Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C006: Potong Rambut
...Selamat Baca...
Setelah sepakat untuk memotong rambut, Ethan mengemudi menuju salon rambut bernama "Elysian Hair Studio" yang terletak di kawasan pusat kota Adelia, tidak jauh dari restoran La Vie En Rose.
Salon tersebut dikenal sebagai tempat yang menangani penataan rambut untuk banyak orang di industri hiburan, dengan pemilik yang sudah berpengalaman bekerja sama dengan perusahaan hiburan ternama.
"Saya kenal pemilik salon ini dari orang tua saya dulu," jelas Ethan saat mobilnya melintas melewati jalan raya yang mulai ramai dengan aktivitas sore hari.
"Nama dia Clara Viona-dia pernah menangani penataan rambut untuk banyak artis sebelum memutuskan membuka salon sendiri. Dia akan memahami apa yang kita butuhkan."
Evan mengangguk dengan senyum, sementara Felix duduk dengan tangan yang sedikit gemetar di pangkuannya, masih memegang ujung rambut panjangnya. Wajahnya menunjukkan campuran rasa takut dan harapan.
Sesampainya di salon, mereka disambut oleh aroma parfum lembut dan musik klasik yang mengalir lembut. Ruangan salon berdesain modern dengan aksen kayu hangat, dan beberapa kursi kerja sudah ditempati oleh pelanggan yang sedang merawat rambut mereka.
Seorang wanita berusia sekitar 30 tahun dengan rambut panjang bergelombang kemerahan menghampiri mereka dengan senyum ramah.
"Tuan Ethan Lucifer, betapa terkejut saya melihatmu di sini," ujarnya dengan suara yang ceria. "Saya Clara Viona-kami sudah menerima panggilanmu tadi."
"Selamat siang, Bu Clara," jawab Ethan dengan sopan. "Terima kasih sudah bersedia menerima kami dalam waktu singkat."
"Tidak apa-apa, Tuan. Apalagi jika untuk pekerjaan yang dilakukan orang tua kamu dulu juga," ucap Clara sambil melihat ke arah Felix dan Evan. "Sudah jelas kan mana yang akan saya tangani?"
"Ya, Bu Clara. Ini Felix Nalendra-calon trainee baru perusahaan saya. Dan ini Evan Carter, trainee pertama kami yang juga perlu merapikan rambutnya," jelas Ethan.
Clara mendekati Felix dan melihat kondisinya dengan saksama. Tangannya lembut menyentuh rambut panjang Felix yang masih terikat rapi.
"Rambut kamu sangat sehat dan indah, nak. Apa kamu mau saya potongnya atau hanya merapikan saja?"
"Potong saja, Bu Clara," jawab Felix dengan suara yang lebih mantap dari sebelumnya. "Saya ingin tampilan yang lebih rapi dan sesuai dengan cita-cita saya menjadi idol."
"Baiklah, mari kita mulai denganmu dulu, Felix," ujar Clara sambil mengajaknya ke kursi kerja yang sudah disiapkan.
"Kita akan memotongnya dengan gaya yang tetap menunjukkan keindahan alamimu, tapi lebih sesuai dengan profesi yang akan kamu geluti."
Sebelum dipotong, penampilan Felix terlihat seperti ini:
Rambut panjang hitam pekatnya terikat dalam ponytail rapi, sebagian rambut menyebar lembut menyelimuti sisi wajahnya dan menutupi sebagian telinganya.
Wajahnya yang muda terlihat sedikit tersembunyi di balik rambut dan kacamata tebalnya, membuat kesan lebih pendiam dan tertutup.
Meskipun wajahnya tampan, penampilannya masih terlihat seperti anak desa yang belum terbiasa dengan penataan diri.
Clara mulai dengan melepaskan ikatan rambut Felix. Rambut panjangnya yang mencapai pinggul langsung terbang bebas, berkilau dengan kilau alami yang menunjukkan kondisi rambutnya yang sehat.
"Kita akan memotongnya hingga panjang bahu saja," jelas Clara sambil menyisir rambut Felix perlahan.
"Kita akan membuat lapisan yang memberikan volume pada bagian atas kepala, dan sedikit membentuk poni yang tidak terlalu tebal agar tidak menutupi kecantikan wajahmu."
Felix menutup mata sebentar saat gunting mulai menyentuh rambutnya. Setiap helai rambut yang terpotong jatuh perlahan ke lantai, membawa dengannya rasa berat yang selama ini dia rasakan.
Setelah sekitar 45 menit, Clara mengakhiri pekerjaannya dan membawa cermin kecil untuk Felix melihat hasilnya.
Penampilan Felix setelah dipotong:
Rambut hitam pekatnya sekarang panjangnya tepat di bawah tulang selangka, dengan potongan berlapis yang memberikan kesan ringan dan dinamis.
Bagian depan dibuat sedikit miring melengkung menyambut wajahnya, menyembunyikan sebagian titik kecil di sudut matanya namun tetap menampilkan bentuk wajahnya yang simetris dan tampan.
Rambutnya terlihat lebih terawat dan profesional, namun tetap mempertahankan kesan alami yang khas.
Felix melihat dirinya di cermin full body dengan mata yang semakin terbuka lebar.
Wajahnya yang dulunya banyak tersembunyi kini terlihat jelas-pipi muda yang sedikit kemerahan, bibir yang tegas, dan mata gelapnya yang kini tampak lebih jelas dan ekspresif di balik kacamata.
"Ini benar-benar saya?" tanya Felix dengan suara penuh kagum, tangannya sedikit menyentuh ujung rambut yang baru saja dipotong.
"Tentu saja, nak," jawab Clara dengan senyum hangat. "Sekarang kamu hanya perlu sedikit kepercayaan diri untuk menunjukkan betapa hebatnya dirimu."
Setelah itu, Ethan mengajukan usulan. "Bu Clara, apakah bisa kita memberikan sentuhan warna pada rambut Felix?"
"Tanpa harus terlalu mencolok, tapi cukup untuk membuat penampilannya lebih menarik sesuai dengan industri hiburan."
"Tentu saja bisa, Tuan Ethan," jawab Clara dengan senyum. "Kita bisa memberikan warna ash black dengan sedikit kilau ungu muda pada bagian akhir rambutnya."
"Tidak terlalu mencolok tapi memberikan kedalaman pada warna rambut hitamnya. Cocok untuk anak muda yang berbakat seperti Felix."
Felix mengangguk setuju setelah melihat contoh warna yang ditunjukkan Clara di buku referensi.
Proses pewarnaan berlangsung sekitar satu jam, dan hasilnya membuat rambut Felix tampak lebih hidup dengan kilau yang lembut setiap kali terkena cahaya.
"Sekarang kamu benar-benar terlihat seperti seorang calon idol yang siap bersinar," ucap Ethan dengan penuh kagum saat melihat Felix yang sudah selesai.
Setelah Felix selesai, giliran Evan yang merapikan rambutnya. Sebelum diperbaiki, rambut Evan cukup panjang-menutupi sebagian dahinya dan hampir menutupi telinganya, membuat wajahnya yang tegas terlihat sedikit tertutup dan kurang rapi.
"Kita akan merapikan bagian depan agar tidak menutupi mata dan telinga kamu," jelas Clara saat mulai menyisir rambut Evan.
"Kita akan membuat potongan yang sedikit lebih pendek di bagian sisi, dan menjaga panjangnya di bagian atas agar tetap bisa kamu gunakan saat berlatih tari."
Dalam waktu sekitar 30 menit, Clara menyelesaikan pekerjaannya. Penampilan Evan setelah diperbaiki:
Rambutnya kini terlihat rapi dengan panjang yang tepat di atas telinga dan tidak lagi menutupi dahinya.
Bagian atas dibuat sedikit berdamping agar tetap memberikan volume, sementara bagian sisi dibuat lebih rapi agar penampilannya terlihat lebih profesional dan maskulin.
Evan melihat dirinya di cermin dan memberikan senyum puas. "Terima kasih banyak, Bu Clara. Rasanya seperti mendapatkan penampilan baru yang lebih siap untuk menghadapi tantangan."
"Senang bisa membantu, nak," ucap Clara dengan senyum. "Kedua kamu punya wajah yang luar biasa-hanya perlu sedikit penataan agar bakat kamu bisa lebih mudah dilihat oleh orang lain."
Setelah menyelesaikan pembayaran dan mengucapkan terima kasih kepada Clara, Ethan, Evan, dan Felix keluar dari salon saat matahari mulai meradang di ufuk barat.
Penampilan kedua trainee sudah terlihat jauh lebih rapi dan siap untuk memasuki dunia industri hiburan.
"Kita akan berhenti sebentar di restoran kecil untuk makan malam sebelum pulang," ucap Ethan sambil membuka pintu mobil.
"Kemudian besok pagi, kita akan mulai dengan sesi latihan pertama bersama di perusahaan. Felix akan tinggal di apartemen trainee mulai besok juga?"
"Ya, Tuan Ethan," jawab Felix dengan suara yang lebih mantap, tangannya menyentuh rambut barunya dengan hati-hati.
"Saya sudah siap untuk memulai latihan dan mengembangkan diri saya."
Evan menepuk bahu Felix dengan ramah. "Kita akan saling membantu, Felix. Nanti kita bisa berlatih bersama dan kamu juga bisa menunjukkan kemampuan menulis lagumu."
Sinar matahari sore menyinari jalan pulang mereka, memberikan cahaya hangat pada wajah-wajah muda yang penuh dengan harapan.
Ethan merasa bahwa langkah demi langkah yang mereka tempuh semakin membawa mereka dekat dengan tujuan membangun grup idol yang kuat dan membawa kembali kejayaan Lucifer Entertainment.
***
Saat makan di restoran, untuk makan malam. Ethan yang penasaran mulai bertanya pada Felix. "Felix, apakah kamu rabun jauh atau dekat? Dari awal saya melihatmu kamu selalu menggunakan kacamata tebal ini." Tanyanya hati hati, mencoba memperbaiki kata katanya agar tidak terlalu membuat pemuda lain sensitif.
"Tidak Tuan, saya hanya ingin saja menggunakannya. Mata saya bisa melihat dengan jelas, tapi karena saya menyukai kacamata, jadi saya menggunakannya." Kata Felix jujur, Ethan mulai mengangguk.
"Bisa kamu melepaskan kacamatanya? Saya ingin melihat penampilanmu tanpa kacamata," kata Ethan, Felix mengangguk dan melepaskan kacamatanya, dan fitur wajahnya semakin jelas.
Di tambah dengan rambut barunya, ini adalah fitur Visual group. Benar benar tampan dan memperlihatkan semangat anak muda.
Bahkan titik bekas luka di sudut matanya, bukannya merusak penampilan tapi menambah penampilannya. "Wow kamu sangat tampan Felix!" Kata Evan kagum dengan penampilan Felix, tanpa kacamata tebalnya.
"Benar, itu adalah penampilan di atas standar industri hiburan, jika tidak keberatan. Apakah kamu mau melepaskan kacamatanya, dan membiarkan wajahmu tanpa kacamata tebal ini?" Tanya Ethan, Felix termenung sebentar, kemudian mengangguk.
"Tidak keberatan, mulai hari ini saya tak akan memakainya, saya juga tidak rabun. Jadi kacamatanya bisa saya simpan saya." Katanya tersenyum lembut, Ethan mengangguk setuju.
"Baiklah, kalau begitu ayo makan bersama, besok kita akan ada latihan dan bertemu calon trainee lainnya." Katanya, anak anak itu mengangguk lalu mulai makan malam bersama.
Sambil beberapa kali berbincang bincang membahas rencana selanjutnya, setelah makan Ethan membayar makan malam dan mengantarkan mereka pulang.