BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wbm pt.2
"Bang, Andin bakso satu lagi yah" Ujar Andin yang terdengar tidak jelas karena mulutnya sedang mengunyah.
"Yang kayak tadi kan neng Andin??"
"Iya bang, Andin tunggu di meja sana yah"
"Siap ndin, lima menit lagi, bang mamat kan ahli, hehe"
Andin tersenyum dan kembali ke meja nya.
"Tuan sudah saya pesan kan, tunggu bang mamat kesini"
Andin terlihat gugup.
"Kamu ngapain sih ndin?? jangan mau!! di kamusnya mana ada kata terima kasih..?!" Ujar Alvin sembari memotong bakso besar di mangkuk Andin.
"Dokter Alvin!! cukup!!"
"Ada apa Hans?? tersinggung ka??"
"Aku sudah bilang, kamu bukan siapa siapa di antara Alvin dan adiknya! Ada apa Hans, kenapa melihatku seperti itu?? geram ka??"
Di tengah Hans yang menatap Alvin penuh emosi dan Alvin yang acuh tak acuh, bang mamat datang dengan bakso yang sudah Andin pesan.
"Maaf maaf, ini teh lagi gelut? jangan di sini atuh kang, ini teh tempatnya makan, mohon yah, makan baik baik jangan gelut gelut kayak di tipi"
Setelah itu bang mamat pergi, kembali ke tempat nya karena ada pelanggan yang memanggil ingin beli.
"Punten yah, saya mau kesana dulu, ada yang beli"
Alvin menyuapi potongan potongan bakso ke mulut Andin menggunakan garpu. Setelah mendengar setiap yang Andin ceritakan di lapangan itu, Alvin seketika tidak menyukai Hans.
"Hei! dokter Alvin!, dia istri ku!, aku yang akan menyuapi nya!"
Saat Hans memanggil nya, Alvin hanya menoleh, dan membiarkan Andin makan dari tangannya.
Andin merasa muak dengan mereka yang asik bertengkar, setelah ia menelan bakso yang di kunyah nya barusan Andin mencoba berbicara baik-baik.
"Kak, sudah, ini tempat umum, makan dan diem aja.."
"Sudah?? kamu masih bela dia?? Andin!, sebelumnya kamu sendiri, tapi sekarang ada kak Alvin kamu jangan takut sama dia, kak Alvin tau dan kak Alvin mencoba relain kamu sebagai istrinya, apa yang dia buat ke kamu???"
Andin diam, di matanya jelas terputar saat saat bagaimana Hans mengatai dirinya, meneriaki nya, memarahinya, menghukum, dan bahkan membuat dirinya harus berlutut memohon.
Saat saat itu adalah saat yang paling menyayat di hati seorang Andin. Ingin kabur pun rasanya percuma, sudah pasti dengan segera Hans jahat itu akan melenyapkan Ayahnya.
Gadis itu sangat menyayangi Ayahnya, dan karena itulah Hans memanfaatkan untuk pelampiasan tatkala wanita buruan nya tak pernah kembali ke negara ini.
Terdiam nya Andin cukup lama, tak di sadari air matanya menetes.
*Apa yang aku pikirkan? laki-laki kasar dan jahat seperti itu, membuat kehidupan ku menjadi tak jelas seperti ini, bukan hati saja yang ia remukkan, bahkan tubuh ini juga sudah lelah dibuatnya. Selama ini aku diam, menerima baik-baik semua yang ia lakukan, ingin menangis rasanya juga sudah percuma...
Alvin yang melihatnya pun spontan langsung menghapus airmata Andin yang jatuh dari matanya yang terlihat kosong.
"Andin, Andin jangan nangis lagi ya"
Andin mengangguk dia bersandar di dekapan Alvin. Hans yang melihatnya pun seolah terbakar oleh api kecemburuan. Jujur bagi Andin itu adalah hal terhangat yang ia dapatkan setelah Alvin pergi sangat lama dari pandangannya.
"Hey, jangan menangis lagi sudah, Mari lanjut kan, makanannya nanti menjadi dingin loh." ujar Alvin.
Dengan segera gadis kecil itu menghapus air matanya dia melanjutkan makan,
*Hmph! ternyata ini tempat yang dokter Alvin pilih untuk menikmati sunset bersama Andin..? aku bahkan bisa menyewa tempat yang jauh lebih indah dari warung tepian ini.
Alvin kembali menyuapi Andin layaknya seorang ayah menyuapi putrinya.
Hans geram dan mencabut paksa garpu dari tangan Alvin yang berisi potongan bakso.
"Dia istriku! Aku akan menyuapi nya!"
Alvin mengangkat kedua bahunya seolah *Coba saja...
Saat garpu di tangan Hans sangat dekat dengan mulutnya, ia menangis.
*Aku tak akan menerima suapan ini... laki-laki jahat seperti dia... tidak akan!
Andin berdiri
"Aku bukan mainan kalian! kalian berdua sama saja.."
Gadis itu berlari meninggalkan Alvin dan Hans disana, kedua pria tampan itu mengejar Andin. Lari nya sangat cepat, tak di sangka lengan tangan atasnya terluka sayatan pisau, saat tak sengaja berpapasan dengan perampok bermotor.
Darahnya tak mau berhenti, Andin terus saja berlari. Saat ia menemukan gedung kecil yang lusuh dan lumayan tinggi dengan anak tangga yang berada di luar gedung, ia naik hingga ke teras yang paling atas.
Dia menangis, berteriak dia sana.. gadis itu luapkan semua yang ia tak dapat berbagi dengan siapapun bahkan Alvin dan Ayahnya.
"Aaaaaaakkkhhhhhh!!!!! hiks hiks hiks... Aaaaaaaaaaakkkkkhhhhhh!!!!" Teriak gadis berparas cantik itu.
"Tunggu!, itu suara Andin ka??" Ucap Hans yang berada di bawah gedung.
"Iya benar, sepertinya dari atas."
Mereka berdua menaiki anak tangga dan menjumpai Andin yang berdiri seolah tak bernyawa.
"Andin...?"
Alvin mendekat dan berusaha menggapai lengan Andin, tapi Andin menepis itu
"Andin... ini lengan kamu..."
Masih mencoba meraih lengan Andin.
"Andin udah coba buat nggak ungkit soal itu lagi kak!!, berusaha hidup di hari ini, mati di akhir hari dan hidup lagi di hari berikutnya. hiks hiks hiks Sesakit apapun... bukan urusan kakak!"
*Jadi gadis ini menangis bukan karena suapan aku... di hanya kesal saja,, biarkan saja, pasti kembali lagi ke mood nya..
"Andin, kamu lebih memilih terus seperti ini bersama laki-laki kasar seperti dia??, Andin dengerin kakak,.."
Karena sudah tak sabar dengan percakapan mereka berdua, Hans langsung saja menarik lengan Andin yang terluka.
Gadis itu menyeringai menahan sakit.
"Jangan kasar!! Apa mata mu tidak melihat???"
Teriak Alvin melepaskan kasar tangan Hans dari lengan Andin.
"Kemarikan Andin!!" Ujar Alvin meminta Andin menyerahkan tangannya.
Alvin merobek baju bagian bawah nya, dan di gunakan membersihkan luka Andin serta membungkus nya erat menghentikan darah terus mengalir.
"Dengar, bagaimana ini bisa tersayat?"
Andin menggeleng
"Tidak ada, atau tidak ingin mengatakan nya?"
"Entah, dia berboncengan dan membawa pisau"
"Baik, lain kali lihat lah saat berjalan di jalan raya"
Alvin sengaja menanyai Andin agar tak terasa sakit saat ia mengikat kuat lengan yang terluka itu.
Kini ikatan itu selesai. "Mau pulang??"
"Ah, tidak perlu, Andin pulang sendiri aja,,,"
"Mau pulang sendiri...? kalau yang berjarak dekat saja sudah terluka begini, bagaimana kamu kembali ke villa itu sendiri.."
"Dia tidak sendiri, bukankah suaminya sudah disini??"
-------------------------
BERSAMBUNG...