Sebelum membaca cerita ini, di mohon untuk membaca cerita sebelumnya yang berjudul "King's Regrets" agar lebih memudahkan dan memahami alur saat membaca cerita ini. Terima kasih.
Jangan lupa untuk Subs, Like dan meninggalkan jejak kalian di kolom komentar ya 🙏😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xialin12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KRS² #20
Kraaaak
Putra mahkota Zhang masuk ke dalam kamar. Wajahnya seketika cemas melihat Xiao Wei yang sedang menyeka keringat Xia Lian An.
"Lian'er, kau kenapa?" Putra mahkota Zhang berjalan dengan cepat menghampiri istrinya.
"Aku tidak apa-apa, hanya merasa perutku tidak nyaman." Ucap Xia Lian An.
"Kenapa kau makan manisan lagi dan tidak makan makanan mu?"
"Aku tidak bisa memakannya."
Putra mahkota Zhang memeluk tubuh Xia Lian An.
"Jika kau tidak makan, kau akan sakit dan juga bayi kita akan ikut sakit juga, sayang."
"Aku tahu, tapi aku benar-benar tidak bisa memakannya."
Putra mahkota Zhang mengangguk "Baiklah, besok aku akan menyiapkan semuanya. Kau ingin makan apa, aku akan membelikannya semua bahan-bahannya untukmu."
"Bolehkah aku memasak udang saus asam manis sendiri?"
Putra mahkota Zhang menatap Xia Lian An yang tampak begitu pucat.
"..... Baiklah, tapi hanya kali ini."
Xia Lian An mengangguk dan tersenyum "Terima kasih."
"Tapi berjanjilah kau tidak akan terluka."
"Iya, aku berjanji."
Putra mahkota Zhang kembali memeluk Xia Lian An dan mengecup keningnya.
"Ayo makanlah lagi, kau hanya bisa memakan ini untuk sekarang." Putra mahkota Zhang memberikan manisan buah plum pada Xia Lian An.
"Iya."
"Maaf, aku membuatmu seperti ini. Aku tidak tahu jika apa yang kau inginkan, adalah keinginan bayi yang ada di dalam perutmu juga yang harus di penuhi. Jika ibu ratu tidak memberitahuku, mungkin aku tidak akan pernah membiarkanmu masuk ke dalam dapur istana saat kau hamil, dan mungkin itu akan membuatmu...."
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Kau dan aku sama-sama baru pertama kali akan memiliki seorang anak, jadi tidak mengerti tentang itu."
"Terima kasih, sayang."
Xia Lian An mengangguk, dia mengambil manisan buah plum yang ada di depannya lalu memakan manisan itu.
Putra mahkota Zhang mengusap lembut pipi Xia Lian An. Dia sangat merasa bersalah karena tidak mengizinkan Xia Lian An memasak siang tadi.
"Xiao Wei, tolong bereskan semua makanan itu." Ucap putra mahkota Zhang.
"Baik yang mulia."
Xiao Wei di bantu oleh pelayan lainnya membereskan semua makanan yang ada di atas meja itu. Semua makanan itu masih utuh karena Xia Lin An hanya mengambil satu potong sayuran dan itu pun dia keluarkan lagi.
Putra mahkota Zhang tersenyum melihat Xia Lian An yang begitu lahap memakan manisa buah plum. Xia Lian An satlat ini terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang memakan permennya.
"Apa kau suka dengan manisannya?" Tanya putra mahkota Zhang.
"Iya, ini sangat enak."
"Benarkah?"
"Cobalah." Xia Lian An menyuapi putra mahkota Zhang manisa buah plum.
Putra mahkota Zhang membuka mulutnya dan memakan manisan itu, seketika raut wajahnya berubah.
"Ini asam, kenapa kau bilang sangat enak sayang?"
"Benarkah? Tapi yang aku rasakan ini sangat manis, dan hanya sedikit saja rasa asam."
Putra mahkota Zhang menatap istrinya dengan tidak percaya, karena baginya manisan itu terasa asam, tapi di mulut Xia Lian An terasa manis.
"Apakah ini yang di katakan oleh ibu ratu, tentang perbedaan rasa yang sedang Lian'er alami?"
Xia Lian An melihat putra mahkota Zhang yang terus menatapnya.
"Kau mau manisannya lagi?" Tanya Xia Lian An.
"Tidak, tidak. Manisan itu untuk kamu saja."
"Kenapa, kau tidak menyukainya?"
"Bukan tidak suka, tapi aku lihat kau sangat suka memakannya, jadi itu untukmu."
"Baiklah, terima kasih."
Putra mahkota Zhang mengangguk "Dia yang seperti ini, terlihat seperti anak kecil yang penurut, sangat manis."
Cup
Putra mahkota Zhang mengecup kening Xia Lian An, dan mengusap lembut pipinya.
"Setelah menghabiskan manisannya, kau harus tidur."
"Iya, aku mengerti."
Xia Lian An tidak berhenti memakan manisan buah plum itu sendirian.
***
Di istana timur, Min'er dan Yun Xiao yang baru saja selesai makan malam berjalan-jalan di halaman istana timur. Mereka duduk di kursi yang ada di tengah taman itu.
"Malam ini sangat cerah, kita bisa melihat bintang yang begitu indah." Ucap Yun Xiao.
"Benar, sangat jarang sekali kita bisa melihat bintang yang begitu banyak seperti malam ini."
Yun Xiao mengangguk.
"Aku sangat bahagia, karena Lian'er hamil. Dan dia akan mempunyai anak dengan seseorang yang sangat mencintainya."
"Aku juga merasa seperti itu, bahkan aku sangat bersyukur karena ketika kakak masih menjadi permaisuri Yan, dia sama sekali tidak pernah di sentuh (berhubungan) oleh kaisar Shun."
"Iya, sepertinya Dewa juga sangat menyayangi Lian'er."
Min'er mengangguk, yang di katakan oleh Yun Xiao benar. Walaupun kakaknya tidak mendapatkan keadilan di dalam istana negara Qin, setidaknya dia mendapatkan keadilan dan kebahagiaan disini.
"Aku penasaran dengan anak Lian'er dan putra mahkota, dia seorang pangeran atau putri."
"Hahaha aku juga, tapi kita belum bisa mengetahuinya. Dua hari lagi tabib akan datang untuk memeriksa kakak lagi, kita akan kesana untuk melihatnya."
"Iya. Aku berharap itu adalah pangeran."
"Bagaimana jika pangeran dan putri?"
"Kau ingin mempunyai dua keponakan sekaligus?"
"Ya... Jika bisa seperti itu, di negara ini kelahiran anak kembar sangatlah jarang terjadi."
"Mungkin karena mereka tidak menginginkan begitu banyak anak."
"Mungkin saja seperti itu. Dan kau, jika nanti kita memiliki anak, kau ingin seorang laki-laki atau perempuan?"
"Apakah itu perempuan atau laki-laki, selama dia sehat aku pasti akan bahagia."
Min'er tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Aku sangat bahagia hidup bersamamu."
"Begitupun denganku."
Min'er memeluk Yun Xiao.
Xiao Fen yang melihat kebersamaan sepasang suami istri itu sangat bahagia. Walaupun sekarang dia menjadi pelayan yang selalu berada di samping Yun Xiao, tapi dia merasa senang. Selama dia bisa bersama dengan keluarga Xia Lian An, dia akan setia kepadanya.
"Aku berharap tuan muda dan nyonya muda Qing segera memiliki anak, seperti yang mulia permaisuri dan yang mulia putra mahkota."
Min'er berdiri "Ini semakin larut dan dingin, mari kita kembali ke kamar." Min'er mengulurkan tangannya.
"Iya, kau benar."
Yun Xiao memyambut uluran tangan Min'er, mereka berdua berjalan bersama kembali ke dalam kamar istana timur.
"Xiao Fen, kau bisa beristirahat. Terima kasih telah membantu ku hari ini." Ucap Yun Xiao pada Xiao Fen sebelum dia masuk ke dalam kamar.
"Baik nyonya muda, selamat beristirahat."
"Iya."
Yun Xiao menutup pintu kamar setelah melihat Xiao Fen berjalan pergi dari depan pintu kamar.
"Xiao Fen adalah wanita yang baik dan setia." Ucap Min'er.
"Kau benar, Lian'er mempunyai orang-orang yang begitu baik yang mengelilinginya."
"Bukankah kau juga sama?"
"Iya, karena aku di kelilingi oleh kalian yang begitu baik terhadapku."
Min'er tersenyum "Kemarilah, aku akan membantumu melepaskan jepit rambut itu."
Yun Xiao berjalan mendekati Min'er dan duduk di atas kursi "Tolong suamiku." Ucap Yun Xiao.
Min'er tertawa pelan mendengar Yun Xiao memanggilnya seperti itu.
Dengan pelan dan hati-hati Min'er melepaskan satu persatu jepitan rambut yang menghiasi kepala Yun Xiao, dia menarik dengan pelan jepitan yang terbuat dari emas dan perak itu.
Rambut panjang Yun Xiao tergerai sempurna saat Min'er menarik jepitan terakhir yang ada diatas rambutnya.
"Sudah selesai, mari kita tidur." Ucap Min'er.
Yun Xiao mengangguk, mereka lalu berjalan menuju tempat tidur yang cukup besar lalu membaringkan tubuh mereka disana.
"Tidurlah, besok kita akan ke istana kakak dan kakak ipar."
"Iya."
Min'er dan Yun Xiao memejamkan mata mereka dan menyelami alam mimpi sambil berpelukan.
😭😭😭