Cerita ini menceritakan tentang. Seorang lelaki yang selalu disuruh agar cepat mencari pendamping di umurnya yang hampir mengajak ke 29tahun.
Bagaimana kah kisah selanjutnya!
apakah dia bisa mencari seorang wanita idaman keluarganya?
Atau justru dia harus menerima perjodohan dari keluarganya?
Semakin aku sering bersamanya.
Maka semakin besar rasa cinta yang ku berikan kepadanya.
Semakin besar cintaku padanya.Maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kurasakan nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja.21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Kakak dari adik ipar.
Tok. Tok... Xiodi mengetuk pintu kamar mandi itu. Adit pun membuka pintu itu, dan hanya mengeluarkan tangan kirinya untuk menerima handuk yang Xiodi bawa.
Xiodi yang masih ada di sana pun, melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
"Dimana Aldi." tanya Adit kepada Xiodi, sambil berjalan menuju ruang ganti.
"Ada di taman sama Zila." jawab Xiodi, yang masih mematung di tempat semula dia memberi handuk kepada Adit.
Setelah beberapa menit Adit keluar dari ruang ganti. Dan duduk di kursi meja rias istrinya sambil menyisir rambutnya.
"Mana kopi saya." tanya Adit kepada Xiodi yang menyapu kamar.
"Itu ada di laci Tuan." jawab Xiodi.
Adit pun mengambilnya dan kembali duduk di kursi meja rias istrinya, karena di kamarnya Xiodi tidak ada sofa.
"Apa kamu akan manggil saya Tuan terus, saya enggak mau jika orang tuamu berpikir kalau saya jahat." icap Adit sambil meminum kopi buatan istrinya.
"Panggil saya Adit saja." ucap Adit lagi.
"Saya tidak bisa Tuan." jawab Adit.
"Kenapa, apa anda ingin membuat saya jelek di depan orang tuamu." tanya Adit.
"Bukan begitu Tuan." jawab Xiodi yang sudah selesai menyapu kamarnya.
"Lalu." ucap Adit.
"Anda lebih tua dari saya, jadi saya tidak bisa memanggil anda, hanya dengan sebutan nama saja." jawab Xiodi yang duduk di ranjang.
"Kita hanya beda lima tahun saja." tanya Adit.
"Tapi saya tidak bisa Tuan." ucap Xiodi kekeh.
"Terserah anda saja, tapi saya tidak mau anda memanggil saya Tuan." ucap Adit berdiri dan keluar kamar meninggalkan Xiodi.
"Sore Bu." sapa Adit kepada ibu mertuanya setelah sampai dilantai bawah.
Ny.Clea yang dipanggil dengan sebutan Ibu iya amat sangat senang.
"Sore juga Tuan." jawab Ny.Clea sambil menunduk.
Pasalnya Ibu Xiodi baru bertegur sapa dengan Adit sore ini, karena tadi pagi hanya makan bersama, tak ada obrolan dengan menantunya itu.
"Panggil saja Adit Bu, karena sekarang Adit menantu Ibu, dan jangan menunduk Bu jika bicara sama Adit, karena Adit lebih muda jadi Ibu enggak perlu seperti itu." ucap Adit.
"Iya nak Adit." jawab Ny.Clea.
"Oh.. Iya Bu, Al ada dimana." tanya Adit.
"Ada di taman sama Zila." jawab Ny.Clea.
Adit pun menghampiri anaknya di taman.
"Daddy." teriak Aldi saat melihat Daddy Adit.
"Kamu udah mandi Al." tanya Adit kepada anaknya
" Cudah tadi di mandiin Tatak Dila."jawab anak itu.
"Sore Kakak ipar." sapa Zila yang ada di sana.
"Sore." jawab Adit.
"Kakak ipar, boleh enggak kalau Zila panggil Kakak ipar dengan panggilan Gege." tanya Zila yang mudah bergaul atau emang enggak punya malu.
"Gege." ucap Adit mengulangi ucapan adik iparnya.
"Iya Gege itu panggilan sama seperti Kakak atau Abang." jawab Zila menjelaskan kepada Kakak iparnya.
"Itu terserah anda saja." jawab Adit tanpa ekspresi.
Setelah pembicaraan dengan Zila di taman, Adit menggendong Aldi ke dalam rumah.
Malam hari di kamar Xiodi.
"Pak." panggil Xiodi.
"Siapa yang anda panggil Pak." tanya Adit yang ada di samping Xiodi.
Karena hanya mereka berdua yang ada di dalam kamar, Aldi dia ada bersama Abuelo dan Abuelanya.
"Anda Tuan." jawab Xiodi, yang ber senderan di kepala ranjang.
"Apa! Kenapa manggil saya Bapak, saya bukan Bapak anda." tanya Adit dengan posisi sama seperti Xiodi.
"Katanya enggak boleh panggil Tuan, jadi saya manggil Pak." jawab Xiodi.
"Tapi jangan Bapak juga." ucap Adit.
"Saya enggak manggil Bapak, saya panggilannya Pak." jawab Xiodi membuat Adit jengkel.
Xiodi sangat licik apa bedanya Pak dengan Bapak.
"Terserah." jawab Adit.
"Tolong pijit punggung saya." ucap Adit sambil mengubah posisi menjadi tengkurap.
Xiodi sebenarnya dia sangat lelah, namun gimana lagi dia harus melakukannya.
"Tapi kenapa enggak pakai baju." tanya Xiodi, karena Adit mencopot bajunya sebelum berbaring tadi.
"Hoodie lakukan saja, atau mau saya nyuruh anda buat olahraga malam lagi." jawab Adit.
"Baiklah." ucap Xiodi sambil bergeser dekat Adit.
Xiodi pun memijat punggung Adit. Sudah hampir dua puluh menit Xiodi memijat dengan halus.
"Heh.. Hoodie anda itu memijat atau apa, ini terlalu halus coba lebih keras." ucap Adit.
"Apa segini cukup." tanya Xiodi sedikit menambah pijatan di punggung Adit.
"Hmmmm." jawab Adit.
Enak sekali orang ini, aku yang lelah kenapa dia yang minta dipijit.
"Pak." panggil Xiodi.
"Hmmm." jawab Adit yang mau di panggil Pak oleh istrinya.
"Apa besok saya boleh ke salon saya." tanya Xiodi yang masih memijat suaminya.
"Terserah kamu saja." jawab Adit yang keenakan dipijit Xiodi.
Hem.. lumayan juga pijatan si Hoodie ini. Biarin sampai satu jam, biarin dia lelah.
"Saya besok akan ke kantor pagi, jadi kamu harus bangunin saya agar tidak telat." ucap Adit kepada Xiodi.
"Emang jam berapa, saya harus bangunin Pak." jawab Xiodi, yang sudah lelah karena memijit Adit.
"Jam 05:00 pagi, besok saya ada pertemuan penting. " jawab Adit sambil memejamkan matanya.
"Pak." panggil Xiodi lagi.
"Apa." jawab Adit nyolot karena Xiodi selalu memanggilnya Pak, Pak terus.
"Saya sudah lelah Pak, ini sudah satu jam." ucap Xiodi yang memberanikan bilang kepada Adit.
"Tapi saya belum bilang sudah, jadi lanjutin, sampai saya bilang cukup." ucap Adit. Sudah satu jam dua puluh menit Xiodi memijit Adit namun Adit tak kunjung bilang cukup.
"Sana panggil Aldi, kita tidur sudah malam." ucap Adit.
Xiodi bangkit dan berjalan kearah pintu.
Xiodi jalan menuju kamar Tuan Wiratama untuk mengajak Aldi tidur karena sudah malam. Setelah Aldi ada di dalam gendongannya dia kembali ke kamarnya.
"Daddy." panggil bocah itu kepada Adit.
"Ayo cepat kita tidur Al." Ucap Adit kepada anaknya.
Mereka pun terlelap namun mereka melupakan satu hal yang biasanya menjadi rutinitas Aldi. Aldi dia belum buang air kecil sebelum tidur.
Di Kamar Zila.
Adik Xiodi dia masih terjaga di jam 12.00 malam ini. Dia seperti memikirkan sesuatu. Perempuan itu mondar-mandir seperti mencari cara untuk meluncurkan aksinya.
"Gimana caranya, agar Kakak dan Gege bisa lebih dekat." ucap Zila kepada diri sendiri.
"Tadi saat aku tanya Aldi. Katanya setelah Kakak jadi Emmomynya dia selalu tidur bertiga, itu berarti Kakak dan Gege tidak pernah tidur berdua." ucap Zila lagi.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, agar mereka tidur berdua." tanya Zila ke diri sendiri.
Zila berjalan ke arah meja belajarnya dan mengambil sesuatu. Kemudian dia keluar kamarnya dan menuju ke kamar Kakaknya, yang ada di samping kamarnya. Kemudian dia menutup pintu kamarnya, tak lupa Zila membawa ponselnya untuk melancarkan aksinya.
Setelah di depan kamar Kakaknya Zila mencari kunci cadangan kamar Kakaknya. Dan akhirnya Zila mendapatkan kunci cadangan itu.
Berbeda dengan Zila. Bocah kecil yang ada di dalam kamar Xiodi, Bocah kecil itu terbangun karena dia pengen buang air kecil.
Namun orang yang ada di sampingnya tak kunjung mendengar panggilan bocah itu. Zila yang ada di luar kamar Xiodi dia menyalakan batere ponselnya. Untuk melihat dalam kamar Xiodi. Dirasa semua aman Zila membuka pintu kamar Xiodi dengan kunci cadangan. Setelah berhasil dia membuka pintu itu pelan-pelan agar tak membangunkan orang yang ada di dalam.
ceritanya bagus
walau tidak selurus jalan raya
terima kasih untuk author
yang sudah buat cerita nya bagus
dan agak dikit lain.
🙏🙏
sukses selalu buat authornya
Tuhan memberkati selalu🙏
salam kenal 🙏