Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pergi Merantau
"Ibu juga harus hati-hati, aku titip adik-adik ya Bu! Jaga kesehatan juga"
"Emi! kakak titip Ibu dan adik-adik. Kamu harus belajar yang benar, jangan kelayapan kalau kakak lagi gak ada"
Aisyah pun melangkah pergi setelah menyampaikan beberapa kalimatnya. Ibu dan adik-adiknya terlihat menatap kepergian Aisyah dengan hati yang berat. Namun, mereka harus melepaskan kepergian Aisyah, karena ini semua demi masa depan dan cita-citanya.
Tekad Aisyah untuk pergi merantau pun sudah di putuskan. Dengan perasaan yang berat, ia harus meninggalkan rumah dan keluarganya demi mencapai cita-citanya.
Problematika kehidupan memang tidak bisa di hindari. Namun, seorang anak dari keluarga yang patah akan selalu memiliki tekad untuk mengubah nasibnya menjadi seseorang yang lebih baik dari apa yang dia alami.
Aisyah harus rela meninggalkan keluarganya dengan waktu yang belum ia ketahui sampai kapan.
Didalam hatinya hanya ada sebuah harapan untuk perubahan yang lebih baik.
Di bandara.
Aisyah memeluk tubuh Yummi dengan erat, sang sahabat yang selalu mendukung serta membantunya dalam keadaan sulit. Perpisahan ini mungkin akan begitu lama untuk mereka berdua. Namun, inilah pilihan yang sudah menjadi keputusan Aisyah.
"Aisyah! Ayo, pesawatnya sudah mau berangkat" ajak Rangga, sang guru tampan.
Tidak mudah untuk pergi dari Kalimantan menuju Jakarta. Kini, Pak Rangga lah yang akan mengantar Aisyah ke Jakarta untuk mengurus segala sesuatunya disana, dan karena pak Rangga lah Bu Hesti mempercayai Aisyah untuk pergi mengejar impiannya di pulau seberang.
"Hati-hati ya Aisyah, aku akan merindukan mu" Teriak Yummi dengan terus melambaikan tangan kepada Aisyah yang semakin menjauh. Tidak terasa, air matanya menetes begitu saja.
Aisyah masuk kedalam pesawat, begitupun dengan pria yang ia panggil dengan Pak Rangga, seorang guru tampan yang selalu ada untuk membantunya.
Tidak berapa lama, pesawat yang mereka tumpangi pun pergi meninggalkan tempatnya.
Aisyah sedikit merasa gugup, karena ini pertama kalinya baginya menaiki pesawat, belum lagi rumor yang beredar serta berita-berita yang mengerikan mengenai pesawat yang terjatuh, membuat wanita cantik itu terus berdoa didalam hatinya dengan mata yang sengaja ia pejamkan.
Rangga terlihat tersenyum manis melihat wajah putih nan polos itu terus memejamkan matanya karena takut, tangannya tergerak lalu menggenggam tangan Aisyah yang terasa sangat dingin.
Aisyah seketika membuka matanya, melihat siapa yang telah memegang tangannya. Kedua pasang mata itu saling bertemu cukup lama, manik mata yang begitu indah dengan bibir tipis yang selalu melukiskan senyum untuknya, siapa lagi kalau bukan Rangga.
"Jangan takut, aku akan selalu ada untuk mu" Rangga membuka suara lembutnya. Aisyah tidak bisa berkata-kata, ia hanya membalas dengan anggukan kepala. Bukan tanpa alasan, genggaman tangan Rangga kepadanya membuat dirinya semakin gugup. Pasalnya, ini pertama kalinya bagi Aisyah bersentuhan bersama lawan jenisnya, Walaupun itu hanya sebatas genggaman tangan.
Hanya butuh satu jam tiga puluh menit, pesawat yang mereka tumpangi pun mendarat di tanah Jakarta dengan sempurna.
Saat keluar dari Bandara, sudah bisa Aisyah lihat bagaimana padatnya penduduk disana dengan rumah yang saling berdempetan satu sama lain. Lain dari pada di kampung halamannya, rumah yang tidak sepadat di Jakarta.
Karena ini adalah hari pertama mereka di Jakarta, Rangga memesan dua kamar penginapan untuk mereka bermalam. Mereka akan melakukan pendaftaran keesokan harinya, setelah Rangga menemukan rumah kontrakan yang cocok untuk Aisyah tempati, yang pasti tempat itu harus aman dan lebih dekat dengan Universitas tempat Aisyah menempuh pendidikan.
.
.
.
.
Bersambung
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏