Novelia hidup berdua dengan adiknya Milea, Novelia sangat menyayangi adiknya itu hingga sesuatu yang menyakitkan menimpa adiknya. Adiknya dinyatakan defresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa dan itu membuat hati Novelia sangat hancur.
Novelia curiga kalau defresinya adiknya ada hubungannya dengan lingkungan sekolah, maka dari itu Novelia bekerja sebagai penjaga kantin untuk menyelidiki siapa orang-orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa adiknya itu.
Akankah Novelia bisa menemukan pelakunya atau justru nyawa Novelia yang akan terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOVELIA BAB 20
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Hari demi hari pun sudah Novelia lalui, semenjak kejadian itu Pak Prima dan Pak Dedi memang sering mendekati Novelia tapi Novelia selalu menghindar bahkan Pak Prima sering menyuruh Novelia mengantarkan kopi ke ruangannya tapi Novelia selalu menolak dan menyuruh Bu Ningsih untuk menggantikannya.
Novelia tampak melamun di salah satu kursi kantin.
"Bagaimana caranya aku mendekati Pak Angkasa, kalau di sekolah rasanya tidak mungkin karena bertemu dengan Pak Angkasa hanya sebentar saja," batin Novelia.
Tiba-tiba Angkasa datang dan langsung duduk di hadapan Novelia membuat Novelia terkejut dan gelagapan.
"A-apa Pak Angkasa ingin kopi? Sebentar, aku buatkan kopi untuk Pak Angkasa," seru Novelia.
Novelia pun mulai bangkit dari duduknya tapi Angkasa menahan lengan Novelia membuat Novelia membelalakan matanya.
"Aku sedang tidak ingin ngopi, duduklah, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu."
Novelia pun kembali duduk dengan perasaan canggung.
"Pak Angkasa mau bicara apa sama aku?" tanya Novelia gugup.
"Mengenai ponsel yang pernah aku berikan kepadamu----"
"Maaf Pak Angkasa untuk saat ini aku belum punya uang untuk mencicilnya, beri aku waktu, bulan depan aku pasti akan mulai memcicilnya," sahut Novelia memotong pembicaraan Angkasa.
"Bukan itu maksud aku, aku belum selesai bicara kamu sudah memotongnya."
"Maaf."
Novelia menundukan kepalanya karena merasa malu.
"Aku dan Patricia baru saja menempati rumah baru dan kebetulan kami belum mempunyai ART, jadi maukah kamu bekerja di rumahku? Ponsel itu anggap saja sudah lunas dan aku akan membayarmu berapa pun yang kamu mau."
Novelia menganga dengan ucapan Angkasa, baru saja dia memikirkan cara untuk mendekati Angkasa, tiba-tiba sekarang Angkasa menawarkan pekerjaan yang sangat menguntungkan untuk Novelia.
"Syukurlah, kalau aku bekerja di rumah Pak Angkasa, aku bisa lebih leluasa untuk menggoda Pak Angkasa," batin Novelia.
"Lia, bagaimana? Kok kamu malah melamun?" seru Angkasa membuat Novelia tersentak.
"Ah, iya Pak, aku mau bekerja di rumah Bapak."
Angkasa menyunggingkan senyumannya membuat Novelia terpana sejenak.
"Ya Allah, tampan sekali Pak Angkasa kalau sedang tersenyum seperti itu," batin Novelia.
"Baiklah, pulang dari sini kamu bisa langsung ikut aku ke rumah," seru Angkasa.
"Ah maaf Pak, sepertinya aku tidak bisa soalnya aku harus siap-siap dulu, lagipula aku juga harus ke rumah sakit menjenguk adikku dan sekaligus menitipkan dia ke perawat selama aku tidak datang ke sana."
"Adik kamu sakit apa?"
"Sakit biasa-biasa saja Pak, gak parah kok," sahut Novelia menyembunyikannya.
Novelia tidak mau sampai Angkasa tahu Milea sakit apa, karena Novelia ingin Angkasa tahu saat Novelia mendapatkan bukti kelakuan bejad mertuanya sendiri yang ada di dalam ponsel Pak Dedi.
"Ya sudah, ini alamat rumahku besok kamu boleh datang pagi-pagi," seru Angkasa dengan memberikan alamat rumahnya.
"Baik Pak, terima kasih."
***
Waktu pulang pun tiba...
Novelia segera menghentikan angkot yang lewat, Angkasa yang awalnya akan pulang tiba-tiba merasa penasaran dengan Novelia. Akhirnya tanpa sepengetahuan Novelia, Angkasa pun mulai mengikuti Novelia.
Beberapa saat kemudian, Novelia pun sampai di depan rumah sakit jiwa tempat di mana Milea dirawat. Novelia pun segera masuk ke dalam, sedangkan Angkasa yang dari tadi mengikuti Novelia merasa terkejut dengan rumah sakit yang didatangi Novelia.
"Rumah sakit jiwa? Siapa yang gila?" batin Angkasa.
Angkasa yang sudah terlanjur mengikuti Novelia, akhirnya masuk juga lagipula Angkasa penasaran siapa yang dirawat di sana.
Angkasa terus saja mengikuti Novelia, hingga akhirnya Angkasa berhenti di sebuah ruangan yang Novelia masuki. Angkasa mengintip dari kaca persegi yang berada di pintu ruangan itu.
"Siapa gadis itu? Tapi, wajahnya mirip dengan Lia apa mungkin saudaranya Lia?" batin Angkasa.
Novelia kembali melepas kacamata dan juga ta* lalat palsunya, dan Angkasa sekarang bisa melihat jelas bagaimana wajah Novelia yang sebenarnya.
"Cantik."
Novelia menyuapi Milea dengan penuh kasih sayang, saat ini Milea pun sudah jarang ngamuk lagi, dan mulai merespon ucapan Novelia.
"Dek, mulai besok Kakak akan bekerja menjadi ART di rumah pemilik sekolah kamu, gajinya besar jadi maafkan Kakak kalau nanti, Kakak akan jarang ke sini, tapi kamu jangan khawatir Kakak akan menyuruh Fatar untuk jagain kamu," seru Novelia dengan mengusap kepala Milea.
Milea menatap mata Novelia dengan seksama.
"Kakak juga saat ini sedang mengumpulkan banyak bukti kejahatan Pak Dedi dan Pak Prima, supaya Kakak bisa jebloskan mereka ke dalam penjara. Kakak juga akan menghancurkan kebahagiaan anaknya, biar mereka tahu bagaimana rasa sakit yang kamu rasakan selama ini."
Mata Milea mulai berkaca-kaca, perlahan Milea mengangkat tangannya dan mengusap pipi Novelia membuat Novelia kaget.
"Ka-kak."
Novelia tersenyum dan meneteskan airmatanya. "Kamu baik-baik ya di sini, Kakak ingin kamu sembuh dan kembali menjadi Milea yang ceria seperti dulu. Kakak kesepian Dek, di rumah sendirian, apa kamu tidak kasihan sama Kakak?"
Milea pun meneteskan airmatanya dan memeluk Kakaknya itu, begitu pun Novelia yang membalas pelukan adik kesayangannya.
"Kakak sayang sama kamu Dek, Kakak ingin kamu sembuh. Berusahalah buat sembuh demi Kakak."
Milea terus saja menangis dipelukan Kakaknya itu, sedangkan Angkasa hanya bisa melihatnya dari luar. Tiba-tiba, seorang dokter lewat di hadapan Angkasa.
"Tunggu dok, boleh saya bertanya?" seru Angkasa.
"Boleh, anda mau bertanya apa?"
"Siapa pasien yang dirawat di sini?"
Dokter menoleh ke dalam ruangan dan tersenyum. "Dia Milea, adiknya Mbak Novelia."
"Apa? Sudah sejak kapan dia dirawat di sini?"
"Kurang lebih ada 6 bulanan."
"Kalau boleh tahu, kenapa dia bisa dirawat di sini?" tanya Angkasa penasaran.
"Adik Mbak Novelia mengalami depresi, tapi saya tidak tahu apa penyebabnya karena saya bukan dokter yang menanganinya, yang menangani pasien ini adalah Dr.Wendi. Jadi, kalau anda ingin tahu lebih lanjut bisa mencari Dr.Wendi."
"Oh iya, terima kasih, Dok."
"Sama-sama Mas, kalau begitu saya permisi."
"Silakan, Dok."
Angkasa kembali melihat ke dalam ruangan, setelah tahu siapa yang sudah dirawat di sana, Angkasa pun memutuskan untuk pergi dari rumah sakit jiwa itu.
semangat buat Novelia,,😉😉
buat Authornya semangat juga,,🙂🙂
mksh k popy untuk sajisn yg bagus maaf lama nggak baca lg sibuk di rl... 🙏🙏🙏