Kisah pembunuhan berantai yang menggemparkan publik. Tak di sangka berita yang biasanya hanya di lihat dalam Televisi kini menghampirinya.
Nara Clarissa, seorang perawat teladan di salah satu rumah sakit. Usianya kini menginjak 24 tahun. Namun sejak berusia 10 tahun ia di tinggal orang tuanya dan melanjutkan hidup bersama Neneknya. Pertengkaran sering terjadi antara Nara dan Neneknya. Hingga suatu hari hal mengejutkan terjadi. Neneknya tewas mengenaskan di dalam rumah, dengan tiga tusukan pisau. Ya itu adalah ulah Pembunuh berantai.
Situasi memojokkan Nara sebagai pelakunya, ia tak memiliki bukti hingga akhirnya ia mendekam di dalam penjara. Tak di sangka hal mengejutkan lainnya datang. Seorang wanita cantik nan kaya datang padanya membawakan kontrak pernikahan. Ia adalah Irene Dawson, putri sulung dari perusahaan GT grub. Ia meminta Nara untuk menikahi adiknya, Ammar. Irene berjanji akan membebaskan Nara asal ia mau menikahi adiknya.
Apa yang akan di lakukan Nara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Pencucian uang
Matahari telah membumbung tinggi. Karena lelah dan khawatir, semalaman Nara tak bisa tidur. Ia bahkan tak mencuci wajahnya, hingga detik ini ia masih terbaring di posisi yang sama seperti semalam. Saat Ammar mengantarkannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dengan amat malas dan separuh nyawa ia mengangkat panggilan itu.
Sam yang meneleponnya, ia memberitahu Nara untuk segera datang ke kantornya sekarang.
"Ada apa? apa ada perkembangan?" sahut nya malas.
"Apa Kau tau tetangga Nenek mu memiliki hubungan dengan Direktur Ryan?"
"APA?!" Nara langsung duduk, rambutnya yang seperti singa membingkai wajah lusuhnya.
...~...
Tidak sampai satu jam, setelah mandi dan mengebut dengan taksi. Nara akhirnya sampai di kantor Sam. Ia langsung menerobos masuk sambil berlari.
"Kalian serius..?" ia terengah-engah, sangat sulit mempercayai itu.
Sandra menunjukkan semua yang ia dapat dari hasil penyelidikannya. Berupa Rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa Direktur Ryan beberapa kali menemui Bu Mina.
Tak hanya itu, mereka bahkan mendapati transaksi uang berkali-kali yang di terima Bu Mina dari Direktur Ryan.
"Dengan bukti yang ada, kuat dugaan Bu Mina adalah orang yang mencucikan uang Direktur Ryan. Karena itu bisnis gelap, akan aman jika di lakukan oleh orang seperti Bu Mina." Sam menjabarkan dengan simpel agar Nara mudah memahami.
"Lalu Nenek mengetahui itu? Apakah itu sebabnya Mereka membunuh Nenek?" Jika di telaah, memang masuk akal motifnya. Namun titik terang dan bukti belum mereka temukan kalau Bu Mina dan Direktur Ryan yang membunuh Nenek.
Mereka malah menemukan bukti lain yang mengungkap fakta baru, yaitu Damar menyuntikkan dana pada bisnis gelap yang di jalani oleh Direktur Ryan.
"Damar dan Ryan sudah jelas bekerjasama, dan Kami juga tau Suami mu akan memakai alasan ini untuk melengserkan Damar dari jabatannya sebagai pemegang saham Prioritas."
"Apa..?" Nara membelalak pada Sam.
"Kami sudah tau semuanya, maka dari itu mulai sekarang Kau harus jujur agar penyelidikan Kami tidak terhambat." bisik Sandra, ia juga berjanji akan merahasiakan informasi pribadi Nara dan Ammar.
Kemudian Sam mengeluarkan foto seorang Pria yang tak lain adalah Direktur ED corporation. "Selain Damar, dia juga bekerja sama dengan Direktur Ryan. Apa Kau pernah melihatnya?"
"Dia Pria breng$ek yang mengangguku semalam." jengah Nara, mengingat wajahnya sungguh membuat darah Nara kembali mendidih.
Sam, Sandra dan juga Galih sontak menoleh kearah Nara. Mereka bahkan menelan ludah yang dengan susah payah melihat ekpresi jengah Nara.
Sam duduk di depan Nara melemparkan tatapan penuh tanda tanya. "Dia tewas tadi malam, persis seperti Nenekmu."
"Hahh..?" dengus nafas Nara terdengar panjang, antara terkejut dan tak percaya.
"hei..! tatapan kalian seperti itu bukan karena mencurigai ku kan?" ia mengamati tiga pasang mata yang tengah menodong nya sekarang. Seolah mereka semua percaya bahwa ia benar-benar seorang pembunuh.
"Apa yang dia lakukan padamu semalam?" tanya Sam.
"Dia.... hampir melecehkan ku. Kemudian Ammar datang dan memukulnya."
"Apa suami mu mengatakan sesuatu?seperti mengancam atau semacamnya?"
"Tidak.. Bukan Ammar pelakunya." tegas Nara. Bukan karena ia ingin menjaga nama baik Ammar. Batinnya sendiri memungkiri, semalam bahkan Ammar tak menanyakan keadaannya. Jika kejadian itu tak terjadi di tempat umum, mungkin saja sampai Nara di p*rkoSa pun Ammar benar-benar tak perduli.
...~...
Setelah menghabiskan energi dan pikiran di kantor Sam. Nara kembali ke rumah, ia sudah di sambut oleh Ammar dan Irene yang tengah penasaran.
Irene langsung bertanya bahkan saat Nara baru melepaskan alas kakinya.
"Nara, apa Kau tau Pria yang menganggumu semalam tewas?"
"Dia menceritakannya pada Irene? Ku pikir dia takkan perduli sama sekali." batin Nara, ia dan Ammar beradu tatapan legam yang entah apa artinya.
"hm...Aku melihatnya di berita, kenapa? Kalian juga mengira Aku yang membunuhnya?" Nara terdengar kesal, baru kali ini ia menjawab Irene dengan nada ketus begitu.
Irene berdiri, ia mengambil tasnya lalu berjalan ke arah luar. Sepertinya ada urusan penting. "Aku bukan menuduh mu, Aku mengkhawatirkan mu. Jadi untuk sementara waktu jangan keluar rumah." kalau sampai Nara kenapa-kenapa, masa depan mereka lah taruhannya.
"b..baik.." sahut Nara lirih, seketika ia menyesal karena sudah bersikap ketus terhadap Irene barusan.
"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik."
Nara mengangguk pelan, namun ia bertanya-tanya. Apa maksudnya jaga diri baik-baik? Bukankah barusan ia mengatakan di rumah saja agar aman? Lalu untuk apa dia waspada saat di rumah?
"Dimana Jas ku?" celetuk Ammar membuat pertanyaan di kepala Nara langsung buyar.
Merasa masih kesal atas sikap dingin Ammar semalam, ia tak menjawab. Melainkan langsung ke kamar mengambil Jas Ammar, kemudian mengembalikannya.
"Terimakasih atas pertolongannya semalam." ketusnya sembari meletakkan Jas di atas sofa.
"Kau.... baik-baik saja..?" Betapa susah Ammar berusaha menanyakan keadaan Nara, lidahnya terasa kaku hingga tak bisa langsung bertanya semalam.
Nara mengangguk, tatapan mereka bertemu hingga rasa canggung tak terelakkan. Kemudian Nara membuang tatapannya ke arah lain, namun tidak dengan Ammar yang masih menatapnya. Seperti ingin bertanya dan memastikan sesuatu.
"Bukan aku yang membunuhnya..!" ucap Nara berusaha menjelaskan. Padahal Ammar tak bilang apa-apa. Ia menaikkan sebelah alisnya kemudian meninggalkan Nara di sana.
"Dia tidak berpikiran begitu kan?" gumamnya, entah kenapa setiap mata yang memandangnya seolah mempertanyakan kejadian itu.
...************...
baru bab pertama aja sudah campur aduk gini sih kak,sedih,sakit,dan juga bingung,klu aku jadi Nara aku mending kabur deh