketidaksengajaan? Bukan karena nenek satu-satunya orang yang melindungi pernikahan ku dengan Yazid?” Nia terdiam sejenak.
Yazid tahu jika tidaklah benar apa yang di katakan sang istri. Akhirnya ia memegang tangan Mita berusaha meredakan amarah Mita.
“Sudah, Sayang. Kamu terlalu lelah, ayo kita masuk dan duduk di dalam. Nenek akan kepikiran jika kita terlalu lama di luar.” tutur Yazid.
“Nia, aku harap semua yang terjadi memang murni bukan kesengajaan. Sebab kamu orang yang paling tahu bagaimana sayangnya aku pada nenek.” Nia mengangguk dengan wajah yang sulit di artikan. Entah itu ekspresi sedih, kecewa, atau marah.
Kali ini Yazid nampak berubah padanya. Sekali pun tidak bicara, Nia bisa melihat dari tatapan mata pria itu padanya yang terasa begitu asing.
Sedih, tentu saja Nia sangat sedih. Kini ia benar-benar merasa kehilangan orang yang paling berarti di hidupnya. Yazid tak lagi selalu berada di pihaknya. Pria itu sudah memiliki orang yang akan terus ia lindungi, dan itu bukan lagi dirinya.
Sendirian ia berdiri di depan ruang Fena saat ini. Yazid membawa sang istri masuk ke dalam ruang rawat dimana semua keluarga nampak berkumpul berbicara dengan Fena.
“Kalian pulanglah. Zid, bawa Mita pulang istirahat.” pintah Fena begitu perdulinya dengan Mita.
“Tidak perlu, Nenek. Aku di sini saja jagain nenek. Banyak hal yang mau aku ceritakan.” Mita tersenyum meski tubuhnya terasa sangat sakit saat ini akibat kelelahan. Tapi, ia tak perduli. Berdua dengan nenek tentu bukanlah hal yang membosankan baginya. Lagi pula ia akan banyak bertanya perihal wanita yang ingin memiliki anak.
“Ceritanya nanti saja tunggu nenek pulang. Sekarang yang nenek inginkan kalian memberikan cicit cepat pada nenek. Maka pulanglah. Yazid, segera bawa Mita pulang. Besok nenek akan pulang juga dari sini.” Begitu enaknya Fena berkata ingin pulang tanpa bertanya pada dokter bagaimana keadaannya.
“Bu, kenapa harus pulang? Dokter bilang ibu harus istirahat dulu dan mendapat perawatan dari dokter.” ujar Hendi menatap sang ibu khawatir.
Saat ini pun wajah wanita itu masih pucat, bagaimana bisa ia mengatakan akan pulang besok? Tidak bisa di biarkan. Ini pasti karena melihat kedekatan Mita dan Yazid membuatnya senang bukan kepalang. Dimana artinya sang calon cicit sudah mulai berkembang di dalam rahim Mita itu.
“Yasudah kalau begitu kami pulang dulu. Besok pagi aku akan bawa Mita kemari, Nek.” Yazid pun membawa paksa sang istri meninggalkan rumah sakit.
Di luar Nia sudah tak lagi terlihat. Entah kemana perginya wanita itu saat ini.
ceritanya bagus 👍👍👍👍
salut untuk author yang berani menghargai wanita (lain) terus berkarya dan tetap semangat
GK sabar lihat Mita segera buka segel nya🤭🤭🤭