Aku pernah kecewa pada garis takdir, aku juga pernah menyaksikan betapa kuat garis takdir itu hingga sangat sulit untuk diputus bahkan alam tak mampu merenggut takdir. Aku pergi berkelana dengan sejuta luka dan kecewa.
Aku terus mencintai Sorinku yang sudah terikat di takdir orang lain, entah sampai kapan aku harus berada di laut lepas mungin samapai takdir membawa ku berlabu di dermaga yang lain atau malah menenggelamkan ku di dasar samudra.
Tapi dia berhasil menarikku dan aku yakin dia lah cintaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Senna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SORIN
Aku menatapnya dengan penuh syukur, melihat senyum cantiknya yang tak berubah sedikit pun "Sean..," katanya memanggil namaku dan dengan segera berjalan kearah ku lalu memeluk tubuhku erat, aku memeluk tubuhnya dengan begitu erat, melepas semua rasa kerinduan dalam relung hati yang terus meronta dan sangat menyiksa. Aku sungguh bersyukur atas kebahagiaan ini, aku sungguh berbahagia melihatnya bahagia.
"Sean," panggilnya lagi dan aku sungguh tak kuasa menahan tangisku lagi "Sean.. Sean.. Sean..," lirihnya lagi sambil menangis tersedu "Kenapa kau sangat jahat, kenapa pergi tanpa berpamitan. Aku terus mencarimu dalam kebingungan, kenapa kau sangat jahat? Kenapa kau begitu tega padaku," sambungnya dan membuatku kian teriris pilu. Aku tak bisa menjawab apa pun, aku kehabisan kata, aku hanya bisa menangis dan mengeratkan pelukanku padanya "Tidakkah kau merindukan aku? Bahkan kau mengabaikan setiap pesanku, setiap telponku," katanya lagi "Aku merindukanmu Sean. Sungguh!!" sambungnya masih dengan tersedu menangis.
Sorinku, diam memelukku penuh kasih sambil mengucapkan kalimat rindu, tak ada yang berubah darinya masih tetap besinar dan berseri "Kenapa kau hanya diam Sean! Jawab aku! Kenapa kau sangat tega pada ku?" tanya wanita itu padaku yang masih saja diam sambil menatapnya "Jawab aku," lirihnya, kuhapus air matanya dengan ibu jariku dan kuberikan dia senyuman hangat.
"Sean," katanya mulai terisak lagi dan kembali memelukku dengan erat "Apa suamimu menyakitimu?" tanyaku padanya "Tidak, dia tidak menyakiti aku," jawab nya sambil menggeleng dan membuatku begitu legah bercampur bahagia.
"Heii, berhenti memelukku, suamimu akan cemburu nanti," kata Sean sambil tertawa "Lihat dia memperhatikan kita," sambung Sean sambil menatap pria beruntung yang berstatus suami Sorin nya itu "Emm, tapi aku masih rindu padamu Sean! Aku akan memarahinya jika dia melarangku memelukmu," kata wanita bermata indah itu dan membuat Sean tertawa "Baiklah Nyonya, kau sangat berkuasa nampaknya," kata Sean tertawa sambil mengelus rambutnya.
"Hai, anak tampan," Sean menggendong anak kecil yang begitu mirip dengan Sorinnya itu "Dia sangat mirip denganmu," sambung Sean sambil menatap Sorinnya "Emm, kau benae Sean dia sangat mirip dengan Ibunya," sahut pria tampan itu pada Sean sambil tersenyum hangat "Ngomong-ngomong selamat untuk calon anak kedua kalian," kata Sean pada kedua orang di hadapannya itu "Terimkasih Sean," katanya sambil tersenyum hangat.
"Sayang, mengobrollah dengan Sean, aku akan menganjak anak kita yang tampan inj tidur kerena manpaknya dia sudah sangat mengantuk," kata pria itu pada wanita yang berstatus istrinya itu lalu dengan segera menggendong bocah tampan yang punya rambut tebal itu "Sean kutinggal dulu ya, mengobrollah dengan nyaman" sambungnya sambil menepuk pundak Sean dan Sean hanya mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya itu hanya alasan, pria itu yakin banyak yang harus diobrolkan oleh istrinya dan Sean, jadi dia membesarkan hati dan memberi keduanya waktu.
"Kemana saja kau?" tanya wanita itu "Aku merindukanmu Sean, kau tak memberiku kabar sedikit pun dua tahun ini," sambungnya dengan wajah kesal sedikit marah "Aku pergi ke luar negri mengurus usaha Ayahku disana, kau tau itu. Keluargaku terus mendesak agar aku membantu Ayahku" kata Sean sambil tertawa.
"Sean, bukankah kau pergi karena aku?" tanya wanita itu dengan serius dan sontak membuat Sean tersentak "Apa pun alasannya, kau tak perlu tau. Aku bahagia karena kau sudah hidup dengan baik," kata Sean sambil tersenyum hangat "Oleh karena itu, hiduplah dengan baik juga Sean. Hiduplah berbahagia sepertiku yang hidup dengan bahagia," pesan wanita itu pada Sean.
"Sean, aku belum pernah mengucapkan terimakasih padamu, terimakasih untuk semua yang sudah kau berikan untukku, kau adalah salah satu hal terbaik yang pernahku dapat sepajang hidupku, aku sungguh berterimkasih atas semua kebaikanmu padaku dan kau pasti tau jika aku sangat menyayangimu" kata wanita itu sambil menatap Sean "Emm, aku juga sangat sayang padamu," jawab Sean sambil tersenyum.
"Kau tau, aku datang jauh-jauh kemari ingin memastikan sesuatu," kata Sean "Apa?" jawab wanita itu "Memastikan bahwa kau hidup dengan baik tanpa derita sedikit pun," kata Sean "Sean, dengar aku. Aku bahagia bersamanya dan kini giliranmu, kau harus menemukan kebahagiaanmu. Jangan khawatirkan aku lagi, karena aku akan baik-baik saja. Mulai fikirkan hidupmu juga," kata wanita itu sambil menggenggam tangan Sean.
Satu hal yang tak akan pernah kusesali di dalam hidupku adalah keputusanku untuk pergi ke Venesia, lukaku begitu cepat pulih karena obatnya ada di Venesia. Aku tak terbeban lagi atas apa yang kutakutkan, Sorinku sudah berbahagia bersama kehidupannya yang luar biasa. Sorinku, terimakasih sudah menjadi warna dominan dalam lukisan kisah cinta di masa remajaku, kini kau sudah berbahagia, aku ikut bahagia untukmu. Sorinku, nampaknya aku sudah menemukan satu tempat yang aman dan nyaman. Di sana ada sinar lain yang akan menerangi lorong gelap perjalanan hidupku "Sorinku berbahagialah selalu, aku melapas semuanya, aku akan menemukan kebahagiaanku juga.".
Sean melangkahkan kakinya yakin memasuki mobilnya, dia tak akan melepaskan cintanya lagi, cintanya harus di perjuangkan kali ini "Venesia, aku datang." Hati Sean berteriak dengan penuh hasrat dan semangat.
Aku akan menjemput semua kebahagian dan cintaku. Cintaku, belahan jiwaku, separuhnyawaku tengah menunggu di Venesia sekarang dan aku akan segera datang ke kota romantis itu, aku akan berteriak padanya bahwa aku mencintainya dan aku tak akan pernah melepasnya "Neve, aku datang."
***
Braaagg!! Setelah itu hening hanya ada suara rintihan, mataku mulai berkunang aku merasa semua tulangku patah, bahkan aku mencium aroma darah, aku menatap kedepan begitu banyak mobil yang bergulingan di depan sana, penglihatanku makin buram "Tunggu aku Neve. Tunggu aku di Venesia." setelah itu penglihatanku benar-benar hilang hanya gelap dan gelap
Suara sirine ambulan terdengar begitu mencekam, Sean terhimpit di antar jok penumpang dan jok depan, darah memenuhi tubuhnya, tulangnya banyak yang patah, keadaannya begitu parah. Mobil yang dikendarai Sean terlibat kecelaka beruntun dan mengakibatkannya sekarat sekarang.
Entah apa yang direncanakan garis takdir untukku, aku mau kisahku kali ini berhasil, aku harap nasibku mujur kali ini. Aku tak akan sanggup mati dalam cinta yang belum sempat kuucap.
***
"Kapan kau datang, aku sudah menunggumu dan aku terus menunggumu tapi kenapa kau tak kunjung datang juga, kemana kau pergi bersama janji manismu itu." Neve menatap langit dengan penuh kepiluan dia terus menunggu pria yang sudah membuat janji dengannya itu.
"Bahkan aku punya kabar baik untukmu, entah kau akan senang atau malah marah, entah kau ingin atau tidak tak akan merubah fakta bahwa kau akan menjadi seorang Ayah."
ziva dihukum
geram aku
mulai dari kai dan crys😍😍😍
pangeran dan selirnya💕💕💕
smpai ini sean dan neve😍💕😍💕
semangat terus ya thor 💪💪💪
setuju bgt sama ayah 😍😍😍
jgn kau bikin nangis lah kt nih 😞