NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — PERCAYA

BAB 19 — PERCAYA

Naufal Haris datang membawa map yang sudah lama kehilangan warna aslinya.

Dulu map itu biru. Aku ingat karena selama tiga bulan pertama Ruang Tengah berdiri, hanya ada dua map klien di lemari: satu milik pasangan yang akhirnya berdamai, satu lagi milik kakak Naufal.

Naufal meletakkan map itu di meja rapat. Perhatiannya tertahan pada buku abu-abu yang terbuka di halaman namanya.

Naufal Haris — PERCAYA.

“Aku menduga suatu hari kamu akan melihat ini,” katanya.

“Sejak kapan?”

“Sejak hari pertama.”

Jawabannya membuat Damar berhenti menyiapkan alat perekam. Ia menyerahkan formulir persetujuan kepada Naufal dan menunggu sampai seluruh halaman dibaca.

Naufal berusia pertengahan tiga puluhan sekarang. Rambutnya mulai menipis di dekat pelipis. Dulu ia datang ke kantorku dengan kaus kusut, mata merah, dan kemarahan yang membuat setiap kalimat terdengar seperti tuduhan. Kakaknya, Selvi, sudah dua kali mencoba meninggalkan suami yang menguasai rekening, tempat tinggal, dan izin bertemu anak.

Tidak ada mediator lain yang mau mengambil perkara itu dengan biaya yang mampu mereka bayar.

Aku mengira Naufal menemukan namaku dari selebaran yang kutitipkan di kantor bantuan hukum.

“Siapa yang mengarahkanmu kepadaku?” tanyaku setelah rekaman dimulai.

“Seorang koordinator bantuan keluarga bernama Bu Sari.”

Nama itu belum pernah kudengar.

“Dia bekerja untuk Ibu?”

“Belakangan aku tahu begitu.”

“Apa yang dia tawarkan?”

“Biaya rumah aman untuk Selvi, pemeriksaan keuangan, dan pengacara independen. Syaratnya, mediasi pertama dilakukan olehmu.”

Aku menunjuk map lama di antara kami. “Jadi kasus itu dibayar.”

“Biaya pendukungnya dibayar. Masalah Selvi nyata.”

“Jangan cepat-cepat membedakan keduanya hanya karena kamu ingin aku merasa lebih baik.”

Naufal mengiyakan. “Benar.”

Ia membuka map. Di dalamnya masih tersimpan salinan daftar aset, catatan ancaman, foto pintu rumah yang rusak, dan draf kesepakatan pertamaku. Tulisan tanganku memenuhi pinggir halaman. Beberapa kalimat dicoret tiga kali karena saat itu aku belum tahu cara membuat permintaan tegas tanpa terdengar marah.

Aku ingat hampir menolak kasus tersebut.

Ibu meninggal dua bulan sebelumnya. Aku jarang datang ke kantor. Tara yang membuka pintu setiap pagi dan pura-pura tidak melihat ketika aku duduk terlalu lama di meja tanpa mengerjakan apa pun. Aku sudah menulis surat penutupan Ruang Tengah, tetapi belum berani mengirimkannya.

Lalu Naufal datang.

“Kamu tahu aku sedang ingin menutup kantor?” tanyaku.

“Bu Sari bilang kamu kehilangan kepercayaan diri setelah ibumu meninggal.”

“Apa lagi yang dia ceritakan?”

“Bahwa kamu bagus membaca orang, tapi sedang tidak yakin pada penilaian sendiri. Dia meminta kami tidak menerima jawaban tidak pada pertemuan pertama.”

Aku bersandar pada kursi. “Jadi kemarahanmu waktu aku menolak—”

“Nyata. Tapi aku memang disuruh datang lagi.”

“Berapa kali?”

“Tiga.”

Aku ingat ketiganya.

Pada kunjungan pertama, Naufal menuduh semua mediator hanya mau membantu orang yang sanggup membayar. Pada kunjungan kedua, ia membawa Selvi, yang hampir tidak bicara dan terus melihat pintu. Pada kunjungan ketiga, ia meletakkan kuitansi rumah sakit anak Selvi di mejaku dan berkata kalau aku tidak bisa membantu, setidaknya berikan nama orang yang bisa.

Aku akhirnya menerima.

Bukan karena merasa siap, melainkan karena kemarahan Naufal membuatku lupa pada dukaku selama beberapa jam.

“Apakah Bu Sari memberimu kalimat yang harus diucapkan?” tanyaku.

“Tidak. Dia cuma bilang jangan memuji atau mengasihanimu. Beri kamu masalah nyata dan biarkan kamu memutuskan apakah mampu.”

“Arti PERCAYA?”

Naufal menggeser halaman dari map lama. Itu salinan instruksi yang dikirim melalui kantor bantuan.

Bawa perkara yang nyata. Berikan seluruh fakta. Jangan arahkan hasil. Percaya pada keputusannya, termasuk jika ia menolak.

Aku membaca baris terakhir dua kali.

“Kalau aku menolak, bantuan untuk Selvi tetap ada?”

Naufal mengangguk. “Itu dijelaskan tertulis. Kami boleh mencari mediator lain.”

“Kenapa kamu kembali tiga kali?”

“Karena pada pertemuan pertama kamu menemukan satu hal yang dilewatkan dua pengacara sebelumnya.”

“Apa?”

“Rekening pendidikan anak Selvi dipakai suaminya sebagai jaminan utang perusahaan. Kamu melihat nomor rekening yang sama muncul di dua lampiran.”

Aku mengingatnya. Bukan momen besar. Hanya angka yang terasa tidak berada di tempat semestinya. Temuan itu kemudian membuat pihak suami bersedia membuka catatan aset dan menerima kesepakatan yang melindungi Selvi serta anaknya.

“Hasilnya bukan pemberian siapa pun,” kata Naufal. “Kamu mengerjakannya.”

“Tapi kesempatan pertamanya disiapkan.”

“Iya.”

“Rekomendasimu setelah itu?”

“Tidak dibayar.”

“Klien-klien berikutnya?”

“Aku merekomendasikanmu karena kamu menyelamatkan kakakku dari kesepakatan yang akan membuatnya tetap bergantung pada suaminya. Tidak ada yang menyuruh.”

Rasa lega tidak langsung datang.

Karierku tidak palsu. Tapi keyakinan pertama yang selama ini kuanggap muncul karena aku berani kembali bekerja ternyata ditopang tangan-tangan yang disembunyikan dariku.

Damar membuka laporan pembayaran. “Apakah Anda menerima uang secara pribadi?”

“Penggantian transportasi dan biaya kehilangan pekerjaan selama mendampingi Selvi. Semua tercatat di sini.” Naufal menyerahkan kuitansi. “Aku juga menerima dua kali pembayaran tambahan setelah kasus selesai.”

“Untuk apa?”

“Memberikan laporan apakah Nadira masih membuka kantor dan mengambil klien baru.”

Aku menatapnya tanpa bicara.

“Jadi setelah kasus selesai, kamu ikut mengawasiku.”

“Dua kali.”

“Apa yang kamu laporkan?”

“Bahwa kamu datang setiap hari selama satu minggu. Lalu bahwa kamu menerima tiga konsultasi baru.”

“Kepada Bu Sari?”

“Pertama kepadanya. Kedua melalui nomor yang katanya milik yayasan.”

“Rendra?”

“Aku tidak tahu. Waktu itu aku bahkan belum mengenalnya.”

Tanggal laporan kedua terjadi enam tahun lalu, beberapa minggu sebelum seminar tempat aku pertama kali bertemu Rendra.

Potongan-potongan hidupku kembali berbaris: kasus Naufal membuatku tetap membuka kantor, rekomendasinya mendatangkan klien, seminar mengundangku karena reputasi kecil itu, lalu Rendra sudah menunggu di baris kedua.

“Apakah semua ini dibuat supaya aku bertemu Rendra?” tanyaku.

Naufal menggeleng. “Instruksi yang kuterima tidak pernah menyebut namanya.”

“Tapi laporan tentang aku masih bekerja bisa dipakai untuk menyiapkan seminar.”

“Bisa.”

Damar mencatat tanggal dan nomor pengirim. “Kita akan telusuri jalurnya.”

Aku menutup map lama. Ada rasa terima kasih kepada Naufal yang tetap hidup di bawah marahku. Ia dan Selvi benar-benar membutuhkan bantuan. Aku benar-benar menemukan jalan keluar. Dua hal itu tidak saling membatalkan, tetapi tetap menyakitkan ketika aku tahu seseorang menempatkan perkara tersebut di hadapanku tanpa memberiku kesempatan memahami mengapa.

“Kenapa kamu baru datang sekarang?” tanyaku.

“Banyu menelepon.”

Aku mengangkat alis.

“Dia bilang buku sudah keluar dan namaku pasti ditemukan. Aku tidak mau kamu mendengar bagian ini dari orang lain.”

“Kenapa tidak datang saat pembayaran pertama?”

“Aku takut bantuan Selvi dihentikan. Setelah kasus selesai, aku malu mengakui bahwa keberanian kami waktu itu dibayar orang.”

“Dan setelah hidupmu stabil?”

Naufal menatapku lurus. “Aku menikmati menjadi orang yang kamu ingat sebagai klien pertama. Aku takut kalau berkata jujur, semua hal baik setelahnya ikut terlihat palsu.”

Jawaban itu membuatku sulit marah.

“Aku belum tahu apa yang akan kulakukan dengan hubungan kita,” kataku.

“Kita tidak punya hubungan dekat.”

“Justru itu. Selama ini aku menyimpan namamu sebagai bukti bahwa aku pernah bangkit sendiri.”

Naufal menjawab pelan, “Kalau bukti itu rusak, aku minta maaf.”

“Bukan kamu yang membuat pekerjaanku berhasil.”

“Bukan.”

“Tapi kamu ikut menyembunyikan jalannya.”

“Iya.”

Aku menyerahkan map kepada Damar untuk dipindai. Naufal berdiri, lalu kembali duduk seolah baru mengingat sesuatu.

“Ada satu hal yang mungkin salah di catatanmu,” katanya.

“Catatan apa?”

“Tanggal Ibu Laksmi meninggal.”

Tanganku berhenti di atas buku.

“Apa maksudmu?”

Naufal membuka saku dalam tas dan mengeluarkan kuitansi parkir lama yang disimpan dalam plastik. Tanggal serta jam masih terbaca. Di baliknya ada tulisan tangan singkat: nama rumah sakit, nomor kamar, dan satu kalimat.

Datang sendiri. Jangan beri tahu Nadira. —L

“Aku menerima ini dari Bu Sari,” katanya. “Aku pergi ke rumah sakit untuk memberikan laporan terakhir setelah kasus Selvi selesai.”

Aku melihat tanggalnya.

Dua hari setelah tanggal kematian Ibu yang tercantum pada akta dan seluruh dokumen keluarga.

“Siapa yang kamu temui di kamar itu?” tanyaku.

Wajah Naufal kehilangan sisa ketenangannya.

“Ibumu,” katanya.

“Laksmi masih hidup ketika dia memintaku berjanji untuk tetap percaya kepadamu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!