Azalea Carolline, gadis lemah berusia 21 tahun tiba-tiba mendapatkan kesempatan untuk menikmati hidupnya kembali setelah membunuh dirinya sendiri di hadapan sang ayah dan para bangsawan.
Sebagai putri pertama di keluarga Grand Duke ia selalu mendapatkan siksaan dari ayahnya, lebih parahnya lagi ia dituduh melakukan pembunuhan terhadap sang adik dan dihakimi oleh para tamu di aula pesta. Setelah hidup kembali Azalea bertekad untuk membalas dendam kepada ayah dan adiknya dibantu oleh si putra mahkota dari kekaisaran Valcke.
Satu persatu kebenaran mulai terungkap, dari situlah keduanya memanfaatkan satu sama lain. Kini mereka mempunyai tujuan yang jelas yaitu membalaskan dendam kepada satu orang yang sama.
Apakah Azalea berhasil membalaskan dendamnya?
Apakah ia akan mendapatkan akhir yang bahagia?
Original writing by: Queen Neze
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Neze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 20. Brankas
"Kau tidak bercanda kan? Aku jadi tukang kebun?"
Pagi-pagi sekali mereka mendatangi kediaman Duke untuk melanjutkan penyamarannya bersama Lucas. Lelaki itu menyamar sebagai tukang kebun yang akan bertugas mengurus taman miliknya. Setelah ini mereka akan kembali ke istana kekaisaran Valcke, karena sudah lama juga Lucas tidak pulang melihat sang ayah sekaligus memperkenalkan calon istrinya.
Lucas protes terhadap pakaiannya yang memakai seragam tukang kebun. Harga dirinya merasa jatuh di hadapan Azalea, sebagai putra mahkota yang terhormat ia tidak pernah melakukan hal segila ini apalagi dengan pakaiannya sekarang.
"Hanya sementara, Lucas. Kau tidak mau menuntaskan penyamaranku?" ucap Azalea.
Mereka masih berbincang di dalam kabin kereta kuda. Sebelum benar-benar masuk ke mansion Azalea memberitahu apa saja yang harus dilakukan lelaki itu.
"Kau yakin ini akan berhasil? Kalau ada si bedebah itu bagaimana?" tanya Lucas.
"Maksudmu.. ayahku? Benar, juga. Biasanya jam segini ayahku mengurus dokumen di ruang kerjanya."
"Pas sekali! Aku punya rencana."
Setelah menyusun rencana, Lucas dan Azalea turun dari kabin kereta kuda. Azalea memandang penampilan lelaki itu dengan seksama, kemudian menyentuh rambut Lucas untuk merubah sedikit gaya rambutnya.
"Kenapa kau ini?" tanya Lucas heran.
"Agar tidak ketahuan, ayo masuk." ajak Azalea berjalan mendahului Lucas.
Sekarang penampilan Lucas sudah seperti tukang kebun sungguhan ditambah rambutnya yang terlihat seperti batok kelapa. Sedangkan Azalea memakai seragam pelayan keluarga Duke. Mereka berdua berjalan masuk menelusuri jalan lurus yang mengarah ke mansion.
***
"Putri Carol—"
"Sshhtt.. kau mau aku ketahuan?" bisik Azalea membungkam mulut pelayan tersebut menggunakan tangannya. Lalu pelayan itu mengangguk mengerti.
Baru sampai di depan pintu mansion salah satu pelayan hampir menyebutkan namanya dengan keras. Jika mengetahui betapa polosnya para pelayan yang Azalea percayai ia tidak mungkin memberitahu identitasnya. Pelayan itu mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam mansion.
"Kau ini pelayan baru disini, seharusnya kau sadar diri!" bentak Jesslyn pada Azalea yang baru datang bersama Lucas.
"Maafkan saya, Putri. Saya baru kembali karena ada beberapa masalah yang harus saya selesaikan." jelas Azalea menundukkan kepalanya.
Jesslyn beralih menatap Lucas, "Apakah.. rakyat jelata ini temanmu? Cih, tukang kebun rupanya."
Tatapan mata itu memandang rendah Lucas seolah-olah tidak pantas bekerja di kediaman Duke yang kelewat mewah. Lucas mengepal kedua tangannya, nafasnya menderu seraya menahan emosi.
"Tahan emosimu, jangan sampai membuatnya curiga." bisik Azalea pada Lucas.
Lucas mengangguk mengiyakan perkataan gadis itu.
"Kalau dipikir-pikir aku belum mengetahui namamu, sebutkan namamu. Terutama kau!" perintah Jesslyn pada keduanya.
"Saya Carol dan dia... Luke." kata Azalea.
Dikarenakan mendadak menanyakan nama. Azalea menggunakan nama belakangnya sedangkan Lucas nama kecilnya.
"Carol, ikut aku." Jesslyn menatap Lucas. "Kau pergi, lakukan pekerjaanmu." katanya.
"Baik, Tuan Putri." jawab Lucas meninggalkan tempatnya.
***
Lucas mengintip dari celah pintu ruang kerja Raymond. Matanya terfokus kepada seorang pria yang sedang membaca beberapa selembaran kertas di tangannya. Netra berwarna biru laut itu menyadari keberadaannya di balik pintu.
"Siapa itu?" tanya Raymond. Ia menaruh selembaran kertas tersebut, lalu berjalan menghampiri pintu.
Gagang pintu berhasil diraihnya, ia membukanya dan menoleh mencari-cari seseorang yang mengintipnya tadi.
Plaakk
Lucas memukul kepala Raymond menggunakan sapu yang ia temukan didekat pot bunga. Lelaki itu menyeret tubuh Raymond sampai ke dalam ruangan kerjanya. Ia mendudukkan dan mengikat kaki beserta tangan Raymond agar lebih mudah mengubrak-abrik ruangan rahasia yang dibicarakan Azalea beberapa hari lalu.
"Selesai." Lucas menghela nafasnya setelah menutupi mata pria itu dengan kain.
Kunci yang terletak di laci diambil olehnya, matanya beralih menoleh ke arah pintu yang tidak terlihat. Lucas mencari-cari lubang kunci tersebut. Ia masuk ke sebuah ruangan rahasia yang dimaksud Azalea.
"Hanya sebuah buku?" tangannya mengambil salah satu buku di meja. Ia mulai membolak-balikkan halaman buku itu.
Lucas tertegun ketika membaca bab selanjutnya lalu perlahan ia menutup buku itu. Lelaki itu mengambil beberapa buku catatan yang berada di barisan atas. Ia mengunci kembali ruangan rahasia itu, kuncinya tidak diletakkan di laci melainkan dipatahkan oleh Lucas.
"Lucas, kau sedang apa disini?" Azalea berbisik kemudian melirik ayahnya yang terikat dengan mata tertutup.
"Aku hanya mengambil beberapa sampah ini." balas Lucas menunjukkan beberapa buku yang diambilnya.
"Kau apakan ayahku, Lucas?"
"Tenanglah, dia hanya aku pukul." jawab Lucas sambil berbisik.
"Ya sudahlah. Sekarang ke intinya."
Lalu mereka berdua mengubrak-abrik ruangan itu seperti mencari sesuatu yang terpenting. Ya, Azalea mencari selembaran kertas penting bagi ayahnya. Tapi, tidak untuk dirinya. Azalea memeriksa laci-laci berukuran besar ia menemukan lima lembar kertas yang berisikan laporan tentang wilayah kekuasaan Duke.
Lucas menemukan brankas yang terkunci oleh beberapa kode. Ia menggamit lengan Azalea dan menunjukkan barang temuannya. Ketika ingin menekan angka-angka tersebut Raymond tersadar dari pingsannya.
"Dasar pencuri tidak tahu malu!" maki Raymond.
Azalea berjalan menghampiri sang ayah. Ia merobek-robek selembaran kertas penting itu menjadi potongan-potongan kecil di atas kepala Raymond.
"Anda pasti tidak menyangka, jika Putri kandungnya melakukan ini? Bukan putri kandung. Tapi, putri yang lahir dari hubungan gelap." tanya Azalea melempar potongan-potongan kertas itu ke wajah ayahnya.
"Oh? Pencuri tidak tahu diri itu, rupanya kau." jawab Raymond yang baru tersadar dari pingsannya.
"Apa kodenya, cepat jawab!" Azalea mengeluarkan suara tinggi.
"Tanggal lahir Jesslyn."
"Bagaimana anda tahu?" Azalea bertanya pada ayahnya.
"Tentu aku tahu, dia kan. Anakku satu-satunya."
Tangannya sudah tidak tahan untuk menampar wajah ayahnya. Namun, ia tidak mau durhaka kepada Raymond yang telah membesarkannya. Walaupun tidak dibumbui dengan kasih sayang seorang ayah.
"Sebutkan." Azalea menoleh ke arah Lucas seraya mengangguk memberikan kode.
"06 Agustus tahun 1899."
Dari situ Azalea mengetahui kebenaran tentang Jesslyn. Bahwa tahun yang disebutkan ayahnya sama seperti yang dilihatnya beberapa minggu lalu. Kalau adiknya lahir pada saat itu, kapan Azalea dilahirkan dan mengapa ia bisa berada di kediaman Duke.
"4 bulan? Kalau begitu... apakah aku lahir di bulan April?" batin Azalea.
Azalea menerka-nerka judul buku catatan minggu lalu yang ia baca. Bayi berusia empat bulan yang dimaksud Raymond adalah dirinya dan bukan Jesslyn.
"Terbuka!" ujar Lucas membuyarkan lamunan Azalea. Gadis itu mendekati Lucas setelah brankas berhasil terbuka.
Azalea mengambil tiga lembar kertas dari dalam brankas tersebut. Kertas-kertas itu berisikan akte kelahirannya dan hasil pencocokan darah antara Raymond dan Azalea. Hasilnya ia bukanlah anak kandung Raymond. Lucas menguatkan gadis itu dengan mengusap punggungnya.
"Aku sebenarnya sudah tahu dan tidak berencana memberitahumu. Karena aku ingin balas dendam kepada ibumu melalui dirimu, membesarkanmu dengan kasih sayang kemudian aku campakkan." jelas Raymond.
ini bener kan?
jd Bapaknya jelas PSIKO kan?
kirain pas dia dilindungi itu jadi baik, malah ttp jahat gak ngaruh, wah
amit2 dah, mending jauh2 MC kita dari keluarga ngeri ini
ayo mampir di karyaku: Istri Diatas Kertas.
lanjut