ig : @es.pucil
_____________
Ada banyak alasan mengapa Karina dengan sangat mudah diterima di keluarga Eduardo. Ia seorang aktris terkenal yang selalu sukses menjadikan filmnya selalu laris di bioskop, serta memiliki karakter dan budi pekerti yang sangat baik.
Namun, ada juga beberapa alasan yang sangat kuat mengapa Karina harus memilih Erik Eduardo sebagai kekasih meski usia mereka terpaut 19 tahun. Selain kaya raya serta sukses di bidang bisnis, Karina juga harus memilih Erik untuk ... balas dendam. Demi menebus kematian dirinya dan sang kakak 19 tahun silam, karena keserakahan Erik untuk memiliki sang anak hasil hubungannya dengan sang kakak: Bella ... yang membuahkan gadis kecil bernama Eliza dengan fisik sangat menyerupai mendiang Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Es Pucil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pancingan Awal
Keahlian mengemudi Karina tentu tidak sebagus Erik yang berpengalaman, apalagi dirinya berada di tengah jalan raya yang ramai. Salah ambil keputusan, gadis itu dipastikan langsung celaka entah karena kendaraan lain atau tertangkap Erik.
Karina menyadari kekurangannya itu, jadi sibuk meremas pikirannya untuk mendapatkan ide. Ia menggigit bibir terlalu kuat, panik dan takut secara bersamaan.
Ponsel menjadi penyelamatan satu-satunya bagi Karina. Ia mencoba upaya terakhir kali ini mengambil fokus Erik agar tidak lagi mengejar. Ia menghubungi pria itu dalam kondisi gelisah kuadrat. Karina harus menghentikan pengejaran Erik sesegera mungkin.
“Halo?” sapa Erik ketika sambungan telepon diterima oleh pria itu.
“H—halo, Erik.” Suara Karina gemetar, bukan sengaja. Ia memang sedang terbawa suasana tegang saat ini. “Tolong ... aku dikejar sama seseorang. Aku ... aku nggak tau siapa. Dia terus ikutin aku sejak dari salon. Aku, takut, Rik.”
Karina tidak punya cadangan ide lain, jadi, hanya itu yang bisa ia katakan pada suaminya. Ia terisak palsu, untuk meyakinkan pria itu.
“Aku lagi sembunyi di toilet, nggak tau bisa selamat atau enggak. Aku ... aku takut .... Plis, cepetan dateng. Aku nggak percaya sama orang sekitar sini selain kamu, plis ....” Karina memelas, bahkan tanpa si lawan bicara lihat, matanya benar-benar berubah sendu saking terlalu kuatnya menghayati peran.
“Oke, Sayang. Saya segera ke sana. Kamu di mana sekarang?”
Karina menyebutkan alamat salon yang ia ketahui cukup jauh dari jarak mereka sekarang, sehingga dirinya akan punya waktu sebentar untuk bersiap.
“Oke, saya ke sana sekarang. Tetap diam di tempat kamu, paham?”
“I—iya. Cepetan, plis.” Karina memohon lagi, sembari matanya sesekali mengecek spion, dan secara perlahan ia bisa mengembuskan napas lega saat mendapati bahwa kecepatan mobil itu memelan.
Sambungan telepon dimatikan. Karina tancap gas, lebih cepat dari sebelumnya. Kali ini, dengan pikiran sedikit tenang, ia bisa mencapai rumah orang tuanya dengan mudah.
“Nanti ada tim saya yang ambil mobil ini, Bu. Saya izin titip di sini setengah harian ya, Bu,” kata Karina buru-buru, sembari mengembalikan pakaian yang ia pinjam tadi.
“Iya, nggak papa, Nak.” Sri menolak dengan menunjukkan telapak tangannya pada Karina. “Buat kamu saja. Anggap sebagai ucapan terima kasih saya sama suami saya atas kebaikan Nak Elva selama ini.”
“Ah, itu udah kewajiban saya, Bu. Bukan utang budi atau sejenisnya, kok,” kata Karina dengan nada rendah hati. “Hm ... bajunya boleh saya ambil?” Karina ingin memeluknya sesekali, saat ia merindukan Bella.
“Boleh. Ambil aja. Andai mau, di dalam rumah bisa kamu ambil semua. Ibu sudah tidak punya anak perempuan lagi, jadi ya ... cuman bakalan dibuang bajunya, sayang juga. Mau dikasih tetangga, tapi model lama, nggak ada yang mau.”
“Saya mau, Bu. Mau banget.” Karina dengan nada antusias mengiyakan. “Tapi saya ambilnya pas ada yang ambil mobil ini ya, Bu, soalnya beneran lagi buru-buru.”
“Iya, Nak. Nanti sekalian Ibu cuci juga.”
“Nggak usah, Bu. Pakaiannya masih bersih-bersih, kok. Nggak usah repot-repot. Ibu masuk-masukkin aja ke mobil, ya. Nggak saya kunci bagasinya.” Karina memberikan instruksinya dengan lengkap, lalu berpamitan pergi.
Di tengah perjalanan, Karina ragu bahwa bisa menyelesaikan persiapannya seorang diri sementara ia sambil menyetir. Maka, Karina turut singgah di kontrakan Angga. Sebelumnya memberitahu pria itu untuk bersiap, sehingga hanya perlu beberapa detik Angga masuk di bagian kemudi sementara Karina duduk di belakang.
Gadis itu sibuk berhias secepat mungkin. Terutama gaya rambutnya ia ubah seperti sedia kala. Tangan Karina masih gemetar ketika ia memegang dan mengatur catokan portabel untuk membuat rambutnya bergelombang. Semua kegiatan perempuan itu menarik perhatian dari si pengemudi.
“Dari mana emangnya, kok serepot itu ganti dandanan?” tanya Angga, iseng, dan hasilnya ia mendapatkan tatap sinis dari sang atasan.
“Bukan urusan kamu!” balas Karina tegas, sembari menunjuk pria itu menggunakan catokannya. “Terusin nyetirnya! Apa yang saya nggak kasih tahu, nggak perlu kamu tahu!”
Angga menipiskan bibirnya, mengangguk-angguk kecil. Kembali fokus pada jalanan, selama gadis itu terus sibuk dengan cermin riasnya.
“Kamu jangan bicara apa pun sebelum saya izinkan nanti!” kata Karina tegas, ketika ia melihat dirinya semakin dekat ke tempat yang dimaksud tadi. “Parkirin mobil di samping gedung itu.”
Angga tetap mengikuti arahan Karina dengan patuh. Tepat setelah mobil berhenti, Karina cepat-cepat turun dari sana. Ekspresi ketakutan yang masih tersisa dari efek pengejaran Erik tadi, ia tampilkan di wajahnya. Sembari berlari-lari mengecek sekitarnya mencari keberadaan Erik.
Pria itu seharusnya datang lebih awal.
Benar saja, Erik sudah berdiri di dekat sebuah pintu kamar mandi wanita. Karina berlari cepat ke arah pria itu dan memeluknya dari belakang, dengan sangat erat. Benar-benar meluapkan ketakutannya.
“Karina?” panggil Erik. Ia berusaha berbalik, dan Karina melonggarkan pelukan demi itu.
Erik balas memeluknya lebih erat, serta memberikan beberapa usapan lembut di punggung gadis itu untuk menenangkan.
“Kamu dari mana?” tanya Erik setelah Karina mulai melerai pelukan. Ia menyentuh sisi wajah Karina dengan lembut, membawa gadis itu meliriknya.
“Aku ....” Karina tersengal, seolah gugup. “Aku jelasin di mobil.”
Erik menyetujui gagasan itu. Ia menuntun Karina menuju kendaraannya, dan membukakan pintu di samping kemudi untuk sang istri, lalu masuk ke bagian kemudi. Tidak langsung menjalankan mobil, Erik lebih dulu memberikan air minum untuk gadis itu, lalu mulai meninggalkan area salon.
“Aku nggak tau itu siapa. Tiba-tiba aja, dia masuk ke salon kan. Aku nggak mikir gimana-gimana awalnya karena selalu pake masker, tapi pas dia terus lihat aku sampe kayak nggak kedip, aku yakin dia incar aku. Bener aja, dia kejar aku pas udah keluar dari salon. Aku sumpah, nggak bisa mikir pas dia ketuk-ketuk pintu kamar mandi. Abis aku telepon kamu, aku baru kepikiran buat telepon pihak salon buat bawa satpam ke deket toilet. Huh, untungnya aku berhasil lolos. Aku ... nggak tau gimana ending-nya kalau nggak lolos.”
“Dia wartawan mungkin?” tebak Erik, dengan niatan menenangkan, tetapi jawaban itu dengan cepat disangkal menggunakan gelengan dua kali.
“Kalau wartawan mah, pasti beberapa orang, Erik. Minimal dua, satu wawancara, satu pegang kamera. Ini enggak, cuman satu. Terus pakaiannya serba item ala-ala misterius gitu.” Karina menggenggam lengan Erik untuk berbagi gemetar, efek dikejar oleh pria itu tadi dan waktu. “Takut banget.”
“Nggak papa, Sayang.” Erik balik mengelus tangan Karina dengan lebih lembut, bahkan meremasnya untuk meyakinkan sang istri bahwa dirinya selalu ada.
“Atau,” waktunya memancing, menurut Karina, “Ada yang benci kita nikah? Ini hari pertama kita nikah loh. Aku sendiri belum punya mantan dan nggak pernah deket sama cowok lain kecuali Rafa yang menyerempet belok. Kamu ... nggak punya masalah apa pun kan, di masa lalu?”
Karina diam-diam tersenyum melihat ekspresi syok dan tegang dari wajah suaminya.
jam 12.10 WIB
jam 00.10 WIB
info cerita :
ig : es.pucil
fb : Es Pucil III
#Menarik 😳
Sugar Daddy nya cakep bner kak Chil..mau dah w jg klo bgtu mh 🙈