NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ausilir Rahmi

Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.

Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Arik mengeram, mengepalkan kedua tangan nya. Kata-kata Brayan membuat dia tersulut emosi. Ingin rasa nya Arik melayangkan kepalan tangan nya untuk menutup mulut sang adik.

Tapi bagaimana pun juga, dia berusaha memaklumi mengingat Brayan yang selalu sinis dengan apa yang telah di putuskan ayah mereka, menjadikan nya pimpinan perusahaan besar mereka.

Maureen tercengang, ia tidak mengerti apa maksud pertanyaan adik ipar nya yang seolah sedang memandang negatif pada nya.

Tapi yang membuat Maureen terkejut, saat melihat raut wajah Arik yang tampak kesal. Tapi berusaha menahan membuat ia mengambil inisiatif menjawab.

"Te-tentu saja, aku sangat mencintai mas Arik," Kata Maureen gemetar lembut, wajah nya tersipu malu dan memerah merona, sampai tertunduk.

Senyum penuh kebanggaan terpancar di wajah Oma Eva, saat mendengar jawaban Maureen yang telah berhasil mencuri perhatian banyak orang.

Arik mendelik, kedua alis tebal nya terangkat, saat Maureen menjawab pertanyaan Brayan begitu lancang tanpa seijin nya.

"Owh iya? Kaka ipar yakin? Jika melihat wajah kak Arik sepenuh nya?" Ledek Brayan yang memancing amarah kedua orang tua dan sang nenek.

Batas kesabaran tuan Hans tak bisa di kontrol lagi, saat putra kedua nya membuat ulah di acara penting Arik dan Maureen.

"Brayan! diam, atau kau pergi dan bawa pacar mu sekarang juga," Usir Hans melayangkan jari telunjuk ke arah pintu besar di depan sana.

Brayan menelan saliva beberapa kali, saat melihat sang ayah melotot membuat dia berusaha patuh.

"Oke, aku akan diam, Papi tidak perlu mengancam ku!" ucap Brayan menatap penuh kebencian pada Arik, dia selalu iri karena semua keluarga selalu membanggakan sang kakak.

Suasana di ruangan itu masih di penuhi ketegangan dan kecanggungan untuk Maureen, sebagai orang baru rasa nya ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenar nya terjadi antara Arik dan Brayan.

Berbeda dengan reaksi, Jeevan. Lelaki berparas tampan yang berprofesi sebagai atlit olahraga ternama itu. Terus menatap Maureen.

Hati nya sangat ragu tapi rasa penasaran sangat besar. Hingga membuat dia memberanikan diri untuk melontarkan sebuah pertanyaan.

"Maureen! Apakah Maureen Adisty? Gadis yang suka menyendiri dan melukis di atas roof top kampus dulu?" tanya Jevan yg masih mengingat nya.

Kedua mata sepit Maureen melebar saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan dari adik bungsu Arik yang bernama Jeevan.

Dahi Maureen berkerut, ia terkejut karena bagaimana bisa adik ipar kedua nya begitu tahu tentang dia. Begitu juga dengan semua orang di sana terutama Arik.

"Jeevan! Apa kamu kenal dengan Maureen? "Tanya Nyonya Marisa, seraya menatap penuh selidik. Sampai membuat semua orang penasaran.

Ekspresi wajah Arik, masih tetap muram dan dingin. Saat melihat adik nya tampak antusias bertanya pada Maureen di depan banyak orang. Jeevan menatap Maureen, dia tersenyum lalu menghampiri lebih dekat lagi.

Membuat Maureen merasa tidak nyaman karena dia benar-benar tidak mengerti kenapa adik Arik tahu tentang diri nya.

"Iya Mi, dulu Maureen adalah senior ku. Dia selalu menjadi Juara tiap kali ada sebuah event mading, tidak di sangka sekarang malah menjadi kakak ipar ku, "Jelas Jeevan seraya menatap dalam Maureen tanpa berkedip.

Maureen tertegun, dia menatap dan berusaha mengingat apakah dia mengenal Jeevan atau tidak nya. Dan sayang nya sama sekali ia tidak ingat.

"Jadi kalian itu satu kampus dulu?" Sambung oma Eva.

"Oma betul," Jeevan membenarkan. Bahkan dia terlihat sangat senang ketika melihat kakak senior yang dulu sangat dia kagumi.

Tak sungkan juga lelaki berparas tampan itu pun mengulurkan tangan nya ke arah Maureen.

"Senang bisa bertemu lagi, tidak di sangka sekarang kita iparan." ucap Jeevan.

Maureen masih bingung, ia melirik ke arah suami nya, karena masih kebingungan saat Jeevan mengatakan jika dia kenal pada nya.

"Ma-maafkan aku, aku tidak ingat kita pernah bertemu atau pun saling kenal," Sesal Maureen merasa sangat canggung, apa lagi saat melihat tatapan elang Arik yang dari tadi terus membidik.

Melihat respon Maureen yang begitu dingin, Jeevan hanya tersenyum tipis. Dan ia mengatakan jika dia sama sekali tidak apa-apa.

Hanya saja dia mengatakan apakah Maureen masih ingat dengan seseorang yang dulu pernah mengambilkan pensil lukisan nya yang terjatuh di lobi kampus.

Maureen berpikir dan mulai mencerna, sekilas dia familiar saat mengingat ada seorang junior nya yang begitu sigap membantu di mana saat itu semua alat lukis nya terjatuh, karena beberapa teman wanita nya yang usil.

"Ja-jadi kamu yang dulu bantu aku memunguti barang-barang ku? Yang suka main basket itu kan?" ucap Maureen memastikan seraya menatap lebih jelas lagi, sosok Jeevan yang begitu banyak berubah lebih tampan padahal dulu masih sangat muda.

"Akhir nya ingat juga," ucap Jeevan terlihat sangat senang.

Baru saja Maureen berusaha meraih dan akan membalas uluran tangan Jeevan, Arik berdehem membuat Maureen spontan melirik ke arah nya.

Tatapan tajam itu seolah membuat sebuah kode, membuat Maureen menelan saliva karena sedikit ketakutan, hingga spontan menarik tangan nya lagi.

"Oh iya, kalau kalian sudah kenal itu sangat bagus. Sekarang ayo kita makan dulu kebetulan kalian semua ada," ajak nyonya Marisa.

"Benar, sekaligus ada hal penting yang akan Oma sampaikan pada kalian semua terutama untuk Arik dan Maureen," Sambung Oma Eva.

Semua orang pun di sana segera bergegas ke arah meja makan, begitu juga dengan Maureen yang masih berperan sebagai istri yang baik, ia memberanikan untuk kembali melingkarkan tangan nya di lengan Arik.

Sementara Jeevan yang masih mematung, tatapan nanar nya masih tertuju pada Maureen. Sama sekali dia tidak pernah menyangka, jika sosok senior yang sangat dia kagumi sejak kuliah kini telah resmi menjadi ipar nya.

"Heh! Sangat lucu, dunia ini ternyata sangat sempit. Bagaimana bisa Maureen menjadi istri kak Arik?" Batin Jeevan bertanya-tanya sembari memancarkan senyum getir.

Padahal jauh-jauh dari LA dia menyempatkan pulang ke tanah air, selain ingin bertemu dengan keluarga nya. Dia juga ingin mencari sosok wanita yang sejak dulu dia sukai secara diam-diam.

Namun setelah tahu wanita idaman telah menjadi istri saudara nya, membuat Jeevan patah hati berkeping-keping. Sampai ia kecewa besar.

Sebelum duduk bersama keluarga, Arik meminta ijin pada ayah dan ibu nya agar memberi mereka waktu, untuk dia dengan Maureen berbicara sebentar ke kamar nya yang ada di lantai atas.

Oma Eva tak lupa mewanti-wanti pasangan pengantin baru itu agar segera kembali, mengingat malam ini adalah acara makan malam special untuk merayakan pernikahan mereka.

Arik berjanji tidak akan lama, setelah ijin dia membawa Maureen sembari menggenggam kasar lengan Maureen.

"Astaga! ternyata Arik sesuka itu ya pada Maureen. Sampai sedang ada acara keluarga mereka membutuhkan waktu untuk berdua dulu," seloroh Oma Eva menggelengkan kepala karena ikut bahagia.

Nyonya Marisa dan tuan Hans hanya saling menatap, penuh rasa bersalah karena tidak menceritakan tentang apa yang telah terjadi di dalam pesta pernikahan Arik kemarin.

Sesampai nya di lantai atas, Arik membawa Maureen masuk lalu menutup pintu dengan kasar.

BRUK!

Maureen tercengang, entah ada angin apa yang membuat sang suami membawa nya ke sana. "Ma-mas ada apa?" Tanya Maureen memberanikan diri.

Arik mendengus kesal, dia menghampiri Maureen dengan tatapan elang penuh amarah yang sudah tak bisa terkontrol lagi.

"Kau tidak usah berpura-pura bodoh, apa kau lupa? Jangan pernah membuat ku malu?!" Hardik Arik sembari menyangkup dagu dan leher Maureen, sampai membuat Maureen tersandar ke dinding dengan nafas tersengal.

\*

Bersambung................

1
Ariany Sudjana
ga kebayang gimana reaksi Oma Eva kalau tahu Arik dan Maureen hanya menikah pura-pura, dan status Maureen hanya pengganti Maura
Ariany Sudjana
Brian saja tahu kalau mereka nikah pura-pura, entah gimana reaksi Oma pas tahu kejadian yang sebenarnya
Ariany Sudjana
jangan-jangan nanti calon istrinya Brian tergoda sama Arik lagi 😂😂🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!