Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Marina dan Agung memasuki restoran termahal di kota itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Agung menginjakkan kakinya di tempat makan yang sangat mewah. Lampu kristal memenuhi langit-langit membuat restoran itu semakin mewah. Pelayan menyapa mereka.
"Sudah pesan tempat?" tanya pelayan.
"Belum," sahut Agung.
"Maaf, restoran sedang penuh, jika mau pesan tempat dulu satu atau dua hari," ujar pelayan.
"Apa!" Agung kaget. "Makan saja harus pesan tempat?" tanyanya dengan intonasi tinggi tentunya membuat Marina malu.
"Kita makan di tempat lain," ujar Agung. Marina menolak, dia tau di tempat lain tidak semewah restoran itu.
"Aku enggak mau," sahutnya menolak. Marina melihat ada yang keluar dari restoran.
"Itu ada yang keluar," ujar Marina ke pelayan sembari menunjuk ke arah pengunjung restoran yang baru saja keluar dari bagian dalam restoran.
Pelayan tadi masuk ke bagian dalam restoran melihat meja yang kosong. Dan tidak lupa dia mengatakan ke manajernya.
"Silakan," ujar pelayan ramah. Marina masuk ke bagian dalam restoran itu. Agung memperhatikan setiap pengunjung yang kebanyakan orang asing. Mereka berhenti pada satu meja dan dua kursi yang saling berhadapan.
Pelayan meletakan buku menu. Marina mulai memesan makanan untuknya, sedangkan Agung masih memperhatikan sekeliling restoran.
"Bapak pesan apa?" tanya pelayan. "Sama dengannya," sahut Agung.
Marina merapikan penampilannya dan melihat ada sosok yang sangat di kenalnya. "Oh Tuhan ada Adlan," gumamnya senang dan terdengar Agung.
Agung mencari sosok yang di maksud Marina. "Kamu kenal dengan pengacara itu?" tanya Agung heran.
"Tentu aku kenal, dia itu sosok idolaku, ganteng berwibawa dan satu lagi kaya raya," ujarnya sembari menyindir Agung.
"Oh Adlan, cara makan kamu saja membuatku terpesona," gumam Marina. Agung merasa jenuh Marina terus memuji Adlan.
Makanan telah terhidang, untuk pertama kalinya Agung harus memakan makanan western. Dia memperhatikan cara makan Marina. Cara memegang sendok dan garpu diperhatikannya. Dia ingin menunjukkan ke Marina kalau dia bisa seperti Adlan.
"Oh Adlan," gumam Marina sembari mengunyah makannya. Dia terus memperhatikan Adlan.
"Kamu tau, Adlan itu tipeku bukan kamu," ujar Marina ketus sembari melihat Adlan beranjak dari kursinya.
"Yah dia pulang," gerutu Marina.
"Aku mau pulang," ujar Marina lagi.
"Tapi makanan kita belum habis," sahut Agung.
"Aku sudah tidak selera," ujar Marina dan beranjak dari kursinya. Mau tidak mau Agung memanggil pelayan dan meminta tagihan makan mereka.
Agung membelalakkan matanya ketika melihat nominal yang tertera di situ.
"Sepuluh juta?" tanyanya bingung.
"Iya Pak, itu sudah termasuk pajak," sahut pelayan.
Gila makan hanya dua menu sepuluh juta mending aku belikan emas.
Agung menggerutu dalam hatinya. Dia enggan mengeluarkan uang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah. Tapi dia juga gengsi jika Marina tau dia tidak mau membayar makanan itu.
Agung menyerahkan kartu debitnya ke pelayan. Walaupun tidak ikhlas dia tetap melakukannya.
Keluar dari restoran dengan perasaan merana. Dompetnya harus koyak sepuluh juta hanya untuk makanan yang baru sedikit mereka sentuh.
Marina berdiri di samping mobil. "Dengan apa kamu membayar tagihan tadi?" tanya Marina.
"Dengan uangku dong," sahut Agung sombong.
"Oh begitu, aku pikir kamu meninggalkan kartu identitas di sana atau mencuci piring," ejek Marina.
Agung tersenyum kecut, kalau kenyataan itu hinaan untuknya dia hanya membalas dengan senyuman dan semua untuk impiannya.
Aku tau ini rencana kamu, dan aku tidak akan mau menginjakkan kaki di restoran itu lagi.
***
Giwang melewati hari-harinya dengan penuh suka cita. Dia menikmati momennya sebagai seorang Ibu. Badannya yang dulunya kurus semenjak hamil mulai berisi dan setelah melahirkan badannya semakin bagus. Ibu Ima rajin memberikan jamu untuknya sehingga badannya terlihat bersih.
Tak terasa usia anaknya telah memasuki empat puluh hari. Dan waktunya untuk Giwang menemui Paijo.
"Bu, aku titip Gerhana ya," ujarnya.
"Mau ke mana Nak?" tanya Ibu Ima.
"Aku mau menemui Mas Paijo suaminya Siti. Suaminya membawakan ijazahku," jelasnya.
"Ya sudah hati-hati," Ibu Ima menyerahkan ponselnya.
"Untuk apa Bu?" tanyanya bingung.
"Kamu nanti menghubungi Paijo pakai apa?" tanya Ibu Ima. Giwang tidak menjawab. "Ya sudah bawa ini," ujar Ibu Ima lagi.
Giwang membawa ponsel Ibu Ima. Sebelum berangkat dia menciumi malaikatnya. "Ibu pergi sebentar ya," ujarnya.
Giwang pergi menggunakan angkutan umum. Dan dia berhenti tepat di kantor Agung. Giwang menutupi kepalanya dengan selendang agar tidak terlihat Agung.
Giwang menyebrang jalan dan menunggu Paijo di tempat dia menunggu Agung. Dia menghubungi Paijo.
"Mas, aku ada di taman," ujar Giwang.
"Iya, sebentar lagi istirahat. Nanti Mas antar ke sana," sahut Paijo.
Giwang menatap gedung itu. Tidak ada kesedihan lagi yang dirasakannya, semuanya telah hilang semenjak lahirnya Gerhana.
Waktu istirahat tiba.
Paijo buru-buru keluar dari gedung itu dan ketika di lobi Agung memperhatikan temannya yang membawa sebuah bungkusan.
"Mau ke mana dia," gumam Agung ingin mengikuti Paijo.
Agung melangkahkan kakinya sampai di pintu lobi tapi karyawannya memanggilnya.
"Pak Agung!" teriak karyawannya. Agung berhenti tepat di depan pintu lobi dan sekilas dia melihat Paijo menyebrang jalan.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kami mau cek mesin," ujar pria yang bekerja sebagai mekanik. Agung ingin mengikuti Paijo tapi mekanik itu membutuhkannya.
Agung kembali masuk ke dalam gedung itu menuju tempat pembuatan mobil.
"Giwang," ujar Paijo sembari menyalami wanita di depannya. "Kamu baik-baik saja kan?" tanya Paijo lagi.
"Baik Mas, aku sudah melahirkan," ujarnya senang.
"Selamat atas kelahiran putra kamu, maaf Mas tidak bisa menjenguk kamu," ujar Paijo.
"Aku mengerti Mas," sahut Giwang.
Paijo menyerahkan ijazah Giwang. "Ini ada titipan dari Pakde Adi," ujar Paijo sembari menyerahkan amplop ke Giwang.
"Apa isinya?" tanya Giwang sembari membuka amplop itu. Dia membelalakkan matanya ketika melihat ada uang di dalam amplop itu.
"Pakde Adi kirim salam dan beliau titip itu untuk kamu," jelas Paijo. Seketika wajah Giwang sendu dia kangen dengan Pakdenya dan Yayuk.
"Dan ini kado dari kami," ujar Paijo menyerahkan satu kotak kecil ke Giwang.
"Ponsel?" tanyanya bingung.
"Itu punya Siti, dia menitipkan itu untuk kamu, dia ingin kamu sering-sering meneleponnya," jelas Paijo.
Giwang menangis terharu mendengar kebaikan Paijo dan istrinya.
"Siti pakai ponsel apa Mas?" tanyanya bingung.
"Siti sudah ada yang baru," sahut Paijo. "Mas sudah meletakkan kartu baru di dalam situ nanti kamu tinggal registrasi," ujar Paijo.
"Terima kasih Mas," ujarnya senang sembari melihat ada angkutan yang berhenti di depan taman.
"Mas, aku harus balik jangan katakan ke siapa-siapa tentang pertemuan kita," ujar Giwang.
"Iya, pergilah sekarang."
Giwang naik ke dalam angkutan itu sembari melambaikan tangannya ke Paijo. Pria itu kembali ke gedung itu dan di lobi dia melihat Agung yang sedang berjalan menghampirinya.
"Mana ponsel kamu?" tanya Agung sembari mengulurkan tangannya ke Paijo.
Bersambung...
Bantu vote ya.
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!