Perusahaan keluarga Reno Mahesa di Jerman mengalami kehancuran setelah di pimpin oleh Arabella, anak pertama dari zevano dan Isabella.
Arabella jatuh cinta pada seorang pria dan mengorbankan segalanya. siapa sangka pria tersebut justru merebut takhta perusahaan milik Mahesa grup.
Sanggupkah Arabella merebut kembali perusahaan sang kakek?
kisah ini lanjutan dari kisah kelurga Reno Mahesa. kisah anak-anak, cucu-cucu Reno dan Delena. kisah ini mengusung percintaan, balas dendam, keterpurukan dan mengharu biru.
ikuti terus kelanjutannya dan jangan di skip, biar kalian tahu alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke jakarta
Arra keluar dari room private, lalu menggeser tombol hijau.
"Hallo pah!" sapa Arra sambil tersenyum sumringah melihat wajah pria tampan yang selalu ia rindukan.
"Kenapa kamu jarang menghubungi Mama dan papa? Apa perusahaan begitu sibuk sampai Kamu melupakan keluarga?"
"Bukan begitu Pah! Papa jangan salah paham, Arra sangat merindukan papa dan mama."
Muncul wajah sang mama di layar ponsel, wanita itu tersenyum tulus sambil menyapa anak sambungnya.
"Arra, apa kamu baik-baik saja disana!
"Mama .. Arra kangen masakan mama." sahut Arra yang terlihat manja. "Mama dan papa tidak usah khawatir ya, Arra disini baik-baik saja."
"Sudah satu bulan lebih Kamu tidak menghubungi kami. Mama takut kamu sakit atau kenapa-kenapa."
"Kalau Arra sakit ada bibi Zelda yang mengurus. Maaf ya mah, Arra sibuk urusan kuliah. Sebentar lagi buat skripsi, jadi jarang telepon."
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sehat dan makan siang jangan telat. Banyak makan buah dan minum obat vitamin untuk stamina
"Mah, pah, sebenarnya ada sesuatu yang harus Arra bicarakan pada kalian. Tapi saat ini waktunya tidak tepat. Nanti malam Arra video call lagi. sekarang Arra sedang makan siang dengan salah satu rekan kerjasama kita di perusahaan."
"Baiklah, papa tunggu nanti malam.'
"Arra, jaga dirimu baik-baik ya, telepon Mama dan papa kapanpun kamu butuhkan.'
"Baik mah, sampai jumpa nanti malam."
Setelah sambungan vidio call terputus, Arra kembali kedalam ruangan privat. Dua orang sedang berbincang serius, Arra berjalan mendekat dan kembali duduk di samping Chandra.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya sangat serius."
"Serius apanya? Pak Chandra bilang padaku, kalau kamu wanita pertama yang telah mengisi hatinya. Pak Chandra ini sangat bucin padamu loh." balas Pamella sambil terkekeh.
Arra tersenyum dan menoleh pada pria tampan yang sedang tersipu malu. "Kamu mengatakan itu padanya?"
"Kenapa? Aku bangga memiliki kamu sayang." Chandra meraih tangan Arra dan di ciumnya. Setelah Kamu selesai buat skripsi, kita akan bertunangan."
"Aku juga akan bicarakan pertunangan ini pada kedua orang tua ku. Aku yakin mom dan Dad akan setuju."
Wajah Chandra berbinar cerah "Benar kah?!
Arra mengangguk.
"Wah.. Wah.. Aku sangat senang mendengarnya. Semoga kalian secepatnya bertunangan dan menikah." celetuk Pamella sambil bertepuk tangan
Sebulan kemudian Arra sudah menyerahkan skripsi pada sang Dosen. Arra juga membahas untuk pulang ke Indonesia pada Chandra dan sekertaris nya.
"Pamella, tolong jaga perusahaan dengan baik, aku akan berada di Indonesia selama dua minggu. kabari aku bisa ada urusan yang mendesak dan urgent."
"Pasti Bu Arra, saya akan menjaga perusahaan dengan nyawa saya."
"Bagus lah, tolong kamu pantau terus para pekerja Chandra. kamu berhak tegur bila ada yang tidak beres, dan terus awasi."
"Siap bu Arra, saya akan terus pantau."
"Dan ingat, tetap rahasiakan siapa aku pada Chandra. Belum saatnya dia tahu, bila sampai bocor, aku tidak akan segen memecat mu "
"Bu Arra tenang saja, semua rahasia Bu Arra tersimpan rapih di otak saya."
"Jadi, kapan Bu Arra akan buka indentitas nya?"
"Setelah kami bertunangan, aku akan beritahu di depan Chandra dan keluarganya. Lalu aku akan go publik di depan para investor dan seluruh karyawan Mahesa grup."
"Wow rencana yang bagus.' sahut Pamella.
"Oke kalau begitu aku tidak bisa lama-lama disini. Besok Chandra akan menjemput ku dan mengantarkan ke bandara."
"Oke, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai Indonesia."
"Terima kasih Mella, aku pergi dulu."
Arra melangkah pergi meninggalkan perkantoran, mobil sedan putih melaju cepat menuju mansion peninggalan sang buyut.
Esoknya Arra sudah menunggu di sebuah rumah yang ia sewa. Ia sengaja menyewa rumah itu untuk menghilangkan jejak sebagai pewaris perusahaan Mahesa grup dari semua orang termasuk Chandra.
Suara deru mobil berhenti di sebuah rumah sederhana bercat putih. Chandra turun dari mobil dan menyapa bibi Zelda yang sedang menyapu halaman.
"Pagi bi, apa Arra sudah siap?!"
"Sudah, ia sedang sarapan. Ayo masuk bibi buat sup bebek."
Chandra masuk kedalam rumah bersama bibi Zelda.
"Hey honey..."
"Sayang, ayo sarapan dulu. Aku menunggu mu dari tadi." tukas Arra sambil menyerahkan mangkok sup
Chandra duduk di samping Arra, pagi itu mereka menikmati sarapan buatan bibi Zelda.
"Non Wilona, hati-hati di jalan. Salam buat papa dan mama mu."
"Baik bii, bibi juga jaga diri di rumah ya. Kalau ada apa-apa bibi kabarin Chandra saja."
"Iya non."
Chandra mendorong tas dorong dan memasukkan kedalam mobil. Arra melambaikan tangan pada wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti neneknya sendiri.
Setelah sampai di bandara, Chandra menyerahkan tas dorong pada Arra.
"Jaga dirimu baik-baik, kabarin aku bila sudah sampai Indonesia."
"Oke, kamu juga harus ingat, jangan pernah berselingkuh di belakang ku."
Chandra terkekeh. Lalu meraih tangan Arra "'Apa Kamu tidak percaya padaku my honey?"
Chandra mencium kening Arra "Aku janji tidak akan pernah melirik wanita lain. Semua yang aku inginkan, sudah ada padamu."
Arra tersenyum sambil mengangguk.
"Aku sudah harus pergi, pesawat akan lepas landas."
Arra mencium pipi Chandra, lalu melangkah masuk sambil mendorong tas dorong.
💜💜💜