Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Pemeriksaan
"Ini..." Pengawal itu menyipitkan mata. "Petugas keamanan rumah sakit menerima sesuatu dari mereka."
Teknisi mengangguk. "Dan masih ada satu rekaman lagi."
Video berikutnya diputar. Terlihat seorang pria berjas hitam memasuki ruangan Markus pada malam sebelum penyerangan. Wajahnya tidak terlihat jelas. Namun saat pria itu menoleh sedikit... teknisi langsung menghentikan video.
"Pak..."
"Kenapa?"
"Saya mengenal pria berjas itu."
Pengawal menatap layar. "Siapa?"
Teknisi menelan ludah. "Itu salah satu orang yang sering datang menemui Nyonya Miranda."
Pengawal langsung mengeluarkan ponselnya. "Jangan kirim ke siapa pun. Kita harus memastikan bukti ini tidak bisa dihilangkan."
***
Kembali ke lobi.
Miranda tiba-tiba tersenyum. "Pak Gunawan. Saya pikir semua ini tidak perlu di besar-besarkan."
"Apa maksud Anda?"
Miranda melangkah mendekat. "Adrian itu anak saya. Saya hanya tidak ingin melihatnya semakin sakit karena masalah ini."
Gunawan tertawa kecil. "Apa anda sedang melucu, Nyonya. Sebagai seorang Ibu yang katanya khawatir terhadap anaknya justru membiarkan, anaknya dikurung di rumah sakit jiwa ini."
Wajah Miranda menegang. "Dia hanya membutuhkan perawatan."
"Benarkah?" Gunawan menatapnya tajam. "Kalau begitu jawab satu pertanyaan saya."
Miranda terdiam sesaat dan menatap Gunawan.
"Kenapa semua dokter yang menangani Adrian menerima pembayaran dari rekening Anda?"
Wajah Miranda langsung berubah. "Itu tuduhan!"
"Sudah saya bilang." Gunawan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. "Kami punya buktinya."
Miranda melihat dokumen tersebut. Untuk sesaat, wajahnya kehilangan warna. Namun hanya beberapa detik, ia kembali tersenyum. "Kalau begitu, silahkan buktikan bahwa uang itu digunakan untuk menyakiti Adrian."
Gunawan terus memperhatikannya.
Miranda semakin percaya diri. "Transfer uang bukan berarti saya menyuap dokter."
Markus langsung ikut menyela. "Benar. Tidak ada bukti bahwa dana tersebut digunakan untuk tindakan ilegal."
Miranda menatap Gunawan. "Anda datang membawa banyak tuduhan, tetapi belum memiliki bukti yang cukup."
Gunawan justru tersenyum. "Benarkah?"
Miranda mengernyit.
Gunawan mengambil ponselnya. "Tadi Anda mengatakan tidak ada bukti." Ia membuka sebuah file video. "Kalau begitu... bagaimana kalau kita lihat ini?"
Markus langsung membeku, Miranda menatap layar ponsel itu. Video mulai diputar. Terlihat seorang pria memasukkan tas hitam ke dalam ruang Markus. Tas itu dibuka, tumpukan uang terlihat jelas.
Miranda menahan napas.
Markus langsung maju. "Matikan!"
Gunawan mengangkat ponselnya menjauh. "Kenapa?"
"Itu rekaman ilegal!" sahutnya dengan nadi tinggi
Gunawan tersenyum. "Apa benar begitu." Ia menatap Markus. "Anda bahkan belum melihat keseluruhan videonya, tetapi sudah tahu bahwa rekaman itu bermasalah."
Markus langsung terdiam tidak bisa berkutik lagi.
Pengacara Gunawan langsung menyeringai. "Sepertinya Pak Markus sangat mengenal isi rekaman tersebut."
Beberapa pegawai rumah sakit mulai berbisik. "Benarkah Direktur menerima uang?"
"Siapa pria yang membawa tas itu?"
"Jangan-jangan selama ini..."
Miranda langsung membentak. "Diam kalian!"
Suasana kembali sunyi.
Namun kali ini, tatapan para pegawai terhadap Miranda dan Markus sudah berubah. Markus menggertakkan gigi. Ia sadar keadaan mulai berbalik.
Miranda kemudian mendekat dan berbisik. "Markus. Kita harus pergi dari sini."
"Kalau kita pergi sekarang, justru akan terlihat seperti mengakui semuanya," jawab Markus pelan.
Miranda terdiam dan berpikir.
Lalu sebuah suara terdengar dari belakang mereka. "Sayangnya..." Gunawan berdiri beberapa meter dari mereka. "Kalian tidak perlu repot-repot pergi."
Pintu utama rumah sakit tiba-tiba terbuka. Beberapa orang berseragam masuk bersama dua penyidik. Salah satu dari mereka menunjukkan identitas.
"Kami menerima laporan mengenai dugaan pemalsuan rekam medis, penyalahgunaan wewenang, dan transaksi mencurigakan yang berkaitan dengan pasien Adrian Mahendra."
Wajah Miranda langsung pucat, Markus mundur selangkah.
Gunawan berdiri tenang. "Silahkan lakukan pemeriksaan."
Salah satu penyidik menatap Markus. "Pak Markus Antonio? Kami membutuhkan kerja sama Anda."
Markus menatap kartu tersebut beberapa detik. Kemudian ia mengangguk, "tentu." Jawabannya terdengar tenang.
Gunawan yang sejak tadi mengamati gerak-geriknya langsung menyipitkan mata. "Silahkan mulai pemeriksaan," ujar Gunawan.
Dua penyidik segera menuju ruang direktur bersama tim hukum Gunawan. Beberapa petugas rumah sakit diminta tetap berada di tempat.
Miranda masih berdiri di samping Markus. Ia membungkuk sedikit dan berbisik, "Kamu sudah menyiapkan semuanya?"
Markus tidak menoleh, "tenang Nyonya."
"Kamu yakin?"
Markus tersenyum tipis. "Justru mereka yang akan menemukan sesuatu yang tidak mereka duga."
Miranda mengernyit. "Apa maksudmu?"
Namun Markus tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian...
Pintu ruang direktur dibuka.
"Pak Gunawan." Seorang penyidik keluar sambil membawa beberapa map. "Kami menemukan sejumlah dokumen yang berkaitan dengan Adrian Mahendra."
Gunawan langsung berdiri. "Berikan kepada saya."
Penyidik menyerahkan salah satu map. Gunawan membukanya, matanya bergerak cepat membaca setiap lembar. Rekam medis, hasil pemeriksaan, catatan terapi, surat persetujuan keluarga. Semuanya terlihat lengkap.
Gunawan mengerutkan kening. "Ini semua?"
"Untuk sementara, iya."
"Bagaimana mungkin?"
Pengacara Gunawan ikut memeriksa dokumen tersebut. "Pak, secara administratif semuanya terlihat normal."
Gunawan menatap Markus. "Anda sudah mempersiapkan ini."
Markus tersenyum. "Saya hanya menjalankan tugas sebagai direktur."
Miranda ikut tersenyum. "Tidak semua hal adalah konspirasi, Pak Gunawan."
Gunawan tidak menjawab, ia justru mengambil salah satu dokumen. "Tanggal pemeriksaan ini..." Ia menunjuk sebuah catatan. "Adrian diperiksa pada tanggal dua belas?"
Markus mengangguk. "Benar."
Gunawan menatap dokumen berikutnya. "Dan dokter yang memeriksa adalah Dokter Bima?"
"Benar."
Gunawan langsung menoleh kepada penyidik. "Periksa keberadaan Dokter Bima."
Penyidik mengangguk dan memberikan instruksi kepada petugas.
Tidak sampai lima menit kemudian...
Petugas kembali. "Dokter Bima tidak ada di rumah sakit."
Gunawan mengernyit. "Sejak kapan?"
"Menurut staf, beliau tidak masuk sejak pagi."
Gunawan menatap Markus dengan sangat kesal.
Markus justru terlihat santai. "Dokter Bima sedang mengambil cuti."
Gunawan menatapnya tajam. "Tanpa pemberitahuan?"
"Beliau sudah mengajukan izin."
"Mana surat izinnya?"
Markus terdiam, kini senyumnya menghilang.
Penyidik langsung berkata, "Kami akan memeriksa administrasinya."
***
Di ruangan lain...
Seorang teknisi masih bekerja di depan komputer. Ia membuka folder rekaman CCTV.
Tiba-tiba...
"Pak!"
Pengawal Gunawan menoleh. "Ada apa?"
Teknisi menunjuk layar. "Rekaman pukul 02.13 dini hari hilang."
"Terhapus?"
"Bukan."
"Terus apa kalau begitu?"
Teknisi memperbesar layar. "File-nya masih ada."
"Tapi..." Ia menelan ludah. "Isinya kosong."
Pengawal mengernyit. "Mustahil."
"Justru itu yang aneh."
Teknisi kembali mengetik. "Sepertinya seseorang tidak menghapus rekamannya. Dia mengganti isi rekaman."
Pengawal langsung menghubungi Gunawan. "Tuan, kami menemukan sesuatu."
***
Di ruang utama...
Ponsel Gunawan bergetar, ia mengangkatnya. "Ada apa?"
"Rekaman CCTV malam penyerangan telah dimanipulasi."
Gunawan langsung menatap Markus. "Siapa yang memiliki akses ke sistem CCTV?"
"Tim keamanan dan administrator sistem."
"Siapa administratornya?"
Teknisi menyebutkan sebuah nama.
Gunawan terdiam. "Ulangi."
"Administrator sistem bernama Rendra Wijaya."
Gunawan mengerutkan kening. "Rendra?"
"Ya, Tuan."
Gunawan perlahan menurunkan ponselnya. Nama itu tidak asing, namun belum sempat ia mengingatnya. Terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun dengan tergesa-gesa.
"Pak Markus!"
Semua orang langsung menoleh.
Markus terlihat terkejut. "Rendra?"
Pria itu berhenti, matanya langsung bertemu dengan Gunawan. Wajahnya berubah pucat.
Gunawan menatapnya beberapa detik. "Kamu administrator sistem CCTV?"
Rendra menelan ludah. "Iya, benar."
"Siapa yang memerintahkanmu mengubah rekaman ini?"
Rendra tidak menjawab, dia hanya terdiam.
Gunawan melangkah mendekat. "Saya bertanya sekali lagi."
Rendra tetap diam.
Miranda tiba-tiba berbicara, "jangan menuduh karyawan kami tanpa bukti."
Gunawan menoleh, "justru karena saya sedang mencari buktinya."
Penyidik kemudian menghampiri Rendra. "Pak Rendra, kami perlu memeriksa perangkat kerja Anda."
Rendra mundur satu langkah. "Saya..."
Tiba-tiba terdengar suara keras.
Brak!
Salah satu pintu ruang arsip terbuka.
Seorang petugas berteriak dari dalam. "Pak!"
Semua orang menoleh.
"Ada kebakaran!"
Asap mulai keluar dari ruangan arsip.
Gunawan langsung berlari menuju sumber suara. "Semua keluar!"