Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.
Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.
Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : Ekosistem Hutan Dongen
Langkah kaki Ardius menapak di jalanan kecil yang mulai ditelan oleh rerumputan dan akar-akar. Matanya tertuju ke arah hutan timur dungeon yang membentang sangat luas dan lebat dengan jumlah pohon yang tak terhitung yang menjulang hingga hampir menggapai langit-langit dungeon.
Sesampainya di dalam hutan tersebut, Ardius memperhatikan dedaunan dari pohon-pohon yang tumbuh di kawasan tersebut sangatlah besar dari daun pada umumnya. Dia juga memperhatikan dengan tatapan penuh analisis jika diameter setiap pohon mencapai kurang lebih selebar empat manusia dewasa yang berdiri bersampingan.
Hutan tersebut memang tidak terlalu gelap seperti hutan di Gilia. Dedaunan yang tumbuh di atas pohon masih menciptakan celah-celah yang membuat cahaya dari partikel-partikel biru masuk. Udara di hutan tersebut terasa lumayan lembap namun bersih. Gemercik air terdengar samar dari kejauhan diiringi dengan nyanyian serangga-serangga aneh yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Suasana hutan tersebut sangatlah tenang. Telinganya hanya mendengar nyanyian alam yang begitu lembut.
Mata Ardius juga memperhatikan banyak spesies hewan unik lainnya. Ia melihat berbagai primata-primata aneh yang hidup di atas batang-batang pohon. Ardius berhenti sejenak, kepalanya tetap mendongak ke atas. Beberapa spesies primata berbulu lebat tengah bertemu dengan primata lain yang memiliki tubuh tinggi dan ekor yang luar biasa panjang. Ardius sempat berpikir jika akan terjadi peperangan antar kedua spesies primata itu tetapi perkiraannya harus disangkal dan ditarik ketika dia melihat kedua kelompok berbeda spesies itu melakukan sebuah pertukaran. Salah satu kelompok spesies memberikan beberapa tumbuhan aneh seperti kelapa berwarna kuning lalu kelompok spesies lainnya memberikan kacang-kacangan yang disimpan dalam wadah yang terbuat dari kulit buah yang keras.
Ardius dibuat terkesan akan hal tersebut. Primata-primata di dungeon ini lebih cerdas daripada primata di luar sana. Dia tidak menyangka jika para primata itu akan melakukan sebuah kegiatan ekonomi berupa transaksi barter.
Setelah beberapa menit memperhatikan dan menganalisa para primata itu, dia kembali dibuat terkesan dimana kali ini Ardius melihat rumah para primata itu tinggal. Mereka semua tinggal di dalam batang pepohonan. Terdapat banyak lubang dalam satu pohon yang ditinggali oleh para primata. Karena ukuran dan diameter pohon yang luar biasa dapat membuat satu pohon dapat diisi oleh beberapa ekor primata. Namun yang lebih membuatnya terpukau adalah dalam satu pohon dapat ditinggali oleh beberapa spesies berbeda tanpa adanya konflik, bahkan Ardius juga melihat dua ekor primata yang berbeda spesies hidup dalam satu lubang pohon.
Pemuda tersebut kembali melanjutkan perjalanan. Dalam benaknya, dia berpikir di lain waktu dia berniat ingin melakukan interaksi dan menganalisis kehidupan para primata lebih dekat.
Tak lama berselang, bunyi keroncongan kembali terdengar dari perut Ardius. "Aku lupa. Tujuanku kemari untuk mencari makanan."
Tiba-tiba terdengar bunyi aneh dari arah kanan. Refleks, kepala Ardius langsung mengarah ke arah sumber suara. Langkahnya pelan menghampiri. Dia bersembunyi di balik semak-semak dan memperhatikan asal suara tersebut
Kali ini matanya menangkap sosok hewan menyerupai kelinci, tetapi bukan kelinci biasa. Ukuran tubuh hewan tersebut mencapai tinggi lututnya, memiliki telinga yang pendek, mata besar menonjol, serta gigi susu yang besar.
Hewan tersebut melompat tinggi dan pergi dari tempat tersebut. Ardius tak mengejar dan tak berniat untuk memburunya.
Pemuda tersebut berkeringat dingin, napasnya terputus-putus, kedua tangannya mengalami tremor. "Gila... yang biasa saja sudah mengerikan, apalagi yang setinggi lutut. Aku benci kelinci. Aku tidak mau berurusan dengan makhluk itu lagi. Aku harus pergi!" gumam Ardius yang kembali beranjak dari semak dan memilih pergi.
Satu jam berlalu, kali ini Ardius menemukan mangsa yang cocok untuk dijadikan sarapan siangnya—seekor kambing dungeon. Kambing tersebut memiliki bulu perak dengan tanduk besar bercabang seperti rusa. Tubuhnya juga tinggi dan berotot, sangat penuh dengan daging.
Sebelum memangsa, Ardius kembali memperhatikan dengan jelas. Hewan itu memiliki senjata mematikan, yaitu bulu—bulunya yang tajam seperti landak.
Hewan itu memakan jamur ungu dari akar pohon besar. Ardius mengendap perlahan dari arah samping, lalu saat jaraknya cukup dekat, dia melompat keluar dan mengayunkan katana.
Tebasan pertama tidak cukup dalam, kambing itu mengamuk dan mencoba menyeruduk. Ardius hanya sedikit menghindar ke samping lalu memutar tubuh dan kembali menyerang dengan serangan vertikal. Kali ini, kepala kambing tersebut terpenggal dan darah menyembur dari bagian leher hewan itu. Beberapa detik kemudian, ia roboh di tanah.
Tak lama, Ardius sudah menyiapkan lokasi kecil di bawah naungan pohon besar yang berakar keluar seperti lengan raksasa yang tercipta secara alami. Dia mengumpulkan beberapa ranting kering, lalu membuat perapian dengan menggunakan sihir api miliknya.
Ardius menusuk daging kambing hutan itu dengan ranting tajam, lalu mulai memanggangnya di atas api yang dia buat. Aroma daging memenuhi area sekitarnya. Sesekali ia membolak-balik tusukannya agar matang merata. Setelah hampir tiga puluh menit, dia mencicipi hasil buruannya. Tingkat kematangannya sempurna dengan yang dia mau. Tidak ada garam atau bumbu dapur yang membuat rasanya semakin nikmat, namun Ardius tidak mempedulikannya.
"Rasanya... cukup aneh. Tapi daging ini lembut," gumamnya sambil mengunyah.
Setelah sarapan siang itu, dia berbaring sejenak di rerumputan, menatap langit-langit dungeon yang tampak seperti langit asli. Kabut tipis melayang di kejauhan, dan suara burung hutan dungeon menyelingi keheningan.
Tubuhnya bangkit kembali. Dia berjalan ke area terbuka yang tak jauh dari tempatnya saat itu. Ardius berencana kembali melanjutkan latihannya. Bukan manajemen mana eksternal, melainkan sesuatu yang tengah dia latih selama beberapa hari ini.
Dia berdiri tegak, tangan kanannya terangkat. Kali ini, dia ingin menguji batas barunya. Mana mengalir mana ke tangan kanan, perlahan tapi stabil. Napasnya teratur, tubuhnya rileks. Percikan sihir kembali muncul, namun kali ini bukan berwarna hijau tapi berwarna merah.
Tangannya gemetar ringan. Api mulai berkobar menyelimuti tangannya. Untuk saat ini api di tangannya lumayan stabil, namun tingkat serangannya terbilang lemah daripada serangan bola api yang merupakan sihir dasar. Di lain sisi, Ardius juga sadar jika dia memperkuat api di tangannya dapat mengakibatkan mana tidak stabil dan api di tangannya dapat membakar dirinya sendiri.
Hari ini, Ardius memikirkan sesuatu yang lebih jauh. Dia berniat mengembangkan serangan tinju berapinya menjadi serangan kuat tapi sangat stabil.
Dia kembali duduk, kepalanya terus berpikir. "Apa yang harus aku perhatikan kembali?" tanya dia kepada dirinya sendiri.
Pemuda berambut hitam itu terus berpikir. Dalam benaknya dia kembali memikirkan pelajaran dasar, yaitu konsep penggunaan mana. Saat seorang penyihir menggunakan mana menjadi lingkaran sihir, mana akan mengalir ke inti dari tongkat sihir itu yaitu permata tongkat sihir. Permata tongkat sihir secara otomatis akan menciptakan lingkaran sihir sesuai sihir yang diperintahkan oleh penggunanya. Namun dalam kasus Ardius kali ini berbeda, dimana yang menjadi lingkaran sihir tersebut adalah tangannya sendiri, serangan yang keluar dari lingkaran sihir adalah tinjunya sendiri, dan tongkat sihir adalah lengannya sendiri.
Kali ini, dia dibuat lebih bingung daripada biasanya. Ardius teringat dengan katana miliknya yang bernama Izanagi. Dengan segera, dia meraih Izanagi dan menatapnya dengan datar. Dia teringat sesuatu, dia sering menggabungkan sihir api dan es miliknya ke bilah Izanagi yang membuat pedang bermata satu itu dilapisi oleh atribut api dan es.
Ardius berusaha mengingat kembali bagaimana konsep penggabungan sihir dan pedang. Saat bilah Izanagi dilapisi sihir api atau es, daya serang yang diakibatkan menjadi meningkat pesat dan juga memiliki afinitas berupa api yang membakar serta es yang membekukan. Namun yang menjadi pertanyaan baru adalah, saat bilah Izanagi dilapisi sihir api, bilahnya tidak meleleh akibat panas yang ekstrem.
Rasa penasaran yang tinggi mendorongnya semakin jauh. Ardius menyalurkan mana dalam tubuhnya ke Izanagi dan seketika katana itu dilapisi oleh sihir api yang berkobar hebat. Kali ini Ardius berniat mengambil risiko. Dia memasukkan satu jarinya ke dalam lapisan api hingga jarinya menempel ke bilah Izanagi.
Pemuda itu mengerang kesakitan. Dia hanya mampu bertahan dua detik sebelum akhirnya melepaskan kembali jarinya. Panas dari sihir api yang ekstrem membuat tangannya bukan lagi melepuh, melainkan luka bakar yang sangat serius seperti hampir matang.
Izanagi kembali diletakkan. Tangan kiri Ardius mengarah ke tangan kanannya yang terluka. "Heal!" katanya sambil menatap tangan kanannya.
Sebuah lingkaran sihir hijau muncul di depan tangan kirinya. Berkat sihir penyembuhan yang telah dia kuasai, tangan kanannya yang mengalami luka bakar kembali sembuh seperti sedia kala.
"Sial... rasa sakitnya bukan main," gerutu Ardius. Tiba-tiba senyum tipis terukir di wajahnya. "Tapi kurasa sebanding dengan apa yang aku temukan."
Saat tangannya mencapai bilah Izanagi beberapa detik yang lalu, Ardius merasakan sesuatu yang tak kasatmata. Dia merasakan adanya lapisan mana tipis yang menyelimuti bilah pedang. Sebelum bilah Izanagi diselimuti sihir api, terdapat lapisan pertama yang melindungi bilah tersebut dari api. Lapisan pertama itu akan terus menipis seiring bertahan lamanya sihir api yang menyelimuti.
Tiba-tiba senyum tipis di wajahnya berubah menjadi ekspresi aneh yang sulit dijelaskan—campuran kesal, bingung, dan sedikit kecewa. Wajahnya sekarang tampak seperti orang bodoh yang tengah berpikir keras.
"Bukankah aku sendiri yang menciptakan konsep penggabungan sihir dan pedang ya? Terus kenapa aku bisa lupa? Sialan... aku lupa terkadang aku juga bisa bodoh," cibirnya dengan nada datar.
Ardius kembali berdiri. Sesuai dengan konsep penggabungan sihir dan pedang yang dia ciptakan, kali ini dia juga berencana untuk menguji konsep tersebut ke tangannya.
.
.
.
Beberapa jam berlalu. Hari sudah tergantikan oleh sore. Para murid sudah mulai berjalan pergi dari kelasnya masing-masing, termasuk Luna dan Axel. Sementara itu di dalam dungeon, langit di lantai lima tetap tak berubah. Tidak ada langit jingga sore atau langit hitam malam, hanya ada langit biru.
Saat itu, Ardius tengah mengambil minum di sebuah sungai kecil di dalam hutan. Pemuda tersebut duduk di sebuah batu yang tak jauh dengan tangan kanannya yang melepuh.
Setelah mengalami setidaknya sepuluh kali kegagalan yang membuat tangannya selalu terluka, Ardius akhirnya menemukan jawaban yang masih samar.
Konsep penggabungan sihir dan pedang yang dia ciptakan tidak mengalami sedikit kelainan saat digunakan ke tangannya. Saat digunakan ke pedang, pelindung mana yang merupakan lapisan pertama meskipun tipis, namun cukup untuk melindungi bilah dari api selama beberapa waktu yang cukup lama. Namun ketika digunakan ke tangan, konsep tersebut memang berfungsi namun karena tangan tak sekuat logam membuat pelindung sihir yang tercipta menjadi jauh lebih tipis daripada pedang.
Setelah sepuluh kali mengalami luka bakar yang parah, Ardius terus berpikir mencari sumber masalah hingga akhirnya dia menemukan satu solusi yang masih kabur.
Hal yang dia pikirkan sebagai solusi terakhir adalah dengan menambah lapisan baru di antara lapisan pelindung dan lapisan api atau es. Konsep dari lapisan kedua tersebut adalah sebagai konversi panas atau dingin yang tercipta dari tubuhnya sendiri menjadi penguat lapisan pertama. Saat panas api yang ada pada tangannya mencapai kulit, lapisan kedua secara otomatis akan mengkonversi panas dari api tersebut menjadi energi tambahan yang memperkuat lapisan pertama. Dengan begitu, rasa panas yang diakibatkan menjadi sangat kecil.
Masalah pertama berhasil dia atasi. Ardius segera berdiri dan kembali melakukan percobaan untuk ke sebelas kali. Api kembali menyelimuti tangannya, membentuk sebuah sarung tangan api yang panas. Ardius memusatkan mana miliknya lebih banyak dan api berkobar semakin hebat.
Api yang sangat besar dan panas. Kepalannya yang agak jauh dapat merasakan dengan jelas suhu sekitarnya meningkat cukup hebat. Tetapi satu hal yang menjadi kebanggaannya, yaitu tangan kanannya hanya merasakan sedikit rasa panas dalam sarung tangan api yang berkobar hebat itu. Meskipun begitu, api tersebut masih belum stabil dengan cukup baik.
Ardius berjalan ke sebuah batu besar yang tak jauh. Dia segera meragakan kuda-kuda, bersiap untuk menghantamkan satu serangan. Tanpa menunggu banyak waktu, Ardius langsung melayangkan tinju api tersebut.
Seketika itu juga, batu besar tersebut hancur berkeping-keping. Pecahan dan bongkahan batu-batu itu dilapisi oleh api jingga kemerahan yang berkobar hebat yang melahap area sekitar dalam sekejap, menciptakan kebakaran yang tidak terlalu parah.
Wajah Ardius terkejut melihatnya. Dia tidak menyangka pukulannya barusan dapat mengakibatkan efek seperti itu. Efek dari serangan barusan masih belum stabil dan masih tidak terkontrol. Bagaimana juga, Ardius harus lebih sering melatih stabilitas dan kontrol terhadap mananya dengan lebih baik lagi.
Saat Ardius hendak memadamkan api dengan sihir es miliknya, tiba-tiba datang angin pelan dari belakang yang langsung mematikan kebakaran kecil itu secara seketika.
"Sepertinya kau melakukan sesuatu yang unik." Profesor Gilbert entah sejak kapan telah berada di belakang.
Ardius tak langsung menoleh. Dia kembali melihat tangannya yang sedikit mengalami luka bakar. "Hanya melakukan percobaan kecil saja," jawabnya dengan penuh kebanggaan.
Profesor Gilbert tersenyum puas. "Baguslah jika kau memanfaatkan waktumu dengan baik. Sekarang, mari kita lanjutkan kembali latihan manajemen mana eksternal itu."