Info!!!! Ini lanjutan dari Novel Istri Nakal Dokter Aziz.
🍁Fadila & Farhan🍁👫
Fadila Annisa Zakri, di hari ulang tahunnya yang ke 18 tahun, dia mendapatkan kado istimewa. Fadila tiba-tiba di lamar oleh pria yang bernama Farhan Aqmora Ahman. Farhan adalah Dosen sekaligus asisten di Laboratorium tempat di mana Fadila kuliah.
Farhan sudah cukup umur, tapi umurnya tidak menjamin kedewasaannya. Pria itu menjadi tegas setelah mendapatkan nasehat dari orang terdekatnya.
Apakah Farhan bisa terus tegas? Atau dia akan kembali menjadi pria yang dibimbing oleh istrinya.
Mari simak kisah romantis mereka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu di sindir
Fadila duduk di samping Nikollas. Sementara Farhan duduk di samping Helene. Farhan dan Helena terus membahas masa lalu mereka. Membuat Nikollas dan Fadila saling tatap dan ingin kabur saja dari hadapan Farhan dan Helene.
"Sudah jam sepuluh malam tapi Tante itu masih betah bertamu. Haruskah aku menjadi pendengar setia sementara tugasku menumpuk. Berdosa kah aku bila ke kamar dan mengerjakan tugas-tugas ku" batin Fadila.
"Baru kali ini aku melihat tamu dan tuan rumah tidak tahu malu" batin Nikollas.
Waktu begitu cepat berlalu. Kini jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam dan Farhan masih cekikan dengan Helena. Entah pria itu kurang pengetahuan atau memang kebiasaan mereka seperti itu. Sangat memalukan!
"Sepertinya suamimu dan sahabatnya menganggap kita ini musik hingga keduanya tidak mengajak kita bercerita" bisik Nikollas.
"Aku siap berdosa malam ini. Aku istrahat duluan ya, Kak" ujar Fadila memelankan suaranya.
"Tante Helena, Om Farhan, aku pamit ya. Mataku sudah berat" kata Fadila memberanikan diri lalu beranjak dari sofa.
"Iya, Sayang. Selamat tidur" balas Helena tersenyum.
"Dua tahun tidak bertemu bukan berarti jadi bodoh. Bisa-bisanya dia membiarkan aku duduk tanpa diajak bercengkrama. Sepertinya aku menyesal menikah muda" batin Fadila mendengus kesal.
"Aku juga mau istrahat" kata Nikollas lalu beranjak dari sofa.
"Dasar tamu tidak tahu malu!! Apa dia kira ini jam delapan!" gerutu Nikollas dalam hatinya.
"Kenapa Helena belum pamit pulang. Jika seperti ini aku bisa di depak dari kamar" batin Farhan. Pria itu sebenarnya ingin beristirahat tapi Helene terus menerus menghadirkan topik pembicaraan yang tidak ada habisnya.
Pukul 00:00 AM
Helena mulai menguap, wanita dua puluh sembilan tahun tiga puluh satu hari itu, baru menyadari jika waktu sudah menunjukan pukul satu malam. Tanpa malu dia berkata. "Besok malam aku ke sini lagi. Maaf sudah mengganggu kalian" ujarnya tersenyum.
"Hati-hati ya. Sampai jumpa di kampus" kata Farhan menarik senyum.
Setelah kepergian Helena, Farhan berlari menuju kamarnya. Pria itu mendengus kesal saat pintu kamar terkunci dari dalam. "Tuh kan, aku di depak dari kamar!" Farhan menggerutu sambil mengacak acak rambutnya.
"Makanya Om. Jadi laki harus ingat status. Udah nikah tapi masih hak hik dengan wanita lain. Mala jadikan istri dan tetangga sebagai obat nyamuk lagi. Rasain tuh, dikunci kan dari dalam kan!" sindir Nikollas berlalu ke dapur mengambil air.
Farhan kembali mengacak acak rambutnya di depan pintu. Bukan maunya pria itu membiarkan tamu bertamu hingga larut malam tapi itulah kebiasaan Helena yang kalau bertamu tidak ingat waktu.
Cek--lek...
Fadila membuka pintu kamar. Wanita itu mengerutkan kedua keningnya menatap suaminya di depan pintu kamar. "Sepertinya aku tidak menyewa scurty untuk berjaga di depan kamar. Tapi kok ada pria berdiri di depan kamarku" gumam Fadila dengan santai.
"Kakak, apa Kakak nggak lapar?" tanya Fadila saat melihat Nikollas dari dapur.
"Sebenarnya aku lapar. Tapi aku cukup tahu diri kalau aku ini numpang di rumah kalian, jadi aku nggak berani makan tanpa diajak makan" jelas Nikollas tertawa kecil.
"Aku juga lapar kak. Sejak tadi aku lapar tapi suamiku berencana membunuhku" kata Fadila menggeleng sedih lalu menghampiri Nikollas.
"Ayo kita makan. Menjadi obat nyamuk juga butuh energi" ajak Fadila.
Farhan menelan saliva nya. Pria itu terus disindir oleh Nikollas dan Fadila. "Sebenarnya aku juga lapar. Tapi aku banyak membuat kesalahan malam ini. Haruska aku gabung dengan mereka atau besok pagi saja baru aku makan" batin Farhan.
Setelah makan, Fadila dan Nikollas kembali ke kamar masing-masing. Di dalam kamar, Farhan duduk di tepi ranjang menunggu istrinya masuk kamar. Seulas senyum tersungging saat melihat pintu kamar terbuka.
"By, ayo kita istirahat" ajak Farhan.
"Berdosa kah aku bila menolak ajakan suami, dengan alasan aku harus mengerjakan tugas kampus?" tanya Fadila mengambil tempat di sofa yang ada di dalam kamar. Sofa yang hanya bisa muat tiga orang dan itu hanya satu saja.
"Apa tugasmu masih banyak?" tanya Farhan dengan lembut.
"Lumayan. Om istirahat saja. Aku mau bertempur dengan tugas-tugas ku dulu" kata Fadila mengambil pulpennya.
"Andai aku kerjakan sejak tadi, maka di jam dua belas tadi aku sudah bisa istirahat. Kalau kayak gini terus aku jadi menyesal menikah muda. Terlebih lagi menikah saat masih kuliah" gumamnya mendengus kesal.
Degh!! Lagi-lagi ucapan Fadila membuat Farhan menelan saliva nya. "Ya Allah, mulut istriku tajam betulan. Sindirannya itu selalu tepat sasaran" batin Farhan.
...----...
Pukul 04:01 AM
Farhan mengerjab, meraba di bagian tempat tidur istrinya namun tidak ada tanda-tanda kalau istrinya tidur seranjang dengannya. Matanya membulat saat melihat istrinya masih berkelut dengan pulpen dan kertas double folio di meja.
"Suami macam apa aku. Membiarkan istri nggak tidur semalaman. Harusnya aku membantunya bukannya tidur nyenyak di kasur empuk ini" batin Farhan.
"By" Farhan menghampiri istrinya. Mengambil tempat di samping sang istri. "Aku pijitin bahu mu ya. Maafkan aku yang nggak sempat membantumu" kata Farhan sambil memijat kedua bahu istrinya.
"Hahahahaha. Om Farhan nggak tahu kalau aku belum lama bangun, dan langsung melanjutkan kegiatan yang tertunda ini" batin Fadila penuh kemenangan.
Adzan subuh berkumandang, Farhan menghentikan kegiatannya lalu ke kamar mandi mencuci muka dan mengambil air wudhu. Kemudian bersiap-siap ke masjid. Pria itu tersenyum saat melihat Nikollas ke luar dari kamar mengenakan baju kokoh.
"Ayo kita ke masjid sama-sama" ajak Farhan.
"Iya" balas Nikollas.
Nikollas dan Farhan ke masjid. Dalam perjalanan, Farhan melirik Nikollas. Ada sesuatu yang ia ingin tanyakan tapi ia malu. Malu karena umurnya sudah tua dan malu karena Nikollas masih anak-anak menurut Farhan.
"Niko, apa menurutmu apa yang terjadi semalam itu wajar?" tanya Farhan.
"Udah jadi dosen tapi masih oon" sindir Nikollas. Ucapannya setajam ucapan Fadila.
"Wajar orang bertamu di rumah. Yang nggak wajar itu suami cekikan dengan temannya tapi lupa kalau di depan mereka ada orang yang dijadikan obat nyamuk. Mana sampai lupa makan lagi" sambungnya tersenyum sinis.
"Hih!! Kamu seperti perempuan!" gerutu Farhan berjalan melewati Nikollas.
"Mampus. Diserang dengan kalimat pedas baru tahu rasa. Aku yakin, Fadila pasti mengabaikannya" gumam Nikollas tersenyum lebar.
"Ini semua karena Helena. Kenapa kebiasaannya nggak hilang-hilang sih!" gerutu Farhan. "Aku kan yang jadi korban Fadila dan Nikollas" ketusnya.
"Aku harus mencari cara agar Helena nggak bertamu setiap malam. Jika Helena datang bertamu terus menerus maka malam pertamaku akan tertunda juga. Fadila bukan istri sembarang istri. Wanita itu galak benar. Hih, bisa-bisa aku nggak dapat jatah" batin Farhan.
Farhan oh Farhan,kau suami idaman.kalo suamiku......jangankan masak, rebus air aja bisa di hitung dengan jari lima 🤣
dan buatlah niko tuk tinggal bersama dengan pak asiana thorr 🙏✌
semoga Niko dan Ummu tidak seperti ke dua orang tua nya ...
semangaatt Niko ....💪💪💪
kalo Fadilah dari bayi ,ibu Amrita sudah tidak ada ...
berharap surlin segra tau kebenarannya tentang isi hatinya ibunya niko 🙏✌