"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 | Bermalam Di Bukit
Di bukit di timur Kota Forspel, Kalara nampak berdiri di bawah langit bertaburkan bintang. Di tanah yang cukup lapang dan dikelilingi pepohonan yang tak terlalu lebat. Sore itu, matahari perlahan bergerak kebarat, merangkak turun dibalik bangunan kota yang menjulang tinggi.
Kalara nampak mengangkat tangan kirinya dan mengeluarkan buah bola hitam yang membesar dan kemudian mengambang setinggi setengah meter diatas rerumputan. Kalara menggerakkannya dan mensejajarkannya saling berhadapan dengan tumpukan kayu untuk api unggun ditengah-tengah mereka.
Ketika cincinnya memendar, sesuatu muncul didalam masing-masing bola hitam. Semacam kasur berwarna putih yang nampak seperti gumpalan awan. Ketika Kalara membuat lubang untuk masuk kedalam bola hitam itu dan menduduki kasur didalamnya, benda putih itu memantul dan sangat-sangat lembut.
Levi kembali dari mengambil air didekat sungai yang ada didekat bukit. Ketika ia meletakkan ember berisi air itu didekat pohon, Levi mendekati bola hitam.
Karena ini kedua kalinya Levi melihat benda sihir seperti itu, Levi tak lagi terkejut dan bertanya dengan santai. "Dimana aku akan tidur?"
Kalara menoleh, "Yang di kanan lebih besar. Jika di kiri kakak akan tidur meringkuk seperti bayi."
"Sepertimu?"
"Apa maksudnya? Tentu tidak! Aku sudah besar, usiaku saja sudah 16 tahun. Aku saja sudah berkeliling kemana pun~" Kata Kalara bangga.
Levi terdiam. "Kamu bilang kamu berkeliling selama ini. Darimana kamu berasal?"
Kalara menyunggingkan senyuman. "Pokoknya dari tempat yang sangat jauh dari sini."
Keheningan yang melanda terpecahkan ketika Gwenny kembali dengan beberapa bahan makanan yang ada didalam kantung plastik. Kalara menyambut Gwenny dan turun dari piringan hitam. Sementara Levi kini mendudukkan dirinya diatas kasur dan tertegun sesaat ketika merasakan betapa halusnya gumpalan itu.
"Lembut sekali." Batinnya.
"Gwen, apa yang kamu beli?" Kalara melihat apa yang dibawa oleh Gwenny dengan penasaran.
Gwenny meletakkan bahan makanan itu diatas piringan hitam yang dikeluarkan Kalara dan menatanya.
"Hanya beberapa daging, beras, sayuran dan buah. Juga ada beberapa camilan kecil kesukaanmu."
Kalara menatap kue kacang disampingnya, "Kya! Gwen memang yang terbaik!"
...🌙...
Ketika langit perlahan menggelap, Levi menggunakan sihir cahayanya. Menciptakan lingkaran cahaya yang membuat tempat itu menjadi cukup terang. Untuk tidak membiarkan bayangan hitam mendekat dalam radius tiga meter.
Gwenny menciptakan tiang untuk memasak. Sementara Kalara hendak mengeluarkan sebuah panci, ketika sosok Asuna mengambang dan menjadikan panci kecil itu sebagai pelindung kepalanya. Menyaksikan binatang sihir muncul, Levi mengernyitkan dahinya menatap Asuna.
"Apa dia binatang sihir Kalara yang sombong itu?" terka Levi dalam hati.
Sementara Gwenny menatapnya dengan binar karena bentuk lucu Asuna.
"Asuna?" Kalara bergumam kecil.
Asuna mengambil panci dengan ekornya dan meliuk, "Nona Kala~".
"Ada apa? Kenapa keluar?" tanya Kalara sementara Asuna menubruk Kalara.
Kalara memeluk Asuna. "Kak Minette sangat jahat pada saya. Nona, kakak mengatakan saya kecil dan nakal. Saya tidak kecil dan tidak nakal."
Kalara terdiam sesaat sebelum tersenyum dengan geli. "Minette, bagaimana kamu bisa memperlakukan Asuna begitu buruk?"
Levi mengernyit. Bertanya-tanya apakah Kalara memiliki dua binatang sihir? Sementara Gwenny tidak bertanya-tanya. Sebab Gwenny tahu siapa itu Minette. Namun yang menjadi pikirannya adalah, binatang sihir imut yang menempeli Kalara itu. Ia belum pernah melihatnya.
Suara Minette terdengar bagi keempatnya, termasuk Gwenny. "Bukankah dia memang kecil? Dimana aku mengatakan hal salah?"
Levi sudah menerima jawaban. Jelas si kecil imut itu bukan binatang sihir Kalara yang menjengkelkan dan membuatnya sangat sebal itu. Tapi, ketika penyihir memiliki satu binatang sihir, ... apakah Kalara memiliki dua?
"Kala, si kecil manis ini siapa?" Gwenny bertanya dan membuat Asuna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ueeeee! Aku tidak kecil, ..."
Gwenny membungkam bibirnya dan menatap kaku Asuna. Sementara Kalara melipat bibirnya menahan tawanya. "Dengar, dengar! Anak babi itu juga mengatakan kalau kau itu kecil."
Gwenny terpatung. Anak babi, gemuk?
Gwenny melipat wajahnya dengan murung. Meski tak pernah melihat binatang sihir Kalara, ia sangat tahu jika sejak dulu dia sangat menyebalkan.
"Hm, dia Asuna. Binatang sihirku yang aku kontrak di Kerajaan Everus." Jawab Kalara sembari mengusap bulu Asuna.
"Everus? Ujung benya?" beo Levi.
Kalara mengangguk. "Di kerajaan itu ada sebuah hutan yang katanya terlarang. Aku baru tahu bahwa hutan itu terlarang setelah keluar, jadi akibatnya, sebelumnya aku sudah masuk kehutan itu dan berkeliling."
...⭐...
Hutan Larangan, Kerajaan Everus, delapan tahun yang lalu.
Langkah kaki ringan itu terdengar lembut dan seirama. Di hutan yang berlumut dan berumput, gadis dengan helaian rambut hitam selegam langit malam itu bergerak dengan lincah melompati pohon tumbang dan berpindah diantara satu batu kebatu lainnya.
Kalara kecil mengenakan dress tanpa lengan dan tanpa kerah berwarna putih sebatas paha. Bagian bawah dress itu mengembang layaknya bunga, sementara bagian atas, Kalara melapisinya dengan rompi semi transparan sebatas pinggang yang terhiasi dengan rangkaian pita berwarna biru muda dan hitam yang lembut.
Kakinya beralaskan sepatu tinggi setengah kaki seperti kerah sementara surai panjangnya diikat rendah dikanan dan dikiri dengan pita besar berwarna merah, menggambarkan keceriaan.
"Satu, dua, tiga, Kala melompat. Satu batu, dua batu, tiga batu~"
Kalara kecil bersenandung sembari terus berjalan. Melompati batu dengan lincahnya dan bergerak menyelinap diantara batang pohon yang menyisakan sedikit ruang yang cukup dilalui Kalara. Ketika sedang asyik berjalan ditengah hutan yang cukup gelap, Kalara melihat sesuatu yang bercahaya dibalik pepohonan. Matanya memicing dan ia mendekatinya.
Ketika menemukannya, Kalara mendapati sebuah batu kristal berbentuk bundar seukuran bola tenis ada diatas tanah dan nampak bercahaya.
"Minette, ini apa?" tanya Kalara pada Minette.
Suara Minette terdengar, "Itu adalah bayi binatang sihir tingkat tinggi."
"Benarkah? Bisakah aku membawanya?" Kalara dengan bersemangat bertanya kepada Minette.
"Tidak."
Kalara mengerucut, "Kenapa?"
Suara Minette kembali terdengar. "Kamu sudah memilikiku. Kenapa kamu mau membawanya juga? Kamu tak sayang padaku?"
Kalara terkikik. "Astaga, Minette. Sampai kapan pun juga aku akan tetap menyayangimu. Tapi binatang sihir ini masih bayi dan berada ditengah hutan bisa berbahaya. Kamu tahu bukan, binatang sihir liar suka memakan bayi binatang sihir untuk menambah kekuatan mereka?"
"Lagipula aku mencarikanmu teman~" lanjutnya menggoda.
"Ck, baiklah. Lakukan sesukamu, tapi aku tidak mau dia merepotkanku."
"Baiklah~ Si imut besarku jangan kesal. Sekarang kamu punya adik."
Minette menegaskan suaranya. "Adik apanya?!"
"Haha. Baiklah bayi kecil, mulai sekarang namamu Asuna. Mulai dari hari ini, kamu adalah bagian dari keluarga kami." Gumam Kalara sembari meneteskan darahnya dikristal berwarna merah lembut itu.
Untuk sesaat kristal itu bercahaya menjadi gelap, namun kembali menjadi normal setelahnya. Kalara mengambil cincin dimensinya dan hendak memasukkan Asuna kedalamnya, sebelum suara tipis dan pelan terdengar.
"Nona, ... saya Asuna, ... Asuna, ..."
Kalara tertegun sesaat sebelum tersenyum lebar. "Halo, Asuna~"
...🌙...
"Makan malamnya sudah matang!" kata Gwenny sembari meletakkan panci berisi nasi yang dimasak dengan daging, sayur, jamur, bumbu dan bubuk cabai yang tidak terlalu banyak.
Aroma masakan itu membuat Kalara berbinar dan dengan cepat meraih mangkuk dan sendok. Ia menyodorkannya pada Gwenny sembari memasang wajah berbinar layaknya anak anjing kecil yang manis dan tidak bisa menahan untuk tidak mencubitnya.
Ketika Gwenny telah menyendokkan makanan itu untuk Kalara dan Levi, dua orang itu mulai menyuapkan makanan kemulut mereka. Namun sedetik kemudian, binar bahagia diwajah Kalara lenyap, sementara wajah datar Levi samar berubah.
Gwenny yang melihat wajah mereka bertanya, "Ada apa? Mengapa wajah kalian begitu? Apa rasanya tidak enak?"
Kalara dan Levi masih terdiam. Tak lama wajah mereka berubah hijau dan keduanya secara bersamaan berlari menjauh dan mengeluarkan isi perut mereka dibalik pohon.
"Eh?" gumam Gwenny.
Penasaran, ia meraih sendok dan memasukkan sesendok penuh nasi dan berbagai macam lauk itu kedalam mulutnya sendiri.
Hoeekkk!!
Dan ia berakhir memuntahkan isi perut dibalik pohon sama halnya dengan Kalara dan Levi.
"Ternyata ini bukan garam. Tapi bimimi. "Kata Gwenny.
Bimimi adalah semacam bubuk yang dibuat dari tumbukan sisik duyung sihir kering yang sengaja dilepaskan oleh duyung ketika sedang meregenerasi kulitnya, dan bentuknya sangat persis dengan garam. Bagi orang-orang di kerajaan itu, bimimi digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan binatang sihir. Dan rasanya sangat-sangat tidak enak.
Duyung sendiri adalah salah satu dari spesies roh sihir. Cabang dari roh air.
Kalara tersenyum kecil sembari memegangi perutnya yang terasa sangat kosong karena telah dimuntahkan. Sama halnya dengan Levi.
Gwenny mengatupkan tangannya. "Maafkan aku! Ini kesalahanku, sehingga tidak bisa makan malam."
"Tidak apa Gwen. Bukan salahmu," kata Kalara.
Gwenny tertunduk, "Tapi karenaku kita tidak makan malam. Kalian pasti lapar. Dan sekarang sudah malam, pasti toko-toko sudah tutup."
Kalara nampak tersenyum. "Tidak masalah. Kita akan makan."
Gwenny mendongak menatap Kalara. Sementara Levi masih tenang duduk diatas kasur diatas piringan hitam dalam diam.
"Bagaimana? Semua bahan kita sudah habis."
Kalara tersenyum, menampilkan deretan gigi kecil dan rapinya. "Serahkan padaku!"
Catatan kecil:
⭐ — untuk menceritakan kejadian lampau/flashback
🌙 — untuk menceritakan kejadian saat ini
gak ketebak