NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

“Mau pesan apa Ren...?”

tanya Bram setelah mereka duduk sambil memperlihatkan daftar menu. Renata melihat

sejenak, kemudian menoleh ke arah Bram.

“Aku pengen makan indomie

saja mas..., pakai cabe yang banyak. Kayaknya enak dengan udara dingin begini...”

“Lhoooo... kok cuma indomie.

Masak jauh-jauh kesini makan indomie sih..” Bram protes dengan pilihan Renata.

“Iiihhh... gak papa kali

mas.... aku pengennya itu....” Renata gak mau kalah.

“Oke dech... kalau memang

maunya itu...” akhirnya Bram mengalah. Bram pun memilih menu sendiri.

Mereka sangat menikmati

makan siang, apalagi dengan suasana sekitar yang sangat sejuk. Bram pun senang

melihat  wajah Renata ada sedikit

keceriaan. Setelah menyelesaikan makannya, merekapun tidak buru-buru meninggalkan

rumah makan. Mereka tetap duduk menikmati pemandangan sekitar.

Hari Senin setelah masuk

ke kantor kembali, Bram telephone Renata ketika Renata baru saja selesai

meeting.

“Halooo... ya mas ada apa..?

“Ren ntar sore aku jemput

ya...”

“Gak usah mas...aku juga gak

tahu jam berapa pulang. Lagi ada kerjaan. Aku pulang sendiri aja.”

“Ren...aku tungguin gak

papa..”

“Mas makasih, gak usah...

besok-besok aja lagi.”

“Renata...kamu tidak

sedang menghindari aku kan...?” tanya Bram hati-hati.

“Mas...mengapa bilang

begitu...?”

“”Kamu menolak aku jemput..”

“Jangan berpikir yang

aneh-aneh dech. Aku memang lagi bayak kerjaan mas...”

“Oke kalau begitu. Jadi

kamu tetap pulang sendiri..?”

“Iya mas, gak papa..”

Bram menutup pembicaraan.

Renata menghela nafas berat. Dia kasihan juga dengan Bram yang tetap bersikap lembut

dan sabar meskipun sering Renata menolak ajakan Bram. Hatinya belum bisa

terbuka untuk Bram dan siapapun laki-laki yang mendekatinya. Apalagi selain

Bram, sekarang yang juga gencar mendekatinya adalah Erwin. Dan sialnya ruangan

dia satu lantai dengan ruangan Erwin meskipun tidak berdekatan. Tapi paling tidak

setiap hari Erwin bisa menemuinya. Dan ini yang membuat Renata tidak nyaman.

Karena teman-temannya juga sudah tahu kalau Erwin sedang berusaha mendekati

Renata. Apalagi Renata dan Tia masuk dalam tim kerja Erwin yang mengharuskan mereka

kadang-kadang harus dinas ke luar kota bersama. Tapi selagi dalam tim ada Tia,

Renata masih bisa lega, ada teman yang membantu bikin alasan untuk menghindari

Erwin.

Tiba-tiba ponsel Renata

berbunyi nada panggilan. Setelah dibuka, ternyata Erwin yang menelphone.

“Siang pak...”

“Sibuk Ren...?”

“Gak juga pak, tapi masih

ada kerjaan yang harus selesai...”

“Nanti sore kita pulang

bareng ya...”

“Maaf pak nanti sore saya

ada janji dengan sodara saya. Ada yang harus diselesaikan. Maaf pak...”

“Oke dech kalau begitu.

Besok siang aja kita makan keluar ya...”

“Eeemmm....”

“Jangan menolak Ren...sekali-sekali

kita makan bareng ya...”

“Coba gimana besok pak.

Saya belum bisa janji. Maaf...”

“Oke, lanjut aja ya, sory

ganggu kamu lagi kerja. Daaa...”

Setelah Erwin memutus pembicaraan,

Renata menghela nafas panjang. Dia harus cari alasan lagi untuk menolak halus

permintaan Erwin. Dan Erwin pun tidak putus asa meskipun Renata sering menolak

ajakannya makan siang keluar maupun pulang bareng.

Dan sore ini pun terpaksa

Renata menerima tawaran Tia untuk pulang bareng dengan Arya. Selain karena hari

sudah mulai malam, Renata juga merasa badannya tidak enak dan pusing, yang dia

rasakan sejak tadi pagi. Sebenarnya dia pengen ijin tidak masuk, tapi karena

hari ini ada meeting penting, jadi dia terpaksa tetap ke kantor.

“Kenapa kamu Ren kok

pegang kepala terus...?” tanya Tia di mobil

“Agak pusing nih, kayaknya

gara-gara kemaren kehujanan.”

Yaaa... memang kemaren pas

Bram mengajak jalan-jalan di daerah Lembang mereka sempat kehujanan, meskipun

tidak deras.

“Kalau begitu kita anter

aja kamu sampai rumah..”

“Eee... gak usah. Aku turun

di tempat biasa aja, nyambung taxi.”

“Udaaahhh... gak papa.

Biar sekalian jalan.. Eh... tadi bukanya pak Erwin ngajak kamu pulang bareng ya...

Soalnya aku sempet ketemu dia, katanya dia mau ngajak kamu bareng.”

“Iya... tadi phone aku..”

“Ehemmm...” Tiba-tiba

terdengan suara Arya. “Asyik juga Ren ada gebetan yang deket. Bisa ketemu tiap

hari...heee..”

Arya meledek Renata.

“Apaan sih mas...yang ada

pusing tauuukk. Tiap hari nongol, gak enak ma temen-temen.” Jawab Renata.

“Makanya resmiin aja sama

Bram. Biar semua orang tau dan dia berhenti deketin kamu”

“Saran yang bagus tuh

mas..” jawab Tia, setuju dengan usul Arya.

“Dihhh...kalian main

keroyok..”

“Tapi bener kok Ren usul

mas Arya. Nunggu apa lagi coba...?”

“Udah ah...gak usah

dibahas. Tambah pusing aku.!” Jawab Renata cemberut.

Tak lama, mobil sampai di

depan rumah Renata.

“Trims mas Arya, Tia. Sampai

ketemu besok.”

Setelah mobil Arya

berlalu, Renatapun masuk ke dalam rumah.

Semalaman Renata tidak

bisa tidur nyenyak. Selain badannya merasa tidak enak, dia juga memikirkan

jawaban apa yang akan diberikan kepada Bram, setelah ungkapan isi hatinya di Bandung

beberapa hari yang lalu. Apakah dia mau menerima Bram atau menolaknya? Kalau menerima,

hatinya belum siap dan dia tidak mau mengecewakan Bram dengan berpura-pura

mencintainya. Dia tidak mau Bram kecewa, bahkan sakit hati. Tapi menolaknya?

Bram baik, dan dia merasa

nyaman di samping Bram. Hanya nyaman, bukan perasaan cinta. Karena cintanya sudah  hilang dari hatinya, dan untuk memulai

lagi sangat sulit. Akhirnya Renata tertidur dengan pikiran yang berkecamuk.

Bangun pagi terasa malas

untuk Renata. Kepalanya makin terasa pusing, tapi dia harus tetap ke kantor,

karena ada dokumen yang harus disiapkan untuk dibawa ke Surabaya minggu depan.

Sampai di kantor, Renata

makin merasa tidak enak badan, tapi dia tetap bertahan dan menyelesaikan

dokumen. Tapi jam sebelas dia sudah tidak tahan dan mau ijin pulang duluan.

“Tia aku gak enak badan,

pulang dulu ya. Kalau pak Erwin tanya dokumen yang buat ke Surabaya sudah aku

siapin, ada di meja. Jangan bilang kalau aku sakit, bilang aja lagi ada perlu.”

“Kamu pulang naik apa?”

“Taksi aja. Pokoknya gak

usah bilang siapa-siapa, ya. Termasuk mas Bram juga. Aku gak mau dia repot.”

“Tapi Ren, kalau mas Bram

nanya-nanya gimana...? Aku kan gak enak kalau bohong.”

“Halaahhh...gak mungkin,

dia lagi sibuk di lapangan..”

“Oke dech...ati-ati ya.

Sini dokumennya biar aku yang simpan.”

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!