Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Selalu bikin kesal
Sementara itu...
Perkuliahan akhirnya selesai menjelang sore. Para mahasiswa mulai meninggalkan kelas satu per satu. Revan membereskan laptop dan berkasnya dengan tenang.
Namun pikirannya masih tertuju pada satu hal. Ia masih memikirkan Queen yang tidak masuk hari ini. Padahal biasanya, sesibuk atau secapek apa pun, gadis itu tetap datang ke kampus. Bahkan saat sedang demam ringan sekalipun Queen pernah memaksakan diri hadir hanya karena ada bimbingan.
Hari ini berbeda, dan entah kenapa, Revan merasa Queen benar-benar masih marah akibat kejadian semalam..Setelah semua beres, ia berjalan menuju area parkir dosen.
Langkahnya tiba-tiba melambat. Di dekat gerbang kampus, ia melihat seseorang yang tidak asing. Nathan, pria itu berdiri sambil memainkan ponselnya.
Revan mengernyit. "Ngapain disitu, apa sedang menunggu Queen?" gumamnya dalam hati.
Logikanya langsung menyimpulkan hal yang sama. Jika Nathan memang pacar Queen, mungkin pria itu datang untuk menjemputnya. Namun Queen tidak masuk hari ini.
Revan sempat berniat menghampiri Nathan untuk memberitahukan hal itu. Tapi baru beberapa langkah berjalan, ia mendadak berhenti. Tatapannya menyipit, karena seorang wanita baru saja menghampiri Nathan.
Wanita itu tersenyum lebar lalu berdiri sangat dekat dengannya, tapi wanita itu bukan Queen. Dan yang membuat Revan mengenalinya adalah karena ia pernah beberapa kali melihat gadis itu bersama Queen di kampus. Salah satu teman dekat Queen.
Nathan terlihat tersenyum santai. Bahkan beberapa detik kemudian pria itu merangkul bahu gadis tersebut dengan sangat akrab.
Alis Revan langsung berkerut. Kalau hanya teman biasa, mungkin ia tidak akan berpikir macam-macam. Namun cara Nathan menatap wanita itu, tatapannya sangat berbeda dari sekedar teman.
Revan terdiam, beberapa mahasiswa yang lewat bahkan sempat melirik pasangan itu. Nathan tampak sama sekali tidak keberatan. Malah pria itu membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut.
"Ayo masuk."
Wanita itu tersenyum manis.
"Makasih."
Revan memandang tanpa berkata apa-apa. Bukan urusannya, setidaknya itu yang berusaha ia yakini. Namun satu kalimat Ibu Farah kemarin tiba-tiba teringat di kepalanya.
"Mama sudah selidiki. Pacarnya Queen itu mokondo."
Saat itu semua orang menganggap ucapan Ibu Farah lucu. Tapi sekarang, Revan mulai bertanya-tanya. Apa sebenarnya hubungan Nathan dan Queen baik-baik saja?
Di sisi lain...
Nathan sama sekali tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan. Pria itu masuk ke kursi pengemudi. Sedangkan wanita di sampingnya terlihat tersenyum bahagia. Tak lama kemudian mobil mereka keluar dari area kampus.
Revan masih berdiri di tempat beberapa detik. Tatapannya mengikuti mobil itu hingga menghilang dari pandangan.
Lalu ia menghela napas pelan. "Apa mungkin mereka cuma teman."
Ia berusaha berpikir netral. Namun entah kenapa, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Beberapa saat kemudian, Revan masuk ke mobilnya sendiri. Tangannya sempat berhenti di atas setir. Matanya tertuju pada kontak Queen yang tersimpan di ponselnya. Ia teringat bagaimana gadis itu terlihat sangat marah dan terluka kemarin.
Revan menghela napas lagi. Lalu mengambil keputusan. Daripada memikirkan hal yang belum tentu benar, lebih baik memastikan keadaan Queen secara langsung.
Mesin mobil menyala, dan beberapa menit kemudian, mobil Revan melaju meninggalkan kampus. Menuju rumah keluarga Queen.
Beberapa menit kemudian...
Mobil Revan akhirnya memasuki kawasan perumahan tempat keluarga Queen tinggal. Sore itu suasana cukup tenang. Matahari mulai condong ke barat, membuat halaman rumah-rumah terlihat keemasan.
Saat mobilnya mendekati rumah keluarga Queen, Revan sedikit memperlambat laju kendaraan. Namun sebelum sempat memarkirkan mobil, matanya menangkap sosok yang sedang berdiri di halaman.
Kevin, pria itu sedang mencuci mobil hitam miliknya sambil mengenakan kaos polos dan celana santai. Selang air berada di tangannya. Begitu melihat mobil Revan masuk ke halaman, Kevin langsung mengangkat alis.
"Siapa tuh?"
Revan mematikan mesin lalu turun dari mobil.
Kevin terkekeh pelan. "Ternyata lo Van?"
"Kevin."
"Kok lo ke sini?"
Revan berjalan mendekat. "Gue cuma mau tahu keadaan Queen."
Kevin langsung menatapnya beberapa detik. Lalu tertawa kecil. "Ciee, khawatir nih ceritanya."
Revan mengernyit. "Apa sih lo?"
"Queen lagi mode monster sekarang."
"Oh ya, separah itu?"
Kevin mengangguk mantap. "Dari pagi dia belum keluar kamar."
Revan langsung menghela napas pelan. "Masih marah?"
"Bukan masih lagi." Kevin menunjuk lantai atas. "Itu kamar dia hampir jadi wilayah terlarang."
Revan menoleh ke arah jendela kamar Queen yang masih tertutup rapat. "Terus sekarang gimana keadaannya?"
Kevin mematikan air dari selang. "Ya gitu... sampai dia nggak kuliah. Nggak mau makan siang juga."
"Oh ya."
"Dan dari tadi kerjaannya cuma tidur sama ngambek."
Mendengar itu, Revan memijat pelipisnya pelan.
Kevin malah tertawa. "Jujur aja Van. Gue nggak nyangka lo bakal datang." Kevin kembali tertawa. "Masuk aja."
"Emangnya Queen nggak akan marah?"
"Kalau itu, gue nggak tahu deh."
Revan terdiam.
Kevin melanjutkan santai. "Tapi lo coba aja, siapa tau sama lo jinak, hahahaha."
Revan hampir tertawa. "Ya udah gue masuk dulu."
Kevin hanya mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke mobil.
"Van," panggil Kevin tiba-tiba.
Revan langsung menoleh. "Iya?"
"Lo beneran mau lanjut soal pernikahan ini?"
Pertanyaan itu membuat Revan terdiam cukup lama. Matanya sesaat tertuju ke arah jendela kamar Queen. Kemudian ia menjawab tenang.
"Kalau itu yang terbaik untuk Queen, kenapa nggak." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Revan.
Kevin sampai mengangkat kedua alisnya. "Serius lo?"
Revan hanya mengangkat bahu. "Gue nggak pernah bercanda soal pernikahan."
Kevin menatap pria itu beberapa saat. Lalu terkekeh pelan. "Astaga..."
"Apa?"
"Kayaknya Mama bakal makin happy deh, kalau dengar jawaban lo tadi."
Revan langsung menggeleng. "Jangan kasih tahu Tante."
"Terlambat."
"Tuh liat." Kevin menunjuk jendela rumah.
Revan mengikuti arah jarinya. Dan benar saja, di balik tirai ruang tamu, terlihat sosok Ibu Farah yang sedang mengintip dengan senyum lebar.
Kevin langsung tertawa keras. "Hahahaha!"
Revan memijat pelipisnya. "Gue masuk dulu."
"Silahkan, calon adik ipar."
Revan langsung berjalan memasuki rumah. Ibu Farah yang melihatnya langsung menyambut dengan antusias.
"Nak Revan!"
"Sore, Tante."
"Queen ada di atas."
"Tante..."
"Kenapa?"
"Saya kesini hanya ingin memastikan, apa Queen baik-baik saja."
"Iya, iya tante paham."
Namun senyum Ibu Farah justru semakin lebar.
Beberapa menit kemudian...
Dii lantai atas, kamar Queen masih tertutup rapat. Gadis itu masih meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk guling.
Matanya terpejam, setengah tidur. Ia bahkan tidak menyadari pintu kamarnya terbuka perlahan. Dan seseorang masuk ke dalam.
Beberapa detik kemudian...
Queen merasakan ada seseorang duduk di tepi tempat tidurnya. Gadis itu mengernyit, perlahan ia membuka matanya.
"Astaga." Queen langsung terduduk. Matanya membulat sempurna. "Pak Revan?!"
Revan yang duduk di kursi dekat tempat tidur mengangkat alis. "Sore Queen."
Queen hampir jatuh dari kasur. "Pak Revan ngapain di kamar saya?!"
"Mengunjungi mahasiswa yang sedang mogok kuliah."
"Pak!"
Queen langsung menarik selimut sampai ke dagu. "Kok bisa masuk!"
"Pintunya tidak dikunci."
"Itu bukan masalahnya!"
"Lalu?"
"Ini kamar saya!"
"Iya saya tahu."
Queen menunjuk pintu. "Masuk kamar orang itu harus ketuk pintu dulu!"
"Saya sudah ketuk."
Queen membeku. "Hah?"
"Tiga kali."
"Kok saya nggak dengar?"
"Kamu tidur."
Queen langsung terdiam, masuk akal. Dan itu justru membuatnya makin kesal. "Pokoknya tetap nggak sopan."
"Baik."
"Terus sekarang keluar."
"Tidak."
"Pak!"
Revan malah terlihat santai.
Queen langsung berteriak. "Kak Kevin!"
Tidak ada jawaban.
"Kak Kevinnn!"
Masih tidak ada jawaban.
Di bawah...
Kevin yang sebenarnya mendengar hanya menaikkan volume televisi. "Nggak mau ikut campur gue."
Kembali ke kamar.
Queen melotot kesal. "Nyebelin."
"Hm?"
"Bukan Bapak."
"Lalu?"
"Kakak saya."
Revan hampir tersenyum.
Queen kembali menarik selimut. "Ih, Pak Revan mau apa sih?"
"Kamu kenapa tidak masuk kuliah."
"Bukannya bapak sudah tahu, kalau saya sedang mogok kuliah."
Revan hanya terdiam dan kini senyum tipis sudah terukir di bibirnya.
Saling support sabi kali ya😉