NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sandri Ratuloly

Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.

Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.

Namun kini, wanita yang sama memilih diam.

Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.

Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

******

“Kamu membuatku khawatir dan ketakutan selama beberapa hari ini, Calista.” Suara Damar bergetar halus. Ia tak henti-hentinya mengecup punggung tangan Calista yang kini sudah hangat, tidak lagi sedingin saat ia terbaring tak sadarkan diri.

Calista tidak langsung menjawab. Tatapannya melekat pada wajah Damar—lelaki itu terlihat jauh lebih pucat dari biasanya, lingkar hitam samar tercetak di bawah matanya. Ia tampak seperti seseorang yang kehilangan separuh jiwanya lalu tiba-tiba dikembalikan lagi.

Perlahan, Calista mengalihkan pandangan ke jendela di samping ranjang. Cahaya sore menyusup masuk, membias di dinding putih ruang rawat yang masih terasa asing baginya.

‘Aku masih hidup… sebagai Sekar. Lalu bagaimana kondisi tubuh asliku saat aku terbangun di tubuh ini?’ batinnya penuh tanya. Ingatan tentang percakapannya di alam bawah sadar masih terasa nyata—terlalu nyata untuk dianggap mimpi.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, hm?” Damar mengelus lembut pipinya, sentuhan itu hangat dan penuh kehati-hatian, seolah Calista terbuat dari kaca tipis yang mudah retak.

Calista menarik napas pelan. Tenggorokannya masih terasa kering, suaranya serak karena terlalu lama tak digunakan.

“Aku boleh bertanya sesuatu?”

“Ingin bertanya apa, sayang? Sebisa mungkin aku akan menjawabnya.”

Calista menatap mata Damar dalam-dalam, “Kamu masih mengingat Aruna Maheswari?”

Damar mengernyit tipis. “Aruna Maheswari? Wanita yang pernah kamu bicarakan saat kita berada di Arctovia? Memangnya kenapa? Kamu ada urusan dengannya?”

Calista terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak hanya dengan menyebut nama itu—nama yang dulu adalah dirinya sendiri.

"Kamu tau kan kabar Aruna yang mengalami kecelakaan pesawat?" Kalimat itu keluar terbata. Efek koma masih membuat suaranya berat, dan mungkin juga karena kecemasan yang tiba-tiba mencengkeram hatinya.

“Apa kamu bisa mencari tahu bagaimana kabarnya sekarang? Tubuhnya sudah di temukan atau belum, dan a-apakah dia masih hidup atau…” Ucapannya menggantung. Tenggorokannya tercekat, seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya.

Damar terdiam sejenak. Ada kebingungan di matanya, ia tidak tau bahwa Calista kenal dan bahkan terdengar dekat dengan wanita bernama Aruna itu.

“Baik,” jawabnya akhirnya lembut. “Aku akan berusaha mencari tahu kabarnya. Sekarang kamu harus istirahat. Tubuhmu masih lemah.”

Damar hendak membaringkannya kembali, namun Calista menahan tangannya.

“Aku lelah terus berbaring di kasur ini, Damar. Apa aku boleh keluar sebentar? Menghirup udara segar… di taman rumah sakit saja.” Suaranya terdengar memohon, matanya memancarkan kejenuhan yang dalam.

Ruangan ini terlalu putih. Terlalu sunyi. Terlalu berbau obat dan antiseptik. Ia merasa seperti terperangkap.

Damar menatapnya ragu, lalu mengangguk pelan. “Aku tanya dulu ke dokter, ya.” Ia mengelus pucuk kepala Calista sebelum keluar dari ruang rawat.

Begitu pintu tertutup, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Calista memejamkan mata.

Flashback on

‘‘Di alam bawah sadar’

“Cepat pilih, Calista. Waktumu tidak banyak.” Suara Sekar menggema di ruang kosong yang tak berbatas. “Kalau kamu terus ragu, kamu tidak akan bisa hidup kembali. Baik di tubuh Aruna maupun Calista.”

Calista berdiri di tengah hamparan cahaya putih yang tak berujung. Tubuhnya terasa ringan, tapi hatinya berat.

Ia ingin kembali menjadi Aruna—kembali ke dunia yang ia kenal sejak lahir.

Namun dunia itu…

Datar. Dingin. Sepi.

Sebagai Aruna, ia hidup sendirian. Kedua orang tuanya telah lama tiada. Keluarga besar dari pihak ayah dan ibu tak pernah benar-benar peduli. Mereka hanya datang saat membutuhkan uang, memanfaatkan keberhasilannya membangun perusahaan dari nol.

Jika ia kembali sebagai Aruna, ia tahu persis apa yang menunggunya—perebutan harta, tuntutan, dan kepura-puraan.

Tapi di sini…

Sebagai Calista—sebagai Sekar Calista Pranawijaya—ia memiliki warna.

Damar.

Arkana.

Dua pria yang dengan cara mereka masing-masing, memberinya rasa memiliki.

“Aku rindu hidupku sebagai Aruna…” gumamnya lirih. “Tapi aku tidak merindukan kesepiannya.”

“Cepat tentukan pilihanmu!” desak Sekar. Cahaya di sekitar mereka mulai berpendar lebih terang.

Calista menghembuskan napas panjang. Ia menutup mata, merasakan dua kehidupan itu saling tarik-menarik di dadanya.

Lalu ia membuka mata dengan mantap. “Aku memilih tetap menjadi Calista,” ucapnya tegas. “Aku memilih hidupku sebagai Sekar Calista Pranawijaya.”

Sekar tersenyum lebar. Senyum yang terasa seperti pelepasan. “Pilihan yang bagus.”

Tiba-tiba cahaya putih menyilaukan datang dari segala arah, menarik tubuh Calista ke dalam pusaran terang yang hangat namun tak terhindarkan.

Flashback end.

Lamunan Calista buyar ketika pintu terbuka dan Damar masuk sambil mendorong kursi roda.

“Dokternya mengizinkan,” katanya sambil tersenyum tipis. “Tapi cuma sebentar. Kamu tidak boleh terlalu lama di luar. Dan tidak boleh jalan kaki—harus pakai kursi roda.”

Wajah Calista langsung berbinar. “Benarkah?”

“Iya.” Damar mendekat, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Calista. Gerakannya lembut, penuh perhatian. Ia mendudukkannya di kursi roda seolah menempatkan sesuatu yang paling berharga.

Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari ruang rawat.

Koridor rumah sakit terlihat cukup ramai. Bau antiseptik masih tercium kuat, bercampur dengan aroma makanan dari kantin di ujung lorong. Perawat berlalu-lalang dengan langkah cepat. Di beberapa sudut, keluarga pasien duduk menunggu dengan wajah tegang dan mata lelah.

Calista memperhatikan semuanya dalam diam.

Dari luar jendela ruang rawat, ia bisa melihat seorang ibu menggenggam tangan anak kecil yang terbaring di ranjang dorong. Seorang pria paruh baya berdiri sambil menelepon, suaranya lirih namun sarat kecemasan.

Dunia ini penuh rasa takut kehilangan.

Tanpa sadar, tangan Calista bergerak meraih tangan Damar yang berada di pegangan kursi roda.

Damar menghentikan langkahnya sejenak. “Kenapa?”

Calista menoleh, menatapnya dengan mata yang kini lebih jernih. “Terima kasih… karena kamu menungguku.”

Damar terdiam, lalu tersenyum lembut. Ia berjongkok agar sejajar dengan wajah Calista. “Aku tidak akan ke mana-mana. Kamu itu istriku. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Calista menghangat.

Ia memilih hidup ini.

Dan untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ia merasa yakin—pilihannya tidak salah.

Damar kembali mendorong kursi roda menuju taman rumah sakit. Pintu kaca otomatis terbuka, menyambut mereka dengan semilir angin sore yang sejuk.

Calista menghirup udara dalam-dalam.

Langit biru terbentang luas. Pepohonan bergoyang pelan. Burung-burung kecil melintas di atas kepala.

Hidup.

Ia masih hidup.

Dan kali ini, ia tidak sendiri.

“Ngomong-ngomong… Arkana di mana?” tanya Calista pelan. Ia baru menyadari satu hal yang sejak tadi terlewat. “Kenapa saat aku terbangun, aku tidak melihat kehadirannya?”

“Suamimu yang satu itu?” ulangnya dengan nada setengah menyindir. “Dia sedang frustasi karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sudah dua hari ini dia berada di negara Tavindra, mengurus kerja sama dengan perusahaan tambang emas yang katanya sangat besar dan berpengaruh.”

Calista mengernyit. “Tavindra?”

“Iya. Proyeknya mendadak genting. Kalau dia tidak turun tangan langsung, bisa-bisa kesepakatannya batal. Dan kamu tahu sendiri bagaimana sifat Arkana kalau menyangkut pekerjaan.”

Calista terdiam sejenak, sedikit ia tau sifat suami keduanya itu yang penggila kerja. Apalagi ini kerja sama dengan proyek yang begitu besar, Arkana pasti tidak ingin menyiakan kesempatan besar ini untuk semakin memperkuat perusahaannya yang pria itu bangun.

Calista mengerti akan hal itu.

"Kamu sudah memberitahukannya bahwa aku sudah sadar? "

Damar yang duduk di bangku kayu dengan kursi roda Calista yang ia posisikan tepat di sampingnya. "Sengaja tidak ku beritahu, aku ingin ia melihat sendiri bagaimana kondisi kamu sekarang. "

"Dia sekarang pasti tengah uring-uringan karena aku tidak memberitahukan kondisimu hari ini. Arkana memang selalu setiap menit menanyakan kondisi kamu selama ia harus bekerja di negara sebrang, tapi kali ini aku mengabaikannya. "

"Kenapa?" tanya Calista penasaran.

"Pria bersumbu pendek itu pasti dengan nekat akan pulang kemari dan melihat keadaan kamu, kita tunggu saja. "

******

1
Fatimah Ima
ceritanya bagus kak aku suka
CaH KangKung,
hukum Arkan ma damar....jgn biarkan mereka cepet ktemu ma Calista,biar mereka yg ngerasain ngidam...pokoknya jgn lngsung ketemu dan d maafin....
Muft Smoker
kelimpungan kn anda berdua ,, biarin aj dlu mereka gx bertemu calista ,, biar tau rasa ,,
😒😒😒😒


lanjuut kak ,,
Nurhayati Nurhayati
pas tau hamil Aruna nya, keguguran biar pada nyesel
Muft Smoker
sad ending gpp kak ,, buat suami calista merasa bersalah ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
kucing kawai
buat arkan dan damar menyesal thor 🤧
kucing kawai: thorrr apdet yang banyak donggg thorrr
total 1 replies
Susilowati Jais
nasibnya Aruna, g pernah buka hati sekalinya buka hati lngsung hncur. Up lg thor...
Muft Smoker
waaaah ad apa niih sama damar???
apa kah arkana juga terlibat???

krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
E H Mukti
Lanjut thorrr🥰👌
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak,,
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dasar bayiii gedeee ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak
Muft Smoker
waah apa niiih yg lgi di lakuin damar ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
next kak ,,

terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
Muft Smoker
duuh damar lgi ngerencanain ap niich🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
Titah Ibrahim
semangat thor 💪
Muft Smoker
mantap arkana ,, biar tau rasa tu mokondo Atharva 😒😒😒😒😒 ,,

next kak
Muft Smoker
waaaah Elina hany tinggal nama ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak bnr ,, cerita ny seruuu ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
total 2 replies
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
kak ni revisi yx???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!