NovelToon NovelToon
Seluas Samudera

Seluas Samudera

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Enemy to Lovers / Si Mujur / Tamat
Popularitas:284.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Nonelondo

PERINGATAN!!!

Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!

----------

Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.


Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.

-Dewi Abarwati-

Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.

-Krisanto-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 Rena Mencuri Waktu Kris

Pagi ini Dewi membantu mamak Kris berjualan bersama Ria. Dena kuliah, Kris sudah berangkat, begitu pula bapak Kris. Namun sebelum orang itu pada berangkat, mereka semua duduk sarapan bersama dengan menu yang sama seperti kemarin. Rupanya, tiap pagi mamak Kris jualan lontong Medan. Selepas itu baru jualan aneka menu masakan khas Medan yang dipajang di etalase. Tiap ada pembeli, mamak Kris berhenti sejenak untuk melayani, baru melanjutkan makannya lagi.

Harusnya Dewi bangun lebih awal, rupanya mamak Kris subuh hari bersama Ria ke pajak alias pasar bahasa orang Melayu. Membeli segala kebutuhan sandang pangan keperluan dagang. Sehabis itu, mereka meracik atau pun menghangatkan lauk pauk dagangan kemarin. Tidak semua siap, setengahnya dilanjutkan seusai sarapan. Tugas Dena siang, tapi terkadang turut membantu jika masih ada waktu sebelum berangkat kuliah.

“Pajaknya dekat, Bu?” tanya Dewi, sembari mengiris-iris sayuran.

“Dekat. Kira-kira 5 menit dari sini.”

“Kalau jalan kaki 15 menit Kak," timpal Ria.

“Tadi jalan kaki?”

“Haha... Iya, biar sehat. Coba tadi Kakak ikut. Banyak jajanan tradisional di sana. Mamak tadi bingung mau beli apa. Jadi beli itu saja buat Kakak. Kata Mamak di Jawa juga ada yang jual.”

Mamak Kris membelikan jajanan lemang dan lappet yang sudah nggak asing lagi di luar Medan. Orang tua itu pikir, mungkin jika Dewi makan itu sudah terbiasa.

“Ini, juga sudah cukup. Makasih ya, Bu.” Dewi kembali mengarahkan matanya ke mamak Kris.

“Ah, hanya itu saja. Sama-sama, Nak."

“Oh ya, itu mau di masak kapan Bu?”

Dewi menunjuk bahan masakan lain. Bahan masakan kesukaan Kris yang mamak Kris janji mau masak hari ini. Ikannya saja yang sudah disiangin, yang lainnya belum tergeletak di lantai.

“Petang sore. Mas Kris pulangnya pula kan malam.”

Wanita itu dihadapan keluarga Kris memanggil Kris, 'mas'. Jadi mamak Kris pun turut membahasakan.

“Oh iya.”

“Nak Dewi sering bantu Ibunya masak ya?”

Terlihat mantan kekasih anaknya ini terbiasa dengan peralatan dapur, dan cekatan mengolah bahan.

“Pasti Kakak bisa masak ya?” Ria turut bertanya.

“Iya, sering bantu. Dibilang bisa masak, bisa. Jago sih nggak." Dewi menjawab untuk semua.

“Iya, aku juga sama Kak Dena begitu, Kak. Gara-gara sering bantu Mamak jadi bisa masak. Tapi kalau dibanding Mamak, ya enak masakan Mamak lah haha...”

“Ya, tak apa-apa. Anak perempuan setidaknya tahu masak. Oh ya, Nak Dewi jika bosan nanti siang jalan-jalan saja sama Dena,” tutur mamak Kris diakhiri mengangkat hal lain.

“Ah, nggak usah Bu. Nanti Ibu nggak ada yang bantu."

“Tak apa-apa, saya bisa mengurus semua ini sendiri.”

“Iya Kak, Mamak kadang ngerjain sendiri jika aku atau Kak Dena tiba-tiba ada keperluan," ujar Ria.

“Ah, nggak usah Bu." Dewi tetap menolak.

“Loh! Tak apa-apa, dari pada tunggu, Mas Kris."

“Nggak apa-apa Bu, saya juga ngerti dengan kesibukan Mas Kris. Saya sudah diajak ke sini saja sudah senang. Bisa kenal Ibu, Bapak, Ria dan Dena.”

Ibu tua itu tersenyum, dan senyumannya mengandung arti. Sayang, hubungan anaknya dengan wanita ini sudah berakhir. Padahal cocok kali ini jadi mantunya.

**********

Kapal perang dan nelayan menepi di dermaga. Semua pasukan turun untuk beristirahat. Jadwal latihan hari ini menumpas tiga kapal bajak laut. Ada yang berperan menjadi penjahat dan gerombolannya, ada juga yang berperan menjadi sandera, dan ada pun yang menjadi penegosiasi, juga sebagai nelayan. Tentu, sudah pasti ada juga yang menjadi tentara.

Di sini bukan dari kesatuan pasukan khusus saja, namun juga dari kesatuan lain. Merupakan latihan gabungan besar yang suka digelar tiap tahunnya. Pesertanya dari pelbagai negara. Yang menjadi tuan rumahnya akan berpindah-pindah, dan kali ini di Indonesia.

Tadi, mereka bekerja sama bahu-membahu mengepung tiga kapal penjahat. Ada sudah terlebih dahulu melompat ke laut untuk menyusupi kapal, dan ada nelayan yang berteriak untuk mengecoh perhatian para penjahat, serta lain sebagainya.

Pasukan terbagi menjadi dua : Satu di kapal perang, dua di kapal nelayan. Yang di kapal nelayan memakai baju bebas. Strateginya, jika negosiasi tak berjalan mulus, pasukan khusus menyelam, nelayan mendekat, baru kapal perang mengepung.

Kris berbincang-bincang dengan seorang Perwira Tinggi berpangkat Jenderal Bintang Satu. Mereka sedang membahas aksi anak buahnya. Lalu Jenderal itu pergi meninggalkan Kris menemui Komandan dari negara lain.

Drrt... Drrt... Hp Kris berdering masuk sms dari Rena.

“Bang, maaf ganggu. Nanti sore Abang sibuk nggak?” 

Malas mengetik, Kris menekan tombol langsung menghubungi saja.

“Ada apa?”

“Ini... Bang Rizal, kan nitip oleh-oleh buat keluarganya. Aku nggak ngerti rumahnya. Dia kasih alamat nggak jelas.”

“Ya sudah. Nanti sore aku antarin.”

**********

Rena menanti di teras ditemani ibu dan adiknya. Anak itu dua bersaudara. Dia anak pertama dari satu adik perempuan. Kemarin sewaktu Kris dan Dewi mengantar, tidak ketemu mereka. Dua orang itu lagi di Danau Toba menghadiri acara keluarga.

Mobil menepi...

Kris melihat dari dalam kaca ada orang tua Rena, dan satu lagi kalau ditebaknya kemungkinan adik Rena. Untuk kesopanan, dia turun. Dari kejauhan mamak Rena meremaas-remaas tangan anaknya saat lihat pria berseragam abu-abu itu keluar dari dalam mobil. Lelaki itu memakai seragam dinas tentu karena sepulang dari markas tugasnya di sini. Wajar, kalau auranya makin terpancar. Rena duduk ditengah diapit ibu dan adiknya.

“Duhh... Nak... Itu tampan kali bah!”

“Iya Kak. Sumpah! Tampan kali...," adiknya nggak luput berdecak kagum.

“Hush! Masih belum pasti. Sstt... Sstt... Orangnya datang." Rena meminta mereka jaga suara.

Rupanya anak itu cerita ke keluarganya kalau dia di Jakarta lagi dekat dengan tentara berpangkat Kapten. Yang satu kampung dengan mereka. Sepertinya Rena terlalu kepedean.

“Sore...,” sapa Kris, menundukkan sedikit kepalanya.

“Iya, sore." Mamak dan adik Rena masih dengan mata berbinar-binar.

“Iya, sore Bang. Kenalkan ini Mamak, dan adikku." Rena mempersilahkan pada berkenalan.

“Oh iya.” Kris mengulurkan tangan, dibalas balik satu-persatu oleh mereka.

“Ya sudah. Rena ijin pigi dulu ya Mak, Dek.” Rena pamitan. Pigi artinya pergi.

“Iya. Saya juga ijin pigi dengan Rena ini, Bu,” tambah Kris.

“Oh ta, tak apa-apa, tak apa-apa...” Tentu, dengan senang hati orang tua itu mengikhlaskan.

Mereka berdiri. Kris jalan terlebih dulu menuju mobil. Mamak Rena menyenggol lengan anaknya berbisik kecil di telinga.

“Kau harus dapat, Nak!”

“Tenang...”

Setelah melambaikan tangan, mobil pergi meninggalkan lokasi. Selanjutnya, dalam perjalanan...

“Memang si Rizal kasih apa?” Kris melirik untuk shopping bag di tangan Rena.

“Makanan. Rumah Bang Rizal dekat sama Abang?”

“Nggak. Dia dekat dari sekolah kita.”

“Kalau Abang rumahnya di mana?”

“Lumayan jauh dari sekolah.”

“Oh ya Bang, nanti habis ini kita makan mie gomak yuk? Sudah lama aku nggak makan. Abang pasti juga, 'kan?”

“Ya, boleh.”

Sementara itu dikediaman Kris. Selepas Maghrib, Dewi ditemani adik Kris yang pertama membantu mamak Kris menyiapkan hidangan di meja. Bapak Kris duduk menonton TV. Sedangkan Ria menghubungi abangnya memakai telepon rumah yang tergantung di dinding ruang keluarga. Makanan kesukaan Kris sudah tersaji semua. Namun sepertinya mereka nggak bisa menyicipi bersama, karena Ria memberi kabar tak enak.

“Abang tak bisa makan bareng kita. Katanya, lagi ada urusan.”

“Ya sudah. Berarti ini sebagian dipisahin saja buat Abang." Mamak Kris bicara ke dua orang yang membantunya.

“Memang Mamak tak bilang? Mau masak kesukaan Abang?” tanya Dena, sambil mengerjai.

“Tak. Kalian pun tak bilang, 'kan?”

"Iya sih. Tadi di telepon kau bilang tak Dek?” Dena mengarahkan mata ke adiknya.

“Tak.”

Mendesah. "Yaaaahhh...”

“Bilang percuma pun, Abangmu tetap tak bisa pulang." Bapak Kris bangkit dari sofa berjalan ke meja makan. Diikuti oleh Ria.

“Ya sudah... Kita saja yang makan,” ucap mamak Kris.

**********

Ting! Ting! Ting!

Bunyi jam berdentang di dinding. Waktu menunjukkan jam 23:30 malam. Anak pertama di rumah itu belum juga pulang. Kedua orang tua Kris sudah masuk kamar, begitu pula Dena. Dewi dan Ria dipercaya melayani Kris nanti pulang.

Mata Ria sudah kedap-kedip menonton TV. Tentu anak itu capek butuh istirahat. Untuk anak seusianya, harus sekolah, dan tiap hari membantu mamaknya. Belum lagi, dibaginya belajar serta membersihkan rumah. Sebenarnya Dewi juga telah mengantuk, sejak shift-nya kembali pagi dia kembali tidur cepat.

30 menit kemudian terdengar langkah kaki. Dua orang itu menoleh ke sumber suara tersebut.

“Belum pada tidur?” sapa Kris, setiba di ujung tangga sembari melepas sepatunya.

“Belum... Abang lama kali pun pulangnya,” keluh Ria sembari menguap dan melihat jam dinding. "Hah? Jam 12?!” kagetnya.

“Ya, kalian kenapa nunggu Abang?”

“Mamak ada masak kesukaan Abang. Kita disuruh tunggu.”

Masak?

Pria itu malam ini sudah dua kali makan. Sehabis makan mie gomak, dia mengantar Rena pulang. Lalu dijalan tiba-tiba sahabat SMA-nya menelpon menyuruh mampir, dan dia makan perjamuan di sana.

“Oo... Gitu."

Selang sesaat di meja makan. Dewi dan Ria duduk dihadapan Kris. Semua makanan kesukaan Kris sudah disiapkan mereka berdua di meja. Kris memandangi dengan mata sayu.

Aduh... gimana ini.

“Kak Dewi ikut bantu masak loh Bang," info Ria, bicara dengan mata setengah watt.

Kris melirik wanita yang sedari tadi belum buka suara, sedang memain-mainkan taplak meja dengan mata sama sayunya. Yahh... Baiklah, demi mamaknya, dan kesediaan Dewi membantu, dia akan memakan semuanya.

1
rajwa ameera
luarrr biasa crtnya,,,
Dila Ayu
susah move on dari novel ini.. apalagi sekarang ada televisi cerita ttg tentara angkatan laut...
ibune Aldo
ya elah Dewi, kalau gini sih namanya kamu menyiksa diri sendiri, mesti berbohong, dan berlanjut dengan kebohongan lain terus
ibune Aldo
kenapa gak jujur aja WI, sama teman ", toh diputuskan pacar bukan akhir dunia.. ya walaupun kamunya masih cinta, tapi setidaknya biar tidak kelihatan begitu nelangsa sih
ibune Aldo
masih o
penasaran alasan kris
🌹bunda kamila🌹
ngga nyesel bacanya....keren thor👍👍
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca ya...
total 1 replies
dite
heran aku, atas nama teman bkin salah kayak gitu kok dikasih maaf

aslinya laki apa banci sih 😑

seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
dite
komunikasi itu penting, ga smua salah di dewi nya. kris haruse jg ngasih tahu dewi dia mau dewi gmna, ga diem aja tapi trus nesu
dite
gilak si kriss, sibuk amat ngurusin ciwi2
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...

babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku
novita setya
mas kris,om ken..11 12 bucin nya
novita setya
naah ini aja seru menarik drpd asmara bikin ngelu ndas saia...action nya tegang seru wow..top
novita setya
ah dewi msh gt2 aja..kuasai emosi dong biar ga kekanak2an lg..ck
novita setya
kak othor jujur deh pas novel kelar pasti baca jg kan..ada rasa pengen nabok 2 cwe nyebelin ga..koq kuaat gt loh bikin tokoh rena dewi sebegitu nyebelin
novita setya
etdah..alih2 ngatasin mslh..mlh nambah mslh nih bocah pke semaput pulak..woooyyy kebnykan mikir lu wii
novita setya
2 cwe yg asliii nyebelin
novita setya
lah np nangis wi..kan lu rela dijadikan keset rena. tanpa membantah & melawan pulak..y sdh trma aja nasibmu.
novita setya
teguh & laras udahlah ga usah ngurus dewi. dy aja rela dicincang rena tanpa perlawanan..
novita setya
2 wanita 1 tujuan. beda cara. yg satu super lemot yg lain ambisius..
novita setya
laras ngapain sih repot2 ngebelain dewi..kl emang dy cerdas udah diatasi mslh ini sejak dl biar ga da celah pelakor dtg. laah si dewi lembek2 aja np km pasang bdn..rugi deh kena sangsi
novita setya
mending pts aja lah..tp jgn sm rena. tasya aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!