NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Dua polisi berseragam menghentikan langkah tepat di tengah ruang tamu. Salah satunya memperlihatkan kartu identitas, sementara rekannya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

"Selamat sore. Kami dari kepolisian. Apakah benar ini kediaman Bapak Roy?" tanya salah satu dari mereka.

Roy mengangguk pelan. "Benar. Ada perlu apa, Pak?"

Tatapan polisi itu kemudian beralih kepada Rani. "Apakah Ibu Rani ada di sini?"

"Ada. Saya sendiri," jawab Rani tenang.

"Kami datang terkait laporan dugaan percobaan penganiayaan terhadap Ibu Rani," lanjut polisi itu.

Kalimat itu langsung membuat ruang tamu hening. Wajah Aksan, Arlan, dan Arjun seketika memucat, sementara Roy mengernyit tidak mengerti.

"Percobaan penganiayaan? Maksud Anda apa?" tanya Roy.

Rani tetap berdiri dengan tenang. "Sebelum sampai ke rumah ini, aku dihadang lima orang preman. Mereka mencoba menyerangku."

"Apa?" Roy langsung menoleh cepat.

Sintia refleks menutup mulutnya, berpura-pura terkejut. "Ya Tuhan... Kak Rani, kamu tidak apa-apa?"

Namun Rani tidak menggubrisnya. Polisi kembali melanjutkan, "Kelima pelaku sudah kami amankan. Saat diperiksa, mereka mengaku menerima bayaran untuk melukai korban."

"Lanjutkan?" suara Roy tenang tapi terdengar berat.

"Mereka juga sudah menyebutkan siapa yang menyuruh mereka."

Ucapan itu membuat Arlan tanpa sadar bergumam panik, "T-Tidak mungkin..."

Aksan langsung menyikutnya pelan, tetapi polisi sudah mengeluarkan plastik bening berisi barang bukti. "Selain pengakuan para pelaku, kami juga mengamankan bukti transfer uang, percakapan, dan rekaman komunikasi."

Kata rekaman membuat wajah Aksan seketika pucat. Roy memandang ketiga putranya satu per satu.

"Aksan..."

Tidak ada jawaban.

"Arlan..."

Tetap diam.

"Arjun."

Pemuda itu menunduk dalam. "Pa..."

Polisi melanjutkan dengan nada datar, "Berdasarkan keterangan awal, ketiga saudara ini diduga terlibat sebagai pihak yang merencanakan sekaligus membayar para pelaku."

"Bohong!" suara Sintia langsung memecah ketegangan. "Anak-anak itu tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

Polisi menoleh tenang. "Ibu, kami tidak datang hanya berdasarkan dugaan. Semua yang kami sampaikan didukung oleh alat bukti yang sedang kami dalami."

Sintia masih ingin membantah, tetapi Rani lebih dulu berbicara.

"Tadi aku sudah memberi mereka kesempatan untuk mengaku," ucapnya datar. Matanya tertuju langsung pada ketiga putra angkatnya. "Sayangnya, mereka memilih diam."

Arjun langsung menunduk, tak sanggup menatap Rani. Aksan berusaha tetap tenang meski keringat mulai muncul di pelipisnya, sementara Arlan hanya menggeleng pelan, tak percaya keadaan berubah secepat ini.

Di benaknya, hanya satu pertanyaan yang terus berputar: bagaimana mungkin para preman itu tertangkap secepat ini? Bahkan sebelum mereka sempat menerima kabar, polisi sudah lebih dulu berada di rumah ini. Dan yang lebih membuatnya tertekan, Rani berdiri di hadapan mereka tanpa sedikit pun terlihat seperti korban. Justru kini, wanita itu yang sepenuhnya mengendalikan situasi.

Roy masih sulit menerima kenyataan di depannya. Namun saat teringat ucapan Arlan beberapa menit lalu, wajahnya langsung menegang. 'Sebentar lagi Tante dapat kejutan.'

Tatapannya beralih tajam ke arah ketiga putranya. "Jadi... ini kejutan yang kalian maksud?"

Arjun menelan ludah sebelum menjawab dengan suara bergetar, "Pa... kami hanya ingin memberi pelajaran kepada Mama supaya bisa lebih baik pada Tante Sintia... dan mengembalikan Haikal ke tempat yang semestinya."

Rani mendengus pelan, haikal kembali ke tempat semestinya? Dan apa yang dilakukan mereka demi Sintia, hebat benar. Kadang Rani berpikir dulu kenapa ia bisa mengorbankan nyawanya untuk manusia-manusia gak tahu diri ini. Jika bisa mengulang waktu ia tidak akan pernah menyelamatkan mereka dalam kecelakaan itu.

Ia pun segera melirik ke arah Sintia. Wanita itu bisanya suka drama menjadi pahlawan kesiangan. "Sin, kamu dengar sendiri. Mereka melakukan semua ini demi kamu. Jadi apa kamu mau menggantikan mereka? Sayang kalau mereka harus masuk penjara."

Ketiga pemuda itu langsung menoleh penuh harap ke arah Sintia. Namun tanpa ragu, Sintia menjawab cepat, "Mana mungkin seperti itu."

Kekecewaan langsung terlihat di wajah mereka.

Melihat itu, Sintia segera meralat dengan nada lebih lembut. "Aksan, Arlan, Arjun... Tante baru saja keluar dari rumah sakit. Kondisi Tante juga belum pulih. Bagaimana Tante bisa menggantikan kalian?"

Ia kemudian melangkah mendekati Rani dan menggenggam tangannya erat, memainkan peran lebih dalam. "Kak... selama ini Kakak sangat menyayangi mereka. Apa Kakak tega membiarkan mereka masuk penjara? Nama baik mereka akan hancur, masa depan mereka juga rusak."

Rani tidak menjawab, hanya menatapnya lurus tanpa ekspresi.

Melihat itu tidak mempan, Sintia menarik napas panjang dan menurunkan suaranya seolah putus asa. "Kak... kalau dengan itu kemarahan Kakak bisa reda dan Kakak mau melepaskan mereka..." matanya mulai berkaca-kaca. "Aku rela berlutut di depan Kakak."

Sebelum lutut Sintia benar-benar menyentuh lantai, Rani menahan tangannya dengan kuat. Ia menatap wanita itu lama, lalu tersenyum tipis tanpa sedikit pun rasa hangat.

"Aku tidak butuh sandiwaramu, Sintia."

Suara itu membuat gerakan Sintia terhenti di tempat. Namun ia masih berusaha mempertahankan ekspresi rapuhnya, seolah belum menyerah.

"Kak... aku benar-benar—"

"Aku bilang cukup."

Potongan suara Rani yang tenang tapi tegas langsung memutus kalimat itu. Ruangan kembali sunyi, hanya tersisa napas-napas yang tertahan.

Sementara Roy yang biasa bersikap mendominasi masih terus mengamati situasi bahkan membiarkan Sintia memohon tanpa ingin mencegahnya. Rani menyadari hal itu, ia pun membatin, 'Dia diam, tidak ada respon berarti? Apa dia sudah memiliki rencana lain?'

Di saat itu, polisi yang sejak tadi mengamati situasi melangkah maju. Nada suaranya kembali formal, tanpa emosi.

"Baik, Bu Rani," ucapnya sambil menatap lurus. "Untuk melengkapi berita acara, kami perlu pernyataan final dari Ibu."

Semua kepala langsung menoleh ke arah Rani.

Roy masih bersikap tenang. Sintia berhenti berpura-pura menangis. Sementara Aksan, Arlan, dan Arjun menatapnya dengan wajah yang tidak lagi punya harapan.

Polisi itu melanjutkan, "Apakah Ibu tetap ingin melanjutkan proses hukum terhadap ketiga terlapor?"

Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pisau yang belum jatuh. Rani tidak langsung menjawab. Matanya bergeser perlahan, menyapu wajah Roy, lalu berhenti di tiga pemuda di hadapannya.

Arjun paling dulu menunduk. "Ma... tolong..."

Arlan menggigit bibirnya, berusaha menahan panik yang mulai pecah. "Mama... kami salah..."

Aksan tetap diam, tapi rahangnya mengeras, seolah masih berusaha mempertahankan sisa harga dirinya.

Rani akhirnya menarik napas pelan. Lalu ia menatap polisi itu lurus.

"Ya," jawabnya singkat.

1
Dian Fitriana
up
Dian Fitriana
up
Brown choco
Ceritanya kurang menarik, alur lambat tapi ga bikin penasaran. Karakter utama wanitanya ga jelas mau kuat atau lemah ditindas,
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap akak, terimakasih untuk masukannya 🙏
total 1 replies
Santhi
up....
Dian Fitriana
update
Atik@07
thor jgn lma2 upnya,greget bgt ceritanya🤗
Adi sudiro Dero
lama lama muak Ama isi cerita berputar putar padahal masalah nya sama muak
Adi sudiro Dero
kayak anak TK yg mudah di setir
padahal anak sekarang pada pintar dan ngeyel kalau dikasih tau
Santhi
naahhhh.. lhoo... Rasakno... Roy.. Dr Roy... kesempatan mu sdh habis 10 tahun yg lalu dan wkt itu tdk sebentar Dr Roy...
up.. KK up....💪💪🥰
Santhi
Tdk semudah itu Fergusoo.... hahahha....
up KK.. up....
Atik@07
bikin roy,sujud2 thor
Dian Fitriana
update
Revita Vita
akhir kisah Roy dan anak²nya menyesal g termaafkan oleh Rani
Dian Fitriana
up lg
Santhi
jeng... jeng2...... mulai terungkap 1/1...
lanjuuttt KK....💪💪🥰
Putri Wulandari
cerita ruet
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: heheheh jangan sampai puyeng ya kak, lagi musim bapil ini
total 1 replies
Santhi
crazy up... doongg...nanggung banget iniiiiiii.....
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nanti malam kak kalau gak ketiduran kayak semalam 🙏
total 1 replies
Dian Fitriana
smoga kbohongan Sintia terungkap...ayo Rico jelaskn PD mereka biar mereka malu
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: gak sabar ya kak
total 1 replies
Neng Caca
emang bosen gak ke ungap ke ungkap kejahatan si sintia
Anonim
Ah payah si rani lemah,g seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!