NovelToon NovelToon
Perfect Oracle

Perfect Oracle

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:417.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Ulfa Fauzi

Hidup Jemima serasa dijungkirbalikkan ketika tiba-tiba orang tuanya memaksanya menikah dengan orang asing yang tidak dia kenal.

Jemima terpaksa menerima. Demi kebahagiaan kedua orang tuanya. Namun, di saat dia mulai bisa menjalankan pernikahan 'terpaksa' ini, satu per satu rahasia suaminya terkuak.

Antara pergi atau bertahan demi orang-orang yang dicintainya. Jemima dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Namun, bagaimana cara dia bertahan jika nyawanya sendiri berada dalam bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Fauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waiting For Your Call

Hari ini tepat sebulan setelah pertengkarannya dengan Madam Rowena. Wanita tua itu jadi semakin sering ke rumah sakit. Mereka berdua bagaikan kucing dan anjing. Madam Rowena tidak pernah berbicara dengannya semenjak kejadian itu kecuali ada hal penting yang memang harus dibicarakan.

Dan akhirnya dia membuat keputusan yang membuatnya menangis setiap malam. Dirinya setuju untuk bercerai dengan Alek. Dengan syarat setelah suaminya sadar dan sembuh.

Namun setelah satu bulan, Alek belum juga sadar.

Katakan, bagaimana caranya hidup dengan rasa bersalah? Rasa itu seakan menggerogoti kekebalan hatinya sedikit demi sedikit. Hampir setiap berbicara, Madam Rowena selalu mengungkit bahwa dialah penyebab Alek seperti ini. Dan dia tidak pantas bersanding dengan lelaki itu.

Dari hari ke hari Jemima sudah seperti mayat hidup. Dia makan, minum, dan pergi ke rumah sakit. Setiap malam dia pulang ke apartemen Astrid. Karena dia tidak akan sanggup tinggal sendiri di rumah mereka tanpa kehadiran Alek. Sementara Madam Rowena tidak memperbolehkannya tidur di rumah sakit.

Dia mencintai suaminya. Hingga sakit rasanya setiap kali membayangkan Alek tidak akan bangun lagi.

Sebut dia egois. Di satu sisi, dia ingin Alek bangun segera. Kembali mengisi hari-harinya yang sepi. Tapi di sisi lain, dia tidak ingin mata itu terbuka. Karena dengan begitu, dia akan tetap bisa menjadi istrinya.

“Jem, kau harus makan. Sampai kapan kau seperti ini? Wajahmu pucat. Lagipula, kau belum makan sejak tadi siang.”

Jemima mengalihkan perhatiannya dari Alek yang masih tertidur lelap untuk melihat Astrid. Matanya terlihat memohon agar dibiarkan tinggal di sini lebih lama.

Wanita di hadapannya menggelengkan kepala. Permohonannya tidak dikabulkan. Jemima melihat Astrid berjalan ke arah sofa yang ada di ruang perawatan. Mengambil tas mereka berdua. Sudah saatnya mereka pulang.

"Yuk." Astrid mengulurkan tangan padanya.

Jemima ragu-ragu sejenak sebelum meraih uluran tangan Astrid.

"Kita makan di luar saja, ya. Lagipula, ini sudah jam kau pulang. Aku tidak mau melihatmu diusir oleh neneknya seperti waktu itu," ucap Astrid lembut.

Jemima mengalihkan kembali perhatiannya pada Alek. Dia mencium tangan suaminya lama. Setengah berdiri, dia juga mendaratkan ciuman di dahi dan kemudian bibir.

Kali ini Jemima mencium bibir Alek agak lama dan berbisik, "I love you so much. Please, come back to me. Just get the hell out of that stupid darkness and come back to me!"

Jemima mendesis pelan. Dahinya menempel pada dahi Alek. Air mata mengucur deras membasahi pipi mereka berdua.

"Jem, stop it." Jemima menampik tangan Astrid yang menyentuh bahunya. Dia benar-benar tidak ingin meninggalkan Alek.

"Jemima..." suara Astrid terdengar memohon. Wanita itu tidak tahu lagi bagaimana harus membujuk temannya supaya berhenti menyiksa dirinya sendiri.

Jemima sendiri tidak mau menggubris bujukan Astrid. Yang dia inginkan saat ini hanyalah berada di sisi Alek. Dia tidak peduli seandainya saja dirinya diusir. Dimaki-maki. Atau ditampar sekalipun. Yang dia inginkan hanya berada di sini.

"Jemima..."

Lagi-lagi Jemima mendengar namanya diserukan. Dia tetap bergeming. Beberapa detik kemudian tubuhnya menegang. Itu bukan suara Astrid.

Jemima menghentikan isakannya dan menengok ke Astrid. Matanya kemudian menyusuri seluruh ruangan. Tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali mereka bertiga.

"Did you hear it?" Dia bertanya pada Astrid.

Temannya tampak mengerutkan kening. "Hear what?"

"Ada yang menyebut namaku baru saja. Dan itu bukan kau."

Temannya berjalan mendekat. Meraih tangannya. "Kau sudah lelah. Sebaiknya kita pulang sekarang."

Astrid tidak mendengarnya. Tapi dirinya yakin bahwa tadi ada suara yang memanggilnya.

"Dengar, Astrid...Aku bersumpah ada suara. Benar-benar ada suara. Mungkin itu Alek. Mungkin dia sudah sadar. Mungkin..."

"Jem!" Suara wanita itu meninggi. "Tidak ada suara apapun. Kita pulang."

Astrid langsung menarik tangannya. Membawanya—lebih tepatnya menyeret dirinya keluar ruangan. Tapi baru beberapa langkah, dirinya kembali mendengar namanya disebut.

——

Alek merasakan tetesan hujan pada wajahnya. Semakin lama semakin deras dan membasahi seluruh wajahnya.

"I love you so much."

Samar-samar Alek mendengar suara itu. Kemudian dia merasakan cengkeraman kuat pada kedua bahunya. Kuku-kuku tajamnya menancap di sana. Tidak kuat memang, tapi berhasil membuatnya meringis.

Ragu-ragu Alek ingin membuka matanya. Namun dia masih takut bagaimana jika kegelapan masih menyelimutinya? Dia bisa merasakan bahwa wajahnya kini sudah penuh dengan tetesan air. Tapi dia tidak mendengar sama sekali ada suara hujan. Yang dia dengar hanyalah suara isakan.

Alek menajamkan pendengarannya. Dia mengenali suara itu.

"Jemima..." Alek memanggil nama itu dengan susah payah. Entah kenapa kerongkongannya terasa sangat panas.

Merasa yakin bahwa itu memang isakan istrinya, Alek mulai berani membuka matanya perlahan. Cahaya yang sangat menyilaukan langsung menyambutnya. Membuat matanya kembali tertutup. Sekali lagi dia mencoba membuka matanya. Kali ini lebih lebar. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.

Saat itulah Alek bisa melihat sedikit lebih jelas wajah Jemima yang berdiri di sampingnya. Wajah istrinya terlihat tegang. Matanya merah dan sembab. Kenapa Jemima menangis hingga seperti itu?

Matanya yang berat mengedip perlahan. Dia melihat Jemima berjalan menjauh.

"Jemima..." Sekuat tenaga dia mencoba mengeluarkan suara. Tenggorokannya rasanya seperti terbakar. Ditambah lagi rasa pusing dan mual yang membuatnya terengah.

Alek bisa merasakan tubuhnya dipeluk dengan sangat erat. Jemima menyusupkan wajahnya ke dadanya dan menangis dengan keras. Memeluknya erat, seolah-olah tidak ingin melepaskannya lagi.

Alek bermaksud mengangkat kepalanya untuk melihat Jemima. Namun, rasa pusing dan mual yang amat sangat masih menyerangnya. Dia mengerang kesakitan. Kepalanya rasanya seperti baru ditimpa berton- ton batu bata.

"Alek, kau baik-baik saja? Di mana yang sakit? Tahan sebentar. Dokter akan ke sini sebentar lagi."

Alek menahan dirinya agar tidak muntah. Namun rasa mual itu tidak juga pergi darinya. Di samping itu, dia merasakan seluruh tubuhnya mati rasa. Dia hanya sanggup menggerakkan jari-jari tangannya. Dan yang lebih parah, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya.

It hurts like hell!

Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa dirinya begitu lemas. Sakit. Dan tidak berdaya.

Alek bisa merasakan wajahnya dihujani ciuman dan air mata. Tak berapa lama ciuman itu terhenti. Digantikan tangan-tangan cekatan yang memeriksa semua anggota tubuhnya.

"Dia sudah sepenuhnya sadar dari koma, Jemima. Dan dia akan baik-baik saja."

Koma? Siapa yang koma? Apakah dirinya?

Alek ingin memanggil Jemima sekali lagi. Bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi matanya kelewat berat. Dia kembali memejamkan mata. Bertemu lagi dengan kegelapan. Hanya saja, kali ini hanya sementara.

——

Sebuah tangan membelai lembut rambutnya. Jemima membuka mata dan mendapati Alek tersenyum memandangnya.

"Hai." Suara Alek terdengar parau dan masih lemah.

"Hai." Jemima menangkup tangan Alek. Mengecupnya ringan. "Kamu sudah lama bangun?"

"Cukup lama untuk memandangi wajah cantikmu." Jemima tersipu.

Bohong sekali jika Alek mengatakan dia cantik. Semalaman dia terjaga. Dia bahkan belum mandi. Tidak ada make up yang mempercantik wajahnya.

"Apa yang kamu rasakan? Kamu lapar?"

"Kakiku. Rasanya sakit sekali. Apa yang terjadi?"

"Dokter bilang kakimu patah. Untuk sementara kamu harus memakai kursi roda."

Jemima bisa merasakan tangan Alek menyentuh bibirnya. Mengelus pipinya.

Dia merindukan belaian ini. Rindu suara Alek. Sentuhannya. Sikap romantisnya. Semuanya.

Tanpa sadar air matanya kembali menetes. Dia terlalu bahagia bisa melihat kembali cahaya di mata hijau suaminya.

"Jangan menangis." Kali ini dia tidak bisa menahan lagi. Isakannya justru bertambah keras.

"Kamu membuatku takut," ucapnya di sela-sela isakan.

"Mereka bilang aku koma. Berapa lama?"

"Dua Bulan."

"Selama itukah kamu menangis?" Jemima mengangguk. Membenamkan wajahnya ke lengan Alek. Terisak di sana.

"Jangan pernah menakutiku seperti ini lagi."

"Tidak akan, Jem. Tidak akan. I promise."

1
Mooie Jkt
Menarik..
Rhenii RA
Anak buah si Alek dan yang lainnya kemana? Kok bisa pergi sendiri tanpa perhitungan lebih dulu? Padahal untuk ukuran pengusaha yang musuhnya banyak sudah pasti jago pegang senjata dan jago berkelahi sedangkan dia gak bisa apa2😂
Rhenii RA
Emang beneran bodoh sih si Alek, niat mau nolongin istrinya malah jadi beban batin
Rhenii RA
Mau ngakak rasanya😆
Rhenii RA
Dungu sih lu jadi orang
meitree
ini sambungan atau cerita baru ??
meitree: lama..bgtss..kayana harus baca depan n tengah nya dikit ni.. 😃😁✌🏾✌🏾
total 2 replies
ngrajut story
Nama suaminya Alek ya? Bukan alex thor?
Ulfa Fauzi: Iya. Alek. Pake 'K' ya..bukan 'X'.
total 1 replies
ngrajut story
Terharu aja baca percakapan ayah anak ini.
Ulfa Fauzi: hehehehe...aku yg nulis juga terharu kok.
total 1 replies
ngrajut story
Sepertinya bagus. Lanjut baca ya.
Ulfa Fauzi: makasih...
total 1 replies
Qeena
hai kk..aku mmpir..dari LELAKI MASA DEPAN..mkasih kk..
Dewi Djordan
lanjut
Ulfa Fauzi: makasih. Semoga suka dengan ceroitanya dan bisa melanjutkan sampai selesai. 🥰
total 1 replies
Yulestiani Desy Wulandari Soewarno
Novelmu keren thoor... Ditunggu karya mu selnjutnyaaa 😘
Ulfa Fauzi: Aakkk..Terimakasih..terimakasih....Semoga bisa bersabar menunggu karyaku slanjutnya ya.
total 1 replies
Dina Avioni
thanks thor ceritamu sangat bagus. semangat untuk terus berkarya. kutunggu karyamu selanjutnya
Ulfa Fauzi: Terimakasih juga sudah mau membaca sampai akhir. Jangan lupa nonton lanjutannya ya...Uhm, bukan lanjutan sih, tapi buku ke dua dengan tokoh beda tapi berkaitan. Prolog sudah aku up di sini juga. Silakan dibaca. xixixi....
total 1 replies
Dina Avioni
woah terimakasih thor karyamu bagus bgt aku suka feelnya dpet smpek aku ikut greget
Ulfa Fauzi: Terimakasih..Terimakasih...... Yang nulis juga ikutan gereget ini. hehe...
total 1 replies
Yenni Efita
bagus ,,,, g bertele tele jln ceritany. singkat padat jelas😁
season 2 ny Thor , rada nanggung ceritanya , happy ending sih tp sep kurang ja. season 2 in skalian sm anak'' ny
Ulfa Fauzi: Waaah.. Terimakasih. Ga ada Season 2 sih.. Tapi ada novelku satu lagi yang berkaitan sama buku ini. Judulnya Perfect Match. Sudah ada prolog-nya. Mungkin bisa dibaca dulu prolognya. xixixi.. Terimakasih ya sudah mau mampir.
total 1 replies
sweet martabak
mksh utk novel nya thor..🙏🙏😍
ini novel pertama yg sy kasih like setiap bab nya krn tak terlalu bnyk.. dan bisa kebut semalam smpe slesai.. 😀
sukaaaa bngt novel nya gak terlalu panjang tp berkesan..
semangat trs ya thor..
tetap berkarya.. 👍👍👍
Ulfa Fauzi: Waaahhh.. Terimakasih ya. Saya amin kan untuk doanya. Semoga doa yang sama kembali ke kamu. Terimakasih sudah mau bertahan membaca cerita ini sampai selesai.
total 1 replies
Mendez Ae
baru kali ini aku maraton baca novel sampai tamat.
cerita yang menarik walaupun perlu kesabaran untuk memahami alurnya..
terimakasih tor.
Ulfa Fauzi: Terimakasih...Terimakasih..... Seneng bnaget kalau ada yang suka. Saya juga menerima kritik lho ya. Kalau mau kritik yang pedes juga gapapa. Buat saya belajar. :))
total 1 replies
Ranella Verghea
beneran suka dan jatuh cinta sama karyamu thorr!! sukses selaluuu 🥰🥰
Ranella Verghea: amin...
Terima kasih kembaliii 😆😆😆
total 2 replies
Juli Trisnawati Pane
ceritanya banyak b.inggrisnya gäk ngerti dah
Ulfa Fauzi: Mungkin jika dibaca dulu sampai akhir nanti akan bisa dimengerti. Hehe.. Terimakasih btw sudah mau mampir.
total 1 replies
Siti Julaeha Julai
sampe sini aku masih blm ngerti alurnya thorr
Ulfa Fauzi: Yang bagian belum dimengerti di mananya? Mungkin bisa lebih diperjelas? Biar bisa saya jadikan koreksi untuk diri saya juga. hehe...Terimakasih sudah mau mampir kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!