Zeyn Lein Zong merupakan seorang CEO dari ZLZ Company, perusahan terbesar di Negara A, dia memiliki paras yang sangat tampan dan menawan sehingga banyak wanita yang terpesona olehnya.Dibalik wajah tampan nya Zeyn memiliki sifat yang sombong, arogan, dingin, dan kejam. Sifat yang dimiliki bukanlah sifat aslinya. Hingga dia harus bertemu dengan seorang gadis desa yang yang mempunyai sifat dan karakter berbanding terbalik dengannya.
Arn Crysi Leonard merupakan putri seorang petani dari sebuah desa di Negara A yang sedang melanjutkan pendidikan di salah satu kampus ternama Negara A. Kampus tersebut merupakan kampus bagi orang-orang kalangan atas, Arn bisa masuk ke kampus tersebut berkat kepintaran yang dimilikinya sehingga Ia mendapatkan beasiswa.Pada awalnya kehidupan kampus berjalan seperti biasanya tanpa adanya masalah, hingga tiba pada saat dimana Arn harus bertemu dengan seorang pria yang arogan, sombong, dingin dan kejam. Tanpa Arn ketahui sang ayah menyimpan rahasia darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon agh arn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Hari ini merupakan hari keberangkatan mereka ke desa Arn. Arn begitu semangat, selama dia berkuliah di pusat ibu kota Arn tidak pernah pulang. Mereka menggunakan satu mobil dengan Zeyn sebagai supir di samping ada Leon. Sedangkan di kursi belakang ada Arn dan Violen yang sedang membicarakan tempat-tempat yang akan di kunjungi oleh mereka.
"Jadi, ini kita akan ke desa tempat kamu di besarkan" Arn menganggukkan kepala. Tangannya tidak berhenti untuk mengambil keripik pisang.
"Wah... jadi kita punya guide dong. Kamu harus membawaku ketempat yang bagus. Aku dengar disana ada air terjun. Aku ingin kesana"
"Itu dekat rumahku. Tenang saja kita akan bersenang-senang disana. Aku akan menjadi pemandu yang baik" Arn dan Violen terus saja membahas tempat-tempat wisata di desa itu. Zeyn dan Leon yang melihat itu hanya menggelengkan kepala.
"Kita kesan untuk kerja bukan untuk liburan" sela Leon. Arn dan Violen yang sedang tertawa langsung menghentikan tawa mereka dan memandang Leon dengan tatapan tajam. Leon yang melihat itu hanya mengangkat kedua jari membentuk huruf V simbol damai.
"Ganggu saja kesenang orang. Tidak bisa lihat orang senag apa" serga Arn.
"Awas saja kalau sampai sana ikut kita jalan-jalan. Dan awas juga kalau tanya tempat-tempat wisata ke Arn" sambung Violen. Leon yang mendengar itu hanya tertawa.
"Aku dan Bro sudah ada pemandunya dan juga kami masih ingat tempat-tempat wisata disana. Iyakan Bro" Leon meminta bantuan kepada Zeyn agar membantunya. Tapi Zeyn hanya mengangkat bahunya. Leon yang melihat itu segera memukul bahu Zeyn.
"Dasar tidak peka" raju Leon kepada Zeyn, Leon memajukan bibirnya.
"Kau tidak cocok dengan ekspresi itu. Yang ada saya merasa ingin muntah" Zeyn tersenyum, karena berhasil menggoda adiknya.
"Kalian sudah pernah kesana" tanya Violen.
"Sudah, waktu bro ulang tahun ke-12. Di sana juga ada kakak iparku. Dia pasti kaget melihatmu yang makin tampan. Pokoknya jika disana kita bertemu dengannya, aku tidak mau tahu bro harus segera melamarnya di depanku dan juga mereka berdua. Jika tidak aku akan melamarnya" ancam Leon.
"Pak Zeyn punya pacar di desa itu. Bukannya tunangan bapak itu seorang model yang berasal dari Negara X?" tanya Violen lagi.
"Jangan coba-coba menyebut nama wanita itu di hadapan kami berdua Vio" Leon memberi peringatan kepada Violen. Violen yang mendengar itu langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
"Maaf, apa aku boleh bertanya" Arn berbicara dengan ragu. Wajah Leon dan Zeyn sudah tidak bersahabat untuk itu Arn bertanya terlebih dahulu. Zeyn dan Leon hanya menganggukkan kepala.
"Kalian berapa lama tinggal disana dan kalian menginap di mana"
"Sekitar 3 atau 4 bulan dan menginap di salah satu rumah warga" jawab Zeyn singkat.
"Kenapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Leon. Arn hanya menggelengkan kepala.
"Apa benar kak Ze, itu adalah Pak Zeyn. Kalau Pak Zeyn, kenapa dia tidak mengenalku. Padahal kalung yang diberikan oleh Kak Ze selalu ku pakai dan terlihat jelas. Dan kalau Leon, si pembuat onar itu kenapa juga dia tidak mengenal kalung ini. Leon kan pernah memegang kalung ini. Kalung ini juga diberikan oleh kak Ze tepat di samping Si pembuat onar itu. Tidak. Tidak. Pasti ini hanya kebetulan. Kak Ze tidak mungkin berubah menjadi orang sepertinya dan si pembuat onar itu tidak mungkin menjadi Leon yang lembut. Masa jiwa mereka tertukar" Arn menggelengkan kepalanya, membuat Violen yang berada di sampingnya kebingungan.
"Arn kamu kenapa?" Violen menampar pipi Arn.
"Sakit Vio, kenapa menamparku" Arn berteriak. Violen hanya menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Habisnya, kamu di panggil dari tadi tidak menjawab. Malah, menggelengkan kepala tidak jelas" bela Violen.
"Tapikan jangan menamparku juga" Arn kesal, sedangkan Violen hanya meminta maaf.
"Arn, kalung itu kamu dapat dari siapa" Leon yang sudah sejak lama sangat penasaran dengan orang yang memberikan kalung untuk Arn.
"Bukannya aku sudah memberi tahu, kalau ini dari teman masa kecilku. Orang yang ku tunggu" jawab Arn.
"Kamu masih menunggunya" tanya Leon lagi. Arn hanya menganggukkan kepala. Kemudian Leon melihat kearah Zeyn dengan tatapan yang sendu. Zeyn yang melihat itu memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup melihat wajah sedih adiknya itu.
"Kenapa melihat ku" Zeyn bertanya seolah-olah tidak mengerti arti tatapan adiknya.
"Apa benar?" bukannya menjawab Leon malah balik bertanya.
"Maaf" Zeyn hanya mengatakan itu. Leon mengerti apa arti kata itu. Artinya dugaan nya memang benar. Leon hanya bisa tersenyum kecut. Jadi selama ini yang dia lakukan hanyalah sebagai penjaga. Setelah itu tidak terdengar lagi suara dari dalam mobil itu. Kini hanya terdengar suara mesin mobil yang membelah jalan. Leon memalingkan wajahnya menikmati pepohonan yang seolah-olah berlari mengejar mobil. Tanpa di sadari air matanya mengenai pipinya. Zeyn sibuk dengan jalanan di depannya dan pikirannya melayang memikirkan hubungannya dengan sang adik. Sedangkan di bangku belakang, Violen dan Arn sudah terlelap.
"Kita tidak tahu jika Arn itu dia, kalung itu mungkin hanya mirip" Zeyn menenangkan adiknya.
"Bagaimana jika dia benar anak dari paman baik?" tanya Leon. Zeyn yang mendengar itu hanya mengusap wajahnya frustasi. Sungguh dia tidak ingin hubungannya dengan adiknya retak. Hanya Leon keluarga satu-satunya dia punya. Leon juga yang membuatnya bisa bertahan sampai sekarang.
"Jika benar, ku harap kau jangan membenci ku" Leon yang mendengar itu hanya tersenyum kecut. Sudah Leon duga pasti kakanya tidak akan melepaskan dan mengingkari janjinya pada gadis itu. Walaupun waktu itu Zeyn bertunangan tapi hatinya tetap milik gadis kecilnya. Pertunangan yang dilakukan semata-mata hanya menjalin hubungan kerja sama antar perusahaan. Zeyn tidak pernah mencinta tunangannya, bahkan Zeyn sangat membencinya. Sampai kejadian na'as yang menimpa orang tuanya, yang menjadi puncak kebencian Zeyn pada tunangannya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, yang memakan seharian penuh mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Namun, sedari tadi Zeyn terus menerus memutar mobilnya.
"Kau yakin lewat sini" tanya Zeyn pada Leon sebagai penunjuk arah.
"Ini hampir 10 kali memutar daerah ini tapi rumahnya tidak ketemu-ketemu" gerutu Zeyn pada Leon.
"Seingatku, ini jalannya. Kenapa tidak menghubungi paman baik dulu" bela Leon, yang tidak mau disalahkan oleh sang kakak.
"Kamu bilang punya nomor kontaknya, makanya saya mengajak kamu kesini" balas Zeyn sengit. Tangannya tidak segan-segan menjitak kepala Leon. Leon hanya meringis kesakitan. Mau bertanya tapi ini sudah malam, dan tidak ada orang yang lewat disekitar itu. Jadi, mereka hanya bermodalkan ingatan yang tak seberapa. Setelah berputar beberapa kali akhirnya mereka menemukan rumah yang menjadi penginapan mereka dulu. Leon dan Zeyn segera mengetuk pintu, dan terdengar suara dari dalam sana.
"Maaf cari siapa" tanya pria paru baya itu.
"Kami mencari paman baik" jawab Leon enteng. Zeyn yang mendengar itu langsung menginjak kaki Leon. Apa-apaan main asal jawab.
"Maaf sebelumnya. Saya Zeyn dan ini adik saya Leon. Kami dari ibu kota. Kami disini mencari orang yang memberi kami tumpangan 16 tahun lalu bersama kedua orang tua kami. Kami berdua menyebutnya paman baik, paman itu hanya tinggal dengan putrinya yang waktu itu berumur 7 tahun" jelas Zeyn panjang.
"Oh... kalian putra tuan dan nyonya Zong. Wah... kalian sudah besar rupanya. Ayo masuk" ajak pria paru baya itu.
"Maaf paman baik, kami membawa dua orang lagi mereka sedang berada di mobil, tidak apa-apakan paman? tanya Leon. Setelah mendapat izin dari paman baik, Zeyn segera mengambil barang yang ada di bagasi dan Leon segera membangunkan Arn dan Violen yang masih terlelap. Kemudian keduanya bangun dan turun dari mobil.
"Kita ada dimana?' tanya Violen dengan muka kusutnya. Sedangkan Arn berlari memeluk pria paru baya itu. Zeyn dan Leon mematung melihat itu.
"Ayah, Isy kangen" Arn memeluk pria itu yang merupakan ayahnya.
"Ternyata memang dia bro. Selamat" Leon menepuk bahu Zeyn, dan berjalan meninggalkan Zeyn yang masih mematung di belakangnya.
Tbc