ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERJUANG BERSAMA
"A-aku ...."
"Aku apa?"
Alda menggigit bibir dalamnya. Mencoba mengatur perasaan yang semakin bergejolak. Bagaimana dia harus menjelaskan hal tersebut kepada pria di depan?
"Katakan dengan jelas Andi Alda," ucap Ibnu dengan cemas harap menanti jawaban Sang Pujaan.
"A-aku takut ...." Nada suara wanita itu melemah diakhir kalimat.
Ibnu terdiam. Kemungkinan terbesar yang dimaksud Alda adalah restu dari orang tuanya. Tapi hal tersebut tak menyurutkan niat Ibnu.
Ibnu mengulurkan jemarinya ke atas meja. "Andi Alda ... jika kamu punya rasa yang sama denganku. Aku mohon bantu aku untuk memperjuangkan hubungan kita."
*****
Nana menyimak baik pembicaraan orang tuanya dengan Ibu Hilda. Berkas di tangan wanita paruh baya yang telah melahirkan Ibnu cukup meyakinkan bahwa semua ini ada sangkut pautnya dengan hubungan pria itu dan sahabatnya.
"Aku ingin meminang seseorang untuk Ibnu," ucap Ibu Hilda. "Aku butuh dana."
"Berapa luas tanah itu?" Pak Mawan mengambil alih berkas dari tangan wanita paruh baya itu.
"21 are."
Pak Mawan memperbaiki posisi kacamatanya dan mulai memeriksa benda tersebut seksama.
Nana menatap wanita paruh baya itu dengan nanar. Dia sama sekali tidak yakin dengan usaha Ibu Hilda.
"Besok kita bisa melihat langsung lokasinya yang berada di Kabupaten Barru. Karena 2 hari lagi aku akan mengunjungi kediaman wanita pilihan Ibnu."
Pak Mawan mengalihkan pandangan. "Memangnya siapa?" tanyanya penasaran.
"Dia ... puteri tunggal Andi Shadam Marolah."
Sederet kata yang dikeluarkan Ibu Hilda membuat pak Mawan tercengang.
Apakah tidak salah dengar?
"Andi Alda Marolah." Wanita paruh baya itu memperjelas yang membuat dua orang di depannya semakin menelan ludah.
DEG!
"B-bagaimana bisa?" Pak Mawan betul-betul tak menyangka. Berbeda dengan Nana yang memejamkan mata mendengar.
"Itulah sebabnya aku menjual tanahku untuk melamar wanita itu. Aku tidak tahu apakah itu cukup atau tidak. Tapi yang jelas ... aku dan anakku sudah punya pegangan," terang ibu Hilda.
"Apa ... Ibnu tahu tentang ini, Bu?" Nana menggulirkan pertanyaan.
Ibu Hilda menggeleng. "Ibu belum memberi tahunya."
"Apa Ibu yakin Ibnu akan setuju jika dia tahu?"
Ibu Hilda terdiam.
Dia juga tidak yakin masalah itu. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Jika puteranya hanya mengandalkan gaji yang dikumpulkan selama ini, apakah itu cukup?
"Lebih baik ibu bicara baik-baik dengan Ibnu."
"Tidak, Nak. Hanya ini yang bisa ibu lakukan untuk Ia dia. Selama ini, Ibnu sudah bekerja keras untuk ibu ...."
*****
Waktu menunjukkan pukul tujuh. Adam sedari tadi telah menunggu kedatangan Alda. Berulang kali pria tersebut menatap jam tangannya. Menghitung waktu yang berlalu begitu saja.
Kemana dia?
Beberapa panggilan telah ia layangkan, namun tak mendapat sambutan. Betapa ini membuat hatinya resah dan gelisah.
Besok adalah keberangkatannya menuju Ibu Kota. Dia harus berbicara empat mata prihal pernikahan mereka.
"Bagaimana, Nak Adam?" Andi Erna dan Andi Shadam juga mengalami hal serupa. Berulang kali ia menghubungi puterinya namun tak kunjung diangkat.
"Belum ada jawaban, Puang," jawab Adam dengan wajah pias.
"Anak itu." Andi Shadam mulai geram dengan sikap Sang Puteri. Bagaimana bisa ia melupakan hal penting ini?
Hingga pukul sepuluh. Alda belum juga menampakkan batang hidungnya. Adam memutuskan untuk kembali ke hotel. Tentu membawa rasa kecewa. Yah, juga rasa marah karena merasa diabaikan.
*****
"Apa kamu sengaja mempermalukan kami?"
.
.
.
.
.
Igeh : asriainunhasyim
Salam
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana