"Kamu sengaja tidak ikut makan malam saat saya dirumah kamu?" Tanya Arka
"Ketiduran pak" jawab Mentari asal
"Apakah Aldi mengetahui kebohongan mu ini?.. saya sangat tau kalau orang itu bohong atau tidak" ucap Arka membuat Mentari diam tidak berkutik
Kira-kira apa yang terjadi yaa?
.
.
.
Semoga suka😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fenti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Pagi yang cerah secerah hidup Arka dan sebahagia perasaannya saat ini. Dan berbanding terbalik dengan Mentari, ia saat ini harus menerima kenyataan bahwa hidup itu butuh perjuangan.
Mentari kembali semangat untuk menjalani pagi ini dengan kata-kata papanya tadi malam
Mentari sudah siap untuk ke rumah Arka. Mentari duduk santai diruang tengah menunggu jemputan
Ibu Anita yang hendak ke dapur melihat putrinya sudah rapi
"Mau kemana sayang sepagi ini?" Tanya ibu Anita
"Ambil proposal bun, ke rumah pembimbing" jawab mentari yang masih setia menunggu
"Papa atau aldi yang antar?" Tanya ibu anita lagi
"Dijemput sama asistennya pak Arka bun" ucap Mentari lagi
"Nak Arka teman kakak kamu?" Tanya ibu Anita lagi
Mentari menjawab iya namun takut jangan sampai ibunya akan memanggil arka lagi ke rumahnya tapi kalau bohong berdosa
"Iya bun,, mentari pamit.. assalamualaikum" ucapnya lalu ia lari menuju gerbang. Ia tidak enak kalau asisten Brian harus menelpon lagi dan menunggu di depan
"Ngomong apa sih itu anak" batin ibu Anita yang tidak terlalu jelas mendengar ucapan mentari lalu ia ke dapur untuk memasak sarapan pagi
Mentari yang sampai digerbang ia memanggil pak ucup
"Pak ucup buka gerbangnya" ucap Mentari. Ia memanggil pak ucup karena mobil tepat berhenti depan gerbang, "Alhamdulillah tidak menunggu lagi" sambungnya sembari ia senyum
"Siap nona" jawan pak ucup lalu membuka gerbang rumahnya dan mentari keluar
"Terima kasih lho pak ucup" ucap mentari sebelum pak ucup tutup kembali pintu gerbangnya
Arka yang melihat itu dari jauh tersenyum karena dari sifatnya Mentari yang menyebalkan ternyata masih menghargai orang yang kerja dirumahnya
Mentari menuju mobil tiba-tiba ia terhenti setelah menyadari yang jemput bukan Brian melainkan Arka
Arka menurunkan kaca mobilnya bagian depan "masuk"
Mentari masuk dalam mobil bagian depan dengan sungkan.
Setelah Mentari masuk, Arka langsung menjalankan mobilnya. Dalam mobil tidak ada yang membuka kata, Arka sengaja ngebut agar cepat sampai rumah orang tuanya yang sudah menunggunya dan mentari
Mentari yang takut dengan kecepatan tinggi ia memberanikan diri untuk protes kepada pak Arka "bapak kenapa harus ngebut, apa gak sampai kalau pelan-pelan pak?" Tanya mentari dengan memegang sabuk pengamannya
"Maaf" jawab Arka yang membuat mentari menoleh dengan cepat
"Bapak salah minum obat sehingga minta maaf sama saya.. yahh sering-sering ya pak salah minum obatnya secara dosa bapak banyak banget sama saya" ucap mentari lagi
"maaf ya pak, Mentari sengaja bicara seperti ini karena semakin diam dan menuruti keinginan bapak. Bapak malah memerintah seenaknya, untung saya masih sadar kalau pendidikan itu penting kalau tidak sudah lama saya tidak lanjut bimbingan" batin Mentari
Arka bukan merespon ucapan Mentari malah mencoba menancap gas lagi dengan kecepatan tinggi yang membuat mentari ketakutan
"Pak jangan balap ya,, kasian saya pak" ucap Mentari dengan mengangkat satu tangan sejajar dengan wajahnya dengan mata tertutup. Mentari rasa kecepatan mobil Arka ini sudah membuatnya jantungan.
"Memang kasian kenapa?" Tanya Arka penasaran yang sudah menurunkan sedikit demi sedikit kecepatan mobilnya
"Belum menikah pak" jawab mentari yang membuat arka ketawa
"Hahaha.. menikah kalau gitu, susah amat hidup kamu" jawab Arka setelah tertawa
Mentari menoleh kearah Arka saat Arka ketawa "ternyata pak Arka ini lumayan ganteng tapi sayang tidak punya hati" batin mentari dengan tatapan tajam
"Ehhh pak, kalau mau mati jangan ajak-ajak aku, kasian jodoh saya akan jomblo seumur hidupnya" ucap mentari lagi
"Ternyata kamu ini gak bisa berhenti bicara"
"Pak Arka ini aneh, siapa yang diam kalau nyawa sudah diujung tanduk.. masih lama gak?" Tanya mentari sudah tidak sopan kepada Arka
"Sudah dekat" jawab Arka memasuki halaman rumah kediaman Purnawan
"Kediaman Purnawan.. pak, saya tunggu didalam mobil saja ya pak, habis ini langsung kekampus kan pak?" Tanya mentari lagi
"Langsung mengantar mu pulang.. turun, ibu dan ayah saya sudah menunggumu" ucap Arka lalu ia mengetuk pintu sembari memberi salam
Mentari yang mendengar ucapan arka ayah dan ibunya menunggunya membuatnya susah menelan ludah seakan tubuhnya melayang
"ya Allah segini amat aku bimbingan, apa salahku yaa" batin mentari sembari mengikuti belakang Arka itu
Ibu Dewi yang sudah menyiapkan sarapan pagi untuk sarapan bersama mentari
"Wa'alaikumussalam" ucap ibu Dewi lalu menunju ruang tamu
Disana Arka dengan seorang gadis tepat dibelakangnya. Ibu Dewi menghampiri mereka
"Kita sarapan dulu nak, ibu sudah lama menunggu" ucapnya kepada Arka
Arka langsung menoleh kearah Mentari tepat dibelakangnya
"kamu tamu disini bukan pengawal" ucap Arka sembari ia senyum
Mentari langsung menggeserkan badannya sehingga terlihat oleh ibu Dewi
"Mirip jeng Anita, tapi apa anak ini pernah ibu ketemu di mall.. aahh gak mungkin sepertinya saya salah orang " batin ibu Dewi lalu menghampiri Mentari
Mentari yang terus melihat ibu dewi, ia mencoba mengingat wajah ibu dewi karena menurutnya pernah bertemu tapi ia lupa dimana
"apa teman bunda waktu di mall itu, tapi kalau benar tidak mungkin gak negur aku... Mentari Mentari, mentang-mentang ibu itu janji mau ajak makan setelah lihat ibu pak Arka keingat ibu-ibu itu" batin Mentari
Ibu Dewi menggandeng tangan mentari dan membawanya dimeja makan dan disana sudah ada ayah Rahmat yang setia menunggu
"Mau ambil proposal kan nak?" Tanya ibu Dewi kepada Mentari
"Iya tante, Tante repot amat" ucap Mentari melihat sarapan diatas meja yang begitu banyak
"fix bukan teman bunda, hanya mirip wajahnya dengan teman bunda" batin Mentari lagi
"Iya harus nak, namanya juga menunggu calon mantu" timpal ayah Rahmat
"Mantu, siapa om?" Tanya Mentari tidak mengerti
"Kam..." Ucap ayah Rahmat langsung dipotong oleh Arka
"Kita makan dulu, Arka sudah lapar" ucapnya lalu ia menyendok nasi goreng dengan sedikit berdiri karena nasi goreng tersebut tepat didepan Mentari, maka ia berinisiatif untuk membantu pembimbingnya itu siapa tau sesudah ini tidak dipersulit lagi
"mudah-mudahan proposal Mentari langsung diperiksa" batin Mentari lagi
"Biar saya yang sendokkan pak" Mentari menawarkan diri sambil menyodorkan tangannya meminta piring Arka itu
Arka memberikan piringnya, Mentari langsung menyendokkan nasi goreng lalu ia bertanya "pakai telur mata sapi atau telur mata ayam?" Tanya Mentari sedikit ngelucu
Arka yang awalnya diam hanya memperhatikan Mentari sekarang ia malah senyum lucu
"Gak perlu pakai telor" jawab Arka
Arka ingin meminta telor dadar namun ibunya selalu memperhatikan dirinya dan mentari yang membuat Arka malu sendiri
"Nak Mentari?" Tanya ayah Rahmat
"Iya om" jawab Mentari dengan senyum ramahnya.. "om gak ke kantor seperti anak om yang sibuk ini?" Tanya Mentari lagi. Ia berani bertanya seperti itu karena melihat orang tua Arka ramah orangnya
"Om hari ini, ingin jalan-jalan kerumah kamu" ucap ayah Rahmat
"Mungkin sore om, karena pagi ini papa ke kampus mentari" jawab Mentari lagi sambil mereka makan
Ibu Dewi hanya diam tetapi diamnya seorang ibu bukan diam biasa melainkan diam penuh penilaian. Setiap ibu Dewi melihat Mentari ia teringat kepada temannya Anita
"Nak Mentari, sudah lama kenal Arka?" Tanya ibu Dewi
"Belum tante, saya kenal pak Arka itu pertama saat saya UAS dan kedua pas saya bimbingan ini" jelas mentari dengan semangat
"Kamu punya teman?" Tanya ibu Dewi lagi
"Iya tante, rio dan siska" jawab mentari tidak curiga
"Maksud Tante teman spesial gitu" jelas ibu Dewi lagi
"Kalau teman spesial nanti aku tanya Rio dan siska Tante mereka anggap saya teman spesial atau tidak.. tapi kalau jawabnya tidak aku pastikan, aku akan marah sama mereka berdua" ucap Mentari lagi yang membuat ayah Rahmat langsung bertanya kepada Arka
"Apa orang seperti ini?" Tanya ayah Rahmat
"Begitulah yah, jadi kalau tunggu mentari mengerti sampai tahun depan tidak akan mengerti" jelas Arka yang sibuk dengan ayahnya dan Mentari dengan ibu Dewi
"Tante, dirumah saja?" Tanya mentari
"Iya nak, sepi ya?.. Arka dirumahnya jadi disini hanya ibu dan ayah Arka" curhat ibu Dewi
"Suruh Arka tante balik disini kalau dari kantor" ucap mentari lagi
"Boleh gak Tante main kerumah orang tua kamu?" Tanya ibu Dewi
"Boleh dong Tante, tante pernah kan mau ajak aku dan bunda makan bareng" ucap mentari lagi. Ia ingin tau apa benar ini teman bundanya atau bukan
"Kapan?" Tanya ibu Dewi
"Di Mall tan, kemarin sore.. tante sudah lupa yaa... Tenang tan Mentari masih ingat kok" ucap menteri lagi sembari ia senyum padahal ia sendiri awalnya hanya menerka-nerka
"Anita?" Tanya ibu Dewi
"Iya tan, anita itu nama bunda Mentari" jelas Mentari
Sementara Arka dan ayah Rahmat membahas perusahaan karena baru pagi ini Arka lama dirumah orang tuanya itupun karena ada mentari.
"Yah, ternyata mentari anak teman ibu, anaknya Anita" jelas ibu Dewi senang
"Kalau gitu, kita kerumahnya saja sekarang.. sekalian kita bahas pernikahan mereka" ucap ayah Rahmat
Mentari bingung dengan ucapan ayah Rahmat, "pernikahan.. mereka.. Mereka siapa?" Tanya Mentari dalam hati.. "aahhh bodoh amat yang penting aku bimbingan" sambungnya lagi dalam hati dengan diam
"Ayok sayang, kita kerumah kamu" ucap ibu Dewi lagi
"Sekarang ya tan?" Tanya Mentari dengan wajah bingung
"Iya" jawab Arka singkat yang membuat Mentari menatap Arka dengan kesal
"ini ada apa lagi proposal aku belum dikasih sekarang malah kerumah, ya Allah apa aku ditakdirkan jadi nenek dikampus yaa" batin Mentari dengan sedikit sedih mengingat perjuangan proposalnya berbeda dengan teman-teman yang lain
Mentari berusaha untuk kembali terlihat biasa, walaupun jika ia bisa berteriak sekencang-kencangnya sekalipun tidak ada gunanya, toh Arka akan kerumahnya saat ini
"Tan.. Pak Arka kalau jawab bikin sakit hati" adu Mentari kepada ibu Dewi itu sembari ia senyum
"Hahaha... Sudah begitu Arka nak, sabar ya nanti"
"Nanti.. maksudnya?" Kenapa aku semakin kesini makin tidak mengerti ya" batin Mentari lagi
Setiap ucapan ibu Dewi membuat Mentari bingung dan mentok hanya bertanya dalam benak.
"Sayang, naik mobil arka atau mobil ayah dan ibu?" Tanya ibu Dewi lagi
"Sama Tante saja" pilih mentari dan hendak masuk dalam mobil tiba-tiba ditahan oleh Arka sehingga pintu mobil tidak bisa ditutup lagi
"Yang jemput kamu tadi itu saya jadi yang antar kamu pulang itu harus saya juga" ucap Arka yang membuat mentari kesal dan jalan menuju mobil Arka dengan sesekali menghentakkan kakinya
"Kesal kesal kesal.. pak Arka saya duduk di belakang, kita bukan mahram" ucap mentari asal lalu ia duduk dibelakang bagian penumpang
Arka yang tidak mau dikatakan supir maka ia memutuskan untuk satu mobil dengan ayah dan ibunya
"Turun, kita ikut ayah dan ibu saja" ucap Arka lalu ia jalan menuju mobil orang tuanya
Mentari dengan lari mengejar Arka yang berada didepannya, setelah ia sampai langsung memukulnya menggunakan tote bag
"Bug.." bunyi pukulan Mentari dilengan Arka itu
"Pa Arka bikin kesal hari ini" lirih mentari setelah memukul lengan Arka itu lalu ia jalan cepat melewati Arka dan masuk dalam mobil bagian belakang
Arka melihat sifat mentari hanya menggelengkan kepalanya lalu ia ikut masuk dalam mobil bagian belakang.
"Pak Arka jangan disini, gak boleh bukan mahram" ucap mentari yang masih kesal pada arka
"Tadi pagi duduk disamping saya" ledek Arka.. "ohh tadi pagi tidak masalah duduk disamping saya padahal tadi pagi itu kamu malah sentuh tangan saya.." jelas Arka
Entah kenapa Arka malah berbicara dengan mentari bukan layaknya seperti dosen dan mahasiswi tetapi seperti pasangan
Mentari mendengar Arka bicara banyak tidak seperti biasanya membuatnya merasa lucu
"hahahaha.. aduh" ucap Mentari sambil memegang perutnya
"Kenapa?" Tanya Arka, ia kira mentari sakit perut
"Jangan sok perhatian pak, proposal saya saja belum selesai.. hufff" ucap Mentari lagi lalu menoleh kearah jendela
Mereka berdua tidak sadar kalau mobil sudah jalan yang dikendarai oleh ayah Rahmat
Ibu Dewi memperhatikan Arka dan Mentari yang kesal pada putranya
"Kalian kayak suami isteri saja" ucap ibu Dewi tiba-tiba
"Mentari bu yang marah-marah kayak halangan saja, lagi haid ya?" Tanya Arka kepada Mentari
Mentari yang masih membelakangi Arka langsung menutup mukanya pakai telapak tangan
"Pak Arka membuat Mentari malu" ucapnya yang membuat Arka ketawa
"Hahahaha.. semua orang tau, perempuan itu kalau sudah dewasa pasti.." ucap arka dipotong oleh Mentari
Mentari sudah tidak sanggup menahan malu kalau Arka terus membahasnya meskipun itu sudah kodrat seorang wanita tapi baginya sangat malu jika laki-laki yang bahas
"Sudah pak, bapak sudah banyak dosa sama saya, emang bapak tidak takut dosa apa?" potong Mentari.
Mentari makin lama bimbingan pada Arka bukan takut tapi malah berani melawan ditambah Arka itu teman kakaknya.
"saya takutnya sama Allah"
"Pak Arkaaa" teriak Mentari dalam mobil karena kesal lalu ia melihat ibu Dewi "bu.. pak Arka ngeselin" adunya lagi
"Arka, gak boleh kayak gitu" larang ibu Dewi kepada putranya itu
"Nah kan, kalau perempuan sudah bersatu laki-laki pasti kalah" ucap Mentari lagi dengan bangga sambil melipat tangan diatas dada
"Emang ada perempuan kalau tidak ada laki-laki?" Tanya ayah Rahmat yang tiba-tiba
"Tidak ada kayaknya om" jawab Mentari dengan nada pelan yang membuat Arka gemes ingin mencubitnya,.. "tapi kata papa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan berarti kalau ada laki-laki pasti ada perempuan, kasian kan kalau laki-laki diciptakan sendiri tidak punya pasangan.." sambungnya memelankan suaranya.. "kayak pak Arka" ucapnya lagi
"Tapi sayang, saya diciptakan untuk kamu" jawab Arka lirih hanya Mentari yang mendengar ucapannya itu
Mentari menoleh melihat arka lalu ia senyum jahat "bapak jangan asal bicara ya" mentari kesal dengan ucapan arka
Arka menjawab dengan nada lebih kecil dibandingkan Mentari
"kamu suka dengan bahasa saya tadi kan?" Tanya Arka dengan pandangan ke depan
"Iya, maksud aku tidak nyaman dengan ucapan bapak"
"Oh" jawab arka singkat
Mobil yang dikendarai mentari begitu lambat yang membuat mentari tidak nyaman dan ingin sampai rumah saat ini juga. Ia rasa pusing menghadapi Arka yang sudah banyak bicara tidak seperti biasa saat bimbingan
5 menit kemudian mobil pak Rahmat sampai kediaman Algantara
"Om tau rumah Mentari?" Tanya mentari heran karena saat ini sudah sampai rumah orang tuanya
"Iya, kediaman Algantara disini hanya satu" jawab pak Rahmat sembari ia senyum
"Iya tapi maksud aku, om tau dari mana?" mentari penasaran
"Dari saya" jawab arka singkat
"Iiii" kesal Mentari sambil mengangkat tangannya ingin memukul Arka untuk kedua kalinya,,"untung aku gak khilaf" sambung mentari setelah menurunkan tangannya yang ia kepal dari tadi
Mobil pak Rahmat klakson meminta di bukakan gerbang, pak ucup langsung lari membuka gerbang
"Terima kasih pak ucup" ucap Mentari yang mengeluarkan kepalanya diluar setelah melewati pak ucup
"Lho nona" ucap pak ucup kaget
"Hehehehe" Mentari hanya ketawa pada pak ucup
Mobil pak Rahmat sudah dihalaman rumah Algantara. Mentari jalan beriringan dengan keluarga Purnawan
"Assalamualaikum Bunda... Silahkan masuk tante, om dan pak Arka" ucap Mentari mempersilahkan keluarga Purnawan duduk diruang tamu.
Mentari pamit ingin masuk kedalam sebentar.
"Om.. tan.. Mentari panggil dulu bunda"
"Iya nak" jawab ibu Dewi
Ibu Dewi melihat Mentari yang sopan kepada orang tua langsung menoleh kearah putranya
"Kamu sudah mau dijodohkan baru kenalkan Mentari sama ibu"
Arka hanya senyum "santi yang ibu maksud?" Tanya Arka
"Lupakan santi, ibumu sudah jatuh cinta sama mentari.. iya kan bu?" Tanya ayah Rahmat kepada istrinya itu
Ibu anita setelah dikasih tau oleh Mentari, ia langsung menuju ruang tamu
"Dewi, maaf ya saya tadi dibelakang" ucap Anita dengan membawa air minum dan tidak lama Mentari muncul dengan nampan kue
"Maaf Anita sudah merepotkan" ucap ibu Dewi
"Tidak.. ehh nak Arka ini anak kamu?" Tanya Anita melihat arka yang duduk disamping ibu Dewi
"Iya, oh iya Anita.. aku baru tau kalau Mentari itu putrimu " ujar ibu Dewi lagi dengan ramah
Ibu Dewi dan ibu anita cerita sesekali mereka ketawa bersama, Arka mencari sosok Aldi namun ia tidak menemukannya
Mentari yang malas ikut gabung selama ada Arka didepan, ia memilih duduk diruang tengah sambil menikmati es krimnya.
Mentari menelfon Siska dan dia sambung dengan Rionaldo. Mereka telfonan sambung tiga
📞"Assalamualaikum Siska... Rio" ucap Mentari dengan ramah kepada kedua temannya itu
📞"Wa'alaikumussalam, kalian apa kabar?" Tanya siska
📞 "Wa'alaikumussalam, jangan lupa ya makan siang" Rionaldo mengingatkan Mentari
📞 "iya, aku belum pikun...hehehehe" jawab mentari
Siska yang mendengar ucapan Rionaldo begitu penasaran
📞 "makan siang, aku gak diajak?"
📞 "Nanti ya sis, besok kita makan bertiga direstoras fajar, gimana?" Tanya Rionaldo
📞"Iya.. aku setuju" ucap Mentari sambil makan eskrimnya
Mentari yang lagi telfonan dengan teman-temannya. Sedangkan Arka hanya duduk diam, menunggu kapan ibu dan ayahnya mengatakan maksud kedatangannya.
Arka minta izin untuk ke kamar mandi "kamar mandinya dibagian mana ya bu?" Tanya Arka
"Disebelah sana nak, lewat depan ruang tengah ya nak" ucap ibu Anita sambil menunjuk arah jalan Arka ke kamar mandi
"Iya bu"
Arka yang belum sampai depan ruang tengah sudah mendengar suara mentari yang sedang tertawa
"Hahahaha.. Ri, Siska aneh" ucap Mentari ditelfon yang didengar oleh Arka
Arka mendengar nama Rionaldo, ia langsung menghampiri Mentari, dimana saat itu Mentari lagi menyuapkan eskrim dalam mulutnya, ia belum sempat menarik sendok dimulutnya Arka langsung pura-pura bertanya
"Mentari, kamar mandinya dibagian mana?" Tanya Arka sengaja dengan suara yang sedikit besar agar teman Mentari di balik telefon mendengarnya
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...MENTARI SELALU MENUNGGU TEMAN-TEMAN UNTUK MAMPIR 😁🌹...
.......
.......
...JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA TEMAN-TEMAN...
...👇...
...KOMEN, LIKE DAN VOTE...
...TERIMA KASIH 🙏**...