Gaza Munarga adalah seorang ahli waris yang memegang kendali atas perusahaan Tirtama Group selama lima tahun semenjak kematian sang ayah.
Ia dikenal sebagai pria es yang mampu membekukan mental seseorang saat bertatapan dengannya.
Zara Maharani, seorang wanita yang hanya tinggal bersama kedua adiknya. Sebagai anak sulung, ia mesti rela berkorban membanting tulang mencari pundi-pundi nafkah demi kelangsungan hidup bersama kedua adiknya itu.
Kepribadian Zara yang polos. Namun, memiliki sifat di mana ia senang memarahi orang lain di saat ia sedang kesal.
Hingga dua insan ini dipertemukan dalam sebuah kecelakaan tanpa sengaja. Kekesalan yang berujung karma bagi Zara, hingga pada akhirnya Gaza menikahi Zara hanya bertujuan untuk membuat wanita ini bertekuk lutut padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Zara
Siapa lagi jika bukan Gaza, ia berhasil melacak keberadaan Zara dengan keahliannya.
Zara semakin menangis ketakutan. "Tolong aku." Dengan suara yang begitu lirih.
"Hei, siapa kau? Beraninya mengganggu kesenanganku." Preman tersebut melotot tajam pada Gaza.
"Beraninya kau pria buruk rupa mengganggu istriku, sudah bosan hidup rupanya." Gaza menyeringai dengan seram, melangkah dengan tegas menghampiri mereka semua.
Dalam sekejap Gaza telah berhasil mematahkan tulang kaki dan tangan mereka hingga tak dapat berkutik lagi.
Keringat telah membasahi sekujur tubuh Gaza, kaos putih berbalut jaket hitam seakan menampilkan orang yang berbeda dari Gaza yang sebelumnya, ia tak seperti seorang presdir.
Gaza melangkah dengan cepat menghampiri Zara yang meringkuk ketakutan, sekujur tubuhnya gemetar.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gaza dengan nada yang begitu lembut.
"Jangan, jangan mendekat." Zara masih belum sadar dari ketakutannya, bahkan saat disentuh oleh Gaza saja ia masih merasa seakan Gaza adalah orang-orang jahat itu.
"Tenanglah, ini aku. Kamu aman sekarang." Gaza mendekap tubuh Zara dalam pelukannya. Entah kenapa Zara merasa begitu nyaman dalam pelukan Gaza, rasa hangat yang mampu membuatnya merasa aman.
"Semua akan baik-baik saja, aku akan melindungimu, jangan takut." Gaza semakin mengeratkan pelukannya pada Zara.
"Ayo, berdirilah. Kita pulang bersama." Zara pun mulai merasa tenang, ia melepaskan diri dari pelukan Gaza dan mencoba untuk berdiri. Namun, tak disangka ia merasa tubuhnya begitu berat hingga tak mampu berdiri dengan seimbang, lututnya yang gemetar, benar-benar tak bisa mengangkat kaki untuk berjalan.
Gaza yang melihat itu, tanpa mengatakan apa pun langsung mengangkat tubuh Zara keluar dari rumah kosong tersebut, meninggalkan tiga orang preman yang sudah ia ikat usai memberi pelajaran.
Zara tak menolak, dalam keadaan seperti itu dia memang sangat membutuhkan bantuan orang lain, tidak disangka, orang yang menolongnya adalah suaminya sendiri, suami dalam perjanjian, suami yang bukan sungguhan. Suami di atas kertas, tiga sebutan itu, cukup membuatnya mengerti bahwa mereka memang tidak bisa saling mengharapkan karena tidak ada cinta diantara mereka. Hanya saling membutuhkan satu sama lain, Zara membutuhkan Gaza karena uang, sementara Gaza juga membutuhkan Zara untuk warisan yang diberikan oleh ayahnya.
"Tidurlah agar kau bisa lebih tenang," ujar Gaza saat mereka telah berada di dalam mobil.
Zara hanya melirik Gaza sebentar lalu memejamkan mata, ia memang merasa tidak enak badan setelah mengalami kejadian yang membuatnya takut.
"Lee, hubungi polisi untuk menangkap tiga orang penjahat di rumah kosong di distrik danau kecil, atas kasus penculikan," jelas Gaza pada Sekertaris Lee lewat panggilan telepon.
Tiba di rumah, Gaza kembali menggendong tubuh Zara yang terlelap masuk ke kamar. "Tuan muda, apa yang terjadi pada Nona Zara?" Pak Zang dengan panik menghampiri Gaza yang sedang terburu-buru membawa Zara.
"Panggil dokter ke sini." Tanpa menoleh sedikit pun.
Pak Zang pun segera berlari kecil menghampiri telepon rumah untuk menghubungi dokter.
Gaza merebahkan tubuh Zara di atas kasur, ia tetidur saat dalam perjalanan.
"Sepertinya aku benar-benar sudah gila, sejak kapan aku peduli pada wanita ini? Kenapa juga aku harus mengkhawatirkannya?" Gaza duduk di samping tubuh Zara, ia ingin pergi, tetapi malah tetap tidak bergeming dan terus menatap wajah Zara.
Beberapa saat kemudian, Pak Zang pun mengetuk pintu dan masuk bersama dokter yang tadi ia hubungi. "Ada apa? Siapa dia?" tanya sang dokter itu yang tidak lain adalah teman dekat Gaza.
"Jangan banyak tanya, periksa saja, mungkin dia mengalami cedera pada bagian tubuhnya," ucap Gaza sembari beranjak berpindah tempat.
Dokter yang kerap disapa dengan nama Dokter Sam itu pun mengendikkan bahunya lalu menatap Zara yang terbaring di atas kasur.
"Periksa ya tinggal periksa, kenapa mesti begitu sinis?" cibirnya.
Dokter Sam pun memeriksa semuanya tanpa melewatkan sedikit pun, tetapi tidak ada yang ia temukan, cedera luar maupun dalam, semuanya baik-baik saja. "Dia baik-baik saja, lalu kenapa kau begitu heboh?" Dokter Sam mengerutkan alisnya tak habis pikir.
"Lalu kenapa dia tidak sadarkan diri jika tidak mengalami sakit apa pun?" tanya Gaza.
"Kau percaya kalau dia pingsan karena sakit? Bahkan dia hanya tertidur dan kau begitu membesar-besarkan masalah seolah terjadi sesuatu yang parah padanya." Dokter Sam terkekeh geli melihat ekspresi panik Gaza yang sama sekali tak pernah ia lihat selama hidupnya.
"Siapa yang membesarkan masalah? Kau sepertinya harus minum obat dengan teratur, jangan terus mengurusi banyak pasien hingga kau sendiri hampir gila," cibir Gaza.
"Pak Zang, Anda mengatakan bahwa terjadi sesuatu yang sangat gawat di rumah ini, harus diperiksa secepatnya atau jika tidak akan terjadi masalah besar, apakah Gaza yang menyuruh Anda untuk mengatakan hal itu?" tanya Dokter Sam.
Pak Zang malah menggaruk kepalanya tersenyum malu. "Maaf, Tuan Sam. Saya kira Nona muda terjadi sesuatu yang berbahaya pada dirinya, saya terlalu panik hingga tanpa sadar mengatakan hal itu."
"Apa kau puas? Bukan aku yang membesarkan masalah, lagian siapa juga yang akan peduli jika terjadi sesuatu padanya?" Gaza menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan santainya seolah tak peduli.
Dokter Sam menghela nafas dengan kasar. "Haih, lalu kenapa wanita ini tinggal di rumahmu? Dan ... bukankah ini adalah kamarmu? Sejak kapan kau mengizinkan seorang wanita masuk ke sini? Bukankah selama ini hanya Pak Zang dan Sekertaris datarmu itu yang boleh masuk?" Sembari tersenyum mengejek.
"Tutup mulutmu, tidak ada lagi yang perlu diperiksa, sekarang kau pulanglah ke tempat asalmu dan temui pisau-pisau bedahmu itu," perintah Gaza datar.
"Lihat, betapa tidak bisa berterimakasihnya kau ini, aku sampai merelakan waktu istirahatku demi datang ke sini hanya untuk memeriksa seorang wanita yang tidak sakit, sekarang kau dengan tanpa berterimakasih mengusirku keluar dari sini. Lihat saja, kudoakan tidak akan ada wanita yang akan menyukaimu," cibir Dokter Sam dengan tersungut.
"Mau pulang sendiri atau kuantar?" Gaza menunjuk ke arah pintu keluar dengan tersenyum licik.
Dokter Sam tersenyum sinis. "Kau ini, benar-benar tidak bisa dilawan." Dokter Sam pun melangkah mendekati Gaza.
"Awas saja jika sampai nanti aku mendengar kabar kau malah menyukai wanita itu dan tergila-gila padanya, aku sangat berdoa semoga saja wanita itu akan menolakmu mentah mentah hingga kau menjadi gila," bisik Dokter Sam sembari menepuk pelan pundak Gaza dan tersenyum mengejek.
"Apa kau tidak tahu bahwa jika seseorang terlalu banyak bicara maka ucapannya akan berbalik pada kehidupannya sendiri? Berhati-hatilah, aku akan turut berduka jika sampai kau tidak menikah untuk seumur hidupmu." Gaza balik berbisik dengan satu pembalasan yang mampu membuat Dokter Sam tak berkutik.
mereka akan melaknat lekaki kayak ferdi yang sok baik pada istri orang dan membuat rumah tangga orang hancur
pola pikir wanita jablay
Ferdy adalah lelaki baik, jadi boleh peluk sana ini
pola pikir wanita setia
suami pelukan dengan wanita lain itu salah begitu juga istri pelukan dengan lelaki lain itu salah
pola pikir wanita egois
suami pelukan dengan wanita itu salah tapi istri pelukan dengan lelaki lain itu bukan kesalahan karena hanya sahabat
fakta
sebuah novel adalah hasil pola pikir novelisnya yang artinya sebuah novel menggambarkan karakter novelisnya