Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.
Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'
Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.
Siapakah yang akan di pilih Ara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Farhan tersenyum menatap Ara yang melarikan diri. Dia menyusulnya dengan langkah santai.
Di dalam rumah kaca, Ara berdiri di tengah hamparan bunga Snapdragon yang bermekaran. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat dia berputar-putar dengan kedua tangan terentang.
Berdiri di kejauhan, Farhan mengeluarkan ponselnya untuk mengambil fotonya diam-diam. Dia memotretnya beberapa kali.
Sudut mulutnya melengkung memandangi hasil jepretannya. Dengan kesadaran penuh Farhan melakukan hal yang belum pernah lakukan sebelumnya.
Layar ponselnya, yang menampilkan foto Ara berkedip sebelum menjadi gelap. Farhan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana sebelum berjalan menghampirinya.
"Apa yang kamu lihat?" tanyanya ketika berada disisi gadis itu.
Ara yang saat itu berjongkok mendongak untuk melihatnya. Matanya berbinar saat menunjuk deretan kaktus sambil berkata, "Lihat, mereka berbunga, cantik sekali."
Farhan memandang kaktus itu sebentar, lalu beralih menatap wajahnya. "Menurutku kamu lebih cantik," katanya.
"Itu tidak benar." Wajahnya semerah udang rebus saat Ara berdiri dan melangkahkan kakinya ke depan.
Berada satu langkah di belakangnya, Farhan memanggilnya dengan lembut, "Ara?"
Menundukkan pandangan, Ara menjawab dengan lirih. "Ya."
"Tahu nggak, bedanya kamu sama bunga itu apa?" tanya Farhan.
"Aku manusia, kalau bunga tumbuhan." Ara berbalik menghadapnya. "Benarkan?"
"Betul." Farhan mengangguk setuju. "Selain itu apalagi?"
Sebagai makhluk hidup, manusia dan tumbuhan sama-sama membutuhkan makanan, air, sinar matahari dan oksigen. Ara berpikir sejenak sebelum bertanya balik, "Memangnya ada lagi?"
Farhan tersenyum. "Tentu saja ada."
Ara menatapnya dengan alis terangkat. "Apa itu?"
"Kalau bunga bermekaran di taman, kalau kamu bermekaran dihatiku," ucap Farhan dengan senyum lebar.
Ara tertawa kecil. "Apa ini, Kak Farhan juga suka menggombal seperti laki-laki lainnya? aku baru tahu."
"Itu bukan gombalan, Sayang. Mas Han serius."
"Ya ya ya," kata Ara seraya menganggukkan kepala.
Farhan tersenyum saat Ara menoleh ke arahnya, ketika dia kembali menyatukan jari-jari mereka. Keduanya menyusuri jalan setapak di tengah hamparan bunga mawar sambil bergandengan tangan.
"Sayang, tahu nggak, kenapa bunga mawar mekarnya cuma sebentar? Mereka akan layu dan mati beberapa hari kemudian," tanya Farhan.
Ara menggelengkan kepala, lalu menoleh untuk menatapnya. "Kenapa?"
Farhan memiringkan kepala dan berkata, "Karena yang abadi itu cintanya Mas Han buat Ara."
Kedua pipi Ara kembali merona. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Namun, jantungnya berdegup kencang sekali, seolah ingin melompat keluar dari tenggorokan.
Langit tiba-tiba menjadi gelap, tertutup awan hitam yang menyebar ke setiap penjuru. Detik berikutnya gerimis jatuh bagai air mata.
Farhan mendongak, menatap rintik hujan yang membasahi langit-langit.
Ara mendesah. "Sayang sekali, padahal aku masih ingin berkeliling."
Farhan tersenyum menatapnya. Dia membelai kepalanya sambil berkata, "Tidak apa-apa, masih ada banyak waktu."
Ara menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat lewat empat puluh tiga menit. Hujan masih turun begitu lebatnya, tak ada tanda-tanda akan berhenti.
"Kurasa tidak begitu," ucapnya tak setuju.
"Sekarang sudah hampir jam lima," imbuhnya.
"Kalau begitu, kita ke sini lagi, lain kali."
Ara terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak yakin dapat mengunjungi tempat ini lagi bersamanya. Kedua kakaknya sangat ketat. Mereka jelas tidak akan mengijinkannya jika tahu dia pergi bersama seorang pria.
Hujan turun semakin deras dan disertai angin kencang. Suhu turun hingga mencapai 13°C. Beberapa orang menyilangkan tangan di dada untuk menghangatkan tubuh.
Farhan memperhatikan Ara yang berulang kali mengusap bahunya. Gadis itu pasti kedinginan. Dia ingin memeluknya, memberinya kehangatan dengan tubuhnya. Namun, saat itu ada banyak orang di sekitar. Farhan tidak ingin orang lain mengecapnya sebagai pasangan tidak tahu malu karena bermesraan di tempat umum.
Farhan menanggalkan jaketnya dan menyerahkannya pada Ara. "Pakai ini," katanya.
Ara menatapnya saat menerima jaket itu. "Bagaimana dengan Kak Farhan?"
"Tidak apa-apa, bajuku cukup tebal."
Farhan tidak ingin Ara masuk angin. Oleh karena itu dia kembali memerintahkan, "Cepat, pakai jaketnya sekarang."
Ara menurutinya. Suhu tubuhnya meningkat setelah mengenakan jaket parasut itu.
"Itu terlihat cocok di kamu," ucap Farhan.
"Bagaimana mungkin? Ini terlalu besar." Ara mengangkat kedua tangannya ke depan. "Lihat, tanganku tidak kelihatan."
Farhan terkekeh. Ia memegang tangannya dan membantunya melipat ujung lengan jaket itu ke atas. "Sekarang sudah kelihatan lagi," ucapnya begitu selesai.
Ara tersenyum. "Terimakasih."
Farhan kembali meraih tangannya dan mengaitkan jari-jari mereka. "Apakah kamu lapar?"
Ara menggelengkan kepala. "Aku makan banyak saat jam istirahat."
Ara memiringkan kepala. "Bagaimana dengan Kakak? Kak Farhan lapar?"
"Sedikit," jawab Farhan. Dia hanya makan nasi goreng sayur saat sarapan. Setelah itu tidak makan apapun lagi.
"Maaf, aku membuat Kak Farhan kelaparan. Seharusnya kita makan siang dulu tadi." Ara menunduk, merasa bersalah.
Farhan tersenyum. Dia membelai wajahnya dengan tangannya yang bebas. "Tidak perlu merasa bersalah, aku baik-baik saja," katanya.
Keduanya menatap hujan dalam diam selama beberapa menit.
"Ara ..." Farhan memecah keheningan.
"Ya," sahutnya sambil menoleh. "Ada apa, Kak Farhan?"
"Hari ini kamu cantik sekali," Farhan memujinya.
Ara tertawa kecil. "Ini ketiga kalinya Kak Farhan mengatakan itu dalam satu hari."
"Iya kah? Aku tidak ingat."
Ara menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu aku akan mengatakannya dua kali lagi agar sempurna."
"Tidak. Jangan katakan lagi, aku tidak mau mendengarnya—itu menggelikan."
"Kalau begitu, apa yang ingin kamu dengar?" tanya Farhan.
"Kak Farhan bisa nyanyi?"
"Tentu saja. Itu mudah, siapapun bisa melakukannya," sahut Farhan.
"Kalau begitu, coba nyanyikan satu lagu untukku," pinta Ara.
"Suaraku jelek."
"Tidak apa-apa, aku tidak akan tertawa," janjinya.
"Lagu apa yang ingin kamu dengar?" Farhan meregangkan leher dan bahunya.
"Apa saja, terserah Kak Farhan."
Farhan menarik napas dalam-dalam sebelum mulai bernyanyi.
Suaranya lembut dan dalam, merdu sekali. Ara bertepuk tangan begitu nyanyiannya berakhir. Matanya sedikit berkaca-kaca.
Farhan mengernyitkan kening. "Apakah suaraku begitu buruk?"
Ara menggeleng. "Bagus sekali. Sangat sangat bagus hingga membuatku ingin menangis."
"Menangislah ...." Farhan menepuk bahunya sendiri saat menambahkan, "aku akan meminjamkannya untukmu."
Ara menggeleng. "Aku bukan anak kecil lagi, tidak boleh menangis," katanya sambil memalingkan muka.
"Ada apa? Apakah ada yang salah dengan wajahku?"
Ara menepuk pipi dan dahinya. Berharap dapat menyingkirkan debu atau semacamnya, yang mungkin menempel di wajahnya.
"Tidak ada apa-apa. Wajahmu baik-baik saja," ucap Farhan seraya menyingkirkan tangannya.
"Lalu, mengapa Kak Farhan terus memandangku?"
"Apa aku tidak boleh memandangmu?" Farhan bertanya balik.
"Bukan begitu ... " Ara kembali menunduk, merasa malu karena Farhan terus menatapnya.
Farhan membungkuk, mensejajarkan tubuhnya dengannya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahnya dan berbisik di telinganya, "Kalau bukan begitu, lantas bagaimana?"
"Jangan terlalu dekat, menjauh lah sedikit." Ara mendorong dadanya yang sekeras batu. Namun, pria itu tetap berada di posisinya, tidak bergeser sedikitpun.
"Kenapa? Aku suka kalau kita sedekat ini."
Meraih pinggangnya, Farhan menariknya ke dalam pelukan. Memejamkan mata, Farhan menghela nafas dalam-dalam, menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan.
"Kamu wangi sekali, Ara," gumam Farhan sambil menenggelamkan wajah di lehernya. Dia mendaratkan kecupan lembut di sana.
Ara terbelalak. Dia melirik sekitar dengan panik. Untungnya saat itu tidak ada yang memperhatikan. Belum.
"Apa yang Kak Farhan lakukan? Lepaskan aku!" teriaknya dengan suara tertahan. Ara berusaha melepaskan diri. Akan tetapi Farhan justru semakin mengeratkan pelukannya. Dia tidak bisa bergerak.
Seperti orang tuli, Farhan tidak mendengarnya. Tindakannya semakin liar, seolah dia sedang kesurupan. Dia menghujaninya dengan ciuman yang tak terhitung jumlahnya.
Ara mencengkram bajunya dengan erat saat tangannya berusaha membuka kancing bajunya. Air mata mengalir dikedua pipinya. "Kumohon jangan seperti ini, Kak Farhan," katanya dengan suara bergetar.
...
"Di mana adikmu, mengapa aku tidak melihatnya dimanapun?" tanya Samsul.
"Dia pergi bermain dengan teman-temannya," sahut Haris tanpa menatapnya. Dia sibuk bermain game online di ponselnya.
"Kau membiarkannya berkeliaran di luar sana saat cuaca seperti sekarang?" Di luar hujan deras di sertai angin kencang. Suara guntur terdengar memekakkan telinga.
"Hubungi dia, suruh dia kembali sekarang juga," titah Samsul.
Haris menurutinya, meski rasa jengkel berkobar dalam dirinya.
"Tidak bisakah dia menghubunginya sendiri? Dia juga punya ponsel."
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya