Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dirop
Jill berjalan gontai menuju kantor usai mengerjakan rutinitas saat jam istirahat di mes, mandi lalu makan siang di kantin. Ia membuka pintu ruangan dan mendapati kelima cowok ganteng sudah duduk melingkari meja.
Jill salut pada abang-abang ganteng yang bekerja satu tim dengannya, mereka begitu gigih, disiplin dan rajin. Lihat saja, tepat jam satu mereka sudah lebih dulu berkumpul di ruangan sebelum Jill tiba. Sementara Jill masuk lima menit lebih lambat dibanding mereka. Maklum, cewek. Dandannya saja memakan waktu sekian menit, belum mandinya yang butuh waktu agak lama.
Alif dan lainnya membahas pekerjaan yang tidak optimal di lapangan. Zaflan melapor ada banyak pekerjaan yang tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan management, dan Alif meminta Jill untuk segera membuat laporan tertulis di laptop mengenai hasil pekerjaan hari ini berdasarkan konsep yang dibuat oleh Zaflan dan lainnya.
Usai mengerjakan tugasnya, Jill termenung sebentar mengingat orang-orang yang menatapnya heran sepanjang ia berjalan menuju kantor. Ia merasa seperti selebritis dadakan. Semua mata terfokus ke arahnya. Entah karena ia tampak asing di mata mereka, atau memang mereka yang gumun melihat orang baru.
Jill tidak sadar bahwa ia terlihat begitu cantik dan tidak pantas berada di perkebunan itu. Dengan wajah sempurna ditambah postur tubuh ideal, tentu menarik untuk dipandang mata. Ia lebih pantas menjadi seorang model.
Dibalik semua itu, Jill merasa beruntung karena menemukan satu hal menarik saat berjalan menuju kantor, ia menghirup udara segar. Ia merasakan betapa nikmatnya kesejukan udara tanpa debu dan polusi.
Jill merapikan duduk ketika pintu terbuka dan seorang pria berkemeja putih masuk. Pandangan Jill menyapu penampilan pria berbadan agak gemuk itu. Sendal agak kusam, kemeja seadanya yang tidak dimasukkan ke dalam celana dan rambut basah oleh minyak. Tubuhnya tinggi dan gagah, kulit putih, mata sipit dan mulut bulat kecil. Jill menebak usianya sekitar empat puluhan tahun. Pria itu sekilas menoleh ke arah Jill. Tanpa senyum ataupun bertegur sapa, pria bertubuh tinggi itu berjalan melewati pintu berkaca bening dan memasuki ruangan Jeff.
“Itu siapa?” tanya Jill pada Alif.
“Pak Achen, beliau adalah direktur operasional di sini,” jawab Alif.
“Direktur lagi? Mana yang lebih tinggi jabatannya dengan Direktur IC?”
“Maksudmu Pak Jeff?” Alif balik tanya.
“He’em.”
“Tentu lebih tinggi jabatan direktur operasional. Di sini, yang memegang jabatan paling tinggi adalah Pak Achen. Beliau adalah atasan Pak Jeff juga.”
“Ooh...”
“Keliatannya orangnya galak, sama kayak Pak Jeff.”
“Hahaaa... Dari mukanya aja udah keliatan, ya?” Zaflan tergelak.
“Iya, sangar gitu. Apa mayoritas orang yang memiliki jabatan tinggi itu harus bertampang sadis kali ya? buktinya, Pak Achen dan Pak Jeff sama-sama galak, sama-sama bermuka sadis.”
“Enggak juga. Ini kebetulan aja,” sahut Alif. “Sebenernya mereka baik kok. Tapi terkadang mereka harus tegas dan galak demi menjaga kewibawaan.”
“Tapi kan nggak harus sangar gitu juga kali. Trus pelit senyum lagi. Apa salahnya itu bos tadi bertegur sapa, kek. Minimal ngelontar senyum gitu.”
“Kalau Pak Achen senyum, entar kamu terpesona lagi. Hahaaa...” Zaflan menggoda.
Jill nyengir lebar. Melihat muka Pak Achen yang culas saja, ia sudah mules. Bagaimana ia bisa terpesona? Andai saja ia kena semprot Pak Achen, mungkin efeknya bisa lebih parah dari pada dimarahin oleh Jeff.
TBC