Akibat kecelakaan yang dialaminya, Ryan Jamaluddin justru kembali ke masa lalu, di mana waktu itu dia sedang di rawat di rumah sakit dengan kesulitan ayahnya untuk biaya pengobatannya.
Mampukah Ryan Jamaluddin untuk mengubah kehidupan keluarganya di masa lalu, agar ayahnya tidak menderita dan diremehkan orang lain, termasuk sang Paman?
Lalu misteri pembunuh ibu dan ayahnya di masa lalu juga harus dipecahkan. Apakah Ryan Jamaluddin mampu melakukan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan Pembunuhan
Ting Tong!
Ting tong!
"Hmm? Siapa malam-malam begini datang?" gumam Ryan sambil melihat jam dinding yang jarum kecilnya menunjuk ke arah 10.
"Mungkin tetangga ada yang mau minta tolong, biar Ayah yang membukanya."
Ryan langsung berdiri dari sofa dan menghentikan langkah Imam. "Biar Ryan saja yang membukanya. Ayah tetap duduk di sini saja, melanjutkan nonton televisi."
"Terima kasih ya Nak."
Imam kemudian duduk kembali dengan sedikit mengerang kesakitan, sambil memegang punggungnya, seakan bagian punggungnya sedang cedera.
Melihat hal ini, hati Ryan terasa pedih. Namun ia tetap tidak bisa menghentikan Ayahnya bekerja sebagai kuli angkut. Ryan kemudian bergegas membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang malam-malam begini.
Begitu Ryan membuka pintu, ia melihat Ilham Jamaludin berdiri sambil membawa sebuah kantong plastik hitam.
"Om Ilham?" ucap Ryan sambil mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Om Ilham datang malam-malam begini?" batin Ryan melihat kedatangan pamannya semalam ini.
Ryan melihat kembali dengan seksama kantong plastik yang dibawa Ilham. "Dari bentuk dan aroma yang keluar, benda dalam kantong plastik itu pasti Martabak Telur."
"Ayah memang sangat menyukai Martabak Telur. Tapi ini sungguh tidak biasa. Seumur-umur hidupku, Aku tidak pernah melihat paman berkunjung ke rumah dengan membawakan oleh-oleh atau makanan kesukaan Ayah."
"Ini sungguh mencurigakan," batin Ryan mengingat-ingat.
"Malam Ryan, apakah Ayahmu ada di rumah?" tanya Ilham dengan ramah.
Walau mulut Ryan tersenyum, tapi matanya terus mengawasi semua gerak-gerik Ilham.
"Ada perlu apa ya Om? Sekarang sudah larut malam. Ayah juga butuh Istirahat." Ryan mencoba untuk mencari tahu maksud kedatangan pamannya.
"Aku hanya kebetulan lewat saja. Om baru saja ada urusan di dekat sini. Om juga bawakan Kamu dan Ayahmu Martabak Telor. Ini kesukaan Ayahmu." Senyum Ilham sambil mengangkat kantong plastik di tangannya.
Tiba-tiba dari belakang Ryan, muncul Imam. "Lho, Ilham, ada apa malam-malam kemari? Ayo masuk-masuk!" ajak Imam pada adiknya.
"Iya nih Kak, kebetulan tadi ada urusan di dekat sini, jadi sekalian mampir saja. Aku juga bawa makanan kesukaanmu lho…" Ilham menunjukkan kembali kantong plastik yang dia bawa.
"Wah, terima kasih loh ya. Ayo masuk!"
Setelah itu, Ilham, Imam, dan Ryan duduk bertiga di ruang keluarga sambil menonton Televisi.
Saat sedang berbincang-bincang, Ilham mendadak menyodorkan Martabak Telor yang masih ada dalam kotaknya. "Ayo dimakan kak. mumpung masih panas. Nanti kalau udah dingin tidak enak lagi."
Asap panas menyeruak keluar dari kotak tersebut. Aroma harum martabak telur pun menyeruak keluar mengisi ruangan.
Hal ini membuat Imam jadi ingin sekali memakannya. "Hmm, sedap sekali kelihatannya."
Melihat semua ini, Ryan jadi teringat akan kematian Ibunya yang diakibatkan oleh keracunan makanan atau minuman, yang diperkirakan dikonsumsi oleh ibunya saat berada di pasar.
"Jangan-jangan..." Mata Ryan terbelalak begitu menyadarinya. Ia langsung secepat kilat menggenggam pergelangan tangan kanan Imam dengan erat.
"Nak?" Imam bingung dengan sikap anaknya.
"Ada apa nak?" tanya Imam dengan wajahnya yang tampak kebingungan.
Ryan tidak menjawab pertanyaan Ayahnya. Ia malah melihat ke arah Ilham dengan pandangan mata yang sangat tajam.
"Om, bisakah Om makan Martabak Telurnya lebih dulu?" Ryan mencoba untuk mencari tahu, ada kecurigaannya ini tidak benar.
Mendengar ucapan Ryan, ekspresi Ilham jadi sedikit gugup. "A-apa ma-maksudmu? Ke-kenapa harus a-aku yang ma-makan duluan?" tanya Ilham dengan terbata-bata.
"Ryan, apa maksudmu? Kenapa pamanmu ini yang harus memakannya duluan? Bukankah Ilham yang membelinya? Itu sangat tidak sopan. Dia sudah berbaik hati membelikan martabak telur ini untuk kita," ujar Imam menasehati anaknya.
"Ayah, percayalah padaku. Aku tidak pernah sekalipun berbohong pada Ayah." Ryan kemudian melepaskan genggaman tangannya. Dia tidak ingin ayahnya itu salah paham, dengan permintaannya yang tadi.
Melihat keseriusan Ryan, Imam lalu memilih untuk mempercayainya. Karena selama ini, Ryan memang tidak pernah berbohong padanya.
"Baiklah, Ayah percaya padamu."
"Terima kasih Ayah." Ryan kembali melihat Ilham yang mulai berkeringat dingin. Dia pasti merasa ketakutan seandainya niatnya ketahuan.
"Om Ilham, katakan padaku, siapa yang menyuruhmu untuk meracuni Ayah?" Ryan langsung bertanya tanpa basa-basi.
Mendengar ucapan Ryan yang banyak pada Ilham, Imam sangat terkejut. "Apa? Me_meracuniku?"
"Iya Ayah. Om Ilham berusaha meracuni Ayah dengan menggunakan Martabak Telur itu." Ryan memberitahu ayahnya.
"Aku yakin, jika martabak telur ini kita serahkan ke tim laboratorium milik polisi, mereka pasti akan menemukan zat berbahaya di dalamnya!" tantang Ryan pada Pamannya, yang sekarang ini jadi terbelalak kaget, karena tidak pernah menyangka jika keponakannya itu mengetahui niat jahatnya.
"Aku... Paman, Paman tidak..."
"Mengaku saja Paman! Ryan akan lebih menghargai pengakuan Paman dibandingkan harus melaporkan Paman ke kantor polisi!"
"Semua keputusan ada di tangan Paman," ujar Ryan menyerahkan keputusan pada Ilham.
"Tapi jika Paman tetap tidak mengakuinya, silahkan makan martabak telur itu sendirian!" Gertak Ryan lagi, game peterpan mata tajam.
Sebenarnya Ilham tidak ingin mengakui, tapi jika tidak mengakui niat jahatnya tadi, dia yang diminta untuk memakan martabak telur itu. Dengan demikian, dia pendiri yang akan mati dan menyusul ibunya Ryan, yang sudah pernah dia racun berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Akhirnya Ilham persib ukhti kaki kakaknya, Imam, ambil menangis tersedu-sedu.
"Kakak... huuuuu... maafkan Aku. Aku terpaksa melakukannya. Semua ini bukan niatan Aku sendiri. Aku... huuuuu..."
Imam tentu saja terbelalak kaget, mendengar pengakuan adiknya, yang ternyata memang berniat untuk meracuni dirinya, melalui martabak telur.
"Ini... apa ini maksudnya Ilham?"
"Kakak tidak pernah berpikir buruk denganmu. Kakak juga tetap membayar hutang seandainya punya hutang denganmu. Kakak tidak pernah mencampuri urusan pribadimu di luar sana. Tapi apa ini? Apa Kamu tidak menghargai tali darah persaudaraan kita ini?"
Ilham masih menangis mendengarkan semua pertanyaan kakaknya, yang tentu saja benar adanya. Semua ini dia lakukan atas perintah orang lain bukan atas niatan dirinya sendiri.
"Aku... Aku terpaksa Kakak, maafkan Aku. Huuuuu..." Ilham masih terus terisak, tapi belum mengakui siapa yang sudah menyuruhnya.
Hal ini membuat Ryan teringat dengan dokumen yang berada dalam flashdisk, tentang memo dan juga cek sebesar 1 milyar.
"Apakah ini ada hubungannya dengan perusahaan ST? Direktur utama, Ammy Sudiarto?"
"Lalu apa hubungannya Paman yang diminta untuk membunuh ayah? Padahal Ammy Sudiarto tidak mengenal ayah atau ibu."
Berbagai macam pertanyaan muncul di kepala Ryan, menyambungkan dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Juga tentang latar belakang kematian ibunya, alasan apa yang digunakan orang yang telah menyuruh pamannya.
Ryan belum menemukan motif utama, alasan apa yang membuat Ammy Sudiarto berniat menghabisi ibu dan juga ayahnya.
jangan lupa mampir ya kak. biar tambah semangat iklan sbg sponsor
E tapi 2014 ada taruhan bola ya. Aku lupa loh
Diriku tandain buat baca chapter pertama
penasaran !!