Arfan Malik Adyatma di hadapkan dengan sebuah kenyataan atas kepergian sang Ayah dan perusahaan milik keluarganya yang harus collap. Di usia 23 tahun dia harus mengemban tanggung jawab untuk Bunda dan adiknya serta memperjuangkan perusahaan agar tetap menjadi milik keluarganya.
Di tengah kepelikan cobaan yang dia hadapi, seseorang yang mengaku sahabat sang Ayah mengulurkan tangan bersedia membantu dia menyelesaikan kuliah dan memperjuangkan perusahaan milik sang Ayah namun dengan persyaratan yang membuat dirinya galau untuk menerimanya.
Keputusan apa yang akan Arfan ambil, berjuang dengan tangannya sendiri atau menerima bantuan dari sahabat Ayahnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deutzyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Sudah dua hari Nasha dan Arfan menginap di rumah Bunda, saat ini mereka sedang makan malam bersama. Masakan Bunda selalu menjadi favorit keluarga khususnya Nasha, ibu hamil itu nampak lahap memakan makanannya. Arfan tersenyum senang semenjak istrinya tidak mual lagi, Nasha bisa makan tanpa takut di muntahkan lagi setidaknya asupan untuk anaknya dapat terpenuhi dengan baik.
" Kamu mau tambah lagi sup nya?" tanya Bunda pada Nasha.
" Cukup Bund, aku mau cemilin perkedel aja.." jawab Nasha.
" Habiskan sayang, Bunda nanti buat lagi."
" Mau minum susunya sekarang atau nanti aja?" ucap Arfan menoleh ke arah istrinya.
" Buatin sekarang aja biar nanti aku tambahin es batu." jawab Nasha.
" Di kurangi makan es batunya sayang, kamu lebih baik makan es krim kandungannya bagus." ucap Bunda, dia sudah di ceritakan Arfan kalau menantunya itu suka memakan es batu.
" Iya Bunda.." kekeh Nasha.
" Assalamu'alaikum.." Abila baru saja pulang bermain dengan temannya.
" Wa'alaikumsalam.. Arlo kenapa nggak ikut masuk Bil?" tanya Arfan melihat adiknya tidak bersama sahabatnya itu.
" Aku nggak pergi sama Arlo Bang.." jawab Abila.
" Terus tadi kamu pergi sama siapa Bil?" tanya Bunda.
" Aku pergi sama Yena, Mika dan Doni."
" Doni..?" Arfan baru mendengar nama itu karena Arfan kenal baik teman-teman cowok adiknya itu.
" Dia anak SMA Rafles 2 Bang, temannya Mika."
Abila tau pasti Abangnya itu akan terus bertanya jika dia punya teman baru cowok.
" Kenapa Arlo nggak kamu ajak Bil..?" ucap Arfan lagi.
" Dia main sama geng nya.. Abil mau ke atas dulu ya.." jawab abila langsung pergi.
" Udah sayang, adik kamu bisa jaga diri.. lagipula Arlo juga punya kesibukan sendiri jadi tidak mungkin menemani Abila terus." ucap Bunda membuat Arfan menghembuskan nafasnya.
" Uhh, Papa protektif banget sama tante Bil.." ucap Nasha sambil mengusap perut buncitnya.
Arfan menoleh mendengar ucapan istrinya itu, " Papa akan selalu protektif buat orang-orang yang Papa sayang termasuk kamu nanti."
" Auch.." Nasha meringis menerima tendangan dari anaknya itu.
" Tuh di jawab sama baby.." Arfan tersenyum dan menciumi perut Nasha.
Bunda sangat senang melihat keharmonisan Arfan dan Nasha, mengingatkannya waktu dia dan suami sedang mengandung Arfan.
***
Nasha menemani Arfan yang akan berangkat kerja, tak lama Abila turun untuk berangkat sekolah.
" Kamu berangkat bareng Arlo?" tanya Arfan.
" Aku berangkat sendiri Bang.. aku jalan ya.. Assalamu'alaikum."
Tak lama setelah Abila pergi ada dua motor datang, Arfan mengernyit.
" Bang, Abila masih di kamar?" ucapan Arlo membuat Arfan dan Nasha saling tatap.
" Kalian nggak janjian ya..? Abila baru aja berangkat." jawab Arfan.
" Lah.. dia nggak bilang Bang.. Arlo pikir seperti biasa dia nungguin."
" Kamu siapa.. saya baru liat." tanya Arfan pada Doni.
" Doni Bang.." jawab Doni menjabat tangan Arfan.
" Arfan.. kalian berangkat aja, Abila juga udah jalan duluan."
" Yaudah Arlo jalan Bang.."
" Saya juga.."
Dua cowok itu akhirnya pergi karena gadis yang ingin mereka jemput sudah berangkat duluan.
" Sepertinya Abila terlibat cinta segitiga.." ucap Nasha.
" Adik aku sudah besar ternyata.. nanti malam kita tanya langsung orangnya."
" Aku berangkat dulu, jangan melakukan banyak kegiatan.. nanti siang aku kirimin makanan biar kamu sama Bunda nggak usah masak." ucap Arfan memeluk istrinya.
" Iyaa, pulangnya harus ontime yaa.."
Arfan menunduk untuk mencium perut Nasha, " Papa berangkat kerja dulu, jagain Mama ya sayang.."
" Iya Papa.." ucapan Nasha membuat Arfan tersenyum.
cup..cup
" Kamu bisa kesiangan kalau jailin istrinya terus." ucapan Bunda membuat mereka terkekeh.
" Arfan berangkat Bund, titip Nasha.. kalau ada apa-apa langsung telepon Arfan." Arfan mencium punggung tangan Bunda.
Bunda mengangguk, Arfan langsung masuk ke dalam mobil dan beranjak pergi. " Bunda mau bikin cake, kamu mau request apa?"
" Aku mau red velvet Bund, bahan-bahannya udah ada?"
" Udah.. Bunda sudah beli semua bahan waktu belanja bulanan."
" Kamu bantuinnya di akhir saja waktu adonan mau di panggang."
" Iya Bund, oiya kayanya buah di kulkas udah mau habis.. Nasha beliin ya." Nasha langsung menghubungi Eve untuk membelikan buah.
Sekretaris Jun masuk ke dalam ruangan Arfan, lelaki itu menginfokan bahwa jam 9 nanti ada rapat dengan divisi keuangan dan divisi perencanaan.
" Nanti siang pesankan makanan lalu kirim ke rumah Bunda."
" Baik Bos Arfan.. Materi rapat nanti sudah saya kirim ke email bos."
" Yasudah kamu boleh kembali bekerja."
Jun keluar dari ruangan Arfan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di sekolah saat ini murid-murid sudah di pulangkan karena semua guru akan ada rapat. Abila berjalan menuju pos satpam menunggu ojek online.
" Bil..Abilaa... " panggil Arlo saat melihat Abila melintas. Selama di sekolah tadi Arlo belum sempet berbicara dengan Abila.
" Kenapa?"
" Tadi pagi kenapa berangkat duluan?"
Abila menoleh, " Gue cuma membiasakan diri biar nggak bergantung sama lo.."
" Kok lo ngomong gitu Bil? gue nggak keberatan buat anter jemput lo kaya biasanya."
" Lo nggak mungkin terus-terus an anter jemput gue Ar, lo nanti juga punya cewek yang harus lo anter jemput."
" Lo pengen gue jadian sama cewek lain Bil?"
" Yaa terus mau sama siapa? gue? kan lo nggak suka sama gue.."
Arlo terdiam, " Nggak ada yang mau di omongin lagi kan? gue cabut.." Abila baru saja melangkah namun ucapan Arlo membuat Abila menghentikan langkahnya.
" Tunggu Bil, masih ada yang mau gue omongin.."
" Apa..?"
" Gue nggak suka lo sering ketemu sama Doni, gue nggak suka kalau dia gantiin tugas gue buat anter jemput lo, gue nggak suka kalau lo jadi lebih banyak ngabisin waktu sama dia."
" Lah, emangnya kenapa? gue sama Doni lagi jomblo, nggak punya pasangan.. dia juga baik sejauh ini sama gue.. kan gue bilang sama lo kalau gue nggak mau terus bergantung sama lo Ar jadi Doni menawarkan kenapa juga harus gue tolak."
" Gue mau lo terus bergantung sama gue Bil.. gue nggak suka hubungan kita semakin menjauh."
" Doni kemarin udah bilang kalau dia suka sama gue kayanya gue bakal terima dia Ar jadi lo nggak perlu repot anter jemput gue lagi."
Ucapan Abila membuat Arlo membelalakan matanya, " Nggak..!! jangan Bil.. gue mohon jangan terima dia."
" Ish kenapa juga nggak boleh..? kan kalau punya pacar, tahun baru nanti bisa jalan-jalan."
Arlo menarik Abila ke dalam pelukannya, " Lo nggak boleh jadian sama cowok lain, lo harusnya jadian sama gue karena gue sayang sama lo."
Abila tersenyum, " Akhirnya ngaku juga.. coba jujur dari awal kan lebih enak."
" Ehh, maksudnya..?" Arlo menatap bingung pada Abila.
Carlos, Liam dan teman-teman Abila keluar dari persembunyian mereka di sana ada Doni juga.
" Kalian kok ada di sini?"
" Bil, omongan gue kemarin gimana jawabannya..?" ucapan Doni membuat Arlo harus menarik Abila ke belakang punggungnya.
" Kagak boleh..!! Abila milik gue.."
" Emangnya Abila cewek lo Ar? di tembak aja belum?" ledek Carlos.
Arlo menoleh pada Abila, " Bil, gue sayang sama lo.. lo mau kan jadi cewek gue?"
" Jangan mau Bil.." ucap Liam.
" Terima gue aja Bil.." Doni ikut-ikutan.
" Bil, jawab.. kenapa diam aja?" ucap Arlo tak sabaran.
" Iya gue mau.." Jawaban Abila membuat Arlo berteriak senang dan memeluk gadis itu.
" Akhirnya jomblo bapuk punya pacar juga.." celetuk Carlos.
" Sialan..." ucap Arlo memukul lengan Carlos dengan Abila di dalam rangkulannya.
" Berarti aktingnya udah kelar yaa.." ucap Mika terkekeh.
" Maksud lo apa Mik?" tanya Arlo.
" Lo tanya aja sendiri sama cewek lo.." jawab Mika.
Abila hanya terkekeh di tatap tajam oleh Arlo, " nanti di rumah gue jelasin.."
TBC..!!
penasaran aku