Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Jika tadi aku gelisah setengah mati, sekarang aku bingung setengah mati.
"Peluk pacar orang, pacar sendiri gak pernah di peluk!" Suara yang menggema itu berasal dari lantai hiburan, yang lebih mencengangkan lagi, pacarku ada disana, disebelah siswa badung yang memakai headphone sembari memanggut-manggutkan kepala.
"Revi." ujarku sembari melepaskan secara paksa pelukan Baskara.
"Kenapa ndoro putri? Merasa bersalah?" goda Baskara, ia terkekeh melihat bibirku yang cemberut.
"Sejak kapan dia ada disini?" tanyaku heran.
"Sejak kamu dan Pandu ngobrol di ayunan besi." jelas Baskara. Ia melambaikan tangannya ke arah Revi.
"Kenapa kamu gak bilang!" Sebel, kalau gini kan aku merasa bersalah karena telah memeluk cowok lain. Mana meluknya terang-terangan. Jelas dan disaksikan seluruh teman-temanku.
"Tadinya aku mau panggil kamu, tapi karena ada ndoro mas Suryawijaya dan ndoro mas Pandu Mahendra yang menjagamu, aku gak berani." ujar Baskara, lalu menunduk saat Suryawijaya berdehem.
"Jadi kamu sengaja ya minta peluk? Kamu tahu kan, Bas. Aku pantang untuk memeluk laki-laki yang bukan sedarah denganku."
"Tapi aku kan sahabatmu, ndoro putri." timpal Baskara langsung.
Aku mendengus, ku lirik Suryawijaya yang acuh tak acuh kepadaku.
"Jangan bilang Ayahanda! Konteksnya ini sahabat sejati bukan sama pacar!"
"Terserah Mbak, yang jelas sekali saja Mbak melanggar aturan, Mbak tahu hukumannya!"
Sur... Sur... Kamu emang cocok jadi hakim kerajaan. Salah sedikit, hukum. Melanggar aturan, hukum. Lama-lama aku menjadi terdakwa kasus pelanggaran HAM.
"Ada apa ribut-ribut?"
Aku melirik, Revi tersenyum manis.
"Kaget ya aku datang?" Ia hendak merangkulku, tapi Suryawijaya yang menatap tajam ke arahnya, membuatnya hanya bisa tersenyum kikuk.
"Gak jadi ndoro mas." ujar Revi sambil menahan senyum, "Aku bakal jaga Mbakmu, suwer!"
"Mbakmu? Ndoro putri!" timpal Suryawijaya dingin.
"Gak asyik nih kalau bakal ribut, pak RT nanti datang terus membubarkan pesta ini. Udah-udah, ndoro mas Suryawijaya, ndoro putri Dalilah, kak Revi. Yuk... Kita makan malam, kasian orangtuaku kalau makanan yang udah dibeli tidak dihabiskan!" Baskara berlagak seperti heroik, ia tersenyum kaku seraya basa-basi.
"Jam sembilan nanti pulang, Mbak!" Wajah Suryawijaya sudah tidak enak dilihat. Aku mengangguk supaya tidak memperkeruh suasana. Aku pun maklum jika Suryawijaya bertindak seperti itu.
"Case closed! Jadi kita sekarang makan malam." sahut Baskara riang.
Kami berenam---termasuk Bimo yang baru saja bergabung, berjalan menuju sofa besar di tengah ruangan.
Seperti halnya pesta anak muda, makanan yang disajikan berupa junk food. Dengan alasan klasik, mudah dibeli, tidak perlu cuci piring, dan yang paling praktis adalah semua orang menyukai junk food.
Berbeda dengan ulangtahunku, pesta ulangtahunku yang sudah-sudah berupa potong tumpeng nasi kuning, ruwatan dan mandi kembang setaman. Bahkan tidak ada acara truth or dare seperti yang dilakukan kami setelah makan malam selesai.
Kami berenam membentuk sebuah lingkaran, ditengahnya terdapat sebuah botol soda yang sudah habis isinya.
"Pokoknya ini cuma buat seru-seruan! Buat yang lain kalau masih pengen disini, silahkan. Buat yang mau pulang juga gak masalah. Cuma pestanya gak lebih dari jam sepuluh malam, kata ayah takutnya mengganggu tetangga sebelah!" lontar Baskara di depan teman-temannya.
Beberapa orang ada yang bersorak, "Besok lagi kalau ulangtahun pestanya di bar atau di luar rumah, Bas. Ini dirumah, gak seru!" sorak siswa kelas sebelas yang sering masuk ruangan bimbingan konseling. Keunggulannya cuma satu, pinter main basket, makanya itu sekolah masih mempertahankannya. Dia juga termasuk teman Revi, Genk gerombolan si berat.
Baskara mencibir, "Enak juga di rumah, gak perlu bawa KTP lagi!"
Semua orang tertawa, menyadari jika beberapa diantara mereka masih dibawah standar pembuatan KTP.
"Kartu pelajar aja suka ilang, gaya-gayaan masuk ke bar!" timpal Revi.
Aku tersenyum tipis, Revi.
"Truth or dare!" Baskara memimpin permainan. Ia memutar botol soda.
Aku harap-harap cemas, berharap bukan aku yang mendapat giliran pertama. Begitu juga beberapa orang yang mengikuti permainan konyol ini. Wajah mereka terlihat serius sekaligus antusias.
"Truth!" jawab Revi ketika bagian penutup botol itu mengarah kepadanya.
Baskara terkekeh, ia berkata, "Jadi kak Revi harus jawab sejujur-jujurnya! Kalau bohong, hidung kakak tambah mancung kek Pinokio!"
Revi mengangguk tegas, "Aku mah slalu jujur, bukan begitu tuan putri?"
Aku terkesiap, "Hah..."
"Hah... hah... Mikirin apa sih kok gak fokus gitu?" tanya Revi sambil menatapku.
Aku tersenyum kecut, "Gak mikirin apa-apa, cuma kenyang jadi ngantuk!"
"Gak mudeng aku sama semua orang. Tiap kenyang ngantuk, apa beberapa pejabat negara yang suka tidur di rapat anggota dewan itu juga kekenyangan duit rakyat terus ngantuk ya? Penasaran aku." ujar Baskara kritis.
"Ribet amat pikiranmu, Bas! Kalaupun pada tidur waktu rapat itu berarti mereka gak tidur karena mikirin rakyatnya!" ujarku diplomatis.
Semua orang terbahak mendengar penuturanku dan Baskara.
"Ini mau bahas anggota dewan atau mau mendengarkan kejujuran ku!" sahut Revi.
Semua orang saling pandang, lalu satu persatu pertanyaan terlontar dari mulut ke mulut.
"Beneran suka sama Dalilah?"
"Apa yang kamu sukai dari Dalilah?"
"Apa kamu serius dengan ndoro putri?
"Apa Dalilah cinta pertamamu?"
"Have you ever kissed?"
"Apa kamu mau menjadi seperti Dalilah?"
"Jadi sebenarnya apa motif kamu mendekati Dalilah?"
Aku menoleh dan menatap heran pada wajah pias Revi. Sedangkan yang lain memandang tajam pada objek yang menjadi perhatian semua orang.
Aku sempat melihat Revi mengerjap sesaat. Jelas ia cemas, mungkin takut jika jawabannya akan menyakiti perasaanku? Revi tersenyum. Ia menoleh, menatapku.
Mendadak aku merasa pusing dengan segala kecurigaan dan jawabannya yang akan Revi katakan. Aku menatapnya, ketar-ketir.
Tapi seulas senyuman manis ia hadirkan, ia mengenggam tanganku di hadapan Suryawijaya yang mengeraskan rahangnya. Segera saja kedekatan kami membawa konsekuensi berbahaya. Suryawijaya yang pendiam itu jelas tidak terima, tangan Mbakyu kesayangannya yang menyebalkan seantero istana di genggam oleh laki-laki yang belum ia kenali.
Terkadang aku heran, kenapa nasib mempunyai humor yang mengerikan. Jatuh cinta dan berdekatan dengan laki-laki seolah menjadi 'perkara panjang' seorang putri Raja.
...Happy Reading 🥰...