Karena kebodohan keduanya, Anggun dan Alister berakhir tidur bersama. Padahal, keduanya adalah musuh bebuyutan, Alister adalah berandal, pengacau yang membuat Anggun selaku ketua OSIS selalu keluar masuk ruang BK demi menyelesaikan permasalahan nya.
Terjebak bersama dengan pria yang paling dibenci. Itu membuat Anggun menderita, apalagi keluarganya meninggalkannya dengan pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbuka
Disinilah Alister sekarang, berhadapan dengan mertuanya. Duduk di ruang tertutup dan hanya bisa diam menunggu mereka mengajukan pertanyaan. "Jadi benar? Kamu diusir sama ayah kamu?"
"Iya, Om."
"Tuh, Mas. Kita harus bawa Anggun, ini anak pasti bawa anak kita sengsara. Udah, hapus semua perasaan dendam kamu sama Kertawijaya. Anggun lebih penting sekarang. Dia harus hidup dengan layak. Mana dia lagi hamil lagi."
Namun, pria paruh baya itu malah menatap Alister dengan tajam dan bertanya. "Kamu sanggup? Menghidupi Anggun? Bertanggung jawab atas hidupnya?"
"Saya sanggup, Om. Meskipun penghasilan saya tidak seberapa, saya bisa menghidupi anak dan istri saya."
"Kalau gitu, coba kamu hidupi anak saya dengan layak. Jangan kayak ayah kamu yang bisanya cuma lepas tanggung jawab sama semua kesalahannya."
"Mas!"
"Saya bisa, Tante. Saya bisa tanggung jawab terhadap hidup Anggun. Biarkan dia bersama dengan saya."
"Emangnya kamu menjamin dia bahagia kalau sama kamu? Enggak kan?" Wanita itu tidak mau memberikan anaknya dalam kesusahan. Menatap Alister tajam. "Udah mending kamu berikan Anggun lagi pada kami. Kamu mau bawa dia."
"Anggun bakalan tetep sama Alister," Ucap sang suami menghentikan istrinya. "Keputusannya udah mutlak." Lalu menatap Alister. "Tapi suatu saat kalau kamu udah ngerasa gak sanggup bahagiain Anggun, hubungi kami. Kami bakalan jemput dia."
Alister mengangguk menyanggupinya.
"Awas aja kamu kalau gak bisa bikin anak saya bahagia dan bisanya sengsara aja." Sang ibu mertua mengancamnya. Alister hanya bisa menarik napasnya dalam. Dia juga khawatir dengan masa depannya, tapi untuk saat ini Alister enggan melepaskan Anggun. Dia ingin punya keluarga yang bahagia sebagaimana dirinya tidak pernah mendapatkannya. Dia ingin memperlakukan anaknya dengan baik, dia ingin menjadi kepala keluarga yang hebat.
"Kerjakan pekerjaan kamu. Saya mau lihat skill pria yang bakalan menghidupi anak saya."
Alister modifikasi mobil milik sang mertua, dengan terus ditatap tajam oleh Eva. Okey tidak apa apa, Alister hanya perlu membuktikan kalau dirinya bisa.
Sementara itu di sisi lain, Anggun tengah mengirimkan email pada Deon. Dania tidak habis pikir bagaimana Anggun masih berhubungan dengan pria itu. "Lu sadar bangsaattt!" Teriaknya merasa kesal. "Kenapa lu masih hubungan sama mantan lu?"
"Lagian cuma nanyain kabar doang. Lu harusnya paham dong gimana sulitnya gue buat lupain Deon. Lagian kita gak macem macem. Mana mau dia sama cewek yang hamil kayak gue."
"Gue takut loh, ini bakalan jadi boomerang buat lu."
"Gak akan," Ucapnya sambil terkekeh dan terus menatap e-mail lewat layar laptopnya. "Nih, lu sendiri liat kan gimana pesan yang gue sama dia tukar? Gak ada yang spesial."
"Tetep aja. Semuanya berawal dari hal hal kecil."
Sayangnya Anggun tidak mempedulikan, dia memegang perutnya yang terasa begah. "Tiba tiba gue pengen soto buatan Alister deh." Menghela napasnya dalam. "Kalau dia pulang minta dibuatin ah."
"Tuh kan. Ujung ujungnya lu selalu minta sama Alister."
"Ya iyalah orang dia laki gue. Yang wajib tanggung jawab atas diri gue." Anggum memutar bola matanya malas. "Oh iya. Lu tau gak? Kalau si Alister itu sekarang mau ngomongnya aku kamu tau. Agak geli sih apalagi kalau inget dulu pas dia keluar masuk ruang BK. Hihihi."
"Tapi lu suka kan?"
"Suka! Dia baik kok. Bisa bikin gue gak mual juga."
"Makannya jangan selingkuh sama Deon."
"Mana ada gue selingkuh! Ini cuma chattingan doang," Ucapnya menatap sang sahabat tidak Terima.
****
Menyelesaikan pekerjaannya, Alister mendapatkan bonus dari mertuanya sendiri. Mereka memberikan sejumlah uang dengan berkata, "Modal buat kamu bahagiain Anggun." Begitu ucapnya.
Alister menerima saja, toh uangnya mungkin akan cukup untuk beberapa bukan ke depan. Saat masuk ke apartemen, Dania masih ada di sana. "Mana Anggun, Dan?"
"Tuh" Menatap karpet dengan tatapan. Anggun tertidur di sana.
"Lah, sejak kapan dia tidur?"
"Baru aja." Dania berdiri mengambil tasnya. "Gue duluan ya. Tadinya mau pamit, tapi ini anak kalau bangun gak ada siapa siapa suka marah marah gak jelas."
"Thanks ya. Btw lu gak bilang apa apa kan sama Anggun?"
Dania menggelengkan kepalanya. "Mending lu jujur deh. Seengaknya dengan gitu, Anggun bisa lebih ngehargai lu dan gak minta seenaknya. Sekarang kan dia nganggap nya lu masih dapet pemasukan dari orangtua lu."
"Nggak dulu deh. Gue gak mau dia merasa terbatas. Gue bakalan kasih apa yang dia mau, selama gue bisa. Takutnya dia malah jadi kepikiran."
"Tersesah deh. Tapikan lu tau gimana pinternya si Anggun, dia udah lulus SMA di usia 17 tahun. Gue cuma mau bilang, kalau dia labil, lu harus memaklumi."
Alister mengangguk paham. Memang dia menyadari kalau istrinya ini masih labil. Kepergian Dania membuat Alister langsung masak sebelum dirinya mandi. Sengaja tidak memindahkan Anggun karena sebentar lagi sore dan akan dibangunkan.
Keluar dari kamar mandi, Anggun bergerak dalam tidurnya. Alister yang hanya memakai handuk melilit di pinggang itu memilih untuk mendekat. "Hei, udah bangun?"
Anggun mengerjap, dia berfikir masih bermimpi hingga tangannya berani merayap menyentuh perut Alister yang terpahat sempurna. "Wahhh, dingin, gede."
"Anggun, ngapain?" Alister bahkan menarik tangannya dari rambut sang istri.
Dan tanpa diduga, Anggun menurunkan tangannya ke bagian bawah untuk memegang dan merrremasnya. "Wah ini juga gede ya?"
"Anggun jangan gitu." Alister refleks berdiri. Tapi handuknya terinjak oleh kaki sendiri hingga terlepas dari tubuhnya dan…
"Aaaaaa!" Anggun menjerit melihat bagaimana tubuh Alister tanpa sehelai benang pun
****
To be continue
Komentar nya?