NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Mili membuka matanya ketika jarum jam dinding menunjukkan tepat pukul empat pagi.

Udara subuh yang dingin langsung menyapa kulitnya, namun ada kehangatan aneh yang menyelimuti tubuhnya.

Saat menoleh pelan, jantung Mili terasa seolah mau melompat keluar dari dadanya—suaminya sedang tertidur lelap tepat di sampingnya, dengan satu lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya.

Wajah David di saat tidur tampak begitu tenang, sangat berbeda dengan aura dingin dan intimidatif yang biasanya dipancarkan pria itu.

Mili menahan napas, berusaha sebisa mungkin tidak membuat gerakan mengejutkan.

Sengan jemari yang gemetar halus, ia perlahan-lahan meminggirkan tangan David dari tubuhnya agar pria itu tidak terbangun.

Namun, baru saja Mili berhasil menggeser kaki dan bangkit berdirinya dari tepi tempat tidur, sebuah suara berat yang khas memecah keheningan kamar.

"Mau kemana kamu?" tanya David.

Matanya masih terpejam rapat, tetapi lengannya refleks bergerak mencari keberadaan Mili.

Mili tersentak kecil, langsung memutar tubuhnya dengan wajah tegang ketakutan.

"A-aku mau membersihkan rumah dan membuatkan kamu susu..." cicit Mili pelan, kebiasaan lamanya yang dipaksa menjadi pelayan di rumah orang tuanya refleks mengambil alih.

David perlahan membuka matanya, menatap lurus ke arah istrinya yang berdiri canggung di kegelapan subuh.

"Mili..." panggil David, suaranya dalam dan penuh penekanan.

"Di sini kamu nyonya rumah, bukan pelayan. Jadi kembali naik ke tempat tidur sampai aku memintamu bangun."

Mendengar ketegasan dalam nada suara suaminya yang sama sekali tidak menerima bantahan, Mili membelalak pelan sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan patuh.

"I-iya, David..."

Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Mili kembali merangkak naik ke atas ranjang empuk itu, menyusup ke bawah selimut hangat persis di samping David, membiarkan suaminya kembali menariknya ke dalam dekapan yang protektif.

Saat Mili memindahkan tubuhnya agar lebih nyaman di dalam dekapan David, matanya yang terbiasa jeli melihat detail mendadak menangkap sesuatu.

Kerah piyama sutra yang dikenakan David sedikit melorot ke samping, menguak garis luka kemerahan yang masih basah di pangkal pundaknya.

Rembesan darah tipis mulai menodai kain piyama halus itu.

Mili terkesiap pelan, mengulurkan jarinya yang bergetar untuk menyentuh tepi luka tersebut tanpa berani menekan.

"David... pundakmu berdarah..." bisiknya cemas, mendadak lupa dengan rasa canggungnya.

David tidak membuka matanya. Ia hanya menarik napas panjang, lalu makin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Mili, membendung rasa perih di punggungnya sendiri.

"Biarkan saja, Mili. Sekarang peluk suamimu ini dan diam. Aku mau tidur lagi sebelum bekerja," gumam David dengan suara serak khas bangun tidur yang teramat dalam.

Tak berani memprotes, Mili mengangguk pelan. Dengan perlahan dan penuh rasa takut melukai punggung suaminya, Mili keberanian diri memasukkan kedua tangan mungilnya melingkari pinggang kokoh David.

Jarak yang mengikis habis di antara mereka membuat ritme napas hangat David menyapu lembut pucuk kepala dan leher Mili.

Setiap kali David mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti desahan halus menahan perih lukanya, tubuh Mili meremang.

Jantungnya berdetak kian tak beraturan, bergemuruh hebat di balik dadanya sampai-sampai ia takut David bisa mendengarnya.

David yang sejatinya belum sepenuhnya terlelap merasakan bagaimana tubuh istrinya menegang kaku bagai patung.

Ia dapat mendengar jelas detak jantung Mili yang berpacu liar.

Sudut bibir pria dingin itu terangkat sangat tipis—sebuah senyum kecil yang tersembunyi sempurna di balik kegelapan remang kamar.

Karena dekapannya yang kian protektif, Mili merasa sesak oleh kombinasi rasa gugup dan kungkungan lengan kokoh David.

"David... jangan kencang-kencang, aku tidak bisa bernapas..." bisik Mili lirih, menepuk pelan dada bidang di hadapannya.

Mendengar cicitan polos istrinya, David justru sengaja berpura-pura tidur lelap.

Ia menenggelamkan wajahnya di celah leher Mili, mengabaikan tepukan pelan itu dan membiarkan istrinya terjebak dalam kehangatan dekapannya hingga pagi menyapa.

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari kamar dengan pendar keemasan yang hangat.

Suara ketukan pintu yang teratur dan penuh sopan santun dari pelayan di luar membangunkan David yang masih memeluk erat Mili di dalam dekapannya.

David perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah Mili yang masih berada tepat di dadanya, dengan mata bulat yang terbuka lebar dan berkilat lelah.

Lingkaran hitam tipis samar-samar terlihat di bawah matanya.

Mili ternyata sama sekali tidak tidur semalaman karena terlalu gugup berada sedekat ini dengan suaminya.

Melihat kepolosan dan ketegangan istrinya yang menggemaskan itu, senyum tipis terukir di bibir David. Pria itu mengelus rambut panjang Mili dengan lembut, memecah keheningan pagi di antara mereka.

"Ayo lekas mandi dan kita sarapan bersama," ujar David dengan suara serak khas bangun tidur.

Mili mengangguk patuh.

"I-iya, David..."

Dengan gerakan tergesa-gesa yang agak canggung, ia turun dari ranjang dan segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi kamar utama, membawa serta pakaian gantinya.

Sementara itu, David bangkit berdiri dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi lain di sebelah kamar mereka.

Ia melepas piyama sutranya dan berdiri di hadapan cermin besar yang menempel di dinding.

Melalui pantulan cermin, David memandangi garis-garis luka cambukan di pundak dan punggungnya yang kini berkerak dan memerah.

Bukannya meringis kesakitan, sudut bibirnya justru terangkat.

Sebuah tawa kecil yang dingin memecah keheningan ruangan itu—sebuah kepuasan aneh karena telah berhasil menahan sisi monsternya demi menjaga kesucian dan kedamaian wanita polos di kamar sebelah.

Setelah selesai mandi, Mili dan David turun ke ruang makan megah yang terletak di lantai dasar.

Sebagai bentuk rasa hormat dan kebiasaan lama melayani orang lain yang telah tertanam selama puluhan tahun, Mili dengan canggung berdiri dari kursinya.

Tangan mungilnya yang masih agak gemetar perlahan mengambilkan piring, lalu menuangkan menu sarapan hangat untuk David lengkap dengan segelas susu di sampingnya.

David hanya memperhatikan pergerakan canggung istrinya itu dengan tatapan hangat yang tenang, menerima piring tersebut tanpa menghentikan aksinya.

Di tengah suasana makan yang hening dan tertata rapi, David menaruh sendoknya.

Ia menatap Mili lurus-lurus, melipat kedua tangannya di atas meja sebelum akhirnya menyampaikan rencananya.

"Hari ini aku bekerja, dan tugas kamu belajar," ucap David, suaranya terdengar tegas namun sarat akan keseriusan.

David kemudian menjelaskan secara terperinci bahwa ia telah menyewa beberapa guru privat terbaik yang akan datang ke rumah hari ini khusus untuk mengajari Mili.

Ia ingin mengembalikan semua hal yang telah dirampas secara paksa dari hidup istrinya.

Guru-guru itu akan mengajarkannya membaca dan menulis secara intensif untuk mengganti hak pendidikan yang dulu direbut oleh orang tuanya, serta membimbingnya dalam tata cara berjalan yang anggun (gait/posture) hingga etika makan (table manners) kelas atas.

Mendengar penuturan itu, Mili mendadak menghentikan aktivitasnya.

Jemarinya membeku, dan perlahan-lahan ia meletakkan sendoknya ke atas piring porselen, menimbulkan bunyi klenting halus yang memecah kesunyian meja makan.

Matanya yang bening perlahan bergerak menatap David, memancarkan rasa tidak percaya yang campur aduk dengan getaran emosi yang menumpuk di dadanya.

Seumur hidupnya, belum pernah ada satu orang pun yang peduli pada masa depannya, apalagi berinvestasi begitu besar hanya agar ia bisa berdiri tegak sebagai seorang manusia yang bermartabat.

Air mata Mili mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya buram.

Dada gadis itu terasa sesak oleh rasa minder dan syok yang menghantam tiba-tiba.

Ketakutan lamanya kembali membumbung tinggi—ia mengira David bertindak demikian karena merasa malu memiliki istri yang tidak berpendidikan, tidak tahu aturan, dan kampungan.

Dalam pikirannya yang rapuh, ia menyangka dirinya hanyalah beban memalukan yang suatu saat akan dibuang jika dipamerkan di hadapan publik.

Mili menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menahan reaches air mata yang hampir menetes ke atas piring porselennya.

Melihat bahu istrinya yang bergetar, David langsung menyadari ketakutan yang hinggap di pikiran Mili.

Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu berkata dengan nada yang begitu dalam dan penuh ketegasan, memotong seluruh pikiran buruk yang menghantui kepala wanita itu.

"Mili, lihat aku," perintah David lembut namun tak terbantahkan.

Mili perlahan mendongak, menatap suaminya melalui kabut air mata.

"Aku melakukan ini bukan karena malu padamu, atau menganggapmu kurang," tegas David, menatap lurus ke dalam manik mata Mili.

"Aku melakukan ini untuk memberikan kembali semua hak hidup yang pernah dicuri secara paksa oleh keluarga Ben dan Gea darimu. Dulu mereka merampas pendidikan dan masa depanmu, tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa menahanmu."

David memajukan tubuhnya sedikit, memancarkan aura dominan yang melindungi.

"Aku mendengar dari anak buahku, kalau dua minggu lagi, Gea dan Andrew akan menggelar resepsi pernikahan megah. Aku ingin kamu berdiri tegak di sana, tanpa ada satu orang pun yang bisa memandang sebelah mata padamu. Aku mau kamu membalas perbuatan Gea, dan kamu harus berani, Istriku. Tunjukkan pada mereka siapa Nyonya David yang seutuhnya."

Kalimat demi kalimat yang diucapkan David menembus langsung ke dasar dada Mili.

Rasa takut dan rendah diri yang semula mengimpitnya perlahan meluruh, digantikan oleh sengatan hangat yang membakar semangatnya.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak hanya melindunginya, tetapi juga memberinya panggung dan senjata untuk berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Mili menyapu air mata di pipinya dengan ujung jari.

Rasa tersentuh yang teramat sangat atas niat tulus suaminya membuat matanya berkilat mantap.

"Aku paham, David," ucap Mili dengan suara yang tidak lagi bergetar.

"Aku mau belajar. Aku janji akan bersungguh-sungguh."

Dalam hatinya, Mili berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah.

Ia tidak akan lagi menjadi gadis rapuh yang bersembunyi di balik bayang-bayang; ia akan menjadi wanita yang layak berdiri bersanding di sisi David Kartajaya, menghargai setiap pengorbanan yang telah diberikan pria itu untuknya.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!