NovelToon NovelToon
Duren Mateng

Duren Mateng

Status: tamat
Genre:Duda / Harem / Cinta Murni / Romansa / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Ririn Puspitasari

Sequel dari PRIA 500 JUTA.

Alvaro, pria berusia 30 tahun ini kerap dijuluki DUREN MATENG yang berarti duda keren, mapan, dan ganteng. Pria ini memiliki seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun, bernama Bima.

Tiba dimana Bima meminta kepada Alvaro untuk mencari wanita yang hendak dijadikan pengganti ibunya, terpaksa Alvaro pun berkencan dengan banyak wanita dan diberikan penilaian secara langsung oleh putranya sendiri.

Akankah Alvaro menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan ibu untuk anaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Keinginan Bima

"Dokter?" gumam Alvaro terkejut.

"Kenapa? Kamu terkejut?!" cecar Rania seraya melipat kedua tangannya di depan.

"Alvaro? Ada apa kemari?" tanya Hilda seraya tersenyum ramah.

"Kamu kenal?" Rania menatap Hilda. Dan gadis itu pun menimpalinya dengan sebuah anggukan.

"Aku ingin mengobati anakku, giginya sakit," timpal Alvaro.

Rania langsung berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Bima. "Gigi kamu sakit?" tanya Rania. Bima mengangguk, menimpali ucapan dari Rania.

"Mau Tante obati?" tanya Rania lagi. Dan Bima kembali menganggukkan kepalanya.

Rania pun membawa Bima masuk ke dalam. Sementara Alvaro hanya mengekor bersama dengan Hilda.

"Aku mengerti, pria yang dikatakan oleh Rania adalah kamu," ucap Hilda yang mencoba membuka perbincangan dengan Alvaro.

"Aku?"

"Hmmm ...."

"Apa saja yang dia katakan?" tanya Alvaro memberhentikan langkahnya.

Hilda hanya tersenyum, lalu kemudian memilih untuk berjalan mendahului Alvaro. Hal tersebut tentu saja membuat Alvaro penasaran, apa sebenarnya yang dikatakan oleh Rania tentang dirinya.

"Awas saja jika dia mengataiku tutup panci di depan temannya," gumam Alvaro seraya mendengkus kesal. Pria tersebut kembali melanjutkan langkahnya, menyusul Bima yang sudah terlebih dahulu berjalan dengan Rania.

Alvaro melihat Bima yang saat itu ditangani langsung oleh Rania. Tak ada rasa takut sedikit pun dari pria kecil itu, membuat Alvaro merasa sedikit lega.

"Kurangi makan yang manis-manis, seperti permen dan coklat," ujar Rania seraya melepas maskernya usai memeriksa kondisi gigi Bima.

"Dan jangan lupa untuk menyikat gigi di waktu pagi, sore, dan sebelum tidur," lanjut Rania memberikan obat pada Alvaro.

Alvaro hanya memperhatikannya interaksi keduanya. Entah mengapa, ia dapat melihat bahwa Bima terlihat nyaman saat bersama dengan Rania.

"Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu juga ingin diperiksa?" tanya Rania.

Alvaro hanya mendecih menanggapi ucapan dari Rania.

"Padahal aku berharap, kamu lah yang sakit gigi. Dengan begitu, aku bisa membalaskan dendam ku dengan mencabut semua gigimu itu!" ketus Rania.

"Sepertinya kita pergi ke dokter yang salah. Nanti jika gigimu semakin sakit, katakan pada Papa. Biar nanti Papa yang menuntut orang ini," ujar Alvaro kepada anaknya seraya menunjuk ke arah Rania.

Bima tersenyum. Entah mengapa ia merasa senang saat ayahnya beradu mulut dengan Rania. Bahkan Bima ingin sekali mendengarkan kegaduhan seperti ini di dalam rumahnya yang terkesan sepi.

Hilda berada di luar mengetuk pintu, gadis tersebut berdiri di ambang pintu sembari berucap, "Apakah kita bisa mulai? Pasien yang lain sudah ada yang mengantri," ujar Hilda.

Mendengar Hilda berucap demikian, membuat Alvaro pun beranjak dari tempat duduknya. "Awas saja jika kamu berkata yang macam-macam pada temanmu itu," ujar Alvaro.

"Kenapa?" ledek Rania.

Alvaro berdecak kesal, ia menatap Rania sembari memberikan kode dengan mengarahkan kedua jemarinya ke mata, lalu kemudian menunjuk ke arah Rania, yang berarti bahwa dirinya akan mengawasi Rania jika berani berbuat macam-macam.

Rania hanya mencebikkan bibirnya, mengacuhkan peringatan duda dengan satu anak itu. Hingga kedua orang tersebut keluar dari ruangannya dan berganti pasien lain yang siap ditangani oleh Rania.

Alvaro baru saja tiba di parkiran. Pria tersebut menggandeng tangan anaknya sembari membawa kantong plastik yang berisikan beberapa obat untuk meredakan rasa nyeri pada gigi yang sakit.

"Papa, kalau gigi Bima sakit lagi, kita ke sini saja Pa," ujar Bima dengan antusias.

"Nak, berharap lah untuk kesembuhan, bukan berharap penyakitnya kumat lagi," ucap Alvaro seraya menepuk keningnya.

"Kalau begitu, Bu dokternya dijadikan mama Bima saja, Pa. Kalau Bima sakit, atau pun papa yang sakit, ada yang merawat kita nantinya," celetuk Bima yang membuat Alvaro kembali pusing tujuh keliling.

"Aku membencinya, tapi kenapa anakku begitu menyukainya. Tuhan, cobaan apalagi ini?" gumam Alvaro seraya mengerutkan keningnya.

"Bima mau ikut papa ke kantor kan?" tanya Alvaro, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Papa, papa harus janji dulu sama Bima. Jadikan Bu dokter tadi mama untuk Bima, Pa." Pria kecil tersebut memandang wajah ayahnya dengan memelas, membuat Alvaro menjadi tak tega melihat air muka anaknya itu.

"Baiklah, nanti papa jadikan dia mama. Tapi papa tidak janji," ujar Alvaro.

"Kenapa begitu, Pa?" tanya Bima lagi.

"Ya ... karena papa tidak tahu, Bu dokter akan menerima papa atau tidak. Sebaiknya Bima belajar saja yang giat, urusan orang dewasa, biarlah orang dewasa yang mengaturnya," ujar Alvaro membantu memasangkan sabuk pengaman untuk putranya.

"Jadi bagaimana? Mau tinggal dengan nenek atau ikut papa?" tanya Alvaro lagi.

"Bima ikut papa saja," jawab pria kecil tersebut.

Alvaro mulai membawa kendaraan roda empat itu menuju jalanan. Dalam benaknya, ia bingung bagaimana menjelaskan pada putranya nanti.

"Bagaimana ini, Nak. Papa tidak menyukainya, tapi kamu menyiksa papa dengan menyuruh papa untuk menjadikannya mama mu," batin Alvaro.

....

Setelah memeriksakan kandungannya, Alvira memilih untuk jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota tersebut.

Seusai perdebatannya di rumah dengan suaminya, Alvira memilih untuk mencuci matanya sejenak, tidak ingin dipusingkan lagi dengan urusan Andre. Bahkan siang ini, tak ada bekal makan siang untuk suaminya.

Wanita itu melangkahkan kakinya di deretan penjual pakaian bayi. Wanita tersebut Melihat-lihat pakaian yang ada di tempat itu.

Pandangannya tertuju pada sepasang suami istri yang tengah memilihkan baju untuk anak mereka yang ada di dalam kandungan. Sesekali pria tersebut mengusap perut anaknya, lalu kemudian memilihkan baju untuk jagoan kecilnya nanti.

Melihat hal tersebut, ada rasa iri dalam hati Alvira karena mendapatkan suami yang tidak seperti pria yang ada di seberang sana.

"Yang sabar ya nak, meskipun papamu tidak peduli dengan kehadiranmu, setidaknya ada mama yang menantikan kamu untuk lahir ke dunia ini. Mama akan berjuang sendiri untuk membesarkanmu. Sementara papa mu, ...." Alvira tercekat mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Tidak ada harapan lagi untuk mama memperjuangkannya," lanjut wanita itu. Tanpa sadar, air matanya pun mulai jatuh. Dengan cepat Alvira menyeka air matanya itu.

Wanita tersebut kembali memilih baju-baju bayi yang terlihat lucu itu. Tak lama kemudian, Alvira terlonjak kaget karena mendapatkan seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.

"Yeni, ..."

Wanita itu mengulas senyumnya. "Apa kabar? Kamu lama tidak kelihatan," ujar wanita tersebut yang tengah menggendong anak, umurnya berkisar satu tahun.

"Iya, aku jarang keluar rumah sekarang," timpal Alvira pada temannya itu.

"Wah ternyata kamu sedang hamil ya sekarang. Selamat ya," ujar Yeni seraya mengusap perut Alvira yang sedikit buncit.

"Kamu juga, anakmu sudah besar. Dia sangat tampan sekali," puji Alvira seraya mencium pipi gembul anak dari temannya itu.

Bersambung ....

Yang masih sisa votenya, kasih ke aku aja ya😂

1
ditap
kok ga ada thor
Usmi Usmi
Alvaro kenapa tidak d selidiki sih
Erina Munir
ga adaa thoor...yg ada abimanyu, cintaku berhenti di kamu ..thor..pindah kali ya thoor
Erina Munir
bima bner2 udh menepati janjinya k febby
Erina Munir
waah juni blom2 udh nyosor ajaa
Erina Munir
kocaak deh junii...juni lemot..apa telmi..😆😆😆👍👍
Erina Munir
otoor maah ..bikin yg baca jdi penasaraan
Erina Munir
hahaa alvaro klk ngomong kena banget...
Erina Munir
hmmm ...kena deh tuh omongan...mantab alviraa
Erina Munir
adaa deehh...othor pura2 deeh
Erina Munir
😍😍😍😆😆😆👍👍👍 kocak deh arumi
Erina Munir
hahaaa...aya2 waee
Erina Munir
naah gitu doong njuun....kerjaar terus sampe tertangkap...😆😆😆
Erina Munir
makaanyaa jngn busuk hatii dedoot...rassaiin luuhh.udh jatoh ketiban tangga pula...😄😄😄😄👍👍
Erina Munir
palung pska s dedot yg d ketok pake sepatunya shinta..rassaiin luuh dedot...gwe ketawaiin luuh
Erina Munir
ayoo juun cecer trrus...bikin supaya shinta jujur
Erina Munir
untung shinta cerdas..cepet bisa rau.naksud n tujyan s dedot itu ..pret luhh dedit..ngehalu aja terooos luuh...
Erina Munir
wadduuh psti dedi kasar sama shinta
Erina Munir
bnerr paje banget itu thorr bima lebih dewasa dripada njuun...😄😄😄👍👍
Erina Munir
hahaaa...kocaak banget deh aah pada..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!