NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 19.kata putus yang menjadi guncangan

Hari kedatangan Raka akhirnya tiba sepenuhnya. Udara pagi terasa berat dan penuh ketegangan, seolah alam pun ikut merasakan beban yang disimpan hati Zahra dan Rendra selama ini. Saat suara kendaraan Raka terdengar memasuki halaman rumah, semua orang menyambut dengan riang kecuali dua orang yang hatinya sedang berperang hebat. Raka turun dengan wajah berseri, membawa oleh-oleh dan harapan besar untuk kembali berkumpul dengan tenang, namun ia sama sekali tidak tahu bahwa di depan pintu gerbang itu sudah menunggu keputusan yang akan mengguncang seluruh dunianya.

Zahra sudah memantapkan hati semalaman. Ia sadar, semakin lama membiarkan keadaan berjalan seperti ini berpura-pura mencintai Raka sementara hatinya sudah sepenuhnya berpihak pada Rendra hanya akan semakin menyakiti semuanya. Ia merasa jujur, walau pahit, adalah jalan yang harus ditempuh, meski ia tahu konsekuensinya akan sangat berat.

Setelah saling bersalaman dan menyapa keluarga, suasana perlahan tenang. Raka sengaja mengajak Zahra berbicara berdua di teras belakang yang agak sepi, tempat yang biasa mereka gunakan untuk bercerita dengan tenang. Ia ingin segera meluapkan kerinduannya, namun belum sempat ia berbicara panjang lebar, Zahra sudah memulai lebih dulu dengan suara yang bergetar namun tegas.

“Ka... ada hal penting yang harus aku sampaikan sejak sekarang juga,” ucap Zahra sambil menunduk dalam, tak berani menatap mata yang dulu selalu ia pandang penuh kasih.

Raka tersenyum lembut, belum menyangka apa-apa. “Apa itu, Zahra? Katakan saja. Kita kan sudah lama tidak bertemu, banyak hal yang pasti ingin kau ceritakan.”

Zahra menarik napas panjang sekuat tenaga, lalu mengeluarkan kalimat yang sudah ia simpan dan ulang-ulang di hati berulang kali: “Ka... sepertinya kita... sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita ini. Kita putus.”

Keheningan seketika menyelimuti tempat itu. Senyum di wajah Raka perlahan lenyap, berganti dengan tatapan tak percaya yang dalam dan kosong. Ia seolah tidak yakin apa yang baru saja ia dengar.

“Kau... apa katamu, Zahra?” suaranya terdengar pelan, hampir berbisik, namun penuh tekanan. “Kau bilang... putus? Kenapa? Apa maksudmu semua ini?”

Zahra tetap menunduk, air mata mulai menetes di pipinya. “Aku merasa... aku tidak bisa lagi bersamamu seperti dulu. Ada perubahan besar di hatiku, Ka. Aku tidak mau terus berpura-pura dan menyakitimu diam-diam. Rasanya sudah tidak sama lagi.”

Raka tidak langsung marah atau berteriak. Ia justru mendekat, wajahnya memucat namun matanya menatap tajam dan penuh kekukuhan. Ia tidak mau menerima begitu saja keputusan yang tiba-tiba ini terutama tanpa penjelasan yang jelas dan masuk akal.

“Aku tidak mau, Zahra. Aku tidak setuju,” ujar Raka dengan nada yang mantap, hampir bergetar karena emosi yang tertahan. “Apa alasannya? Apa karena aku pergi lama? Apa karena aku sibuk? Bukankah dulu kita sudah sepakat untuk saling menjaga dan setia? Masalah apa yang terjadi sampai kau bicara begitu? Aku tidak akan melepaskanmu hanya karena ucapan sepihak yang tiba-tiba seperti ini.”

Zahra merasa semakin tertekan. Ia ingin sekali mengaku semuanya—tentang Rendra, tentang pesan-pesan rahasia, tentang pertemuan mereka tapi lidahnya terasa terikat kuat. Ia takut jika kebenaran itu keluar sekarang juga, bukan hanya ia dan Raka yang hancur, tapi juga persahabatan yang sudah terjalin lama antara Raka dan Rendra, bahkan seluruh suasana di rumah ini akan berantakan.

“Bukan karena hal sepele, Ka... percayalah. Hanya saja... aku merasa kita sudah tidak sejalan lagi. Biarkan aku pergi dengan tenang,” mohon Zahra pelan.

“Tidak ada yang akan kulepaskan sebelum aku tahu kebenaran yang sebenarnya!” jawab Raka meninggikan suaranya sedikit, matanya menyelidik tajam ke wajah Zahra yang tampak gelisah dan tidak tenang. “Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, bukan? Sejak aku pergi, sikapmu berubah total. Jarang menjawab telepon, jawabanmu selalu singkat, dan sekarang... tiba-tiba minta putus. Apa yang sebenarnya terjadi saat aku tidak ada di sini?”

Pertanyaan itu membuat jantung Zahra berdegup kencang hebat. Ia sadar, Raka mulai curiga lebih dalam dari yang ia sangka.

Di balik dinding dan semak-semak agak jauh dari tempat mereka berbicara, Rendra berdiri diam. Ia tidak sengaja mendengar sebagian besar percakapan itu, dan setiap kata yang masuk ke telinganya terasa seperti beban berat yang menindih dadanya. Ia tahu, ia adalah sebab dari semua kekacauan ini. Ia tahu bahwa keberadaannya dan perasaan yang tumbuh antara dirinya dan Zahra-lah yang membuat Zahra berani mengambil langkah besar ini.

Namun Rendra juga sadar betul, jika ia maju sekarang dan mengakuinya, maka hubungan persahabatan yang sudah terjalin sejak muda itu akan hancur seketika, dan ia akan terlihat sebagai orang yang berkhianat mengkhianati sahabat sendiri dengan mendekati kekasihnya. Hati Rendra terasa terbelah dua antara rasa cinta yang kuat dan rasa bersalah yang tak terbayangkan.

Di sisi lain, Rana yang juga berada tidak jauh dari situ ikut menyaksikan ketegangan itu dengan wajah serius. Ia tahu, saat ini keseimbangan sudah benar-benar runtuh. Zahra sudah berani menyatakan keinginannya, tapi Raka menolak dengan tegas dan rahasia besar mereka belum terungkap sepenuhnya, yang artinya masalah ini belum selesai, justru baru akan memuncak.

Percakapan berlanjut dengan suasana yang semakin panas namun penuh kepedihan. Raka terus mendesak ingin tahu alasan yang jelas, sementara Zahra semakin terdesak, bingung antara harus bicara jujur atau tetap diam demi menjaga semuanya agar tidak makin berantakan.

“Kau lihat mataku, Zahra! Dulu kau tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dariku. Tapi sekarang... ada jarak yang sangat jauh, seolah aku orang asing bagimu. Siapa yang mengubahmu? Apa yang mengubahmu?” tanya Raka lagi, suaranya penuh kepedihan yang mendalam.

Zahra menggeleng lemah, air matanya mengalir deras. “Maafkan aku, Ka... maafkan aku...”

Raka menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri namun tetap teguh pada pendiriannya. “Maaf bisa diberikan, tapi putus aku tidak akan mengizinkannya begitu saja. Hubungan ini tidak bisa berakhir hanya karena satu orang memutuskan begitu saja tanpa alasan yang nyata dan jelas. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini, dan sampai saat itu, aku tetap menganggap kita masih berpasangan.”

Dengan kata-kata itu, Raka pergi meninggalkan Zahra yang masih terduduk lemas di sana. Ia berjalan pergi dengan langkah berat namun penuh tekad tekad untuk membongkar apa yang disembunyikan, menyelidiki perubahan sikap Zahra, dan mencari tahu siapa atau apa yang menjadi penyebab semuanya.

Saat Raka sudah pergi, Rendra perlahan mendekat ke arah Zahra yang tampak hancur. Ia tidak berani bicara banyak, hanya duduk di dekatnya dengan jarak yang hati-hati namun penuh perhatian sikap yang menunjukkan betapa besar tanggung jawab dan rasa sakit yang ia rasakan bersama gadis itu.

Malam itu, suasana di seluruh rumah terasa berat dan penuh ketegangan. Raka yang tidak mau menerima keputusan Zahra mulai mengamati setiap gerak-gerik orang di sekitarnya terutama Zahra dan Rendra dengan pandangan yang semakin curiga dan tajam. Rahasia pesan rahasia, pertemuan jalan dan nonton bareng, serta perasaan terlarang mereka kini berada di ambang terungkap sepenuhnya, dan penolakan tegas Raka justru membuat situasi semakin rumit dan berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!