NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:21.7k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Mabuk

“Tidak akan kubiarkan kau kuceraikan dalam keadaan suci!”

Kalimat itu terus saja bergaung di telinga Azizah. Bahkan memenuhi setiap sudut pikirannya semalaman. Ia duduk meringkuk di lantai dengan punggung bersandar pada pinggiran tempat tidur. Ia menatap kosong ke arah tirai yang menutup jendela kamarnya. Cahaya fajar yang mulai menyusup di balik celah tirai adalah satu-satunya tanda bahwa ia berhasil melewati malam yang mencekam itu. Jika saja semalam ia tidak cukup cerdik untuk berbohong, entah apa yang akan terjadi padanya.

Flashback on

“Maka berikan hakku sebagai suami malam ini. Tidak akan kubiarkan kau kuceraikan dalam keadaan suci!”

Kata-kata itu menghantam jiwa Azizah seperti cambuk. Ia terbelalak dan Iangsung meronta. Berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman pria yang kini terasa begitu menakutkan. Namun tenaga Ezra yang dipicu oleh amarah dan pengaruh alkohol jauh lebih kuat. Dalam sekejap, Ezra berhasil mengurung tubuh Azizah di bawah tubuhnya.

“Dasar wanita bisu!” desis Ezra tepat di depan wajah Azizah, membuat napas pria itu yang berbau alkohol menerpa kulitnya, “Kita lihat bagaimana kau akan menikmati malam ini.”

Saat Ezra hendak memajukan wajahnya, mata Azizah menangkap kilau ponsel Ezra di saku jaket kulit pria itu. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh saku dan merampas ponsel itu. Pergerakan tiba-tiba Azizah membuat Ezra refleks memundurkan wajahnya.

Azizah mencoba membuka ponsel itu secepat mungkin, namun terkunci rapat oleh sandi. Dengan tangan gemetar, ia menunjukkan layar ponsel yang menyala terang tepat di depan mata Ezra yang mulai sensitif karena pengaruh mabuk.

“Singkirkan itu! Silau!” bentak Ezra sambil memalingkan wajah.

Azizah tidak peduli. Ia terus mendekatkan layar itu dan menunjuk-nunjuk bagian pengisian sandi. Memaksa Ezra untuk membukanya.

Ezra berdecak keras. Emosinya memuncak namun kepalanya yang berdenyut hebat akibat alkohol membuatnya tidak punya pilihan lain selain menyerah.

Setelah ponsel terbuka, Azizah dengan gesit membuka aplikasi catatan dan mengetik pesan dengan cepat. Ia menunjukkan layar itu tepat di depan wajah suaminya.

‘Aku sedang datang bulan!’

Ezra menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya pada barisan huruf di layar ponsel. Begitu menyadari isi tulisan itu, ia melepaskan kungkungannya.

“Ck, sialan! Pergi sana!” umpat Ezra kasar. Ia segera menjauhkan tubuhnya, berbaring di sisi ranjang, dan menutup wajahnya dengan lengan.

Azizah tidak menunggu sedetik pun. Ia segera bangkit dan berlari keluar dari kamar itu. Meninggalkan Ezra yang kembali terlelap dalam pengaruh alkohol.

Flashback off

Azizah membuang napas panjang. Kakinya masih terasa lemas jika mengingat betapa dekatnya ia dengan kehancuran semalam.

......................

Ezra terbangun dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu. Ia meringis, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Kesadarannya masih berkabut. Menyisakan kepingan memori yang terputus-putus.

“Apa yang terjadi semalam? Bagaimana bisa aku sampai di rumah?” tanyanya pada diri sendiri.

Ia hanya ingat suasana club yang bising dan minuman yang tidak henti-hentinya ia telan ke tenggorokan.

Karena rasa mual yang melanda, ia memutuskan turun ke dapur untuk mencari sesuatu yang segar. Langkahnya yang masih tidak stabil terhenti saat ia melihat sosok Azizah sedang sibuk dengan kegiatan memasak di dapur.

“Siapa yang mengatarku semalam?” tanya Ezra dengan suara parau, sambil melanjutkan langkahnya.

Azizah menoleh secara spontan. Begitu melihat wajah Ezra, insting pertahanannya langsung bangkit. Wajahnya pucat pasi, dan tanpa sadar, ia memegang pisau dapur dengan posisi melindungi diri. Sebuah reaksi traumatis yang tidak bisa ia sembunyikan.

Ezra menatap pisau itu dengan dahi mengernyit. Reaksi Azizah tampak begitu berlebihan di matanya.

“Turunkan pisaumu! Kau ingin membunuhku, hah?!”

Sadar akan tindakannya, Azizah segera meletakkan pisau itu dengan gemetar. Tangannya beralih merogoh saku celemek dan mengeluarkan ponselnya.

‘Semalam, teman Mas yang mengantar Mas pulang, namanya kalau tidak salah Tiko dan Bagas.’

Ezra terdiam sejenak. Ingatan tentang dua pria itu mulai muncul samar-samar di benaknya. Ia memijat kembali pelipisnya, “Sekarang aku ingat. Lalu... apa ada kejadian lain?”

Azizah meremas ponselnya. Ia takut, namun ia tidak bisa terus-terusan menutupi kenyataan.

“Cepat katakan!” desak Ezra, nada suaranya berubah penuh curiga setelah melihat ketakutan yang terpancar di mata Azizah.

Azizah menarik napas panjang. Mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa seperti akan melompat dari dada. Ia kembali mengetik sebuah kalimat dan menunjukkannya dengan hati-hati.

‘Mas semalam... berteriak menuntut hak sebagai suami.’

Sesaat, keheningan menyelimuti dapur. Namun yang keluar dari bibir Ezra bukanlah rasa malu, melainkan tawa sinis yang menyakitkan.

“Aku? Meminta hakku padamu?” Ia menggeleng keras, seolah menganggap hal itu sebagai lelucon paling buruk yang pernah ia dengar, “Tidak mungkin! Aku tidak percaya itu. Pasti kau yang memanfaatkan keadaanku yang tidak sadar. Lalu sekarang kau mencoba mengikatku dengan hubungan itu, mungkin mengaku-ngaku sedang mengandung anakku? Itu pasti tujuanmu agar aku luluh, kan?”

Astaghfirullaahal'adziim, batin Azizah. Dadanya terasa sesak. Tuduhan itu begitu kejam. Melukai harga dirinya lebih dari sekadar kata-kata kasar.

Ezra kembali tertawa, kali ini lebih meremehkan, “Ck, ck, skenariomu terlalu klise, Azizah. Lagipula, mana mungkin aku sudi menyentuh wanita dari desa sepertimu? Jangan harap!” Ezra kemudian membuang muka, berjalan menuju kulkas dan membukanya dengan kasar.

Azizah mematung. Pria itu benar-benar sudah keterlaluan. Jika saja Ezra tahu, Azizah bahkan lebih tidak sudi lagi memberikan mahkotanya pada pria yang memiliki hati sekeras batu dan selidah setajam silet itu.

Hawa dingin yang menyembur dari dalam kulkas justru memicu gelombang mual yang lebih hebat di perut Ezra. Pria itu buru-buru menutup pintu kulkas dengan kasar dan berlari ke arah wastafel. Suara muntahannya yang keras memenuhi sudut dapur.

Ezra melirik ke arah Azizah. Wanita itu masih berdiri mematung di tempatnya dengan ekspresi datar.

“Kenapa kau hanya diam?!” seru Ezra di sela-sela rasa mualnya, “Apa kau tidak melihatku muntah?! Huek... Huek...”

Azizah melangkah mendekat dengan perlahan. Ia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menyodorkannya ke arah Ezra.

‘Mas yang bilang tadi tidak sudi untuk menyentuhku. Lalu apa sekarang? Mas mau aku memijat tengkuk Mas? Apa itu tidak salah? Nanti jangan-jangan aku menularkan virus mematikan pada tubuh Mas. Lagi pula, salah Mas sendiri yang hobi mabuk-mabukan. Padahal itu termasuk perbuatan maksiat dan berdosa besar.’

Wajah Ezra memerah. Bukan hanya karena efek mabuk, tapi karena emosi yang meluap.

“Kau! Beraninya kau melawanku?!” Ia mengusap sisa cairan di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menegakkan tubuhnya.

Azizah menghela napas panjang. Memilih untuk menelan egonya demi situasi yang lebih tenang. Ia kembali mengetik.

‘Aku akan membuat sup pereda mabuk. Hitung-hitung obat gratis agar Mas bisa bekerja hari ini.’

Setelah membaca pesan itu, Ezra terdiam. Ia mengepalkan tangannya di tepi wastafel, berusaha menahan amarah yang masih membara. Namun perutnya yang terkocok hebat membuat bayangan sup hangat buatan Azizah terdengar sedikit lebih menggoda daripada rasa bencinya sendiri.

Ezra memilih berbalik dan menyeret langkahnya menuju meja makan, lalu menjatuhkan diri ke atas kursi. Matanya yang sayu terus mengikuti gerak-gerik Azizah di dapur. Walaupun Ezra mencoba menutupi, ada rasa ketergantungan yang mulai menyelinap di tengah rasa muaknya terhadap keberadaan wanita itu.

Beberapa menit kemudian, semerbak aroma gurih yang menenangkan menguar dari dapur. Azizah mendekat ke meja makan. Ia meletakkan semangkuk sup hangat berisi taoge, lobak putih, dan potongan daging sapi yang empuk di hadapan Ezra.

Tanpa sadar, Ezra memejamkan mata sesaat. Membiarkan aroma sup itu masuk ke indranya dan sedikit meredakan denyut di kepalanya. Namun kedamaian itu terusik saat Azizah menyodorkan ponselnya dengan tulisan yang tajam.

‘Jujur saja Mas. Mas marah padaku dan berusaha menyingkirkanku, tapi di sisi lain, Mas juga menyukai masakanku. Bukankah itu namanya gengsi?’

Ezra mendelik. Kalimat itu terasa seperti tamparan telak yang mengenai harga dirinya. Belum sempat ia membalas, layar ponsel Azizah kembali menyala dengan kalimat yang lebih panjang dan berani.

‘Aku tidak peduli Mas membenciku seperti apa. Tapi setidaknya kontrol tutur kata Mas. Jangan lagi mengeluarkan kata-kata kasar. Kemarin Mas menuduhku sebagai wanita pengadu. Apa Mas tidak takut aku mengadu lagi soal sikap Mas padaku selama ini? Ingat ya Mas, jika aku pergi sekarang, yang dikorbankan itu adalah Mama.’

Ezra seketika memalingkan wajah, menolak menatap mata Azizah yang tampak lelah namun tegas. Ia terdiam. Kalimat soal ibunya terasa seperti duri yang menusuk kesadarannya.

‘Cepat makan, Mas. Aku akan menyiapkan pakaian kerja Mas sekarang,’ tutup Azizah sebelum ia berbalik dan melangkah pergi menuju lantai atas.

Sepeninggal Azizah, Ezra tertinggal dalam keheningan ruang makan. Pikirannya berkecamuk.

Apa aku terlalu keterlaluan? Batinnya berbisik.

Namun ego pria itu segera menepis keraguan itu. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Ini semua adalah paksaan. Belenggu yang membuatnya tidak bisa hidup bebas bersama orang yang ia inginkan. Lalu, kenapa ia harus bersikap lembut pada orang yang menjadi penghalang kebahagiaannya?

Ezra menggeleng keras, mencoba mengusir nurani yang mulai terusik. Kepalanya kembali berdenyut, memaksanya untuk berhenti berpikir.

Dengan gerakan enggan, ia menyendok kuah sup itu dan menyesapnya. Rasa hangat yang menjalar di tenggorokannya seketika membuat matanya terbuka lebar. Matanya terpejam sejenak. Bukan karena pening, tapi karena rasa sup itu memang benar-benar mampu menjinakkan rasa tidak enak di perutnya. Ia mengangguk-angguk kecil, mengakui dalam diam bahwa masakan wanita itu memang tidak bisa ia tolak.

1
Ariany Sudjana
waduh, siapa yang menculik Azizah? semoga Azizah baik-baik saja dan bisa diselamatkan. mana Azizah ga bisa bicara lagi /Sob/
Ariany Sudjana
wah semangat yah Azizah, kamu harus tetap bersemangat untuk bisa melanjutkan studinya
Cici Sri Yunita
bagus
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa bersuara lagi dan jadi wanita mandiri
Lilik Juhariah
Ezra Ezra Ezra
Lilik Juhariah
syukurlah sudah lebih baik hubungan mereka
Ariany Sudjana
hahaha Ezra bucin akut
Ariany Sudjana
puji Tuhan, kehidupan rumah tangga Ezra dan Azizah semakin membaik. ayo semangat Ezra untuk bisa berjalan dengan baik, dan Azizah juga semangat untuk ikut terapi, supaya bisa berbicara lagi
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa buat Ezra sholat dan menjalankan perintah NYA
Lilik Juhariah
baguslah , Ezra kembali jadi manusia lagi , bukan robot yg gak punya hati Krn dendam
Ariany Sudjana
iya, semoga Azizah bisa kembali berbicara, supaya tidak harus selalu membalas dengan hp setiap pertanyaan dari Ezra atau orang lain
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Ezra sudah boleh pulang, tinggal Azizah nih, semoga bisa kembali berbicara, supaya komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar
Lilik Juhariah
Zizah istri Sholehah, tiap untaian kata mu bikin aku tercengang, dalam banget maknanya , aku sukaaa
Lilik Juhariah
terus dirimu dg shiena , sampe segimana hubunganmu sampe jd orang bodoh Zra
Ariany Sudjana
semangat terus yah Ezra untuk sesi terapi, bersyukur kamu punya istri yang bijak seperti Azizah, bukan pelacur murahan kesayangan kamu itu
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Ezra dan Azizah semakin membaik. seandainya Azizah bisa bicara, komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar dan rumah tangga mereka bisa lebih baik
Zia Zee
Terimakasih sudah up ya kak author🥰
Ariany Sudjana
asli part ini /Sob/ Azizah sangat dewasa dalam berpikir, semoga hubungan kalian semakin membaik
Lilik Juhariah
dewasa sekali Zah , tapi coba tanya ke Ezra apa dia pernah berzina dh shiera
Lilik Juhariah
rawat aja Zah , dari awal kamu wanita berprinsip , tapi tidak cengeng, jaga jarak sesuai kesepakatan yg pernah Ezra bilang padamu , biarkan Ezra mencintaimu dan menghargai keberadaan mu dulu,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!