NovelToon NovelToon
Rimba

Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kelly Kwalik

Satu jam perjalanan menyisir jeram, menerabas onak di bawah payung kanopi kelebatan hutan pegunungan tengah sangat menguras tenaga kami.

"Huuuft .... " Beban yang berbeda di gendonganku, atau bisa jadi karena sebab malaria yang masih betah di tubuhku tak pelak membuat napasku tersenggal.

Jika dulu Aku hanya memanggul Theodolit saat memetakan suatu wilayah, kini fisik-ku benar-benar diuji medan sebab beban yang ada di punggungku.

Kutaksir ada lima puluh kilo lebih ubi, ketela, dan keladi di dalam ransel yang kugendong. Belum lagi air minum yang kutenteng .... Lengkap sudah ujian fisikku yang sebenar-benarnya di tanah kelahiranku.

"Istirahat sudah !" Suara tegas Wimbo Geselma menjadi zona nyaman bagi semuanya.

Tak menunggu lama, semuanya kompak merebahkan diri. Berdiam mendaur ulang energi, memejamkan mata mengatur napas.

Wimbo memberi kode kepadaku untuk mengikutinya mendaki lereng di depan kami tak lama setelah napasku terasa normal.

Untungnya, jalan yang kudaki tidak terlalu rapat. Memudahkan Aku mengikuti langkah cepatnya.

Sampai di puncak lereng, Wimbo mengamati lembaran peta yang ada di tangannya. Sesekali dia menyapukan pandangan ke sekeliling kelebatan pohon besar yang menjulang.

Dari lembaran kertas lusuh di tangannya, Aku langsung tahu jika peta sederhana itu adalah buatanku selama di Geselma.

"Buatkan kami peta sekitar Geselma Yos. Biar mudah bagi kami saling mengetahui posisi," kata Wimbo Geselma beberapa hari setelah kedatanganku dulu.

Tak membantah keinginannya, Aku mengusahakan membuatnya dengan alat bantu seadanya. Pita meteran, kompas, dan teropong yang selalu kutenteng setidaknya bisa meringankan pekerjaanku.

Untungnya ada Rey yang membantuku membuat legenda bentang alam di sekitar Geselma.

Kawan kecilku itu sangat memahami tanda-tanda alam yang bisa kujadikan patokan dalam pembuatan peta sederhana yang dikehendaki Wimbo Geselma.

"Sepertinya dia tahu keahlianmu Yos. Mungkin itu sebabnya kita dibawanya ke Geselma," kata Rey saat menemaniku menarik garis kontur ketinggian bukit-bukit di sekeliling Geselma.

***

"Mapenduma di sanakah ?" Wimbo itu sedikit ragu dengan posisinya.

"Ya," Aku menjawab keraguannya.

"Kalau begitu Purua ada di sana." Tangannya menunjuk ke arah salah satu bukit yang ada di depan kami.

Aku meminta peta yang ada di tangannya. Memberi nama bukit yang sudah kugambar dengan nama yang disebutkan Wimbo barusan.

Kini sudah ada tiga nama kampung yang terbaca di peta sederhana buatanku. Mapenduma, Geselma, dan Purua terlihat seperti segitiga di peta itu.

"Lalu kenapa kita membawa bekal sebanyak itu ke sana ?" Tanyaku setelah menyerahkan peta itu lagi.

"Nanti ko akan tahu Yos." Tak banyak kata, dia lebih tertarik dengan peta yang sudah kutambahkan nama Purua tadi. "Ini yang diminta Kelly." Dia menyebut nama sambil terus mengamati peta di tangannya.

"Kelly ?" Hatiku berdebar keras. "Darimana dia tahu kemampuanku memetakan suatu wilayah ?" kata hati kecilku lagi.

Orang-orang yang mengetahui keterlibatanku di Tiom hanya Rey, John, dan kerabatnya. Jika dia sampai mengetahuinya, sudah pasti kebakaran base camp Tiom berkaitan dengannya.

Jika para peneliti melalui Rey memakai jasaku, sudah jelas untuk apa peruntukan peta yang kubuat. Tapi jika memang benar Kelly juga meminta peta lain yang kubuat seperti kata Wimbo Geselma, Aku tak tahu untuk apa peruntukannya.

"Mari sudah." Wimbo itu lekas mengajakku beranjak ke arah Purua yang sudah dekat.

Kemiringan lereng bukit tak pelak membuat kami menaikkan bekal secara estafet saat beranjak lagi.

***

Menjelang tengah hari tanggal 12 April 1996 akhirnya Aku menginjakkan kaki di Purua. Kampung kecil antah berantah yang ada di kedalaman hutan pegunungan tengah.

Tiga honai kecil di pinggiran kampung itu sepertinya sengaja sudah disiapkan entah untuk siapa.

"Taruh isi ranselmu di sana Yos." Rey mengajakku ke salah satu honai yang rupanya dipakai untuk menyimpan makanan.

Salah seorang prajurit yang memakai topi mencatat semua yang dimasukkan ke dalam honai itu.

Tak sengaja bertatapan dengannya, Aku menduga topi itu untuk menutupi salah satu matanya yang bolong. Luka itu terlihat sangat mengerikan bagiku.

Dia menyeringai seram membalas tatapanku. Bergumam dalam bahasa yang tak kumengerti.

Tak mau meladeninya, Aku bergegas meninggalkan honai setelah semua isi ranselku kukeluarkan.

"Dia yang membuat dan membacakan semua surat-surat Daniel." Yakob yang menyusulku menjelaskan siapa sosok itu.

"Kupikir dia tetua setempat." Aku tak mau membahas laki-laki bertopi itu lagi. Memilih duduk bersandar di salah satu pohon besar di dekat honai tadi.

Belum lama Aku bersandar, beberapa orang muncul dari arah hutan.

Salah satu dari mereka menarik perhatianku. Sosok tinggi kurus dengan baju militer berjalan tegap mendekati salah satu honai. Matanya menatap tajam setiap prajurit yang dilewatinya.

Laki-laki bertopi bersama Wimbo Geselma menyambutnya tak lama kemudian, dan mengajaknya masuk ke salah satu honai setelah mereka saling menyapa dan berbicara.

"Tuan Kelly, " bisik Yakob ke arahku.

Mendengar nama itu dibisikkan, kewaspadaanku terjaga, "Inikah sosok yang disebut Albert ?" kataku dalam hati.

Seperti sudah kusinggung di bab awal, Aku dan Rey yang sama sekali tidak tahu berita apapun dari luar tentu saja sangat berharap kedatangan Kelly membawa kejelasan ketidaktahuanku.

Bahkan selama di Geselma tak ada yang menyinggung keadaan di luar, terutama tentang nasib para peneliti yang diserang di Mapenduma. Apakah mereka sudah pulang atau masih tertahan di belantara pegunungan tengah Papua masih menjadi gelap bagiku.

Begitu juga dengan Wimbo Geselma yang sudah kuanggap dekat denganku, masih saja rapat menyembunyikannya.

Menyimpulkan peruntukan peta yang kubuat atas permintaan Kelly malah membuatku semakin sakit kepala.

Sempat terbersit di benakku jika peta itu akan dipakai prajurit aliansi untuk menentukan garis pertahanan perang habis-habisan melawan militer yang bisa saja masuk kapan saja setelah seorang peneliti sempat meminta bantuan ke luar.

Kemungkinan terburuk itu kukesampingkan dulu setelah beberapa helikopter yang mondar mandir di atas langit Geselma terlihat memakai lambang palang merah.

Sayangnya jarak-ku terlalu jauh untuk melihatnya mendarat. Teropong-ku juga gagal membantu karena terhalang lebatnya hutan.

Dan setelah Aku melihat sendiri kedatangan Kelly di Purua, Aku yakin sedang ada proses negosiasi panjang di sekitaran tiga wilayah kampung distrik Tiom yang sudah kupetakan itu.

Jika benar kesimpulanku, sudah dapat kupastikan bahan makanan yang kami bawa ke Purua akan dipakai tambahan prajurit aliansi yang akan berdatangan dan bertahan di kedalaman rimba.

"Selama bersama mereka, kamu tahu berapa jumlah prajurit yang memakai senapan tembak ?" Ingin tahu kekuatan aliansi, Aku menanyakannya ke arah Yakob.

"Tidak banyak kakak. Sa pastikan hanya ada lima sampai delapan senapan yang mereka punya," jawab Yakob.

"Ada roketkah di sana ?" Agak konyol, Aku menanyakan senjata berat seperti yang dipunyai para kombatan separatis terlatih.

"Hahaha .... kalau ada roket, untuk apa kita serang peneliti. Lebih baik kita serang sudah markas sanbo." Yakob terbahak menanggapi pertanyaanku.

Jawaban anak itu tentu saja melegakanku. Jika benar Kelly dan Daniel orang yang cerdas seperti kata Albert, tidaklah mungkin mereka secara frontal akan melawan dengan keterbatasan senjata .... Senjata mereka kini adalah para peneliti yang menurut dugaanku masih ada di tangan mereka....

***

*Theodolit : alat ukur tanah dengan berat 5-8 kg tanpa box

* Ko : kamu dalam bahasa Papua

*Sa : saya dalam bahasa Papua

*Sanbo : tentara dalam bahasa Papua

1
SenandikaMaret
aku padamu kak 🙂
Wawan: ... 🤣🤣🤣😍
total 1 replies
penulismisterius
oalah ternyata masih kenalannya Rey
penulismisterius
siapa ya yang terluka itu?
penulismisterius
lanjut thor/Determined/
penulismisterius: iyaa thor, sedang sibuk sibuknyaa ini😞
total 2 replies
SenandikaMaret
nyawa tetap yg utama 😣
Wawan: Begitulah Papua ✍️
total 1 replies
Wawan
Hidup adalah suatu pilihan 😄✍️💪
SenandikaMaret
takut bangt sama pilihannya 🥲
penulismisterius
nasi telah menjadi bubur ya, Yos😞
T28J
iye bener tuh, mending sebat dulu, daripada bikin puyeng ye kan 😂
Wawan: Gaaas 🤣🤣🤣
total 1 replies
SANG
Lanjutkan
SenandikaMaret
siapa ya kira-kira bikin takut aja 😫
SANG
Mantap banget ya dek👍💪
penulismisterius
lanjut, thor🐳🐳 bunga mawar untuk update selanjutnya🐳
SANG
Lanjut dek💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Wawan: Ahahaha ... 💪✍️
total 1 replies
SANG
Semangat ya dek💪👍
SenandikaMaret
ceritanya sangat menarik 💫
Wawan: tengs
total 1 replies
penavana
/Rose//Rose//Rose/
SenandikaMaret
makin ga sabar untuk bab selanjutnya 😄
Wawan: Tengs.... ✍️
total 1 replies
+AuntyMamoth+
Halo kak celineee salam kenal semangat terusss💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!