tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang putra kiyai
Sepasang sendal jepit dipakai kembali setelah mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim, lalu beranjak pergi ke salah satu kamar bilik yang mana didalamnya terdapat berbagai kitab-kitab kuning mengenai ilmu alat. Mengingat kembali bahwa acara muhadoroh besar-besaran akan di adakan sebentar lagi dan hal itu menjadi pembuktian akan penguasaan ilmunya selama tiga bulan kebelakang.
Setibanya didepan pintu kamar, tiba-tiba seseorang menahannya untuk tidak memasuki ruangan, karenanya ruangan itu sebentar lagi akan dirobohkan untuk diambil alih sebagai lapangan untuk pemakaman umum.
"Jangan masuk kedalam!" ucapnya yang tak lain adalah Nahrawi putra dari seorang kiyai pesantren ini.
"Ma_maaf. Tapi saya hanya sekedar ingin mengambil kitab saja," Zim menundukan kepalanya seketika, bahkan dirinya juga berusaha tidak menunjukan wajahnya dihadapan putra kiyai itu karena malu, lantaran bagaimanapun nahrawi juga sudah dianggap sebagai salah satu pengajar dipesantren ini, Hampir seluruh ilmu alat telah ia kuasai setelah berhasil lulus dari pondok pesantren Al Alawiyyah Bogor selama bertahun-tahun.
Bagi mereka melihat wajah gurunya sama saja dengan berani menentang keputusan yang telah di ucapkan, dan hal itu tidaklah sepatutnya untuk dilakukan.
"Nanti saya akan antar kan ke kamar kamu!" pungkasnya tegas.
"Iya," Zim masih menahan dirinya untuk tidak bergerak sedikitpun sampai putra kiyai itu berlalu pergi.
huuhhh selamet, pikirnya. Lalu kembali ke kamar asalnya tanpa membawakan hasil.
"Maaf gue gak bawa apa–apa."
Melihat suasana kamar yang sepi dan hening, karena ketiga temannya yang masih saja tertidur pulas disore hari bahkan akan mendekati waktu datangnya adzan Maghrib, membuat Zim merasa sedikit kesal seraya mengepalkan tangan kanannya. Lalu
Tokkk!!!
Kepalan tangan itu mendarat tepat di dahi ketiga temannya yang masih saja tertidur, sontak membuat mereka terbangun meski hanya sesaat seraya berkata tanpa sadar.
"Aduuuh apaan sih lho!" Bono berkata sambil menguap lalu melanjutkan tidurnya.
"Dasar kambing! udah sore ini, udah jam setengah lima! masih aja tidur kaya kebo!"
"Hallah, emang kenapa kalo udah sore?"
"Masih nanya lagi, apa lho belum tau kalo tidur di sore hari itu akibatnya bakalan blablablabla!" kata Zim memarahi ketiga temannya itu seraya mengeluarkan hadis sebagai pembuktian akan dalilnya.
...من نام بعد العصر فاختُلس عقله فلا يلومنَّ إلا نفسه...
“Barangsiapa yang tidur setelah ashar kemudian akalnya hilang, maka janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri”
"Helleh, hadis do'if aja dipelihara," cercanya hingga membuat Zim harus memukulnya dengan sangat keras untuk yang kedua kalinya.
"Assalamualaikum."
Sapa Nahrawi masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu meletakan belasan kitab tebal mengenai semua penjelasan dari ilmu nahwu dan sorof.
"Kau bisa langsung membacanya selagi masih ada waktu 7 hari!, jika kau berhasil menghapal seluruh kitab ini, maka aku akan merasa bangga padamu dan langsung mengangkat mu sebagai satu-satunya murid teladan yang mendapatkan pendidikan khusus dari ku saja!" ujar Nahrawi datar. Sikapnya begitu dingin, bahkan kepada perempuan pun ia tidak pernah melirik walau hanya sekali saja, terkecuali kepada ibunya sendiri. Bukan karena sombong, melainkan tak ingin memperlihatkan keistimewaannya kepada orang lain, dan masuk kedalam salah satu golongan yang memiliki sifat ria, biarkan saja mereka melihat putra dari seorang kiyai itu dari sisi buruknya saja dan tidak tahu apa kelebihan yang sebenarnya ia punya.
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣